<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258</id><updated>2011-07-07T15:25:27.047-07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Anekdot'/><category term='Buku'/><category term='Tips'/><category term='Kontributor'/><category term='Blogger'/><category term='Berita'/><category term='Pengurus'/><category term='Sastra'/><title type='text'>SUNANGUNUNGDJATI</title><subtitle type='html'>"Komunitas Blogger Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>231</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4175865195680212801</id><published>2009-07-16T10:32:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T10:33:32.469-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anekdot'/><title type='text'>Jangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Garing 20: Jangan Pacaran di Pesantren&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh DASAM SYAMSUDIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunan Gunung Djati&lt;/span&gt;-“Kalian ini mau ngaji apa mau pacaran? Jawab!”&lt;br /&gt;“Mau ngaji” kata santri&lt;br /&gt;“Kalian ini mau cari ilmu apa cari pacar? Jawab!”&lt;br /&gt;“Cari ilmu, tapi bonusnya dapat pacar”&lt;br /&gt;“BUKKK!!!” santri yang mengatakan cari ilmu dapat bonus pacar, dihantam kamus al-Munawir oleh keamanan, menyebabkan ia ngejoprak, pingsan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kalian ke pesantren karena Allah apa karena wanita? Jawab!”&lt;br /&gt;“Karena Allah” jawab santri kompak.&lt;br /&gt;“Kenapa punya pacar di pesantren? Jawab!”&lt;br /&gt;“Anugerah dari Allah” kata seorang santri, sekenanya.&lt;br /&gt;“ANUGERAH KAMU BILANG? ANUGERAH APANYA? GARA-GARA PACARAN ITU KAN, KAMU JADI SERING NULIS SURAT DIBANDING MENGHAFAL? JAWAB!” Itu keamanan berteriak keras di telinga si itu santri yang tadi ngomong sekenanya.&lt;br /&gt;“JAWAB!!!!!!!” Keamanan semakin geram.&lt;br /&gt;“ya…… gitu….” Santri tadi jawab sambil bergetar-getar tubuhnya.&lt;br /&gt;“BUKKK!!! Apanya yang gitu” itu santri yang tadi ngomong, dihantam kamus al-Munawir bibirnya. Menyebabkan dia tumbang, dan beberapa tim kesehatan menggotongnya ke RGD (Ruang Gawat Darurat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fitria, kenapa kamu pacaran di pesantren?...”&lt;br /&gt;“Saya gak pacaran, kak keamanan…” jawab Fitria, datar.&lt;br /&gt;“Bohong! Kami pacaran…” jawab Herman merasa dirinya gak diakui.&lt;br /&gt;“BUKKK!!! Diam!” Herman kena hantam kamus.&lt;br /&gt;“Fitri… kamu tega sama aku, kamu bohongin aku” Herman mengatakan itu sambil merangkak-rangkak di atas lantai, lalu pingsan akibat hantaman kamus tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bentang Nur Nazmi Laila, kenapa kamu pacaran di pesantren?...”&lt;br /&gt;“Saya emang sudah pacaran sejak SD, kak kemanan”&lt;br /&gt;“Kenapa dilanjutkan sampai sekarang?”&lt;br /&gt;“Sebab kami saling mencintai” Kata Tendi, memotong introgasi keamanan dengan Bentang.&lt;br /&gt;“Eh, kamu gak tahu sopan santun, ya? Gak lihat saya sedang nanya Bentang. Kenapa kamu motong pembicaraan. Jawab!”&lt;br /&gt;“Ya, maaf keamanan… ” kata Tendi sambil nangis sebelah mata.&lt;br /&gt;“Staf Keamanan! Seret dia!!!” Staf keamanan langsung megang Tendi, lalu diseret ke luar masjid.&lt;br /&gt;“Hukum saja yang berat, kalau bisa telanjangi lalu arak keliling kampong” kata seseorang.&lt;br /&gt;“Siapa yang mengusulkan itu?...” kemanan bertanya dan melirik-lirik santri yang usul tadi.&lt;br /&gt;“Saya keamanan…” kata Bentang, mengaku.&lt;br /&gt;“kenapa berkata seperti itu?” Tanya keamanan.&lt;br /&gt;“Sebab saya mencintainya, tapi dia selalu nyakitin saya… huk…huk…” jawab bentang sambil nangis, seolah sedang curhat.&lt;br /&gt;“Udah, sabar ya…” kata keamanan sambil menyuruh Bentang duduk.&lt;br /&gt;“Kok disuruh duduk? Bentang juga kan pacaran. Wah, keamanan gak adil ni” kata seorang santri sambil menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;“BUKK!!” santri tadi langsung dihantam kamus juga.&lt;br /&gt;“BUKK!!” santri tadi membalas hantaman keamanan.&lt;br /&gt;“BUK…BUK..BUK..BUKBUKBUKBUK!!!” Santri tadi dikeroyok keamanan. Dan tim kesehatan membawanya ke Ruang Sangat Gawat Darurat.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah santri yang kena jerat hukuman sebab pacaran itu ada 17 pasang. Dan semuanya disangsi, hukumannya sama rata. Yaitu disuruh putus. Santriwan dan santriwati yang berpacaran disuruh mengatakan kata-kata perpisahan dengan pasangannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo! dimulai dari santriwan yang mengatakan kata-kata putusnya, dan santriawati yang memberi keputusannya” kata keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Hamka, “Gina, maafkan Akang. Sepertinya sampai di sini hubungan kita. Kita putus, ya. Terimalah dengan lapang dada. Kelak kalau kita jodoh, kita akan bersatu kembali” Ucap hari, sambil menangis sebelah mata.&lt;br /&gt;“……” Gina hanya diam saja. Dia menangis terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lanjut!” Suruh keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal Fauzi, “Lis, kita putus saja, ya” Rizal bilangnya to the point.&lt;br /&gt;“Emang dari dulu aku mau putus sama kamu!” Jawab Elis tak berperasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lanjut!” suruh keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik, “Sayangku Naila. Terpaksa aku harus memutuskan kamu, sayang. Maafkan ananda, oh Niala” Sidik memutuskan Naila seolah merayu.&lt;br /&gt;“Eh, gombal. Emangnya siapa yang jadian” Jawab Naila.&lt;br /&gt;Mendengar jata-kata itu, sidik terkulai lemas tak berdaya, dia pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tim kesehatan gotong Sidik!... Yu, pasangan selanjutnya!” suruh keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uden, “Dea, kita putus!”&lt;br /&gt;Dea, “Baik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Singkat padat dan pasti. Bagus. Lanjuuuut!” suruh keamanan sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendi, “Qowi, mungkin selama hubungan aku belum pernah mengatakan I love you. Sekarang saat terakhir, aku akan mengatakannya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qowi, “Gak usah, aku sudah medapatkan kata cinta dari pria lain. Kamu terlambat mengatakannya” ucap Qowi memotong kata-kata Hendi.&lt;br /&gt;Hendi mendengar itu, dank arena itu Hendi pingsan, tubuhnya kejang-kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tim kesehatan, gotong dia. Pasangan berikutnya, lanjut!” suruh keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saeful Anam, “Untuk Melan dan Maya, maaf sekarang kita bertiga harus berpisah. Kalian kedua pacarku yang sangat aku sayangi….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesa, “Oh, jadi loe menduakan gue…” ucap Mesa sambil ngerebut pemukul sebesar jempol dari tangan kemanan. “dasar! Bajingan!” Ucap Mesa sambil menghantam bokong Eful dengan itu pemukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya, “Mesa, boleh aku pinjam pemukulnya” pinta Maya.&lt;br /&gt;“Boleh” jawab Mesa sambil menyerahkan itu alat pemukul.&lt;br /&gt;“Pria tengik, bau dan belagu” ….”BUKKK!!!” maya berkata sambil menghantam bokong Eful beberapa kali dengan itu pemukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesehataaaaannnn… Gotong Eful!” suruh keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya belum pingsan kak keamanan” kata Eful memotong.&lt;br /&gt;“oh, belum pingsan”&lt;br /&gt;“iya, belum, kak” jawab Eful.&lt;br /&gt;“BUKKKK!!!!” suara hantaman kamus.&lt;br /&gt;“Sekarang gotong dia” suruh keamanan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Santri, kalian jangan terlalu membuang-buang waktu dengan pacaran, ada waktunya untuk cari pasangan hidup. Jadilah santri yang baik, jangan jauh-jauh datang ke sini hanya untuk cari pacar. Wanita bisa di mana saja dicari. Tapi ilmu agama, sulit dan sempit” Ucap keamanan menasehati para santri yang sudah pada putus hubungan dengan pacarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;kisah di atas tidak aku alami, aku tahu itu kisah dari temanku yang saat itu nelfon aku. Dia curhat kalau dia disuruh putus. Dia juga bilang, “Kak, kalau kakak ada di sini. Pasti kakak akan dihukum, dan hukumannya yang terberat”. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4175865195680212801?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4175865195680212801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4175865195680212801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4175865195680212801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4175865195680212801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/07/jangan.html' title='Jangan'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-9171285062581946949</id><published>2009-07-16T10:26:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T10:27:12.617-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><title type='text'>Guru</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Flu; Sebagai Guru Kebijakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh CECEP HASANUDDIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunan Gunung Djati&lt;/span&gt;-Sakit flu membut saya sulit untuk beraktivitas. Apalagi, sekarang saya sedang melaksanakan UAS. Padahal, dua hari yang lalu saya telah menghabiskan dua tablet obat flu. Itu pun atas saran sahabat saya. Sebenarnya, saya mau menghindari semua obat warung maupun obat apotek. Namun, daya saya tak sampai untuk menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tekadang, saya ketika dilanda semacam flu, hal pertama yang saya lakukan adalah mengambil sapu tangan atau yang sejenisnya. Karena kalau tidak seperti itu, ketika saya batuk,bersin,maka segala kotoran akan keluar secara sembarangan. Bagi saya, flu membuat tidak nyaman dan bekerja pun menjadi kurang konsentrasi. Sedikit-sedikit, ketika air yang ada di hidung saya hendak keluar, maka saya sudah siap membuat tarikan kencang.”Srekk…srek..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seperti itu, saya agak sedikit nyaman. Karena berhasil melampiaskan sekaligus membuang jauh-jauh segumpal penyakit. Memang terlihat kurang sopan bagi sebagian orang, namun bagi saya, hal seperti itu adalah seperti kembali ke masa kecil. Tak apalah, hitung-hitung bernostalgia dengan masa lalu. Tapi, ingat, bukan berarti saya kekanak-kanakan. Tidak sama sekali. Sumpah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua saya lakukan atas dasar kesadaran pribadi, dan tidak membawa organisasi manapun atau pun dari partai tertentu. Sekali lagi tidak!! Karena jika saya tidak melakukan itu pun, saya tetap akan menuliskannya. Tentunya sebatas pengetahuan saya. Misalnya, Anda tidak bisa mengukur sejauh mana pengetahuan saya, maka Anda cukup berimajinasi tentang saya. Anda harus merasa yakin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flu memang sebuah problem. Problem ini akan berlanjut jika kita kurang perhatian terhadapnya. Apapun butuh perhatian di dunia ini. Tanpa perhatian, seorang Gadis yang lagi kasmaran, akan merasa hampa, dan akhirnya terputus tanpa status. Begitu pun dengan yang namanya flu, sangat butuh untaian perasaan dan sumbangsih, tentunya dari pihak yang terkena gejala flu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf sekali lagi, sudah saya katakan sebelumnya, bahwa dua hari yang lewat, saya sudah menelan dua pil Sanaflu. Tapi, flu yang ada, belum juga beranjak pergi. Saya hanya berbaik sangka saja,”oh..ternyata masih betah dengan saya, Dia belum mau pindah ke lain hati,”. Itu saja yang saya ucapkan. Tidak banyak. Bagi saya, lebih baik berkata sedikit dari pada berkata banyak tidak juga sembuh. Nah, selama dua hari itu, ibaratnya saya sedang terkena sindrom. Saya pun kurang mengerti apa itu makna sindrom. Ketika kata itu melintas di kepala saya, saya langsung menuliskannya. Karena kalau berlama-lama berpikir kata apa yang terbagus yang ingin saya tulis, maka sulit bagi saya meneruskan sebuah tulisan. Kalau tidak percaya, silakan coba!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah  yang sedang saya alami saat ini. Flu. Jangan sekali-kali menganggap enteng tentang flu. Sering orang selintas berkata,”Wah..hanya flu!”. Mudah sekali mengatakan seperti itu, mungkin saja, kebetulan orang itu, kurang menghayati apa yang sedang terjadi pada orang lain. Istilahnya, kurang begitu empati. Menghadapi tipe orang yang semacam ini, perlu kesabaran exstra. Saya pun kurang begitu yakin kalau anda, misalnya, kebetulan terkena flu kemudian ada salah satu teman anda ada yang mengatakan seperti di atas, lantas anda tidak tersinggung dengan ucapannya. Yang pasti, perasaan sakit hati itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tingggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita menganggapnya sebagai angin lalu saja, kemudian tanpa berpikir negatif untuk membalasnya. Atau malah kita memasang strategi jitu untuk membalasnya. Hingga anda merasa, dalam perasaan anda,”saya pun bisa menghina seperti itu!”. Akhirnya, kontrol emosi anda pun tidak terkendali lagi. Kata-kata yang ada di kebun binatang Ragunan pun diumbar bebas. Adu fisik terjadi. Anda salah, mereka pun kurang mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit untuk bertindak bijak. Apalagi dalam keadaan yang sangat tertekan sekali pun. Perlu kontrol emosi, perlu berpikir dalam, tentang apa yang akan terjadi setelah kita bertindak. Ini hanya persoalan flu, belum yang lain. Padahal, kalau kita sadar, persoalan yang lebih berat sedang menunggu di luar sana. Mungkin ada baiknya jika saya mengutip sebuah mahfudzat yang mengajarkan kebijakan. Begini kira-kira dalam bahasa Indonesianya,”Berpikirlah sebelum anda bertindak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu memang diketahui sebagai pisau kebijakan. Kalimat itu pun tidak bermakna bijak, jika kita dalam segala tindakan kurang memperhatikan aspek berpikir jernih. Saya pun sungguh menyadari, persoalan apapun, seringan, dan seberat apapun, semuanya butuh proses. Proses yang baik, saya meyakini hasinya pun akan baik. Kita jadikan flu sebagai guru kebajikan dan kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis, mahasiswa BSA 2006&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-9171285062581946949?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/9171285062581946949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=9171285062581946949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/9171285062581946949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/9171285062581946949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/07/guru.html' title='Guru'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-7738396688241910634</id><published>2009-07-16T10:22:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T10:26:18.601-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><title type='text'>Sanyun</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulitnya Budaya Santun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh REZA SUKMA NUGRAHA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunan Gunung Djati&lt;/span&gt;-Minggu lalu saya menulis sebuah opini non-komersial alias surat pembaca. Beberapa hari kemudian, surat tersebut dimuat di &lt;a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=81851"&gt;Pikiran Rakyat edisi Jumat, 19 Juni 2009&lt;/a&gt;. Berikut isi suratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat Tahu Mana yang Harus Dipilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim kampanye pada pemilu di tingkat mana pun hanya memberi satu pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia. Disebut sebagai sebuah pelajaran karena hanya satu hal itu yang paling diingat oleh masyarakat. Yaitu, saling menjual pencitraan masing-masing (kandidat maupun partainya). Pelajarannya, yakni jangan terlalu percaya pada orang lain! Walaupun, orang itu orang terhormat sekaliber calon presiden dan wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebetulnya, masyarakat tak kaget dengan peristiwa yang terjadi dalam kampanye pilpres ini. Saling klaim keberhasilan dan menyindir pasangan lain. Walaupun banyak literatur, pemberitaan, catatan, dan suara rakyat di berbagai media yang meminta keikhlasan para kandidat untuk tidak melakukan hal-hal (yang mereka tahu sendiri bahwa itu perbuatan) keji. Dengan saling menyerang, mulai dari para tim sukses hingga kandidat itu sendiri. Kemudian mengklaim keberhasilannya sendiri, mengobral janji-janji yang (terlihat) sulit untuk ditepati, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saya sangat berharap Tuhan masih mau melindungi rakyat Indonesia. Di antaranya, dengan mengabulkan doa saya, yaitu agar mereka membaca surat ini dan menyadari perbuatannya lalu merealisasikannya. Kalau saja para kandidat dan tim suksesnya bersikap santun, apa adanya, jangan didramatisir, tidak agresif, tidak menyerang, tidak takabur dengan keberhasilan, rakyat tahu siapa sebenarnya yang layak dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon, para politisi jangan mengelak dengan beretorika macam-macam tentang tulisan ini. Saya yakin, mayoritas rakyat Indonesia menyetujui apa yang saya katakan. Karena saya tahu tuntutan semacam ini sungguh sulit dilaksanakan. Kecuali atas kehendak Tuhan dan ada keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu, koran PR pun menyebar di beberapa wilayah di Jawa Barat. Beberapa jam kemudian setelah koran PR tersebar, saya pun dapat short message service (sms) dari sms. Sms itu berisi cacian. Dugg! Saya agak terbata-bata membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini baru kali kedua saya mengirimkan surat pembaca. Surat pertama dulu tidak sampai memuat reaksi orang. Jadi, saya tidak tahu, apa ini kebiasaan berpolemik di surat pembaca, yaitu mengirimkan sms. Masalah sms sendiri, karena saya mencantumkan nomor handphone saya. Hal tersebut, saya kira sebagai sebuah etika menulis surat pembaca agar tidak dinilai surat kaleng dan tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cacian. Hati saya tersentak setelah membaca kalimat-kalimatnya. Intinya ia tidak setuju kalau saya membingungkan perilaku capres di negeri ini karena di negeri orang seperti Amerika Serikat, hal seperti itu sudah biasa. Saya jadi berpikir keras, apa layak kebudayaan Barat (AS) harus disamakan dengan kebudayaan santun Timur (indonesia)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa menit kemudian, muncul sms lagi dari sebuah nomor. Setelah saya baca, sms itu juga berisi persetujuan dengan sikap saya. Saya pun agak terobati dengan sms tersebut. Kemudian ada sms lagi. Lagi. Lagi. Wah, ternyata banyak bermunculan sms dari para pembaca PR. Mereka membaca surat pembaca saya dan memberikan tanggapan. Sms itu juga berisi pujian, saran, dan juga cacian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sisi, ada kepuasan. Karena tulisan saya ternyata bisa menimbulkan polemik walaupun bukan berupa opini atau artikel “berbayar” lainnya. Ini cuma surat pembaca. Apalagi membaca tanggapan positif. Saya pikir manusiawi kalau kita merepon positif pada orang yang berlaku “baik” pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, saya juga agak shock! Hal tersebut karena saya membaca tanggapan yang negatif bahkan cenderung berpendapat kasar. Bahkan ada yang membawa-bawa reputasi kampus dan cacian dengan kata-kata kasar, Hal ini juga manusiawi. Tapi saya sadar betul ini cuma ujian mental semata. Yang saya prihatinkan, ternyata di bawah para capres dan cawapres, masih banyak orang-orang yang tidak santun juga. Walah, benar yang saya tulis di akhir surat bahwa tuntutan semacam ini sulit dituruti, keculai atas kehendak Allah dan ada keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut sms yang masuk di inbox handphone saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 081221554855&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Bodoh tdk berbobot, di AS aja debat saling serang dah biasa ini Politik bung jgn sok Tahu Sombong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 085221205251&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SY SETUJU DGN ANDA, SDR REZA! SY HARAP, ANDA &amp;amp; TMN2 ANDA BISA MENSOSIALISASIKAN PEMIKIRAN TSB KPD RAKYAT INDONESIA. TP BUKAN BERARTI GOLPUT KAN?! MENGAPA SY MEMINTA ANDA MENSOSIALISASIKAN PEMAHAMAN &amp;amp; PEMIKIRAN TSB, KRN TDK SMUA ORANG INDONESIA BISA MMBELI &amp;amp; MMBACA KORAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 0818218677&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak reza. sy bc tulisannya di pr hr ini. bagus dan mewakili hati nurani sy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 085220030222&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ass,,,sblm ny maaf kalo ganggu?td ak bc d srt pembc pr, truz ak liat reza kul d uin cibiru, blh tanya sesuatu ga? D uin tu adajursn sains biologi ga?dblz ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 081572802009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asslm, gw bc Opini km d PR tntng “rkyt taU mn yg hrs d Lih” yUpZ gw stuju bgt,”Lnjutkn”,,,nO 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 08122323901&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ass reza, sy setuju bgt dg pendapat antum, cuman tlg tak usah menggurui tak semua org pnya plhanspt antum ini sistem yg jelek kt cariyg plg sdkt mandharotnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 085624765845&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asw. Sy atun anesti mhsiswi pend. mtk Unpas. Mbaca srt pembca yg dtulis a reza, cukup menarik. Jd dr k 3 calon presidn nt ad ga yg sjalan dgn pndpt a ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 085220071149&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh reza lo tak usah lebay sok bawa2 kampus segala d surat pembaca, eh lotau gak kampus lo tuh NORA,KAMPUNGAN,KRG PEMINAT!! Biaza aja kl jd orang!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-7738396688241910634?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/7738396688241910634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=7738396688241910634' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7738396688241910634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7738396688241910634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/07/sanyun.html' title='Sanyun'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-8081969043279850143</id><published>2009-07-16T10:07:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T10:08:52.729-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Anak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ajari Anak Senang Membaca Yang Positif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALI NUR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunan Gunung Djat&lt;/span&gt;i-Setiap malam, terutama setelah dinner saya selalu bertanya kepada anak saya tentang pelajaran yang dia terima dari gurunya di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemarin, dengan bangga anak saya bercerita tentang pelajaran mendongeng dan bernyanyi  yang sangat dia sukai di sekolah. Ketika saya tanya lagu dan dongeng apa yang sangat disukainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ragu anak saya menjawab bahwa dongeng dan lagu yang disukainya adalah tentang si Kancil. Kemudian dengan lantangnya dia menyanyikan syair lagu yang terkenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Kancil Anak Nakal, Suka Mencuri Ketimun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo Lekas Dikejar, Jangan diberi Ampun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya dari dulu sampai sekarang lagu dan cerita si Kancil masih saja menjadi favorit para guru  di Indonesia untuk mengajarkannya kepada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran kalau ditanyakan kepada anak-anak Indonesia, mereka pasti tahu dan hapal lyric lagu karangan Ibu Sud tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah lagu dan dongeng tentang si Kancil ini juga dikenal  oleh anak-anak Melayu  di Singapore atau Malaysia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak begitu bergembira ketika mendengar dongeng si Kancil yang bisa memperdaya petani  dengan mencuri  buah-buahan yang ada di kebun tanpa ketahuan oleh pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok si Kancil dalam dongeng selalu dikisahkan sebagai  binatang yang cerdik tetapi nakal dan licik yang selalu membuat petani marah karena sering dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas,  tidak ada yang aneh dan luar biasa dalam syair lagu dan dongeng si Kancil itu. Apalagi hanya diperdengarkan untuk menghibur anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalau disimak dan ditelaah dengan serius, timbul keprihatinan dan pertanyaan yang cukup mengganggu dalam benak dan pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dongeng dan lagu itu diajarkan kepada anak-anak, bukan mustahil secara tidak sadar lagu itu direkam di bawah sadar anak-anak Indonesia dan dicontoh untuk dipraktekan ketika dia tumbuh menjadi dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diperhatikan syair lagu popular diatas sahaja, paling tidak ada dua prilaku negative si Kancil yang berbahaya  jika ditiru oleh anak ketika dewasa. Pertama, kelakuan nakal suka mencuri milik orang lain dan kedua sikap tidak mau memberi ampun (maaf) kepada orang yang pernah berbuat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan sikap selalu merasa diri paling benar, tidak toleran dan tidak mau memaafkan orang lain yang sering terjadi pada kelompok masyarakat tertentu sedikit banyak dipengaruhi oleh cerita-cerita dongeng negative yang diterima oleh anak-anak ketika kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sudah menjadi kebiasaan turun temurun orang tua sering mendongeng kepada anaknya ketika anak menjelang tidur (bed time story). Artinya, sebagai orang tua kita perlu berhati-hati dan selektif dalam memilih dongeng yang akan diceritakan kepada anak-anak menjelang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kekhawatiran dan keprihatinan saya tentang pengaruh negative dongeng ketika anak-anak terhadap prilaku anak ketika dewasa sekarang mulai diperhatikan oleh para pendidik dan pendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya dongeng  yang dilakukan orang tua sebelum anaknya tidur ataupun yang diajarkan guru di sekolah mempunyai banyak manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berguna sebagai sarana menumbuhkan minat dan budaya senang membaca pada anak-anak, dongeng juga merupakan sarana efektif untuk menumbuhkan nilai kejujuran, keberanian dan nilai-nilai moral positif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap siap untuk menang dan siap kalah dan prilaku sportif tentunya bisa ditanamkan sejak anak-anak melalui dongeng. Jangan-jangan banyaknya para pemimpin yang tidak siap kalah dalam pilihan raya yang baru saja dilaksanakan di Indonesia, juga dipengaruhi oleh pengalaman dongeng negative yang diterimanya waktu kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar akan pentingnya dan perlunya terus membudayakan dongeng positif dan memotivasi minat membaca anak-anak, ada beberapa komunitas di Indonesia yang aktif mensosialisasikan kegiatan mendongeng ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Magelang Jawa Tengah misalkan, ada komunitas yang bernama Gandok Seni Pondok Tingal. Komunitas yang berada dekat candi Borobudur ini satu minggu sekali menyelenggarakan kegiatan mendongeng masal. Ratusan anak-anak di daerah itu dengan senang hati berbondong-bondong mengunjungi komunitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tujuannya untuk menanamkan nilai-nilai posotif pada anak-anak, dongeng yang diperdengarkan adalah cerita tentang bagaimana menyayangi binatang, memelihara alam sekitaran, menghormati orang tua, menyayangi teman dan cerita dunia anak lainnya yang penuh dengan nilai-nilai moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ditekankan hanya dongeng-dongeng yang mendidik yang diperdengarkan dalam komunitas itu, Ninik pengelola komunitas itu mengatakan: “ Yang jelas tidak boleh bercerita Kancil Mencuri Timun karena anak-anak tidak boleh diajari mencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan di Magelang, seorang ibu di Bandung berinisiatif membentuk sebuah komunitas dengan nama Reading Bug.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas ini bertujuan untuk membantu anak menjadi senang membaca karena membaca merupakan salah satu kunci sukses anak di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roosie Setiawan, tokoh utama komunitas ini mengatakan bahwa kelompoknya ingin menularkan virus senang membaca kepada anak-anak dengan cara orang tua membacakan cerita di depan anak dengan suara keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide komunitas ini diilhami dari buku yang dikarang oleh Paul Jennings The Reading Bugs and How You Can Help Your Child to Catch It!) dan The Read-Aloud Handbook karya Jim Trelease.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua buku diatas berisi tentang perlunya orang tua menularkan minat membaca kepada anak-anak dan langkah-langkah praktis bagaimana bercerita yang baik. Kegiatan read aloud (membaca dengan suara keras) selain mentransfer cerita yang ada di buku kepada anak, juga secara tidak langsung merangsang anak untuk senang membaca. Hubungan cinta antara anak dan orang tua juga akan tercipta dengan kegiatan membaca seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua buku diatas mengilhami komunitas Reading Bug di Indonesia untuk berkempen agar para orang tua di Indonesia menyisihkan waktu minimal 20 minit setiap hari untuk membacakan cerita di depan anak-anak agar mereka senang membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun komunitas ini belum lama berdiri, mereka aktif mengadakan training dan workshop untuk guru dan orang tua untuk berkampen tentang manfaat dan pentingnya bercerita dan membaca buku di depan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas ini juga berusaha membagikan lebih dari 1000 buku karya Jim Trealese yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia bagi 1000 sekolah Taman Kanak-kanak di Indonesia. Tentunya ini bertujuan agar para guru bisa mentransfer cerita-cerita positif dan mengikuti petunjuk praktis yang ada dalam buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya usaha dua komunitas, baik itu yang ada di Magelang maupun di Bandung perlu didukung oleh masyarakat dan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat perlu mendukung kedua komunitas tersebut dan sadar akan pentingnya bercerita kepada anak-anak untuk menumbuhkan nilai-nilai moral sejak usia dini kepada anak-anak. Usaha yang dilakukan oleh dua komunitas itu perlu dicontoh oleh masyarakat di daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga perlu mendukung kampen dua komunitas ini. Selain bisa membantu lewat pemberian dukungan financial bagi dua komunitas ini, pemerintah bisa juga mengintruksikan para guru taman kanak-kanak dan guru sekolah dasar untuk ikut membantu kampen yang dilakukan oleh dua komunitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika inisiatif dua komunitas tersebut bisa menular keseluruh daerah di Indonesia, saya optimis bahwa anak-anak Indonesia akan tumbuh lebih baik dan memegang nilai-nilai moral yang berguna ketika mereka dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak hanya mengenal cerita si Kancil anak nakal yang begitu melekat pada pikiran anak-anak Indonesia saat ini. Lambat laun cerita yang kurang mendidik ini akan diganti oleh cerita kejujuran, sportifitas, siap kalah dan siap menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan dengan kampen dua komunitas di atas yang didukung oleh masyarakat dan pemerintah akan memunculkan generasi Indonesia yang senang membaca. Semoga membaca sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi terus meningkat di Indonesia, karena erdasarkan data Badan Pusat Statistik, baru 23,5 peratus sahaja orang Indonesia yang menjadikan membaca sebagai cara mendapatkan informasi. Jumlah ini kalah jauh dibandingkan mereka yang menonton televisi (85,9 peratus) dan mendengarkan radio (40,3 peratus).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-8081969043279850143?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/8081969043279850143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=8081969043279850143' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8081969043279850143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8081969043279850143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/07/anak.html' title='Anak'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-550517070580223614</id><published>2009-07-16T09:58:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T09:59:47.227-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Tuti</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Carita Sunda&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BADRU TAMAM MIFKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Parebut Tuti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunan Gunung Djat&lt;/span&gt;i-Si Dano, sakolana di SMP Cikeruh-Sumedang, Budak Kang Baban, nyarita pangalamanna gelut ka kuring, dijieun carita we ku kuring, daripada weuh gadag di imah ngadon ngegelan panto...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dano jeung Dacep rèk galungan, teu sirikna jiga nu rèk silih rebut pati. Elit politik mah di luhur silih dudut parebut korsi, oalah nu duaan malah rèk slih jenggut parebut Tuti. Enya Tuti pisan, Tuti Suryanti binti Ahmad Arjaki, èstuning wanoja geulis ting-ting nu jadi inceran ampir kabèh lalaki di lembur Cipati. Teu ukur barudak pamuda kamari, dalah aki-aki tujuh mulud gè najan teu nyirikeun teu welèh wè ulubiung milu kompetisi miharep ati Tuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najan loba nu mikahayang ka Tuti, tapi nu meusmeus ranteng urat beuheung teu sirikna unggal poè agul diri kabungbulengan ku Tuti mah nu kadèngè téh ukur Dano jeung Dacep, dua pamuda lembur nu silih sigeung pada hayang meunangkeun cinta Tuti. Kapengpeongan. Kompetisi dimimitian ku paginding-ginding hareupeun Tuti. Dano ngabèlaan nginjeum duit meuli baju alus najan hasilna teu pisan-pisan ukur ginding kakampis. Pon kitu deui Dacep nu embung èlèh ginding najan adèan ku kuda beureum. Tahap kadua kompetisi jadi èkstrim: Gelut! Dano nangtang. Dacep embung disebut leutik burih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peuting ayeuna pisan, di kebon awi, dua pamuda tèh geus panas hatè. Salah sahiji kudu meunang tarung. Nu èlèh kudu ngajauhan Tuti. Pikeun Dano jeung Dacep, teu paduli teuing lalaki lian mah, da puguh teu ngagokan iwal jelema nu ngajanteng hareupeunnana. Dua pamuda tèh geus titatadi silih haok, ngawakwak tipopolotot, bet ngahaja silih bales pantun heula. Dano geus nembongkeun sihung. Dacep geus buringas. Dano nembongkeun potrèt Tuti ukuran poskar. Dacep gè embung eleh, manehna nembongkeun potrèt Tuti ukuran 10 R. Hate Dano ngagedur ngabebela kapanasan. Duanana ngahaja can darahar ti imah mula, puguhing kolot can nyangu. Duanana gè geus taki-taki, geus siap nadah serangan nu jadi musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serenteng dua pamuda téh buk-bek silih dudut bulu suku heula. Beletak Dano miheulaan neunggeulkeun peureup kana sirah Dacep. Solontod Dacep mundur gubay-gèboy, gedebut nambru luhureun ti munding. Tapi manèhna rikat nangtung deui. Serenteng narajang Dano. Buk sukuna nojos angen Dano. Goak Dano ngagoak, ngacleng nangkuban. Amarahna mingkin ngagugudag. Dano nyambat ngaran Tuti. Dano takbir. Gajleng muru Dacep, peletak ngèprèt ceuli katuhuna. Ngung karasa panas. Dacep ngocèak nyambat nini na.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teu kungsi lila Dano ngajenggut. Dacep pungak-pingek puguh Dano sirahna botak. Antukna ngoèt. Teu poho nojos liang irung Dano ku cingir; haneut. Ahirna silih suntrungkeun. Gubrag dua pamuda tèh nangkarak. Dano rikat nangtung, pon kitu deui Dacep nangtung ku dua leungeunna. Dano taki-taki. Dacep masang kuda-kuda. Ngahègak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Set Dano nyokot pèso tina sakuna. Pèso kater. Dacep teu riuk-riuk gimir diasongan peso tèh. Set manehna ge nyokot panakol bedug. Gajleng Dano ngasongkeun pèso, buk leungeunna di takol ku Dacep. Dano kèkèrèpèngan nyambat ucingna. Sabot kitu Dacep nèngkas suku lawanna. Duk! Dano jungkir balik, labuh bujur tiheula nenggar akar. Goak bisul Dano bucat. Gap Dacep nyekel leungeun Dano. Dacep marieuskeun leungenna. Puguh wè atuh leungeun Dano asa rengat. Pupuringisan. Embung èlèh, leungeun kèncana nyokot kai sapotong deukeut sukuna. Peletak Dacep ditakol. Leng dunya asa muter. Serenteng deui duaan silih tarajang. Buk peureup Dano meupeuh beungeut Dacep. Beletak siku Dacep nyiku tarang Dano. Bruk duaannana kapiuhan silih tangkeup. Euweuh nu èlèh. Euweuh nu meunang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saminggu tiharita, kompetisi pindah kana mistik. Ber Dacep neang pèlèt ka kulon. Pon kitu deui Dano nyiar pèlèt ka wètan. Lain pèlèt keur lauk. Tapi keur mèlèt Tuti. Dano guguru ka Abah Ebah. Dacep hiber ka Abah Omon. Dua bulan guguru asihan. Dano yakin pèlètna matih. Dacep ogè optimis. Dano makè jurus kiceup sakti. Dacep makè rumus seuri sakti. Duanana kudu makè jurus jeung rumus èta maksimal dua lengkah ti beungeut Tuti. Geus rèngsè guguru, duanana panggih deui. Silih agul pèlèt. Hayu wang buktikeun ka jinisna! Pakuat-kuat ajian. Saha nu matih bakal meunang asih Tuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poè minggu jam salapan kompetisi dilaksanakeun. Dua pamuda tèh geus ti isuk-isuk naragog hareupeun imah Tuti. Jam satengah sapuluh targèt kaluar ti imahna. Ngajanteng sisi jalan jiga nu rèk megat mobil. Dano nyampeurkeun ti belah kulon. Dacep ti belah wètan. Dua lèngkah ti Tuti, dua pamuda tèh ngaluarkeun jurus. Biwir Dano katangen kunyam-kunyem:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nelengnengkung-nelengnengkung&lt;br /&gt;sima mamah sima papah&lt;br /&gt;kiceup aing kiceup giring&lt;br /&gt;seblok seblak seblok seblak&lt;br /&gt;pot nyepot pot nyepot&lt;br /&gt;wawawaw wawawaw&lt;br /&gt;ajrih asih hyap ampih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puuh! Dano niup leungeunna, tuluy diusapkeun kana panonna. “Hyap, kadieu Tuti…” Dano ngagupayan bari keukeureuceuman. Dacep embung èlèh ajian. Biwirna katèmbong runyah-renyoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;balatuktak balatungteng&lt;br /&gt;godeg oma turalean&lt;br /&gt;seuri nyari imut nurut&lt;br /&gt;gurilap-gurilap mantap&lt;br /&gt;tah sima jimat tumarima&lt;br /&gt;tah tuma jimat nu marema&lt;br /&gt;wak wek wok wak wek wok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puah! Dacep miceun ciduh kana leungeunna. Lèdot diusapkeun kana biwirna. “Hyap kadieu Tuti…” Dacep ngagupayan bari sura-seuri. Kaciri aya rèmèh nyelap dina huntuna. Angin mingkin ngagelebug. Lieuk Tuti melong Dano. Lieuk Tuti melong Dacep. Lila teu ngomong. Sabot kitu. Tid! Tid! Tidid! Aya motor gede tur alus eureun hareupeun Tuti .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuti nya?” pamuda nu luhureun motor nanya.&lt;br /&gt;“Muhun.”&lt;br /&gt;“Ameng Yu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuti unggeuk, tuluy nyampeurkeun. Gèk diuk luhureun motor. Geuleuyeung motor ngabiur ninggalkeun Dano jeung Dacep. Langit ceudeum. Dano jeung Dacep kapiuhan. Pingsan. Pèlèt Abah Ebah jeung Abah Omon èlèh ku pèlèt Jepang…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-550517070580223614?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/550517070580223614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=550517070580223614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/550517070580223614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/550517070580223614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/07/tuti.html' title='Tuti'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5397667801736546469</id><published>2009-07-16T09:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T09:56:49.100-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebebasan “Tidak Beragama”?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh SUKRON ABDILAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunan Gunung Djati&lt;/span&gt;-Akhir-akhir ini saya dibuat gelisah dengan berita media massa. Tak tanggung-tanggung, berita itu mengusik saya untuk bertanya kepada pakar kebebasan beragama UIN Bandung, Ibn Ghifarie, bagaimana dengan masyarakat China. Katanya, di negeri “Tirai Bambu” itu agama tidak bebas. Ada tekanan, tindak represif dan diskriminasi pemerintah komunis bagi satu bumbu kehidupan: Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya jadi berpikir, memang dunia ini terbalik. Di suatu negeri, Agama ditindas. Namun di lain negeri, Agama ada juga yang menjadi penindas. Untuk konteks China, katanya, Islam sudah berkembang selama 1300 tahun yang lampau. Bahkan ada juga yang menyebutkan Islam di sana sudah berkembang sejak masa Rasulullah Saw. Satu yang tak pernah saya tahu, bahwa umat Islam China sekitar puluhan juta orang. Sayangnya Islam di sana menjadi objek penindasan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di Indonesia berbeda; saudara kita, warga China mayoritas beragama non-Islam. Padahal, tanpa kita ketahui di negeri asalnya jumlah penganut Islam tak jauh berbeda dengan Negara kita. Perkembangannya juga lebih pesat ketimbang Islam kita dan lebih lama waktunya. Laksamana Cheng Ho adalah bukti kuat bahwa kejayaan Islam China pernah mengukir sejarah di bumi pertiwi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian saya yang agak formal ini, ada satu pelajaran yang mesti kita benamkan kuat-kuat di hati dan jiwa. Bahwa ketika suatu ajaran, ideologi, atau kredo Agama menjadi sedemikian fanatis dianut, lahirlah aksi yang mengarah pada tindak kekerasan. Seperti di Provinsi Xinjiang sana. Warga China yang berasal dari Suku Uighur, mayoritas muslim, sedang ditimpa kekejaman. Saya, misalnya, teriris hati ini ketika menyaksikan photo-photo korban pembantaian suku Uighur oleh suku Han yang dikirim via facebook oleh kawan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaghfirullah, persoalan politik kok menelan korban jiwa dari warga sekitar,” bisik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ini, saya bilang. pembantaian yang tak berperikemanusiaan. Karena yang namanya pembantaian tentu saja tidak berperikemanusiaan. Inilah ini, saya bilang. kebebasan beragama yang terus ditutup agar tidak merongrong kekuasaan komunisme di China. Inilah ini, saya bilang. Ada perlawanan dari warga kalau pemerintah menjalankan roda pemerintahannya secara represif. Dan, terakhir; inilah ini, saya bilang. Seperti yang kita lakukan (umat Islam dan pemerintahan dulu) kepada para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Inilah ini, saya bilang. Udah ah cape!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, agar tidak terjadi seperti di China sana, saya kembali bertanya kepada Ibn Ghifarie, apakah harus ada juga gerakan “kebebasan tidak beragama”. Supaya komunisme atau atheisme dan pemeluk agama dapat hidup berdampingan. Bukankah kita, kebanyakan, dalam praktik kehidupan sering meniadakan Tuhan? Nah, itu juga atheis lho. Jadi di mana batas pemilah orang yang bertuhan dan tidak bertuhan? Beragama dan tidak beragama? Kalau kita dari sisi praktis melupakan terus-terusan Tuhan, Allah Swt. Tidak ada salahnya, kan, kalau mengkampanyekan: Kebebasan Tidak Beragama. Ini buat saudara kita yang merasa terbebani dengan kredo Agama yang katanya, njlimet, irasional, dan mistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya sendiri, masih tetap berpegang teguh pada jalur kampanye bikinan Ibn Ghifarie: Kebebasan Beragama. Kumaha tah Lur?!!! Hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From “kamar sempit” 14 Juli 2009, Pukul 02.40-03.00 WIB&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5397667801736546469?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5397667801736546469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5397667801736546469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5397667801736546469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5397667801736546469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/07/agama.html' title='Agama'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5524599133722462086</id><published>2009-02-26T19:22:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T19:27:58.323-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Nabi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Nabi Kambing&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh BAMBANG Q ANEES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunan Gunung Djati–&lt;/strong&gt;Ini dongeng buat kita dari Muhammad Iqbal, tak hanya didengar namun juga dapat dijadikan sebagai cermin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Alkisah dahulu kala, sekawanan kambing hidup bebas di padang rumput yang luas. Mereka hidup aman sentosa, dan dapat berkembang biak dengan leluasa. Tenaga kambing-kambing ini pun begitu kuatnya sampai-sampai sanggup menghalau semua ancaman dari binatang pemangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu, situasi pun berubah. Bencana mendatangi kawanan kambing itu, dari hutan belantara muncullah kumpulan harimau yang memburu mereka. Memangsa mereka semua. Merebut serta menjajah, harimau-harimau itu merebut kemerdekaan kawanan kambing. Padang rmput hijau itu lalu banjir oleh darah kambing. Sebagian besar kambing-kambing itu mati, kecuali seekor kambing tua yang licik, penuh tipu daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing tua itu marah atas kebiadaban sang harimau, ia bertekad mengembalikan kejayaan masa lalunya. Kambing tua itu berpikir, kekuatan yang ia miliki tak mungkin dapat melawan keperkasaan harimau. Kambing tetaplah kambing, tak mungkin sekuat harimau. Kalau ia bermimpi merubah dirinya menjadi kambing seperti ksatria baja hitam itu semua hanya isapan jempol, hanya ada dalam dongeng anak-anak. Maka, kambing tua itu menyusun rencana, “Saya harus merubah harimau itu berhati kambing!” Rencana ini sebenarnya agak mustahil, namun lebih mungkin daripada menumbuhkan cakar pada kaki kambing atau menanam taring pada mulut kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kambing itu mendatangi kawanan harimau dan mengaku dirinya sebagai Nabi. Ia mendapat ilham atau wahyu dari Tuhan untuk kawanan harimau. Nabi Kambing itu berkata pada kawanan harimau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai kawanan harimau yang bengis, yang selalu membuat bencana dan menumpahkan darah di seantero padang rumput. Aku memperoleh kekuatan ruhani pada malam tadi. Ya…sejak malam tadi aku adalah Nabi, utusan Tuhan untuk kalian. Aku datang bagai pelita buat mata buta kalian. Aku membawa kabar gembira, bertobatlah kalian semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wahai kaum pendosa, kembalilah ke jalan yang penuh cahaya&lt;br /&gt;Kita semua, tanpa kecuali, pasti mengalami bencana&lt;br /&gt;Keteguhan hidup duniawi tergantung bagaimana kita menahan diri&lt;br /&gt;Ruh orang shaleh gemar akan makanan yang sederhana saja&lt;br /&gt;Makan sayur mayor membuka jalan menuju cahaya Tuhan&lt;br /&gt;Gigi yang tajam mengundang bencana.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bila kalian tetap pada kebiasaan lama, akan butalah mata kalian…” Nabi Kambing itu berhenti sejenak. Ia menghela nafas sambil mencuri pandang pada kawanan harimau. Ia mengecek apakah khutbahnya berpengaruh atau tidak. Setelah memastikan bahwa kawanan harimau terpengaruh oleh khutbahnya, ia berkata lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surga diberikan kepada mereka yang lemah lembut&lt;br /&gt;Kekuatan tenaga dan kekasaran sikap akan menciptakan bencana dan neraka&lt;br /&gt;Bertobatlah kalian yang masih mengejar-ngejar kenikmatan duniawi.&lt;br /&gt;Ketahuilah, kemiskinan lebih manis dari segala harta benda.&lt;br /&gt;Wahai kalian yang menikmati penyembelihan kambing.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Coba kau bunuh dirimu sendiri, niscaya kalian akan mendapatkan prestasi mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajarlah pada rumput, kaumku semua. Rumput, lihatlah rumput. Walaupun ia selalu terinjak, rumput tak pernah punah. Ia terus tumbuh dan tumbuh lagi. Itulah kekuatan sejati, tak pernah punah karena ditindas. Rahasia rumput adalah kelembutan, kemiskinan, dan ketakberdayaan. Dalam ketakberdayaan, dalam sikap menerima kemiskinan ditemukan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalian bijaksana, ayo lupakan dirimu. Lupakan kebiasaanmu memburu dan merasa puas dengan hasil buruanmu. Tahanlah dirimu kembali pada kebiasaan liar. Lupakan dirimu. Kalau kalian tak sanggup menahan diri, melupakan dirimu, berarti kalian mengidap kegilaan. Saya yakin, tak ada satupun yang mau menjadi gila. Maka palingkan perhatianmu dari kesuksesan duniawi, agar jiwamu dan cintamu melangit tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah dunia ini tidak abadi, sementara saja. Jangan terjebak untuk mencari-cari kesenangan di dunia ini, karena semuanya akan hancur dan saat itu kalian akan kecewa. Dunia ini seperti gelembung sabun, bundar dan terbang ke sana ke mari juga menarik perhatianmu. Kejarlah gelembung sabun itu seperti kebiasaanmu, kejarlah gelembung sabun itu agar kamu kecewa. Karena begitu kamu menadapatkannya, gelembung sabun itu akan pecah dan hanya sisa basah belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawanan harimau yang sudah kelelahan melakukan pemburuan setiap hari, seperti mendapat pembenaran. “Iya juga ya, ngapain juga capek-capek berburu. Mendingan duduk santai dan menikmati cinta…apalagi kata Sang Nabi kita ini memberi garansi, dengan kelemahlembutan kita akan mendapatkan surga…surga…bo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kawanan harimau itu mengikuti ajaran agama yang dibawa kambing. Harimau-harimau itu kini gemar berpuasa dan berpantang makan daging. Mereka menahan kemarahan mereka dan mengembangkan sikap welas asih. Tumbuh-tumbuhan yang mereka jadikan makanan lambat laun menumpulkan gigi mereka. Berangsur-angsur pupus sudah kegarangan hariamu-harimau ini. Badan mereka lemah, langkah mereka pun lelah tak bertenaga. Tak ada geraman, tak ada ancaman. Mereka menjadi kawanan binatang yang miskin, waswas, dan rendah amal kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bercermin pada dongeng ini, kita bisa memilih: menjadi kambing atau harimau. Bila kita merasa sebagai kambing yang tertindas, Iqbal memberi kita nasehat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hai manusia yang lemah&lt;br /&gt;Lindungi dirimu&lt;br /&gt;Biar terjerat penderitaan&lt;br /&gt;Asalkan lolos dari bencana kebiadaban&lt;br /&gt;Badai pasti berlalu&lt;br /&gt;Tapi apabila diperdaya dengan kesumat&lt;br /&gt;Kekacauan besar yang terpikirkan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;So, kata Iqbal, kalaupun kita dalam keadaan lemah kita tak boleh menyerah. Kita harus mencoba menyelesaikannya. Caranya berpikirlah seperti kambing tua yang menyamar jadi Nabi Kambing. Jangan pula mendendam terlalu dalam, dendam akan membuat kita jadi terjebak pada pikiran yang kacau. Bertahanlah, selesaikan masalah satu persatu, kuasai pikiran musuhmu sampai mereka lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya sih membayangkan diri sebagai harimau yang tertipu itu. Harimau yang semula ganas, namun karena terpedaya tipuan Nabi Kambing lalu menjadi bangsa yang penurut dan terlalu lemah lembut. Saya adalah harimau-harimau itu, pada badan ini masih ada cakar dan taring yang siap untuk mencabik-cabik setiap kambing. Namun cakar dan taring ini sudah lama tak digunakan, saya sudah lupa pada bagaimana meloncat dan menyergap. Saya telah menjadi harimau yang kambing, harimau banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai harimau banci saya akan membangkitkan seluruh keberanian yang dulu pernah ada. Saya akan kembali menjadi harimau dan kembali memburu, kembali menjadi raja hutan. Karena itu saya akan menyusun langkah-langkah menuju penemuan diri saya yang sejati, sebagai harimau, sebagai penentu kehidupan, bukan sebagai pengekor yang selalu waswas.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5524599133722462086?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5524599133722462086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5524599133722462086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5524599133722462086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5524599133722462086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/nabi.html' title='Nabi'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-6526031470138873672</id><published>2009-02-26T19:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T19:06:36.180-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Prahara</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Prahara di Negeri Serba Bisa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh MUHAMMAD ALFAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunan Gunung Djati–&lt;/strong&gt;Apa yang salah dengan negeri ini?. Negeri kaya yang penuh arti, namun tiada makna. Semua hal dapat dilakukan di negeri ini. Membuat pesawat sampai bedil, bisa. Menghukum mati terpidana narkoba sampai membebaskan koruptor, juga bisa. Dari pejabat sampai pedagang korupsi, bisa juga. Bahkan “tongkat” dan “batu” pun bisa menjadi tanaman (Koes Plus). Memang di negeri ini semua “bisa diatur” dan “bersama kita bisa!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena semua serba bisa maka, aturan, tata nilai, agama dan moralitas, bisa dimanipulasi. Tidak berperan sebagaimana mestinya. Berbagai persoalan kehidupan dan tata aturan bisa difasirkan berdasarkan kebutuhan. Sehingga berakibat pada maraknya kerusuhan, perampokan, pembunuhan, bahkan korupsi. Semua bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun. Akhirnya zaman ini benar-benar bisa menjadi zaman edan, melu edan ora tahan, yen ten melu anglakoni edan ora kaduman (ikut edan tidak sampai hati, tidak ikut edan tidak kebagian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia Absurd&lt;br /&gt;Ketika semua sendi kehidupan diperlakukan sama dan serba bisa, maka semuanya menjadi permisif. Tidak ada beda antara dosa dan pahala, antara moralitas dan kejahatan, bahkan agama dibiarkan berlalu. Koruptor tersenyum menghadapi vonis pengadilan, sedangkan di seberang sana, anak-anak menangis kelaparan. Padahal korban dari keserakahan para pejabat yang korup sungguh luar biasa, tidak hanya kemiskinan dan kebodohan yang dirasakan. Lebih dari itu adalah penderitaan batin, keputusasaan dan ketidakberdayaan. Tindakan menyimpang yang dilakukan pejabat korup, merupakan bentuk penghianatan terhadap hati nurani. Yaitu suatu tindakan yang tidak didasarkan pada moralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan moralitas adalah kesesuaian sikap dan perbuatan manusia dengan norma atau hukum batiniah, tujuannya kebahagiaan sempurna (Lili Tjahjadi, 1991). Oleh sebab itu, jika semua tindakan yang dilakukan manusia tidak mempedulikan tata nilai, maka hal itu merupakan wujud moral manusia absurd. Yaitu segala bentuk tindakannya bertolak belakang dengan persetujuan penuh rasa pasrah terhadap hal yang tak dapat diuraikan maknanya (Albert Camus, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, kebenaran, agama dan moralitas menjadi absurd, relatif dan mudah dibalak-balikkan sesuai dengan nafsu manusia. Politisasi terhadap agama, moralitas dan pendidikan dibenarkan. Sedangkan politik dan moralitas sulit untuk disatukan, keduanya merupakan bagian terpisah yang berdiri pada dua kutub yang berseberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbelahan itu membelenggu pejabat negara yang tidak dapat memposisikan antara kekuasaan dan moralitas, kebaikan dan keburukan. Apakah ia mampu bertahan dalam kebenaran dan kebaikan, ataukah ia akan terendam dalam kubangan kekuasaan dan kepentingan?. Jawabannya bisa “ya” bisa juga “tidak”, yang pasti selalu bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prahara Kesedihan&lt;br /&gt;Harapan adanya perubahan pada Presiden yang secara langsung dipilih oleh rakyat, tidak juga terwujud. Rakyat merasa ‘ditinggalkan’ bahkan ‘kehilangan’, setelah ia sandarkan segala rasa dan harapan pada pilihannya. Reformasi ternyata bisa membawa derita bagi kebanyakan rakyat miskin. Padahal masa lalu telah ditinggalkan, namun masa depan belum menampakkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi demikian oleh Durkheim digambarkan sebagai keadaan yang anomi (anomic), yaitu aturan lama tidak berlaku lagi dan aturan baru belum ada. Dalam keadaan anomi orang merasa seolah-olah dunia dan hidupnya mulai runtuh serta kehilangan ruang (Brouwer, 1984). Kemudian melahirkan prahara, yaitu kekecewaan dan kesedihan. Kedua hal itu mewujud menjadi semacam melankoli, sebuah derita atas hilangnya sesuatu yang dinginkan atau dicintai. Selanjutnya mengalami depresi hebat dan tidak mampu bangkit dari keterpurukannya, ia akan kehilangan kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melankoli akhir-akhir ini diterjemahkan sebagai suatu keputusasaan yang mendalam, sebuah prahara bathin yang luar biasa. Terhentinya minat terhadap dunia luar, munculnya rintangan terhadap semua kegiatan serta menurunya penghargaan terhadap dirinya sendiri sampai pada tingkat paling ekstrim; yaitu sikap mempersalahkan diri sendiri dan bermuara pada hukuman yang bersifat hayali (Antony Storr,1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bangkit dari kesedihan dan prahara, harus memulai dengan menerima adanya fakta bahwa ‘dunia’ mengetuhui keberadaannya dan keadaannya. Membangun mimpinya tentang diri sendiri dan, dilanjutkan dengan munculnya kesadaran agar dapat memilikinya dalam kenyataan. Marx menyebutnya dengan reformasi kesadaran.&lt;br /&gt;Dengan begitu ia akan sadar bahwa dirinya tidak berhadapan dengan sebuah kekosongan besar antara masa lalu dengan saat ini, bahkan pemikiran-pemikiran masa lalu direalisasikan menjadi bentuk nyata. Pada akhirnya, dia akan melihat bahwa umat manusia tidak mengawali suatu tugas baru, namun menyelesaikan tugas-tugas lama dengan kesadaran. Karena keberadaan manusia ditentukan oleh struktur masyarakat di mana dia menjadi bagian di dalamnya, sehingga tidak menjadi terasing di rumahnya sendiri. (Fromm, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, semua persoalan selayaknya diposisi sebagaimana mestinya. Tata nilai, hukum, politik, agama dan moralitas dilaksanakan apa adanya. Dengan tanpa menghilangkan makna “bersama kita bisa!”. Apa?… Wallahualam bisshawab.***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-6526031470138873672?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/6526031470138873672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=6526031470138873672' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6526031470138873672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6526031470138873672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/prahara.html' title='Prahara'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-1541607396559628247</id><published>2009-02-26T18:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T19:07:11.084-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Sesat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sunan Gunung Djati–&lt;/strong&gt;Kali pertama tulisan yang pernah dimuat sunangunungdjati mendapat tanggapan kritis dari pembaca. Hal ini terjadi pada karya Radea Juli A Hambali tentang Agama yang “Benar” oleh Abdul Hadi WM dengan menulis Gejala Aliran Sesat. Berikut kritikanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Gejala Aliran Sesat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, gejala aliran sesat bukan gejala baru dalam sejarah agama di dunia. Sejak lama di India, Iran, Eropa, Arab, Jawa, Cina, dan lain-lain telah banyak sekali aliran sesat muncul. Misalnya aliran yang menggunakan hubungan sex sebagai bagian dari puncak ritualnya seperti Satria Piningit Weteng Buwono. Aliran-aliran seperti Tantrisme Kiri di India dan Jawa sejak abad ke-10 sampai kini menggunakan hubungan sex sebagai puncak ritual mereka, terkadang disertai upacara kurban mayat. Mazdakisme di Iran abad ke-3 M mengharamkan perkawinan sebagai kontrak sosial dan membolehkan pengikutnya gonta-ganti pasangan. Di Amerika sekarang banyak berkembang aliran, dan ada yang memakai baju Kristen atau Yahudi. Antara lain Children of God yang ganti nama menjadi Faith International. Aliran lain ialah Thelema, Babalon, dan lain-lain. Di pula Jawa ritual suami istri bertelanjang bulat mengelilingi rumah pada tengah malam untuk mendapat rezeki, pernah ditemui di Sragen dan Yogya. Praktek seperti itu bisa memakai baju Kristen, Hindu, Buddha, dan Islam. Untuk mendapat legitimasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, globalisasi bukan soal baru bagi bangsa Indonesia. Pelajarilah sejarah. Karena kita lupa bahwa sejarah telah memberikan bukti yang banyak dalam kehidupan beragama yang nyeleneh sejak dahulu kala, maka kita mudah sekali menganggap fenomena ini dan itu baru. Begitu juga dengan globalisasi. Dalam sejarah Nusantara ada tiga tahapan globalisasi yang telah dilalui. Pertama, pada abad ke-4 - 12 M, saat penyebaran agama Hindu Buddha yang diantar dengan ramainya kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional yang dikuasai orang Hindu dari India. Kedua, abad ke-13 - 17 M saat penyebaran agama Islam dan Kristen/Katholik di Asia Tenggara, yang juga didahului oleh kegiatan -perdagangan dan pelayaran internasional yang dikuasai oleh orang Arab, Turki, Persia, Muslim India, Portugis dan Spanyol. Katholik tampil sebagai pemenang di Filipina, Islam di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Buddhisme bertahan di Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos dan Vietnam. Hindu hanya bertahan di pulau Bali. Globalisasi yang ketiga, dimulai dengan munculnya kolonialisme Barat (Belanda, Inggeris, Perancis) di Asia Tenggara. Puncaknya pada abad ke-20 dengan derasnya proses Amerikanisasi yang ditopang oleh ekspansi kapitalisme dan pasar bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan? Apakah hanya monopoli organisasi seperti FPI dan FBR? Lihat Tragedi DPRD Sumut atau Medan, siapa pelakunya? Lihat kerusuhan pertandingan Sepak Bola. Lihat konflik Ambon, yag memulai kan preman-preman Kristen? Apa anda tahu betapa garangnya kelompok Pemuda Hindu Bali di Nusa Dua? Siapa pelaku pembantaian orang Madura di Kalim,antan Tengah? Apa orang Islam? Saya harap anda berhati-hati bicara? Siapa yang menyuruh agar sekte Hari Kiamat (Kristen) dihabisi? Siapa yang meminta aliran Hare Rama Krisna (Hindu) dilarang dan pengikutnya, yang kebanyakan keturunan India, dipukuli di pulau Bali? Tolonglah fair dan adil jika bicara. Jangan hanya mengalamatkan hal seperti itu pada kelompok-kelompok tertentu. Berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak berarti kita membenarkan tindakan kekerasan. Tetapi kemiskinan, kebodohan, dan perlakuan tidak adil (termasuk dalam pemberitaan di mass media) juga sering menjadi pemicu kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita dan tulisan yang menyakiti juga kekerasan. Begitu halnya kritik yang menyesatkan dan mengandung fitnah, setali tiga uang adalah juga kekerasan. Dan ini sering dilakukan sekelompok cendekiawan dan pejuang hak azasi manusia serta kebebasan berekpresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan atas tanggapan saya terdahulu terhadap pernyataan Anda, saya kirim dua artikel yang mungkin dapat membantu Anda memahami sumber atau akar berbagai aliran yang dianggap sesat seperti Satria Piningit Weteng Bawana. Yang pertama, uraian ringkas tentang Tantrisme Bhirawa. Ini adalah bentuk Tantrisme Kiri yang pernah dipraktekkan antara lain oleh Adityawarman, penguasa Majapahit di Sumatra pada pertengahan abad ke-14 M. Patungnya dapat anda lihat berupa Bhirawa yang berdiri di atas tumpukan tengkorak di Museum Jakarta. Ritual sanggama bersama masih dipraktekkan sampai kini di banyak tempat di India, dan mungkin juga di Jawa. Yang kedua, tentang aliran keagamaan yang muncul dari tradisi Yudea-Kristen bernama Babalon. Juga ada adegan seks dalam ritualnya. Kini masih dipraktekkan di Amerika Serikat. Tentu masih banyak lagi agama yang memuja setan dan tuyul dipraktekkan orang di berbagai belahan dunia. Jika aliran semacam itu dibiarkan dengan alasan “kebebasan beragama” yang melampaui batas, bagaimana jadinya masyarakat kita? Mengapa orang yang memperjuangkan kebebasan beragama tidak mencegah pelarangan aliran Hare Rama Krisna, Sekte Kristen Hari Kiamat, Yehova, dan lain-lain? Mengapa hanya MUI yang menjadi sasaran tembak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pertanyaan-pertanyaan saya ini belum anda jawab, begitu pertanyaan sebelumnya, tidaklah patut anda meminta jawaban atas pertanyaan yang anda ajukan. Tetapi semoga apa yang dikemukakan anda berangkat dari ketaktahuan, bukan disebabkan motif mencari kambing hitam atas semua bentuk kekerasan yang muncul di Indonesia selama hampir satu dasawarsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah mengatakan: Bila orang ingin didengar, hendaknya dia mendengar. Silakan download kedua tulisan tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;br /&gt;“Abdul Hadi WM” &lt;hadiwm@yahoo.com&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-1541607396559628247?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/1541607396559628247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=1541607396559628247' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1541607396559628247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1541607396559628247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/sesat.html' title='Sesat'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-7906354222524041571</id><published>2009-02-26T17:57:00.001-08:00</published><updated>2009-02-26T19:07:39.289-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Otak</title><content type='html'>BEDAH BUKU “Gelegar Otak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunan Gunung Djati–&lt;/strong&gt;Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika (HMP FISIKA)&lt;br /&gt;Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung&lt;br /&gt;menggelar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BEDAH BUKU:&lt;br /&gt;“Gelegar Otak”&lt;br /&gt;(Penerbit Salamadani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI/TANGGAL:&lt;br /&gt;Kamis, 26 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU:&lt;br /&gt;Jam 09.00 – 11.00 WIB&lt;br /&gt;TEMPAT:&lt;br /&gt;Auditorium UIN Sunan Gunung Djati Bandung&lt;br /&gt;PEMBICARA:&lt;br /&gt;Dr.Tauhid Nur Azhar, M.Kes. (Penulis)&lt;br /&gt;Prof.Dr.Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. (Cendekiawan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MODERATOR:&lt;br /&gt;Ridwan Efendi, S.Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA:&lt;br /&gt;Mahasiswa dan Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFO: http://hmpfisikauinsgd.blogspot.com/2009/01/gebyar-fisika-eureka-fisika-viii.html&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-7906354222524041571?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/7906354222524041571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=7906354222524041571' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7906354222524041571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7906354222524041571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/otak.html' title='Otak'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5912849297750560323</id><published>2009-02-26T17:56:00.001-08:00</published><updated>2009-02-26T19:07:56.495-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Masa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Masa Lalu, Hari Ini dan Esok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh DASAM SYAMSUDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yesterday is history, tomorrow is mistery, and today is given” —Guru Oogway, dalam KungFu Panda&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Sunan Gunung Djati–&lt;/strong&gt;Apa yang kamu ingat tentang hari kemarin? Apa yang terkesan dari masa lalumu ? kebahagiaan, kesedihan, pengalaman berharga, atau penyesalan. Adakah yang menyesal hari ini, karena mengingat hari kemarin ? dan, adakah kebaikan mengingatnya ? Apapun yang kamu pikirkan tentang hari kemarin yang pasti kita tidak akan kembali lagi. Sedetik yang lalu, adalah jarak jutaan kilometer yang tidak akan bisa kita tempuh. Masa lalu sangat jauh sekali dari sentuhan tangan hidup yang sedang kita jalani. Semakin banyak cahaya matahari menggulung kehidupan kita, semakin jauh pula masa lalu, dan tidak akan kita temui lagi. Bahkan Imam al-Ghazali mengatakan, ”Jarak yang paling jauh adalah masa lalu, tidak ada yang bisa menempuhnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, masa lalu adalah sejarah yang telah kita gurat di dalam lembaran kehidupan kita. Kesan bahagia dan derita, semuanya akan terasa nikmat jika kita utarakan kepada orang lain. Bukankah begitu? Betapa kita telah menjadi seorang yang hebat tatkala kita bebicara pengalaman penderitaan hidup menantang kematian, dan hari ini kita masih berdiri untuk menceritakannya. Dan, ada kalanya kebahagiaan masa lalu, akan menjadi derita hari ini. Ya, mungkin kita merindukan kebahagiaan itu kembali, saat hari ini kita berdiri bercerita. Oleh karenanya, ada kalanya kebahagiaan hari ini, adalah anugerah penderitaan masa lalu. Derita hari ini, bisa saja karena merindukan, sangat merindukan kebahagiaan masa lalu yang telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu adalah sejarah yang tidak bisa diulang, sedikit catatan merah yang telah kita tulis dalam sejarah hidup kita, tidak akan bisa di hapus hari ini. Namun, kendati sejarah hidup telah menghina hidup kita, tetap saja kita bisa memperbaikinya. Sejarah memang mutlak tidak bisa dirubah, tapi bukan berarti harus dibiarkan. Jika kemarin adalah sejarah, setiap perjalanan hidup yang telah kita arungi akan menjadi sejarah. Maka, jika hari ini kita masih bisa menghirup udara Bumi, berarti kita mempunyai kesempatan menutup sejarah kita dengan kebaikan. Yang lalu biarlah berlalu, dan hari ini lakukanlah yang lebih baik lagi. Agar sejarah kelam kehidupan lalu, berakhir dengan kebaikan. Sehingga, suatu hari nanti, saat kita mereview keseluruhan hidup kita, akan menjadi sangat berharga dan manis terasa. Karena, histori hidup kita akan berakhir dengan indah kendati melewati jurang yang curam dengan jalan berliku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah anugerah, karunia dari Tuhan sang Pemberi sebagai hadiah kepada manusia. Oleh karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan hari ini, jika suatu hari nanti tidak mau menjadi sejarah hitam di dalam hidup kita. Lakukanlah yang terbaik hari ini, yang terbaik untuk saat kita berdiri di sini. Jangan melakukan hal untuk hari yang menjadi misteri. Besok, ya besok adalah misteri hidup yang belum tentu kita menemuinya, Jika memang kita harus memenuhi kebutuhan hidup hari ini, jangan melakukannya untuk hari nanti. Tapi, jika memang hari ini kita merasa cukup. Maka, pecahkanlah misteri hidup dengan mencoba menyusun hidup untuk hari nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hidup untuk diri sendiri, untuk apa menumpuk harta yang akan kita buang hari nanti tanpa kita merasakannya. Tapi, jika kita berjuang dan berusaha hari ini untuk orang lain dan diri kita di alam lain. Sisakanlah hasil usahamu, sodakohkan sekarang juga, untuk bekal hari itu yang belum datang. Menyedekahkan harta, dengan cara menyimpannya untuk tubuh kita yang suatu saat akan payah adalah sangat baik. Karena, tubuh ini tidak akan tahan apapbila tidak ada bekel yang cukup. Jadi, segala sesuatunya tetap saja harus dilakukan untuk hari ini demi esok hari. Wallahu A’lam[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5912849297750560323?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5912849297750560323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5912849297750560323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5912849297750560323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5912849297750560323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/masa.html' title='Masa'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-3398293370524620131</id><published>2009-02-26T17:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T19:08:20.096-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Jabar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mewujudkan Jabar Kreatif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh IU RUSLIANA&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunan Gunung Djati–&lt;/strong&gt;Krisis global terus menelan korban. Bangkrutnya beberapa korporasi, ketatnya pengucuran kredit perbankan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri manufaktur seperti tekstil, alas kaki, furnitur dan yang lainnya terus terjadi. Korporasi besar yang masih bertahan nampaknya akan berhati-hati dalam berekspansi. Pertumbuhan ekonomi 5 persen di 2009 adalah angka yang paling realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kini hanya ada beberapa pelaku dan sektor industri yang bisa diharapkan bakal menjadi kekuatan penggerak ekonomi, yaitu pemerintah dan partai politik. Pemerintah dengan anggaran belanja tahun 2009 seribu triliun rupiah lebih harus menjadi stimulus ekonomi. Termasuk kebijakan untuk menggenjot kredit perumahan kelas menengah ke bawah dan kredit motor serta menurunkan harga BBM (premium dan solar) ke Rp 4.500 per 15 Januari 2009 adalah salah satu kebijakan penting. Demikian juga partai politik, kampanye yang besar-besaran dengan dana triliunan rupiah diyakini akan menggerakkan ekonomi nasional yang tengah terpuruk.&lt;br /&gt;Harapan itu ada, namun apakah akan selamanya begini? Adakah potensi besar yang harusnya disyukuri dan menjadi penopang menuju kemandirian ekonomi? Pada kontek Jawa Barat, misalnya, beberapa industri diperkirakan akan segera melakukan PHK, karena dampak krisis, menyusul menurunnya order dari pasar Eropa dan Amerika Serikat. Dengan jumlah pengangguran yang bakal meningkat, apakah program padat karya yang sifatnya insidental saja yang bisa diandalkan? Bukankah sebaiknya dana bantuan sosial ekonomi yang disalurkan bisa menggerakan ekonomi berbasis masyarakat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Kreatif&lt;br /&gt;Sebagai bangsa yang kaya sumber daya alam dan keragaman budaya, kita harus menyadari potensi ekonomi yang berasal dari gagasan kreatif masyarakat. Masyarakat Indonesia, apalagi masyarakat Jawa Barat, telah menyatukan diri dengan budaya dan alam sehingga melahirkan pelbagai produk yang unik dan kreatif.&lt;br /&gt;Pada dasarnya kreativitas manusia dibagi ke dalam dua bentuk, yakni: kreativitas berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge based) dan kreativitas berbasis seni (artistic based). Saat ini, kedua jenis kreativitas ini harus menyatu di berbagai produk sehingga mampu melahirkan kegiatan ekonomi yang sangat besar. Sederhananya, produk teknologi yang didukung seni ataupun produk seni yang didukung teknologi merupakan pilar ekonomi. Ketika produk di atas memasuki pasar, maka didalamnya terdapat potensi ekonomi yang sangat besar. Sektor industri seperti ini populer dengan sebutan industri kreatif. Lahirnya produk ditentukan oleh gagasan-gagasan layak jual yang kreatif dan inovatif.&lt;br /&gt;Ekonomi kreatif adalah sistem perekonomian yang menjadikan kreativitas dan kemampuan intelektual sebagai dagangannya. Ekonomi ini memanfaatkan kreativitas, keterampilan, dan bakat seseorang untuk menciptakan kesejahteraan finansial dan lapangan pekerjaan. Kemampuan seseorang berpikir dan menciptakan gagasan kreatif sangat penting dalam perkembangan industri kreatif.&lt;br /&gt;Kreativitas dapat dihasilkan oleh siapapun tanpa mengenal batas wilayah, umur ataupun golongan. Ada 14 jenis industri kreatif yang berpotensi besar untuk ekspor, seperti film, animasi, software, kerajinan, musik, EO, interior design dan barang-barang yang berbasis pengolahan limbah. Industri kreatif tersebut mempunyai pasar di Eropa dan Timur Tengah, dan Amerika Serikat (Kontan, 23/12/2008).&lt;br /&gt;Departemen Perdaganan (Depdag) mencatat 15 cakupan bidang ekonomi kreatif: (1. Jasa periklanan; (2. Arsitektur; (3. Senirupa; (4. Kerajinan; (5. Desain; (6. Mode (fashion); (7. Film; (8. Musik; (9. Seni pertunjukan; (10. Penerbitan; (11. Riset dan pengembangan; (12. Software; (13. TV dan Radio; (14. Mainan; (15. Video game.&lt;br /&gt;Menurut Agung Bawantara (Most Wanted Creative Jobs, 2007: 2-6), di negara maju Inggris, industri kreatif digenjot untuk menggerakkan perekonomian negara. Hebatnya, sumbangan industri kreatif di negeri ini mencapai 8,7 persen yang melampaui pendapatan Inggris dari sektor industri manufaktur. Lain lagi dengan Negara Singapura. Di Negara ini, industri kreatif menyumbang pendapatan Negara hingga mencapi 47 triliun rupiah per tahun. Di Korea, geliat industri kreatif mengalami pertumbuhan sekitar 20 persen per tahun dan berada pada posisi kedua setelah industri finansial.&lt;br /&gt;Industri kreatif Indonesia menyumbangkan sekitar 4,75% dari Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia pada 2006, berada di atas sektor listrik, gas, dan air bersih. Laju pertumbuhan industri kreatif Indonesia tahun 2006 juga sebesar 7,3% per tahun, melebihi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5,6%. (Bisnis Indonesia, 24/10/2007).&lt;br /&gt;Maka pemerintah Indonesia, dalam menunjang keajegan industri kreatif, pada tahun 2006 meluncurkan Indonesian Design Power 2006-2010. Ini dilakukan untuk menggenjot industri kreatif sehingga mampu memberikan pendapatan Negara sebesar 10 persen pada tahun 2016. melihat potensi Negara ini, dengan kekayaan budaya dan alam, optimisme mewujudkan program itu bukan isapan jempol. Tentunya dengan memperhatikan pranata pendukung yang dapat mewujudkan cita-cita 10 persen pada tahun 2016.&lt;br /&gt;Pranata yang mesti diperhatikan dalam mengembangkan industri kreatif adalah mulai dari masyarakat lokal, institusi formal (pemerintah), lembaga pendidikan, agen, studio, toko sampai pada keberadaan komunitas dan institusi mesti melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghimpun berbagai pengetahuan dan informasi yang terkait dengan industri kreatif. Aspek-aspek yang terkait dengan pengembangan kreativitas, mulai dari proses sampai pemanfaatan sarana informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perkembangan ekonomi kreatif, sisi teknologi dan prospek bisnis adalah komoditas yang harus mulai digarap serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewujudkan Jabar kreatif&lt;br /&gt;Untuk konteks Jawa Barat, potensi ekonomi kreatif telah ada namun perlu kebijakan khusus untuk mengembangkannya. Misalnya, industri kreatif di Kota Bandung, sebagai kota yang dihuni 60 persen kalangan muda di bawah 40 tahun dan tempat berkembangnya perguruan tinggi, industri kreatif tumbuh pesat. Hal ini merupakan potensi besar bagi perkembangan industri kreatif di Jawa Barat. Apalagi sektor industri kreatif menyumbang 7,8 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat. (www.tempointeraktive.com).&lt;br /&gt;Badan Pusat Statistik tahun 2005 menyebutkan, setidaknya ada 15 sektor industri kreatif yang tumbuh subur di Jawa Barat. Di antaranya periklanan, arsitektur, pameran dan festival, kerajinan, desain, fesyen (Clothing, footwear dan apparel), film, video dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan dan percetakan, jasa komputer dan piranti lunak, riset dan pengembangan serta kuliner.&lt;br /&gt;Penting kiranya mendorong kemampuan masyarakat (individu) agar mampu berkreasi dan menjadi bagian dari sektor industri kreatif. Maka, dua hal yang penting diperhatikan untuk mendorong tumbuhnya budaya kreatif, yaitu: pertama, pemanfaatan internet dan saluran informasi (information tool) untuk dapat memetik dan mempelajari kreativitas dunia; dan kedua, menciptakan pasar domestic dan pasar ekspor yang menyerap berbagai produk kreatif ini. Ketiga, tdengan cara menggandeng komunitas kreatif.&lt;br /&gt;Kita tidak bisa berharap kepada APBD dan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN 2009 yang mencapai Rp 23,969 triliun. Itu hanya stimulus saja. Jawa Barat punya potensi ekonomi kreatif yang besar dan unik. Unik karena tiap daerah punya ciri khas dan terbukti menjadi penggerak ekonomi masyarakat di daerah tersebut. Tahu Cibuntu, tahu Sumedang, ubi Cilembu, Tas dan Sepatu Cibaduyut, Kerajinan Rotan Cirebon, kerajinan kulit Garut, dodol Garut, Factory Outlet Kota Bandung, dan sederet potensi ekonomi kreatif yang tak tertandingi dan telah melakukan kegiatan ekspor. Industri ini tak pernah mati karena menjadi bagian dari budaya masyarakat. Namun tak bisa tumbuh pesat karena belum ada sentuhan serius dari pemerintah. Pemerintah daerah tidak perlu mencari-cari ke luar daerah apalagi ke luar negeri. Kita telah punya potensi, tinggal dikembangkan dan dikelola dengan baik.&lt;br /&gt;ITB, IPB, UIN Bandung, UPI dan kampus terkemuka lain ada di Jawa Barat. Mengapa tidak, industri kreatif berbasis teknologi dikembangkan melalui kerjasama pemerintah daerah dengan kalangan akademik. Sinergi stakeholder terkait; pemerintah, komunitas kreatif, dunia usaha, kampus dan masyarakat lokal menjadi penting dilakukan untuk membangun industri kreatif ini.&lt;br /&gt;Ke depan, konsep one village one product (OVOP) bisa dikembangkan, bukan hanya berorientasi pada pasar domestik, tapi juga pasar dunia. Ini soal political will dan merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. Jika ini dikelola dengan serius dan sinergi antar stakeholder tercipta dengan baik, bukan mustahil jika toko sepatu Cibaduyut menjamur di Eropa, dodol Garut jadi menu orang Asia dan sebagainya. Wallahu’alam [Pikiran Rakyat, 18 Februari 2009]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-3398293370524620131?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/3398293370524620131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=3398293370524620131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3398293370524620131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3398293370524620131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/jabar.html' title='Jabar'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-107318814534709844</id><published>2009-02-26T17:53:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T17:54:14.638-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Segar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menyegarkan Kesundaan Kita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh SUKRON ABDILAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sunangunungdjati–Tanah Sunda, gemah ripah/Nu ngumbara suka betah/Urang Sunda sawawa/Sing toweksa perceka/Nyangga darma anu nyata//Seuweu Pajajaran/Muga tong kasmaran/Sing tulaten jeung rumaksa/Miara pakaya memang sawajibna/Geuten titen rumawat tanah pusaka//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai produk pemikiran manusia, Sunda bukan sesuatu yang saklek, pasti, dan tidak boleh diubah. Ia (Sunda) adalah kebudayaan yang selalu berkembang mengikuti perputaran ruang dan waktu. Dengan demikian kesundaan akan terus hidup apabila urang Sunda memahaminya dengan pengalaman hidup masing-masing. Keragaman memahami inilah yang nantinya melahirkan sikap menghargai atas kebudayaan non-sunda yang berkembang di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pemberlakukan mengajarkan bahasa-bahasa daerah seperti Cirebon dan Betawi bagi siswa sekolah harus diapresiasi. Sebab, meskipun Jawa Barat mayoritas beretnik Sunda, ada daerah yang berbeda dalam hal kebudayaan, terutama dari bahasa tutur keseharian. Apabila pelajaran bahasa Sunda, misalnya, dibebankan kepada daerah-daerah yang mayoritas dihuni etnik non-sunda, sama saja dengan menumpurkan kebudayaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku lampah seperti itu melenceng dari semangat Ki Sunda yang sedari dulu selalu mencoba menjaga kebudayaan orang di luar Sunda yang bermigrasi ke daerahnya. Pesan damai dan toleran Ki Sunda terlihat jelas dari rangkaian larik yang disusun almarhum Mang Koko, yang menjelaskan sikap someah kepada orang luar Sunda sebagai ciri dari kedewasaan (sawawa). Kalau kita mengaku sebagai Sunda sawawa, saya pikir tidak ada salahnya setiap daerah memberikan pelajaran bermuatan lokal yang berkaitan dengan warisan leluhurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikis fanatisme &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair yang dikreasi almarhum mang Koko memang tepat menggambarkan alam tanah Sunda yang gemah ripah lohjinawi, dan membuat kaum urban suka-betah mengumbara di tempat ini. Selain tanahnya yang subur, masyarakatnya pun memiliki ikatan solidaritas komunal yang tidak tribalistik, tidak mendiskriminasikan suku lain. Bukti ini terlihat dari pemberian gelar kehormatan daeng, aom, aden, habib dan sebagainya kepada etnis luar Sunda yang tinggal di Pasundan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti menganut agama, kesundaan kita kini cenderung meminggirkan pemahaman manusia Sunda lain tentang kesundaannya. Fanatisme kesundaan saya pikir sangat berbahaya bagi integrasi bangsa ini. Dengan meminggirkan kebudayaan minor di Jabar adalah bentuk fanatisme “berkedok” lokalitas. Tak heran jika ada seseorang yang melenceng dari pemahaman dirinya tentang kesundaan, ia sewot dan bahkan mengklaim mereka sebagai “tidak nyunda”. Padahal, Sunda sangat terbuka terhadap ragam interpretasi. Kesundaan saya hari ini akan berbeda dengan pemahaman urang Sunda generasi 70-an atau 80-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap manusia Sunda yang tak berdasar pada nilai-nilai kearifan akan mengubahnya menjadi seorang peragu, tak yakin, dan arogan. Merasa diri adalah berkuasa atas alam tidak akan membentuknya jadi manusia sempurna Sunda. Guru Gantangan sebagai seorang putera Prabu Siliwangi, misalnya, untuk menggapai derajat manusia sempurna dengan melakukan pengembaraan ke dunia luar. Dengan cara inilah, diharapkan manusia Sunda mampu memahami dunia luar yang plural, majemuk, dan dipenuhi diversitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang egois dan fanatis bakal lahir apa yang disebut superioritas sehingga menempatkan orang lain inferior, yang mengakibatkan keretakan hubungan sosial. Maka, memelihara tanah Sunda dan bersikap ramah (someah) kepada kebudayaan di luar Sunda adalah kewajiban seorang Sunda sawawa sebagai petanda tidak terjebak pada romantisme seuweu Pajajaran yang fanatis abis!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silang budaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan yang mudah melakukan perkawinan silang dengan bahasa lain. Jika ditelisik secara antropologis, keragaman budaya di Jawa Barat, memberi acuan perilaku pada masyarakat untuk menyadari eksistensi kebudayaan lain di tempat tinggalnya. Pengaruh kebudayaan etnik lain – meminjam teori Denis Lombard – adalah semacam “silang budaya” yang membentuk kesundaan kita hari ini. Salah satu indikatornya persilangan budaya itu bisa terjadi apabila setiap kebudayaan di daerah Jawa Barat dipelihara dan dijaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bahasa Sunda, misalnya, pemerintah juga harus tetap menjaga kelestarian bahasa Cirebon, Betawi, China, Arab, Batak, Padang di tanah pusaka ini. Sehingga para penduduk dari luar akan merasa suka betah tinggal atau sekadar berwisata ke Jawa Barat. Secara pribadi, saya merasa iri dengan penguasaan bahasa Sunda masyarakat dari luar. Seandainya sewaktu SMP dulu saya memiliki teman yang mampu berbahasa Jawa, Batak, China, dan Padang; saya akan memintanya menjadi guru bahasa ketiga setelah bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, ketika mereka sekolah ke daerah-daerah di wilayah Sunda, jarang menggunakan bahasanya. Dan, mencetuskan pemberlakukan muatan lokal bahasa daerah selain bahasa Sunda, saya pikir dapat mendidik anak-anak untuk bertukar kebudayaan dengan orang lain. Dengan inilah perkawinan atau persilangan budaya akan terlihat indah mengemuka. Selain itu, anak-anak Sunda di daerah yang di sekolahnya memberlakukan pelajaran bahasa Cirebon, akan lebih pintar dari saya. Minimalnya, empat bahasa sudah dia kuasai. Inggris, Indonesia, Sunda, dan Cirebon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar hiburan, mari kita kutip sisindiran, yang didalamnya terjadi semacam hibridasi bahasa yang dipraktikkan masyarakat Sunda: Miyoto okaino/sora akete/bareto loba kejo/ayeuna hese beleke. Dalam sisindiran itu ada nuansa Japanis yang dipadukan dengan bahasa Sunda. Jadi, betul sekali – seperti disitir Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya – bahwa Indonesia (termasuk Sunda di Jawa Barat–pen) adalah anak segala bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tak percaya silahkan resapi kata-kata kiyak (Yak, berarti kerbau dalam bahasa China), Arde (al-ardhi, bumi dalam bahasa Arab), Pestol (pistol, berarti senajata genggam dalam bahasa Belanda), hyang (hyang, berarti Tuhan dalam bahasa Sangsakerta), dan masih banyak lagi bahasa Sunda yang lahir dari “silang budaya” dengan kebudayaan di luar Sunda. Bahkan saya menebak-nebak sebutan “aceng” untuk seorang pemuda teguh beragama terinspirasi oleh Laksamana Cheng Ho yang sempat berlabuh di Karawang.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-107318814534709844?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/107318814534709844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=107318814534709844' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/107318814534709844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/107318814534709844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/segar.html' title='Segar'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-203292830697626851</id><published>2009-02-26T17:52:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T18:01:28.147-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Pemilu</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pemilu dan Dosa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh  REZA SUKMA NUGRAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunangunungdjati-Ada ungkapan menarik dan menggelitik. Penduduk Indonesia dan umat Islam pada umumnya tidak sukses dalam berkarier dan penghidupannya miskin. Maka, jangan ditambah dengan kepastian masuk neraka. Demikian kira-kira yang ditulis oleh budayawan populer, Cak Nun, dalam salah satu tulisannya di salah satu media massa. Semua orang tentu tahu, apa yang sedang ia komentari? Yaitu, menanggapi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) perihal golput.politik, pemilu, dosa, golput, MUI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suhu politik di Indonesia pada tahun 2009 memang sedang membara. Karena pada tahun ini akan dilangsungkan pesta demokrasi akbar. Tak ubahnya, pasar kaget yang digelar di tengah hiruk pikuk masyarakat yang sedang kebingungan. Bingung mencari “pedagang” mana yang lebih jujur atau paling sedikit curangnya. Karena kerjaannya saling banting dan menjatuhkan. Bingung mencari “barang dagangan” yang lebih berkualitas tapi harganya yang terjangkau. Utamanya, mereka bingung mencari uang untuk belanja barang dagangan tersebut. Hal terakhir memang tak hanya ungkapan konotatif belaka, namun demikian faktanya bahwa masyarakat sedang terhimpit aneka beban, termasuk ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut muncul seiring krisis multidimensi yang dialami oleh masyarakat. Hal yang paling signifikan adalah krisis kepercayaan masyarakat kepada para calon pemimpin dan calon wakil-wakil mereka. Masyarakat khawatir para calon pemimpin hanya memanfaatkan mereka dengan mengeksploitasi suara-suara mereka dalam pemilihan umum kelak. Pun dengan para calon wakil-wakil rakyat yang dikhawatirkan hanya mewakili kalangan ekslusif tertentu setelah mereka begitu percaya diri memukau masyarakat luas dengan janji-janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan maksud menafikan sosok-sosok yang konsisten terhadap perjuangan dan kebenaran. Namun semua itu hanya sinekdoke belaka. Cap subjektif tersebut muncul seiring menjamurnya krisis ketauladanan dari para pembesar negeri ini. Hingga sebagian masyarakat yang terdiri dari awam, apatis, atau mungkin kritis menghakimi bahwa pemilihan umum mendatang tak memberikan warna lain politik kita. Dengan demikian, putusan hati untuk memilih tidak memilih adalah jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golput, Ekspresi Belaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tiba-tiba berperan penting dalam alur drama politik kita. Alih-alih membawa maslahat, Senin (26/1) lahir fatwa yang menyatakan wajib hukumnya memilih pemimpin bila ada pemimpin yang Islami. MUI menilai pemimpin Islami itu ada. Kemudian masyarakat pada umumnya menafsirkannya sebagai fatwa haram bagi tindakan golongan putih (golput). Maka, satu lagi “pantangan” bagi umat muslim Indonesia, yaitu golput dalam Pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar masyarakat, fatwa tersebut bisa jadi momok mengerikan. Karena masalah selera menentukan nasib akhirat seseorang. Betapa tidak, mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim. Tak sedikit dari jutaan penduduk muslim merupakan muslim taat dan masih memegang tinggi kredibilitas MUI sebagai pencipta fatwa. Sehingga kata “mengerikan” memang pantas saat MUI dengan maksud yang bias mengeluarkan fatwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah figur Islami itu? Siapakah figur ideal yang diyakini MUI masih ada dalam deretan nama calon-calon pemimpin masa depan Indonesia? Karena dengan mudah, MUI menganggap masih ada calon yang diharapkan itu. Padahal, persepsi MUI dengan jutaan masyarakat Indonesia terutama muslim akan berbeda. Baik menurut MUI belum tentu baik menurut masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat terutama umat muslim pun tahu, bahwa dengan tidak memberikan suaranya pada Pemilu mendatang, mereka tetap akan mempunyai pemimpin. Artinya, sangat tidak mungkin seluruh penduduk Indonesia menjadi golput dan akhirnya Indonesia tak memiliki sosok pemimpin. Dengan demikian, putusan golput yang diambil masyarakat bukan dalam rangka Indonesia menjadi negara tak berpemimpin, namun sebuah luapan rasa ketidakpuasan masyarakat pada calon-calon pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja golput itu memungkinkan Indonesia menjadi tak berpemimpin. Mayoritas muslim di Indonesia mungkin akan terkena dosanya karena telah melalaikan nilai-nilai agama yang mewajibkan sebuah negara memiliki seorang pemimpin. Hanya saja, hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Mengingat Indonesia adalah negara demokrasi, selayaknya peran serta lembaga keagamaan tidak mengintervensi hak-hak pribadi seperti urusan warga dan negaranya dalam partisipasi Pemilu mendatang. Wallahu alam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-203292830697626851?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/203292830697626851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=203292830697626851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/203292830697626851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/203292830697626851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/pemilu.html' title='Pemilu'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-214024847641988807</id><published>2009-02-26T17:51:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T17:52:20.409-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Soroush</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Abdul Karim Soroush dan Pemikiran Keagamaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh AHMAD SAHIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sunangunungdjati–Abdul Karim Soroush lahir di Teheran, Iran, tahun 1945. Pendidikan menengah di Sekolah Menengah Murtazawi dan Sekolah Menengah Alawi, dan masuk Jurusan Farmakologi Universitas Teheran, Iran. Kemudian melanjutkan ke program doktor bidang sejarah dan filsafat sains di Chelsea College, London, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semasa belajar di Sekolah Dasar, Soroush menyenangi puisi-puisi karya Sa`di dan sering membuat puisi. Saat di sekolah menengah sempat menjadi anggota Anjoman-e Hojatiyyeh (organisasi yang khusus mengkaji tradisi Syi`ah dan ajaran-ajaran Bahai`) dan terlibat dalam organisasi non-sekterian Muslim Qurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Karim Soroush mengaku bahwa dirinya sangat mengagumi pemikiran keagamaan dan filsafat Ayatullah Murtadha Muthahhari, terutama karya-karya Muthahhari yang berbau filsafat; salah satunya buku komentar dan penjelasan (syarh) atas karya Allamah Muhammad Husain Thabathabai` yang berjudul Ushul Falsafe wa Rawish-e Rialism. Bahkan Soroush mendapatkan bimbingan langsung dari ulama yang direkomendasikan Muthahhari saat meminta padanya untuk diajari filsafat Islam. Kekaguman Soroush pada Muthahhari tidak menutupnya untuk melayangkan kritik yang cukup pedas. Menurutnya, Muthahhari merupakan sosok ulama-intelektual yang pemikiran-pemikirannya terlihat menyakralkan filsafat Islam. Padahal, kata Soroush, filsafat Islam tidak lain hanyalah variasi dari filsafat Yunani dan produk pemikiran manusia yang masih terbuka untuk dikritik dan direvisi ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain karya Muthahhari, ia juga membaca ‘Tafsir Al-Mizan’ karya Allamah Muhammad Husain Thabathabai`, ‘Al-Hikmah Al-Muta`aliyah Fi Al-Asfar Al-Aqliyyat Al-Arba`ah’ karya Mulla Shadra, ‘Al-Mahajjah Al-Baidha’ karya Faiz al-Kasyani, ‘Ihya Ulumuddin’ karya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, dan karya-karya Jalaluddin Rumi dan Hafiz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier yang sempat dijalaninya adalah Direktur Laboratorium (produk makanan) Toiletteries, dosen Universitas Teheran, profesor tamu untuk studi Islam di universitas-universitas Amerika Serikat (Harvard, Yale, dan Princeton), anggota Dewan Revolusi Kebudayaan yang didirikan Imam Khomeini untuk membahas dan mereview silabus pelajaran dan sistem pendidikan Iran; dan saat di Inggris aktif dalam kegiatan ilmiah dan keagamaan di Islamic Center Imam Barah, London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemaran Soroush dalam membaca dan menulis membuahkan buku-buku seperti ‘Sifat Dinamis Alam Semesta’ (membahas tentang tauhid, al-ma`ad, dan teori harakah al-jauhariyah Mulla Shadra), ‘Ilmu Pengetahuan dan Nilai’ (buku ini ditulis dan diselesaikannya di Inggris saat menempuh pendidikan doktor), ‘Hikmah wa Ma`isyah’, ‘Aushaf-e Parsawan’, ‘The Hermeneutical Expansion and Contraction of Theory of Syari`a’, dan menulis artikel-artikel di Jurnal Kiyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa berlangsungnya gerakan Revolusi Islam Iran, Soroush sering menghadiri ceramah dan diskusi ilmiah cendekiawan Ali Syari`ati yang diselenggarakan di Husainiyah Al-Irsyad dan pengajian-pengajian Murtadha Muthahhari dan ulama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menjadi dosen di Fakultas Keagamaan Universitas Teheran, kuliah Soroush banyak diminati para mahasiswa. Dikarenakan pemikirannya berbeda dan kritis pada pemikiran-pemikiran ulama Syi`ah, pada 1995-1996 Abdul Karim Soroush dilarang memberikan kuliah oleh organisasi Anshar-e Hizbullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soroush—sebagaimana dikatakan Goenawan Mohammad—sosok intelektual kritis yang menggugat kebekuan tradisi dan tidak menghendaki adanya otoritas tunggal. Ide-ide liberal dan kritis itulah yang membuat Soroush tak disenangi para ulama Syi`ah dan mendapat kritik dari ulama ternama seperti Muhammad Said Bahman Pour dan Ayatullah Ja’far Subhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kritik bertubi-tubi terlempar padanya, tapi Soroush tetap dikagumi kaum muda Muslim dan ide-idenya banyak dibicarakan kalangan akademisi, termasuk di Indonesia. Robin Wright, jurnalis Los Angeles Times di Amerika, menokohkan Soroush sebagai ‘Muslim Luther Iran’ dan majalah Time edisi April 2005 menobatkan Soroush sebagai satu dari 100 orang berpengaruh di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pemikiran yang terkenal dari Soroush adalah membedakan antara pengetahuan agama yang merupakan hasil pemahaman dari teks tersebut (syarh) dengan agama sebagai teks suci (syari`); atau Islam sebagai identitas dan Islam sebagai kebenaran. Islam model pertama adalah alat ideologis untuk identitas sekaligus respon terhadap apa yang saat ini kita kenal dengan ‘krisis identitas’. Yang termasuk pada model ini adalah Islam yang berwajah sekte atau mazhab dan Islam yang bercampurbaur dengan budaya lokal. Sementara Islam model kedua merupakan Islam sebagai sumber kebenaran yang menunjukkan jalan kedamaian. Model Islam kedua ini, menurut Soroush adalah Islam yang dijalankan dan didakwahkan oleh Nabi Muhammad saw yang misinya menyeru manusia kepada kebenaran dengan jalan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikirannya ini merupakan bentuk kritik terhadap kalangan Muslim ortodoks yang membuat pengetahuan agama menjadi suatu doktrin yang sakral, bahkan hampir disamakan dengan wahyu. Contohnya disiplin fiqh, tasawuf, teologi (kalam), tafsir, dan filsafat—yang merupakan hasil interpretasi para ulama atas nash-nash Islam—hingga kini masih tertutup untuk dikritisi. Sehingga, bila ada yang berupaya mengkritisinya akan dianggap menentang agama. Fakta ini banyak ditemukan dalam bentuk fatwa-fatwa fiqh. Kaum Muslim tidak berani untuk keluar dari fatwa-fatwa ulama dan bahkan mengikat dirinya dengan produk intrepretasi yang dilegalkan melalui institusi agama maupun otoritas seorang ulama ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya Soroush berupaya untuk memunculkan kembali wacana tentang agama sebagai produk Ilahi (syari`) dan pemahaman agama yang merupakan produk pemikiran atau penafsiran manusia terhadap agama itu sendiri (syarih). Menurutnya, disiplin agama Islam seperti fiqh, teologi (kalam), tasawuf, dan sistem pemerintahan yang digunakan di negara-negara Islam, pada dasarnya terlahir dari sebuah upaya memahami wahyu. Sehingga kedudukannya tidak sakral dan bisa mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan konteks zaman. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Mereka mengubah pemahaman agama menjadi ideologi atau ideologisasi agama. Mereka lebih senang menggunakan Islam demi kepentingan identitasnya (baca: politik, ekonomi, budaya, dan mazhab) ketimbang sebagai jalan kedamaian dan kebenaran. Fakta adanya kepentingan identitas inilah yang bisa dianggap bentuk ideologisasi agama; dan ini tidak hanya terjadi di dunia Islam, tapi juga pada agama-agama lainnya. Mereka dengan dalih menjaga kesucian agama, menolak berhubugan dengan komunitas agama di luarnya. Akibatnya, agama menjadi tertutup dan kaku karena ideologisasi agama selalu menginginkan yang ideal, bersifat fanatis, dan berpikiran sempit. Inilah bentuk kecacatan dalam agama yang diakibatkan oleh pemahaman para penganutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ideologisasi agama ini, kata Soroush, yang paling berbahaya adalah sikap ketaatan buta kepada ulama dan mencampuradukkan antara ‘agama’(syari`) dengan ‘pemahaman agama’ (syarih). Sikap tersebut akan menjebak umat beragama dalam ajaran yang tidak benar dan melupakan fitrah manusia di tengah kehidupan bermasyarakat. Sikap ketaatan buta ini bila tetap masih melekat maka menjadikan orang yang beragama itu menghambakan dirinya pada ajaran agama (pemahaman agama) dan melupakan Tuhan. Akhirnya, mereka yang terjebak dalam sikap ini hidupnya cenderung asosial, eksklusif, fanatik, dan selalu sentimen kepada pemeluk agama lain. Itulah bahayanya bila pemahaman agama disakralkan dan menjadi ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kaum Muslim tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru, harus berupaya memahami makna kebenaran aga itu sendiri. Menurutnya, nilai kebenaran sebuah agama dapat dilihat dari kebenaran teologis dan kebenaran historis. Kebenaran teologis yang mengetahui hanya pencipta agama itu sendiri, yaitu Tuhan. Maka, tak ada satu pihak pun yang berhak merasa (mengaku) paling tahu tentang kebenaran agama. Sementara untuk melacak kebenaran historis sebuah agama dapat dilihat dari sejauhmana agama tersebut bermanfaat dan dapat membebaskan umat manusia dari belenggu-belenggu kejahatan maupun masalah-masalah sosial dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kebenaran agama, Soroush menuturkan, “Saya percaya bahwa kebenaran di mana pun sama; tidak mungkin kebenaran berselisih dengan kebenaran. Semua kebenaran adalah pemukim ditempat yang sama dan bintang-bintang dari yang rasi sama. Satu kebenaran yang berada disudut dunia pasti bersesuaian dengan semua kebenaran ditempat lain. Jika tidak, itu bukan kebenaran. Oleh karena itu, saya tidak pernah lelah mencari kebenaran di arena intelek dan opini yang beragam. Kebenaran sungguh suatu rahmat, sebab kebenaran mendorong pencarian secara terus-menerus dan melahirkan pluralisme yang sehat.” (2002:27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soroush juga menegaskan bahwa dalam dinamika pemahaman keagamaan sangat diperlukan adanya pemikiran yang bersifat kritis dan progresif. Karenanya, keberadaan ilmu agama atau pemahaman agama harus diposisikan sama dengan ilmu pengetahuan lainnya yang bersifat manusiawi dan relatif karena masalah-masalah zaman dan kebutuhan manusia tidaklah baku, tapi berubah dari waktu ke waktu atau generasi ke generasi. Apabila agama tersebut ingin tetap ada, maka agama sebagai doktrin atau ajaran berupa nash-nash itu harus mampu menjawab tantangan dan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia serta menjadi solusi ditiap zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks inilah penfasiran terhadap nash-nash agama dan ijtihad harus selalu dilakukan para pemuka agama; sehingga keberadaan agama itu sendiri akan selalu aktual dan mampu menjadi solusi bagi kehidupan manusia. Seperti halnya ilmu biologi, fisika, kimia, astronomi, dan politik, senantiasa mengalami perbaikan dan penyempurnaan. Mengapa demikian? Soroush menjawab: ilmu atau pemahaman keagamaan tidaklah bersifat sempurna ataupun berlaku sepanjang waktu, sebab ia terikat dengan budaya yang senantiasa berubah. Sehingga pemahaman keagamaan mutlak untuk dikembangkan dan disempurnakan; karena dengan aktivitas itu merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat membangkitkan kemajuan umat beragama atau peradaban Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pemikirannya yang bersifat kritis dan sekuler, wajar bila Soroush disebut sebagai Muslim liberal. Ia dijuluki demikian karena menempatkan agama terpisah dari politik dan menentang otoritas kelembagaan agama, khususnya di Iran. Itu sebabnya di Barat Soroush disebut ‘Luther Islam’. Seperti yang dilakukan teolog Martin Luther di Jerman yang mendobrak otoritas tunggal para Bapa Gereja, Soroush pun menggugat sistem ‘wilayah faqih’ yang memberikan wewenang tunggal kepada ulama. Menurutnya, konsep wilayah faqih yang memberikan otoritas penuh kepada ulama merupakan peniruan dari ajaran Kristen yang memberikan hak penuh kepada para Bapa Gereja. Karena itu, Soroush berpendapat bahwa menjadi sekuler asal tidak taqlid adalah sikap yang baik, apalagi bila diimbangi dengan budaya kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi sekuler tidak selamanya berpretensi negatif. Saya menjadi bagian dari sekularisasi justru karena ingin menyelamatkan agama dari sekularisasi itu sendiri,” ujarnya. (2002:79-86)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menurut Soroush, sekularisasi merupakan perangkat yang bisa menyelamatkan ajaran agama untuk kesejahteraan umat manusia. Jika tidak ada sekularisasi, eksistensi agama akan menjadi hambatan yang besar terhadap kemerdekaan berpikir, keterbukaan wacana, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Dari sinilah muncul pemikiran tentang perlunya melakukan ‘pemisahan’ antara wilayah agama (keyakinan) dengan politik (negara), antara dimensi transenden (sakral) dengan yang imanen (profan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah Soroush mencetuskan teori penyusutan dan pengembangan agama—sebagai metodologi—dan menggulirkan konsep pemerintahan demokrasi agama (democratic religious government). Konsep pemerintahan demokrasi agama yang digagas Soroush ini berupaya untuk menyelaraskan kepuasan rakyat dengan restu Tuhan, menyeimbangkan urusan agama dan non-agama, dan berbuat yang benar terhadap rakyat maupun Tuhan dengan mengakui integritas manusia dengan agama. Artinya, untuk mewujudkan pemerintahan demokrasi agama memerlukan suatu kombinasi antara nalar (aql) dan wahyu (syari`), penghormatan yang tinggi terhadap hak-hak asasi manusia, dan memberikan kebebasan (bagi masyarakat) dalam menjalankan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori penyusutan dan pengembangan agama, Soroush mengajukan tiga prinsip. Pertama, prinsip koherensi (keterpaduan) dan korespondensi. Pemahaman agama merupakan hasil interpretasi atas nash yang merupakan produk pemikiran manusia dan dipengaruhi aspek-aspek internal dan eksternal dalam menafsirkannya itu. Kedua, prinsip interpenetrasi. Yakni penyempitan atau perluasan di dalam sistem pengetahuan manusia melahirkan pemahaman agama. Ketiga, prinsip evolusi. Sistem pengetahuan manusia itu mengalami perluasan dan penyimpitan (dinamika pemikiran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soroush pun menggunakan pendekatan disiplin ilmu-ilmu modern (filafat, sosiologi, politik, ekonomi, etika, dll) dengan disertai ijtihad pribadi dalam mempraktikan teorinya itu. Dengan ilmu-ilmu modern ini, kata Soroush, agama akan mampu menjawab tantangan dan persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Dengan melakukan interpretasi terhadap nash-nash agama menjadi jelas bahwa agama merupakan doktrin yang memberikan pemahaman atau penjelasan tentang Tuhan dan perintah-perintahnya. Pemahaman orang terhadap agama inilah yang disebut ilmu agama. Kedudukan ilmu agama tidak sakral karena produk pemikiran manusia; yang berbeda dengan agama itu sendiri. Agama merupakan produk Tuhan, bersifat abadi dan sakral. Sedangkan ilmu agama atau pemahaman agama senantiasa berubah, terbuka peluang kritik, menyusut/menyimpit dan mengembang; sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan manusia dan konteks zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda bertanya, apa yang kita dapatkan dari gagasan dan pemikiran-pemikiran cendekiawan Muslim liberal ini? Saya tidak bisa menjawabnya. Namun, sekadar gambaran, saya kutipkan di bawah ini sebuah rangkuman dari seorang aktivis The Indonesian Institute, Jeffrie Geovanie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dari Soroush kita dapat belajar bagaimana ‘mendamaikan’ Islam dan demokrasi. Islam memang bermakna ‘berserah diri’, namun tidak harus mengorbankan kebebasan. Iman yang dipeluk dalam tekanan dan ancaman, bukanlah iman yang benar. Beriman secara benar, harus disertai dengan semangat kebebasan. Kebebasan, termasuk kebebasan dalam beriman, adalah fondasi utama demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Soroush berhasil menyerasikan kebebasan dengan nalar-rasional. Menurutnya, kebebasan adalah kepunyaan manusia yang rasional. Karena itu, orang-orang yang menobatkan kebebasan sebagai musuh utama kebenaran, pada dasarnya tidak menyadari bahwa kebebasan adalah kebenaran (haq). Manifestasi kebenaran dapat memperkluat kebebasan dan melemahkan kepalsuan karena dunia ini adalah pasar bebas tempat berbagai ide bertukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kita belajar dari Soroush tentang membedakan ‘Islam’ dan ‘penafsiran terhadap Islam’. Islam—terutama teks-teks sucinya—tentu bersifat tetap dan tak berubah. Namun, perlu diingat, pemahaman dan penafsiran manusia terhadap Islam dan teks-teks sucinya tidaklah bersifat tetap, dan karena itu selalu berubah setiap saat dan terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman dan tempat. Karena itu, tak ada satu pun pemahaman dan penafsiran terhadap Islam yang bersifat absolut atau sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHMAD SAHIDIN,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alumni Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pernag aktif di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung, dan kini menjadi anggota blogger http://www.sunangunungdjati.com serta sedang menjalani fase hidup sebagai pekerja buku.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-214024847641988807?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/214024847641988807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=214024847641988807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/214024847641988807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/214024847641988807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/soroush.html' title='Soroush'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-2006803960241415581</id><published>2009-02-26T17:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T17:51:12.656-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ospek</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mengubah Paradigma Ospek&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh ANDRI AGUSTINA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sunangunungdjati–Orientasi studi dan pengenalan kampus, atau yang lebih dikenal dengan istilah ospek, merupakan salah satu rangkaian kegiatan orientasi bagi mahasiswa baru di suatu lingkungan kampus. Secara umum, kegiatan ospek bertujuan untuk memperkenalkan visi-misi kampus, baik secara historis, demografis, maupun karakteristik. Selain itu, ospek menjadi ajang untuk menanamkan perubahan paradigma berpikir dari pola pikir anak sekolahan menjadi pola pikir akademisi yang analitis, logis, dan kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melihat perkembangannya, ospek menjelma menjadi sebuah kegiatan perpeloncoan bagi mahasiswa baru, baik secara fisik maupun psikis. Dan pola didikan ospek seperti ini merupakan warisan turun-temurun dari angkatan-angkatan terdahulu yang entah dari angkatan berapa dimulainya sehingga tiap kampus memiliki semacam kekhasan dalam mengospek mahasiswa barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, diakui atau tidak, kegiatan ospek seperti ini (baca: perpeloncoan) cukup efektif memberikan shock therapy untuk mengubah karakter dan pola pikir. Namun, terlepas dari sisi baik dan buruknya, tetap saja pola-pola perpeloncoan seperti ini harus dikaji secara komprehensif, apakah masih layak diterapkan dalam rangka mencetak seorang akademisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tinjauan umum, kegiatan ospek ternyata membutuhkan kesiapan dan kesanggupan yang cukup besar, baik bagi panitia maupun bagi mahasiwa barunya. Hal tersebut menyangkut masalah ketahanan fisik, ketahanan mental, dan finansial. Terlebih lagi, panitia harus mampu mengorganisasikan sejauh mana ketahan fisik dan mental setiap peserta sehingga hal-hal yang tidak diharapkan dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, tak jarang dalam rangkaian kegiatan ospek, mabim, PAB, dan lain-lain diwarnai dengan malayangnya nyawa seseorang atau mahasiswa baru. Sebagai ekses dari keteledoran dalam merespon ketahanan fisik seseorang. Dan berbicara soal nyawa, maka urusannya akan semakin rumit, karena sama artinya dengan berurusan dengan pihak berwajib, terancam dikeluarkan dari almamater dan pupusnya satu harapan generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari pengalaman tersebut, perlu kita renungkan bagaimana konsep ospek yang qualified, baik secara materi, isi, maupun kompetensi. Kita (mahasiswa), sebagai agen perubahan, harus mampu melakukan perbaikan yang signifikan dalam mengubah kultur orientasi yang selama ini tersegmentasi. Dan sedikit demi sedikit menciptakan kultur baru dalam menyambut mahasiswa baru. Misalnya dengan melakukan pendekatan secara intuitif sebagai sesama mahasiswa, bukan pendekatan represif sebagai senior ke junior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasukkan materi yang berhubungan dengan penggalian kemampuan Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) dalam ospek merupakan cara lain untuk menanamkan karakter sebagai kaum intelektual sehingga suasana akademis lebih terasa daripada suasana underpressure yang menegangkan. Walaupun porsi untuk meningkatkan ketahanan fisik dan mental tetap harus ada, takarannya harus tetap porposional sehingga diharapkan dapat mencetak agen-agen perubahan yang andal dan tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, perlu adanya kontrol dari pihak-pihak terkait seperti jurusan, dekanat, ataupun rektorat sehingga kegiatan-kegiatan orientasi senantiasa terpantau dan masih dalam lingkup kewenangan suatu institusi. Bukan menggelar kegiatan-kegiatan ilegal yang dampaknya bisa berakibat fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita pun harus terus berusaha memperbaiki paradigma ospek sehingga tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu ditakuti oleh mahasiswa baru. Dan semoga tidak terdengar lagi adanya korban jiwa yang gugur dalam kegiatan ospek selanjutnya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRI AGUSTINA, Mahasiswa Kimia Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung [Tribun Jabar, 18 Februari 2009]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-2006803960241415581?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/2006803960241415581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=2006803960241415581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/2006803960241415581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/2006803960241415581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/ospek.html' title='Ospek'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5311673266113318182</id><published>2009-02-26T17:46:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T17:50:05.624-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ali</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ali Zainal Abidin, Peletak Dasar Tradisi Sufi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh AHMAD SAHIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunangunungdjati-Suatu hari terdengar seseorang menangis seraya menggumamkan kalimat, “La ilaha illallah, haqqan haqqa. La ilaha illalah ta`abudan wa riqqa. La ilaha illallah imanan wa shidqa (tidak ada tuhan kecuali Allah, yang sebenar-benarnya. Tidak ada tuhan kecuali Allah, dengan keimanan dan ketulusan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ya Sayyidi,” kata seseorang dari belakang menegur, ”Belum jugakah datang waktunya dukamu berhenti dan tangismu berkurang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana engkau ini,Yakub Ibn Ishaq adalah Nabi dan putra Nabi. Ia mempunyai dua belas putra. Seorang di antara mereka hilang.dan Yakub menderita. Matanya buta karena sering menangis dan rambutnya beruban. Padahal anak yang ditangisinya masih hidup di dunia. Aku melihat ayahku, saudaraku, dan tujuh belas saudaraku dibantai di depanku. Mungkinkah hilang dukaku dan berkurang tangisanku?” jawabnya seraya kembali bersujud melafalkan ayat-ayat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjelang malam ia pergi ke pasar membeli gandum. Setiap melewati rumah kaum mustadh`afin ia singgahi dan memberi makanan secukupnya. Begitulah yang ia kerjakan setiap malam. Ia mengerjakannya tiap hari dan tidak ada yang mengetahui siapa ia. Siapakah manusia mulia ini? Sejarah mencatat bahwa ia adalah putra dari pasangan Husain (putra kedua Fatimah az-Zahra Binti Rasulullah Saw) dan Syahar Banu (putri Yazdarij, raja terakhir kekaisaran Persia) yang lahir di Madinah, 15 Jumadil Ula 36 H, yang dikenal dengan nama Ali Zainal Abidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kesyahidan Husain Ibn Ali beserta saudara-saudaranya, beliau sering kali menangis dan mengisi hidupnya dengan ibadah dan doa. Seorang perawi hadis, Al-Zuhri, berujar, “Aku tidak menjumpai seorang pun dari keluarga Rasulullah yang lebih utama dari putra Husain.” Bahkan dikarenakan seringnya bersujud ia digelari As-Sajjad. Sedangkan nama Zainal Abidin (hiasannya orang-orang ibadah) disandangnya karena taat dalam beribadah. Sampai-sampai ketika hendak shalat wajahnya pucat dan badannya gemetar. Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjawab, “Kamu tidak mengetahui di hadapan siapa aku berdiri (shalat) dan kepada siapa aku bermunajat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi nasibnya tidak begitu mulus. Sebab Yazid Ibn Muawiyah dan Abdul Malik, penguasa dari Bani Umayyah, merantainya ibarat Ibnatang di depan umum. Ia digiring dari Damaskus ke Madinah, lalu kembali lagi ke Madinah. Betapa menderitanya ia diperlakukan seperti itu. Karena perlakuan itu, ia selalu menyendiri (khalwat) dan mengeluhkan deritanya kepada sang Khaliq, Allah Subhanallahu Wa Taala. Bahkan dikarenakan faktor psikologis itu ia tak mau menampakkan ibadah dan amal shalih di hadapan khalayak ramai. Amalannya dilakukan secara sembunyi. Setelah wafat, barulah orang-orang mengetahui betapa besar perhatian Ali Zainal Abidin terhadap kaum mustadhafin—sebagaimana kakeknya, Ali Ibn Abi Thalib yang memikul tepung dan roti dipunggungnya guna dibagi-bagikan kepada fakir miskin di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulannya, beliau ramah bukan hanya kepada kawannya saja melainkan juga kepada yang memusuhinya. Dikisahkan, ia didatangi pejabat kerajaan Banu Umayyah yang memaki, mencaci, dan mengejeknya dengan kasar. Saat diperlakukan seperti itu ia diam dan mendengarkannya sampai selesai. Kemudian ia jamu pejabat itu dengan makanan yang lezat. Ia berikan kuda dan beberapa potong kain kepadanya. ”Terima kasih, sungguh mulia engkau telah berkenan membuka aibku sebelum Allah menghisabku kelak,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Ali Zainal Abidin berada di zaman Al-Hajjaj Ibn Yusuf As-Tsaqafi—seorang tiran dari kerajaan Bani Umayyah yang kejam dan tidak segan-segan membunuh siapa pun yang membela keluarga Rasulullah—tapi masih sempat memberikan tausiyah kepada masyarakat dalam bentuk halaqah kecil di sudut masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebabkan begitu kukuh dalam memegang Islam, apa pun yang dilakukan Ali Zainal Abidin, mereka tidak ridha apalagi ketika umat Islam tidak bersimpati kepada pemerintahan Bani Umayyah. Akhirnya, tanggal 25 Muharram 95 Hijriah, ketika Ali Zainal Abidin berada di Madinah, Al-Walid Ibn Abdul Malik Ibn Marwan meracuni makanannya. Ali Zainal Abidin pun wafat meninggalkan keluarga dan catatan-catatan munajat (doa), yang kata-katanya bak mutiara berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketabahan dan kesabarannya dalam menghadapi deraan dan siksaan penguasa Bani Umayyah, Ali Zainal Abidin dalam sejarah dikenal sebagai tokoh sufi awal dan munajat-munajatnya pun dijadikan kitab terpenting (utama) untuk munajat-munajat kepada Allah Azza wa Jalla. Bahkan, dalam beberapa tarekat dan pengamat Islam, Ali Zainal Abidin dianggap sebagai peletak dasar tradisi (praktik) hidup kaum sufi. (Majalah Swadaya)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5311673266113318182?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5311673266113318182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5311673266113318182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5311673266113318182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5311673266113318182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/ali.html' title='Ali'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-7460423483332793891</id><published>2009-02-17T19:44:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T19:51:41.966-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pindah</title><content type='html'>Kami atas nama SUNANGUNUNGDJATI (Komunitas Blogger Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung memohon pembaca, pengunjung setia SUNANGUNUNGDJATI pindah rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk mengakses website resmi kami &lt;a href="http://www.sunangunungdjati.com/"&gt; klik ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-7460423483332793891?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/7460423483332793891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=7460423483332793891' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7460423483332793891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7460423483332793891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/pindah.html' title='Pindah'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4985055401065662232</id><published>2009-02-10T06:19:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T23:02:15.185-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Lisan</title><content type='html'>Melestarikan Tradisi Lisan Sunda&lt;br /&gt;ALI NUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan akhir pekan lepas saya mengunjungi orang tua di Kuningan, Jawa Barat. Kota kecil yang terkenal dalam sejarah Indonesia dengan tempat ’Perjanjian Linggarjati’ antara pemerintah Indonesia dan Belanda ini mempunyai kenangan tersendiri bagi saya terutama akan masyarakatnya yang kuat memelihara tradisi lisan bahasa ibu (bahasa Sunda).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1980-an, ketika saya masih menjadi pelajar di sekolah rendah, masyarakat Kuningan, tua muda dan anak-anak sangat gandrung (favorite) dengan sebuah acara berbahasa Sunda di radio yaitu siaran Dongeng Enteng (Cerita Ringan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini adalah cerita bersambung berbahasa sunda yang disampaikan oleh pendongeng bernama Mang Jaya dan disiarkan secara langsung (live) di radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamakan Dongeng Enteng karena cerita dalam siaran ini menggambarkan kehidupan keseharian masyarakat Sunda yang mudah dicerna oleh orang kebanyakan di kampung-kampung dengan dialog khas budaya Sunda yang banyak canda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita kehidupan sehari-hari ini dibumbui dengan kisah dunia persilatan atau pengembaraan seseorang yang sudah menuntut ilmu beladiri kemudian ’turun gunung’ (keluar dari padepokan) untuk mengamalkan ilmunya di masyarakat dalam membela kebenaran dan menumpas kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang unik dalam acara ini adalah, Mang Jaya, sang pendongeng, bisa mengubah-ngubah jenis suara baik itu suara anak-anak, dewasa, laki-laki dan perempuan. Jadi meskipun dia hanya sendirian, tetapi cerita itu menjadi hidup seolah-olah banyak orang yang berperan dalam berdialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap rumah waktu itu akan setia menunggu siaran yang berlangsung selama satu jam dalam satu hari ini. Ketinggalan satu hari saja, para pecinta acara ini akan merasa menyesal. Selain tidak bisa mengikuti alur cerita dengan sempurna, mereka juga akan kehilangan kesempatan mendengarkan petuah-petuah moral dan joke-joke segar khas Mang Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu judul cerita biasanya akan habis dalam waktu satu atau dua bulan tergantung panjangnya cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pelajaran yang bisa diambil dari acara Dongeng Enteng ini. Diantaranya adalah pembelajaran kepada masyarakat tentang nilai-nilai moral kebaikan dan perlunya membela kebenaran. Setiap orang yang membela kebenaran dan menumpas kejahatan akan dimenangkan dalam cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Dongeng ini, anak-anak juga secara tidak langsung diajarkan nilai-nilai moral tentang bagaimana menghargai orang tua, pentingnya kejujuran dan nilai-nilai kebaikan lainnya yang perlu dimiliki oleh seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga nilai moral pentingnya ilmu pengetahuan dalam bermasyarakat. Orang yang berilmu tinggi akan dihormati dimasyarakat digambarkan dalam dongeng itu dalam sosok pendekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran lewat dongeng sangat efektif karena sifatnya tidak menggurui tetapi digambarkan dalam sosok seseorang, sehingga anak-anak ingin mencontohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pelajaran nilai moral seperti disebutkan diatas, pelajaran penting lainnya adalah Dongeng Enteng merupakan sarana melestarikan sastera dan bahasa ibu yaitu bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, melalui dongeng itu saya bisa belajar seluk beluk bahasa baik itu pribahasa, tingkatan-tingkatan pemakaian bahasa dan sastra Sunda dari Mang Jaya. Dengan kata lain, Mang Jaya adalah guru bahasa Sunda pertama bagi anak-anak di Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat dongeng itu Mang Jaya mengajarkan bagaimana seharusnya bahasa yang halus dan kasar digunakan. Bahasa Sunda yang memang mempunyai tingkatan-tingkatan (hirarki) dalam penggunaannya diajarkan dalam dongeng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga idiom dan peribahasa Sunda yang jarang didapatkan dalam buku-buku bacaan akan dengan mudah diajarkan kepada masyarakat lewat dialog-dialog dalam cerita Dongeng Enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini artinya, Mang Jaya, sang pendongeng sangat berjasa dalam melestarikan keberadaan sastera Sunda lewat bahasa lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, ketika saya berkunjung ke kampung halaman minggu lepas, masyarakat di kampung sudah mulai meninggalkan acara Dongeng Enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa rumah saja yang masih setia mengikuti acara radio favorite tersebut. Itupun kebanyakan adalah hanya para orang tua, sementara remaja dan anak-anak tampak lebih peduli dengan film-film dan sinetron yang disiarkan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya pemerintah daerah di Jawa Barat terutama Kuningan perlu memepertimbangkan bagaimana caranya agar acara seperti ini tidak kalah bersaing dengan acara hiburan lainnya baik di radio maupun televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pemerintah daerah perlu melestarikan acara Dongeng Enteng ini dengan cara merekamnya dalam bentuk Compact Disk (CD) dan mempromosikan penyiarannya di seluruh stasiun radio yang ada di Tatar Sunda, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha untuk menuliskan bahasa lisan (dongeng) kedalam bentuk bahasa tulis (buku novel) perlu juga segera dirintis sebelum satu persatu pendongeng bahasa Sunda meninggal dunia. Selain menjaga hilangnya cerita karena meninggalnya sang pendongeng, dibukukannya dongeng dalam bahasa tulis bisa memperkaya referensi bahasa dan sastera Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga dipikirkan untuk mencoba mengangkat cerita Dongeng Enteng ini ke dalam bentuk Film Layar Lebar. Bukankah pesan moral dan pembelajaran bahasa Sunda lewat dialog dalam bentuk visual seperti film akan lebih menarik bagi masyarakat terutama anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya para pemerhati bahasa dan sastera Sunda perlu belajar dari kegigihan peneliti dari Barat dalam mengalihkan bentuk bahasa lisan ke bentuk bahasa tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Julian P. Millie, peneliti dari Monash University, nampaknya perlu dicontoh. Millie, ditahun 2008 berhasil mengalihkan ceramah-ceramah lisan bahasa Sunda (dalam bentuk kaset) dari penceramah terkenal di Jawa Barat allahyarham A.F. Ghazali kedalam bentuk tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ceramah agama allahyarham Ghazali berhasil ditranscript oleh Millie bukan hanya kedalam bentuk buku berbahasa Sunda bahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The People’s Religion: The Sermons of A.F. Ghazali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan dimasa hadapan ada juga usaha-usaha pemerhati bahasa dan sastera Sunda yang mentranscript Dongeng Enteng ke dalam bentuk bahasa tulisan (buku) dan mengangkatnya ke layar lebar sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha-usaha pelestarian bahasa ibu tersebut tentunya tidak hanya berlaku bagi bahasa lisan Sunda. Mengalihkan tradisi bahasa lisan kebentuk bahasa tulisan baik itu bahasa Jawa, Melayu, ataupun bahasa lainnya perlu segera diusahakan jika ingin bahasa ibu itu tetap lestari dan bisa dipertahankan oleh generasi-generasi selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4985055401065662232?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4985055401065662232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4985055401065662232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4985055401065662232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4985055401065662232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/budaya-lisan.html' title='Lisan'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-347614211871925892</id><published>2009-02-10T06:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T23:02:35.804-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anekdot'/><title type='text'>Kentut</title><content type='html'>Beyond of "Kentut"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;DASAM SYAMSUDIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori per-konon-an, bahwa suara nyaring kentut bisa menimbulkan efek kaget pada sesorang. Sedangkan getarannya, bisa menimbulkan gempa yang lumayan menggucangkan daerah lokal di bagian tubuh dan tempat yang bersentuhan secara langsung. Memang, getarannya tidak lama seperti getaran Hp dan tidak mencapai angka tingi skalarihter. Paling-paling, kalau memang kentutnya sangat tinggi dan getarannya ganas, hanya akan mengakat bokong sipelaku kentut beberapa kaki dari daratan. Lumayan mengagetkan memang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari jenis suaranya, suara kentut sangat beragam. Dan ragam suaranya itu bisa di interpretasikan dengan kondisi pelakunya. Dengan melakukan penelitian melalui data empiris dari pengalaman sendiri. Saya, bisa membagi interpretasi suara kentut tersebut menjadi beberapa ragam. Mudah-mudahan dengan menginterpretasikan kentut saya bisa jadi profesor. Dari banyaknya ragam suara kentut, besar dan kecil volumenya, juga disertai atau tidaknya dengan getaran. Saya bisa menyimpulkan bahwa suara kentut ada yang menunjukan kondisi seseorang bahagia, sedih, munafik, jahat, tergesa-gesa, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kentut bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri kentut bahagia adalah, apabila seseorang kentut dengan suara yang agak nyaring, melepaskannya dengan suasana hati riang, dan suaranya tidak panjang juga tidak pendek. Satu lagi, suaranya tidak meledak dengan singkat, tapi, mengalir begitu saja disertai senyum penuh kenikmatan. Dan biasanya, sembari bokongnya menghembus juga mulutnya bersuara, “aaaaahhhhh…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kentut sedih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kentut sedih sebaliknya dari kentut bahagia. Cuma, biasanya kentut sedih suaranya agak tajam disertai cengkok yang agak lambat dan sekali, seperti, ‘tttttuuuuuuuuuuuuuuuutttttttt’. Satu lagi, seorang yang kentut dengan macam ini. Biasanya membiarkan kentutnya terlepas dengan sendirinya, tidak dipaksa atau ditekan agar keluar dengan nyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kentut munafik atau hipokrit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentut munafik biasanya sangat tidak disukai. Karena, kentut jenis ini jelas tidak bersuara hanya mengeluarkan gas yang agak lama. Suaranya, “psssssssssssshhhhhhhhh”. Kendati tidak bersuara, tetap saja bisa diketahui keberadaanya, karena kentut jenis ini biasanya bau. Bahkan, bisa membunuh serangga kecil. Inilah kemunafikannya, keberadaanya sulit dideteksi dari bokong seseorang. Sehingga dari kentut munafiknya bisa menimbulkan keributan, seperti saling menuduh, saling fitnah dan memabukan. Kentut ini bisa berbahaya apabila terjadi pada daerah tertutup dan pengap. Oleh karenanya, apabila dimobil ada yang kentut semacam ini, demi keselamatan disarankan membuka jendela mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kentut jahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah lagi, kentut jahat adalah kentut yang suaranya nyaring dan baunya minta ampun. Jenis ini sangat tidak baik, karena jati diri pelakunya bisa rusak. Selain itu, pelakunya akan tertawa bahagia karena bisa memabukan seseorang dengan kentutnya. Satu lagi, pelakunya tidak merasa menyesal melakukannya, yang ada hanya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kentut tergesa-gesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentut ini tidak berbahaya. Biasanya terjadi apabila seseorang berjalan atau berlari tidak sempat menenangkan bokongnya, sehingga suara lepas sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kentut pelit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentut ini biasanya dikeluarkan sedikit demi sedikit, karena pelakunya menahannya dan melepaskannya menjadi beberapa bagian yang saling menyusul. Bila seseorang kentutnyaseperti ini, biasanya dia pelit. Karena, jangankan harta, kentut saja pelit mengeluarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kentut Seni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, biasanya kentut seni kebanyakan keluar dari bokong seniman. Suaranya agak nyaring, dan jelas sekali kentutnya berirama dengan cengkok yang indah. Kalau bukan penyanyi, kalaupun berirama, suara kentutnya tetap akan sumbang atau fals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kentut berbuah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentut ini jarang terjadi. Kalaupun terjadi, biasanya kentut ini menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan. Secara audio, bokong seseorang akan menimbulkan suara persis suara kentut, di sisi lain, yang keluar dari bokongnya bukan hanya kentut, namun ada dzat lain yang ikut keluar, semacam agar-agar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara sekian dulu. Karena jenis yang lain masih dalam tahap eksperimen, uji coba. Bersambung pada bagian dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-347614211871925892?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/347614211871925892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=347614211871925892' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/347614211871925892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/347614211871925892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/anekdot-tulisan.html' title='Kentut'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-458322546538823862</id><published>2009-02-10T06:08:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T23:02:55.855-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontributor'/><title type='text'>Jaipong</title><content type='html'>Erotiskah Jaipongan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKRON ABDILAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini, seniman Sunda kembali dikejutkan pernyataan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, tentang jaipongan yang gerakannya harus diperhalus kembali. Dari pernyataan ini menyiratkan beberapa kemungkinan. Gerakan jaipongan itu masuk ke dalam gerakan erotis. Sebab Ahmad Heryawan – dengan pandangan subjektif-nya – merasa bahwa gerakan-gerakan jaipongan bisa membangkitkan seksual. Kadung saja, hal ini membuat gerah beberapa seniman Sunda di Jawa Barat. Termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi saya menyukai jaipongan dan merasa bahwa gerakan-gerakannya tidak erotis. Ketika menyaksikan tari jaipongan ini, saya tidak sampai berpikir macam-macam. Setiap gerak jaipongan sangat indah untuk dinikmati sehingga tidak sampai terpikir hal-hal yang dipikirkan lelaki hidung belang. Ini bukan berarti (maaf) pak&lt;br /&gt;Ahmad Heryawan hidung belang, lho. Sebab, saya percaya Gubernur Jawa Barat ini termasuk orang yang bisa menundukan hawa nafsunya. Mungkin, latar belakang pendidikan beliau, yang lulusan Timur Tengah terbiasa dengan pandangan “hitam-putih” sehingga memandang seni dari sisi fisik dan material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seni adalah petanda dari suatu peradaban. Begitu juga dengan tari jaipongan. Di dalamnya ada berbagai gerak yang dinamis, plural, dan estetis untuk menyadari bahwa pergaulan masyarakat Sunda itu “miindung ka waktu, mibapa ka zaman” atau sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam bahasa lain, orang Sunda itu harus dinamis, pluralis, dan menghargai perbedaan. Satu hal yang membuat saya sedikit kecewa dengan pernyataan bahwa jaipongan harus diperhalus lagi gerakannya. Ada semacam intervensi kekuasaan atas kreativitas seni di suatu daerah. Ideologi yang dianut – meminjam Foucault – cenderung mendapatkan kekuatan ketika sebuah kekuasaan diduduki oleh sang penganut ideologi tersebut. Akibatnya, kebebasan berekspresi dalam hal ini, seni tari jaipongan eksistensi keasliannya terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit memberikan saran saja kepada Gubernur Jawa Barat yang bukan berlatar belakang penikmat kesenian. Silahkan bentuk tim yang menciptakan genre baru di dalam jaipongan. Kelincahan para penari jaipongan bukan sebuah cela atau dosa. Seni berkaiatan dengan keindahan. Jadi, saya secara pribadi menganggap jaipongan sah-sah saja, tidak pornografis, apalagi erotis. Ketimbang bermain ke club untuk berdugem ria, lebih baik kita menggelar acara “tayuban”, jaipongan, dan pergelaran seni lainnya. Itu lebih menjaga jati diri kaum muda, kang. Bahkan, bisa menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika dan obat terlarang. Selain itu, sebagai warga Sunda, jaipongan akan menjadi identitas lokal dan cita rasa khas beraroma Sunda itu bisa disaksikan ketika jaipongan tidak diusik-usik dengan dalih erotis dan pornografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para seniman Jawa Barat juga jangan lantas kebakaran jenggot. Ini tantangan baru untuk menciptakan gerak jaipongan yang sesuai dengan selera masyarakat. Mungkin, banyak masyarakat yang tidak mengapresiasi seni gerak ini dikarenakan alasan yang sama dengan Bapak Gubernur. Ingat, bahwa seni itu terus berkembang dan menciptakan kembali bentuknya yang baru. Dinamis, plural, dan fleksibel; seperti halnya gerak jaipongan yang dimanis itu. Mari kita cari jalan keluarnya bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat aliran musik yang jumlahnya ratusan sehingga sampai sekarang, musik masih menempatkan diri di puncak seni yang banyak dinikmati banyak orang. Itu karena musik tidak berhenti berkreasi. Mungkin, pernyataaan Ahmad Heryawan adalah tantangan bagi seniman di Jawa Barat untuk kembali berkreasi menciptakan jaipongan seperti halnya yang dilakukan maestro tari tradisional Gugun Gumbira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saja unek-unek dari saya. Seorang warga Sunda yang tidak ingin melihat jaipongan mati dalam hal ragam gerakannya yang indah. Saya tidak tahu teori tentang jaipongan, tetapi ketika menyaksikan jaipongan yang di setiap daerah berbeda-beda, terhanyut untuk ngibing bersama mereka. Tetapi, karena saya hanya duduk di bangku penonton, akhirnya pundak, tangan, dan kaki bergerak-gerak sendiri. Bahkan, hanya di dalam hati saja saya melakukan gerakan yang sama dengan si penari. Walah...mungkin pak Heryawan juga menari dan menginginkan gerakan yang sesuai dengan seleranya. Kalau begitu, mari kita ciptakan aliran baru dalam jaipongan. Sekadar informasi saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-458322546538823862?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/458322546538823862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=458322546538823862' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/458322546538823862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/458322546538823862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/seni-tari.html' title='Jaipong'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-7789029395646372770</id><published>2009-02-10T06:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T06:07:33.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Pemilu 2009</title><content type='html'>Pemilih Kritis atau Golput?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IU RUSLIANA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAHUN &lt;/span&gt;2009 merupakan tahun pemilu, karena bangsa Indonesia melaksanakan hajatan besar demokrasi untuk memilih anggota legislatif dari tingkat kota/kabupaten, provinsi dan pusat, perwakilan daerah (DPD), serta dilanjutkan dengan pemilihan presiden. Pada momen ini gairah demokrasi menampakkan iklim mengagumkan, karena memberikan peluang kepada siapa pun yang memiliki hak memilih dan dipilih, untuk menggunakan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah riuhnya arus demokrasi di Indonesia ini, muncul perdebatan soal seruan golput (pilihan untuk tidak memilih) dan perlu tidaknya fatwa haram, bagi yang tidak menggunakan hak pilih. Fenomena golput disinyalir akan mewarnai demokratisasi Pemilu 2009. Golput sebagai sikap politik, tentu mengundang perdebatan dari pelbagai kalangan, tak terkecuali Majelis Ulama Indonesia yang memfatwakannya sebagai haram. MUI mengimbau umat Islam menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2009, karena keputusan golput dinilai akan membuat mubazir dana pemilu yang jumlahnya triliunan rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana kita menjawab pertanyaan golput ataukah menggunakan hak pilih pada Pemilu 2009? Kecenderungan apakah yang menyebabkan angka golput semakin tinggi, dengan ditandai rendahnya tingkat partisipasi pemilik suara di setiap pelaksanaan pilkada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa golput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus dicermati sekarang bukan apakah fatwa itu layak dikeluarkan atau tidak, salah atau tidak orang yang menyerukan golput. Namun, yang harus dijawab adalah masih adakah keputusan politik individu yang mungkin dilakukan secara objektif-rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, keputusan untuk tidak memilih dan golput bisa disebabkan dua hal. Pertama, buruknya sistem administrasi pemerintahan, sehingga banyak rakyat yang memiliki hak pilih kehilangan dan menghilangkannya. Fakta buruk itu terungkap dengan adanya kasus calon pemilih yang memiliki kartu pemilih dua dan lebih, bahkan sudah meninggal pun tetap mendapatkan undangan memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, keputusan tidak memilih didasarkan pada argumentasi bahwa realitas di lapangan, sampai saat ini belum ada kebijakan politik yang benar-benar berpihak kepada rakyat. Hanya elite politik yang merasakan keuntungan dari hajatan tersebut. Pemilu hanya merupakan dagelan politik yang tidak memiliki peran signifikan bagi perubahan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi yang lebih baik. Padahal biaya yang dikeluarkan pemerintah pusat dan daerah sangat besar. Sementara yang terjadi hanyalah pergantian rezim, dengan perilaku politik dan memproduksi kebijakan yang kurang lebih sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kekecewaan itu, rakyat memandang bahwa memilih saat pemilu atau pilkada hanyalah kesia-siaan. Mereka berpendapat bahwa tetap bekerja atau istirahat di rumah lebih baik. Memilih untuk golput adalah hak politik individu. Namun, pilihan itu juga kurang tepat, mengingat sistem pendukung untuk menghasilkan kebijakan politik pembangunan diawali dengan memilih anggota DPRD, DPR, DPD, wali kota, bupati, gubernur, dan presiden, serta wakilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golput adalah politik protes. Namun, politik protes ini hanya berada di luar lingkar pembentukan kekuasaan yang dicita-citakan. Mungkin, jika yang memilih golput jumlahnya di atas 50 persen bisa terjadi huru-hara politik baru. Potensi penggulingan kekuasaan juga menjadi mungkin, walau sistem politik di Indonesia masih belum memungkinkan. Eksistensi pemerintahan terpilih bakal diragukan, karena bukan sebagai wakil suara mayoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang memilih golput, sesungguhnya bertujuan dan memiliki harapan untuk memiliki wakil rakyat atau pemimpin yang berpihak kepada rakyat. Golput lahir sebagai reaksi dan apatisme atas semua fenomena politik yang dipandang telah rusak secara akut. Sementara itu, eksistensi dan peran partai tidak memenuhi harapan masyarakat. Partai politik beserta para kadernya tidak "mengenal" dan "dikenal" rakyat, karena gerakannya cenderung sporadis. Misalnya, mereka sekadar menebar janji politik saat pemilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilih kritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di atas, tentunya memicu kekecewaan sebagian warga sehingga memengaruhinya dalam penentuan sikap pada Pemilu 2009. Kalaulah demikian, mengapa kita tidak melakukan perlawanan dengan menolak politikus busuk dan memilih secara kritis? Waktu kampanye yang cukup panjang, seharusnya menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi partai, caleg, dan capres yang pantas dipilih. Memilih secara kritis berarti memilih secara cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilih cerdas artinya memilih dengan nurani serta mencari informasi yang cukup, tentang calon akan dipilih pada Pemilu 2009. Hak pilih itu ada dalam setiap warga negara yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih, sebagaimana diatur undang-undang. Maka, hak pilihnya seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan masa depan sendiri dan bangsa. Kondisi bangsa ke depan semestinya ditentukan oleh rakyat dengan cara memilih secara kritis. Sebab, pilihan kita sangat berpengaruh bagi penentuan arah perjalanan bangsa ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, selain faktor pemilih yang harus aktif mencari informasi, peran partai dan lembaga pendidikan pemilih serta penyelenggara pemilu (parpol dan KPU) menjadi penting untuk mengedukasi calon pemilih. Sesungguhnya masih ada politikus yang bersih –meski sedikit– dan di pundak merekalah harapan perubahan bangsa itu terletak. Selain itu, masih ada partai politik yang mampu memproduksi kader yang berkualitas dan memiliki integritas moral yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kepada politikus dan partai politik semacam itulah, kita dapat memberikan suara dan menyalurkan aspirasi. Suara hati (nurani) dan pengetahuan kita juga yang dapat menentukan mana politikus dan partai politik yang bersih. Oleh karena itu, mengakses pengetahuan dan penyampaian informasi kepada publik secara tepat dan akurat merupakan sesuatu yang penting. Pada konteks Pemilu 2009, memilih secara kritis artinya memilih dengan berlandaskan pada pengetahuan mengenai kualitas calon anggota legislatif dan platform yang diusung partai politik. Dengan demikian, partai politik berkewajiban memberitahukan kepada publik mengenai track record seseorang, yang akan dicalonkan partai politik. Wallaahu a’lam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iu rusliana, staf pengajar Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, pemilih terdaftar pada Pemilu 2009, tinggal di Bandung.&lt;br /&gt;(Artikel ini dimuat di &lt;a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=57903"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/a&gt;, 09/02/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-7789029395646372770?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/7789029395646372770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=7789029395646372770' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7789029395646372770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7789029395646372770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/pemilih-kritis-atau-golput.html' title='Pemilu 2009'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5679556845215172539</id><published>2009-02-05T19:30:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T19:33:04.943-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Fatwa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Fatwa MUI versus Asketisme Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh M SOLIHIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah membuat kejutan dengan memunculkan fatwa haram golput dan haram merokok di tempat umum. Soal fatwa haram merokok bisa dinilai sesuai bidang garapan MUI. Tetapi, untuk fatwa haram golput, perlu dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ditilik dari urgensinya, vonis hukum terhadap golput tidak termasuk fatwa yang populer. Malahan, MUI terkesan menjadi lembaga yang piawai memahami politik, yang kepiawaiannya melebihi KPU atau para ahli politik sekalipun. Sangat wajar kalau orang mecurigai bahwa fatwa tersebut sarat 'pesanan' politis. Maka itu, tidak aneh kalau MUI diberondong kritik sinis seraya menilai bahwa lembaga ini telah membuat 'sensasi' di tengah iklim politik yang kian memanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuhnya fatwa haram golput mengindikasikan bahwa MUI memakai 'kacamata kuda' dengan mengesampingkan fenomena efek domino perpolitikan kontemporer. Fenomena aktual sekarang ini menunjukkan bahwa wajah demokrasi diterjemahkan oleh para politikus sebagai kebebasan menghadirkan cara pandang kapitalisme. Terlihat adanya fenomena bahwa politik berselingkuh dengan kapitalisme, modal, pasar, dan industri media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma itu cukup beralasan karena tampak di permukaan adalah perebutan kursi-kursi kekuasaan dengan modal yang besar seraya menanggalkan moralitas. Mentalitas kesederhanaan telah berubah menjadi adu ketangguhan uang dan kekuatan massa. Sikap-sikap kerendahan hati dan kejujuran berubah menjadi keangkuhan dan kemunafikan. Fragmentasi sikap-sikap materialis, hedonis, dan pragmatis dalam merebut kekuasaan di kalangan politisi begitu mencuat. Mereka melihat materi dan kekuasaan bagaikan 'boneka' bagi anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma itu muncul karena perkembangan politik bangsa ini tidak berbanding lurus dengan perbaikan kesejahteraan rakyat dan kesalehan iklim politik. Politik seolah berkembang menjadi bebas nilai, terutama ketika unsur kemunafikan dan janji-janji pemanis bibir lebih ditonjolkan. Perang publikasi yang dilakukan oleh para politikus seraya mengatasnamakan rakyat justru membuat banyak orang mencibir. Pada gilirannya, berbuntut golput. Kritik tajam dari berbagai kalangan terhadap perilaku sebagian elite politik kian bermunculan, yang semuanya diakibatkan oleh perilaku mereka yang terkesan menghamburkan uang, glamor, serta meninggalkan kesahajaan dan kearifan.Jika demikian, upaya mengampanyekan asketisme politik menjadi lebih signifikan untuk dilakukan oleh lembaga-lembaga agama, termasuk MUI, ketimbang memberi fatwa haram golput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami makna asketisme politik tersebut, perlu dijelaskan di sini bahwa istilah asketisme berasal dari bahasa Yunani ascesis yang berarti latihan keras, disiplin diri, atau pengendalian diri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, asketisme diberi arti 'paham yang mempraktikkan kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban' (Joeleonhart, 2008: 7).Dalam khazanah tasawuf, asketisme dikenal dengan istilah zuhud, yakni meninggalkan kesenangan dan kemewahan duniawi (Nasution, 1995:64). Asketisme (zuhud) dalam kamus al-Munawwir (1984: 626) berarti raghaba an syai'in wa tarakahu (tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya) atau zahada fi al-dunya (menahan diri dari kesenangan dunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, seorang itu kaya. Tapi, di saat yang sama, dia pun zahid (asketis). Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf [sahabat Rasul] adalah para hartawan, tapi adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.Dalam sejarahnya, asketisme di dunia Islam tidak terlepas dari moral Islam dan gerakan protes terhadap sikap yang mendewakan kekuasaan dan kelezatan duniawi (Syukur, 2000: 1), sebagaimana yang dipraktikkan sebagian penguasa di pengujung zaman Dinasti Umayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asketisme mendudukkan peran-peran politik pada porsi yang sebenarnya. Sikap kesederhanaan dan keikhlasan menjadi mentalitas yang tumbuh menyertainya. Dengan sendirinya, ambisi kekuasaan, kesewenang-wenangan, dan cinta dunia yang ditampilkan sebagian politisi menjadi semakin tereliminasi. Nilai-nilai asketisme dapat memayungi seluruh gerak perpolitikan sehingga menimbulkan semangat patriotisme dan kerelaan berkorban buat orang banyak seraya menafikan ambisi kekuasaan dan kekayaan duniawi. Para politikus cukup untuk disebut asketis jika ia berpolitik secara bersahaja dan tidak berlebihan meskipun secara otoritatif mungkin saja ia berhak dan mampu melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpolitik secara asketis dapat diwujudkan dengan tidak menjadikan semua hal sebagai alat komoditas politik. Sebagai anggota DPR atau pimpinan partai politik, misalnya, ia bisa saja menjadikan semua hal sebagai komoditas politiknya, tetapi politisi asketis tidak mau melakukan itu dan tidak semua hal dipolitisisasi.Lembaga-lembaga agama dan MUI lebih penting menggarap proyek menyalehkan perilaku politik dengan sikap asketis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup asketis di dunia politik tidak mesti disamakan dengan penyangkalan terhadap fasilitas atau upah kerja politik. Substansi asketisme politik bukanlah menyangkal jabatan politis, tetapi lebih memilih atau mengalihkan dirinya kepada aktivitas yang diyakini memiliki nilai keutamaan di hadapan Allah ataupun rakyat. Politikus asketis tidak menjauhi dunia dan barang-barang duniawi. Kekayaan dari hasil jerih payah memperjuangkan rakyat tidak ditolak, tetapi tidak pula dibanggakannya. Tujuannya bukan mengeruk kekayaan, tetapi kekayaan menjadi bekal untuk memperbaiki nasib rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asketisme politik terkait dengan pilihan menyalurkan hidup untuk kesejahteraan rakyat negeri ini. Dalam tradisi Jawa, sikap asketis terungkap dalam istilah sak madyo dan sak cukupe. Meski diuntungkan fasilitas untuk hidup glamor dan berfoya-foya, tetapi politisi asketis memiliki kesadaran bahwa bangsa ini harus prihatin. Jika sikap ini banyak dilakukan "politisi mampu" (the have) secara numerikal dan proporsional, dipastikan akan berdampak pada pengurangan deskripansi sosial dan segregasi ekonomi. Sikap ini juga akan meningkatkan rasa kebersamaan (sense of toghetherness) sebagai bangsa yang harus prihatin akibat krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, adakah politikus asketis di sekitar kita dewasa ini? Meski jumlahnya tidak sebanyak masa-masa angkatan Muhammad Hatta dulu, kita bisa menemukannya di sekitar kita. Secara presentase atau proporsional sangatlah kecil. Tetapi, secara numerikal, politikus asketis masih ada. Mereka bukan hanya ada di parlemen dan partai politik, tetapi juga pemerintahan. Mereka bukan hanya asketis secara politis, melainkan juga hidup asketis. Di tengah rekan-rekannya yang selalu bermanuver politik secara ekstrem, mereka tetap bersahaja. Dalam konteks Indonesia, tampaknya sikap asketis politik itu sangat diperlukan di kalangan para politikus, pejabat negara, dan para elite bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asketisme politik kehadirannya sangat dinanti rakyat. Ketika asketisme ini tidak ada, budaya korupsi berkembang seolah jamur di musim hujan. Pemberantasan korupsi yang menjadi agenda reformasi yang digulirkan sepuluh tahun lalu ternyata belum optimal. Secara faktual, praktik korupsi justru terjadi di berbagai lini. Kalau sebelumnya korupsi berada di satu titik, saat ini korupsi berada di banyak titik, baik di legislatif, yudikatif, maupun eksekutif, dan terjadi secara sistemik serta sistematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik korupsi yang sistemik dan sistematik inilah yang kemudian memunculkan istilah korupsi berjamaah. Apalagi, jika jabatan diidentikkan dengan uang, orang yang memiliki jabatan tertentu dianggap harus memiliki banyak uang. Karena pandangan keliru ini, tidak sedikit pejabat 'dipaksa' harus korup. Praktik korupsi yang merajalela merupakan indikasi bahwa korupsi sesungguhnya bukanlah persoalan ekonomi dan politik semata, tetapi juga masalah budaya dan agama. Praktik korupsi ini termasuk dalam kategori budaya rendah bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung. [Republika, Jumat, 06 Februari 2009 pukul 07:00:00]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5679556845215172539?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5679556845215172539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5679556845215172539' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5679556845215172539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5679556845215172539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/fatwa.html' title='Fatwa'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-2534894645473063050</id><published>2009-02-05T18:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T18:51:33.573-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Haram</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Golput &amp;amp; Rokok Tidak Haram Kok…&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh ROMEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang golput dan rokok haram? Jika kita cermati kembali fatwa MUI soal golput dan rokok, nyatanya MUI tidak mengharamkan keduanya. Rupanya, banyak di antara kita salah paham karena tidak mencermati fatwa itu secara baik dan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika kita cermati kembali fatwa MUI soal golput dan rokok, nyatanya MUI tidak mengharamkan keduanya. Coba kita simak kembali fatwa tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memilih pemimpin yang (a) beriman, (b) bertakwa, (c) jujur (siddiq), (d) terpercaya (amanah), (e) aktif dan aspiratif (tabligh), (f) mempunyai kemampuan (fathonah), dan (g) memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah WAJIB.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUI menegaskan: “Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, tidak memilih pemimpin yang memenuhi kriteria tersebut hukumnya HARAM; atau memilih pemimpin yang TIDAK memenuhi kriteria tersebut hukumnya HARAM.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang diharamkan itu adalah “tidak memilih pemimpin yang memenuhi syarat”. Dengan kata lain, yang diharamkan:&lt;br /&gt;(a) Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat; atau&lt;br /&gt;(b) Tidak memilih pemimpin yang memenuhi syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jika TIDAK ADA pemimpin yang memenuhi syarat sebagaimana ditetapkan MUI –beriman, bertakwa, dan seterusnya—maka umat Islam Boleh/Halal untuk tidak memilih alias golput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUI, dengan demikian, juga secara tersirat atau implisit: mengharamkan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya kini, apakah calon pemimpin (presiden) dan para caleg sekarang sudah memenuhi kriteria tersebut? Jika ya, wajib pilih; jika tidak, haram dipilih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah SBY, Megawati, Prabowo, Wiranto, dan sebagainya serta para caleg yang kini ramai menawarkan diri untuk dipilih memenuhi syarat beriman, bertakwa, jujur, amanah, memperjuangkan kepentingan umat Islam dan lain-lainnya itu? Jika ya, wajib dipilih! Jika tidak, haram dipilih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas umat sekarang adalah mengenali lebih dalam para calon pemimpin dan para caleg itu: apakah memenuhi kriteria beriman, bertakwa, jujur, dan seterusnya itu. Kinerja sebagian para caleg itu sudah terlihat setidaknya dalam lima tahun terakhir saat mereka “bersemayam” di parlemen. Jelas, mereka yang korup dan sering bolos menghadiri sidang, tidak memenuhi kriteria dan karenanya haram dipilih berdasarkan fatwa MUI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOAL rokok, MUI tidak mengharamkannya kok. Yang haram itu adalah cara (kaifiyah) merokok –yakni di tempat umum; dan kalangan terbatas –anak-anak dan ibu hamil. Jadi, berdasarkan fatwa MUI itu, rokoknya itu sendiri tidak haram, hanya MAKRUH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul begitu, Pak Kyai? Mudah-mudahan saya tidak salah paham lagi. Ulama adalah pewaris nabi, warotsatul ambiya. Jika umat tidak memercayai ulama, percaya pada siapa lagi? Ulama adalah orang yang paling takut kepada Allah. Innamaa yakhsyallaha min ‘ibadihil ulama-u.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mencemaskan umat sekarang, banyak ulama terjun ke politik praktis dengan menjadi caleg. Ada harapan sekaligus kekhawatiran jika ulama sudah masuk “kotak” bernama parpol. Tema ini insya Allah saya tulis nanti di kolom ini. Wasalam. (Kolom Kang Romel www.warnaIslam.com).*&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-2534894645473063050?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/2534894645473063050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=2534894645473063050' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/2534894645473063050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/2534894645473063050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/haram.html' title='Haram'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-8209004533610972256</id><published>2009-02-05T18:41:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T18:42:22.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Posmo</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Persoalan Hermeneutika-Posmodernisme&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh AHMAD SAHIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sejauh manusia tenggelam dalam dunia luar,&lt;br /&gt;dan telah mencapai kemajuan di sana;&lt;br /&gt;sejauh itu pula ia terasing dari dirinya sendiri,&lt;br /&gt;dan lupa pada hakikatnya sendiri”&lt;br /&gt;—Alexis Carrel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;DALAM sebuah diskusi tentang “Hermeneutika dan Semiotika” yang diselenggarakan oleh Research for Quranic Studies Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 18 Juni 2002, Dr.Bambang Sugiharto—dosen Universitas Katolik Parahyangan, Bandung—menjelaskan bahwa arti sebuah teks selalu lebih luas dari apa yang dimaksudkan oleh si penulisnya. Bahasa yang digunakan dalam teks, selalu tidak mengandung ketidaksadaran kolektif. Karena itu sikap kritis terhadap setiap fenomena menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan kebenaran. Meskipun sumber itu sakral harus didobraknya dengan penuh prasangka (prejudice).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar bila kita menemukan sosok seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed Arkoun dan kalangan Muslim liberal menempatkan Al-Quran layaknya buku-buku biasa. Hasil tafsir mereka kadang oleh kaum Muslim konservatif dianggap menyimpang dan menuai protes karena lebih mementingkan pemaknaan yang bersifat kekinian. Karena memang dalam hermeneutika posisi kebenaran bukan berada pada fakta, tetapi pada relativitas makna. Di sinilah masalah hermeneutika dipertentangkan: karena persoalan makna adalah subjektif. Sebab posisi penafsir adalah seorang subjek yang memahami objek dengan pemahamannya sendiri. Tiap-tiap penafsir akan berbeda pemahamannya terhadap objek tafsirnya. Penafsir terdahulu, hasil tafsirnya berbeda dengan tafsir yang dihasilkan cendekiawan sekarang: meskipun sama-sama menafsirkan teks yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Karena dalam hermeneutika posisi teks berdiri sendiri (otonom) sehingga memunculkan pemaknaan yang berbeda-beda. Tak ada yang sama. Malah akan selalu berbeda dan bersifat tidak mutlak karena produk pemikiran manusia: bukan produk Ilahi. Sesuatu yang tidak mutlak biasanya disebut tidak jelas karena tak ada yang menjadi standar. Ketidakjelasan ini karena tiap-tiap orang menyodorkan kebenaran dan makna yang berbeda. Akhirnya, tiap orang akan mengklaim bahwa “pendapat saya benar, Anda keliru”. Begitu seterusnya: tak henti-henti, hingga kabur bak penglihatan mata yang rabun. Apa jadinya kalau semua tak jelas dan tak ada yang standar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal inilah, Ernest Gellner mengkritik posmodernisme—khususnya hermeneutika sebagai metodologi kajiannya—yang cenderung membawa segala-galanya pada jurang relativisme dan subjektif. Karena dalam makna operasionalnya posmodernisme adalah penolakan terhadap fakta dan menggantikannya dengan kepentingan makna. Karena itu ada dua penekanan dalam subjektifitasnya, yaitu ‘penciptaan dunia’ dan ‘kreasi-teks’. Maka wajar bila ada yang menyebut kalangan posmodernian sebagai generasi yang berkubang dalam penjara “dunia-sendiri” yang tidak menemukan titik kebenaran mutlak (objektif). Mereka, kata Gellner, mengalami kerumitan dan kesulitan untuk mentransendensi “makna” yang ada dan hanya akan mendapatkan ’kembara’ dalam lingkaran ‘makna tertutup’; di mana setiap orang secara mengerikan dan menyenangkan terpenjara di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gellner—yang merupakan filsuf anti posmodernisme—menyimpulkan bahwa relativisme dalam posmodernisme terisolasi satu sama lain karena hanya mengungkap mekanisme-mekanisme dan fungsi subjektivitas hingga membuat segalanya tidak pasti. Meskipun dengan melihat konteks “asli”—dalam rangka menuju objektivitas, hal itu tidak akan pernah tercapai karena yang muncul adalah konteks “dunia” hasil rekonstruksi: bikinan-bikinan, dan dugaan-dugaan yang tak pernah seobjektif dengan realitas yang sesungguhnya (asli). Karena yang dapat ditangkap hanyalah tampilan (appearance) dari realitas yang ada, yang bukan sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kita sebagai makhluk yang hidup di dunia sesungguhnya (alam dunia) tidak menghendaki harus berkubang dalam ketidakpastian. Hidup bahagia, selamat dan sejahtera merupakan arah yang semua orang kejar, termasuk meraih kenikmatan pascakematian (akhirat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita jangan tenggelam dalam arus zaman, masa dan waktu yang telah meninggalkan kita. Atau karam dalam bahtera yang terombang-ambing di lautan zaman yang kosong dengan nilai dan hikmah. Dan tentu, sebagai manusia jangan sampai menderita penyakit megalomania—istilah Paul Valery—yang mengkhayalkan dirinya sebagai orang yang agung dan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHMAD SAHIDIN, pekerja buku&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-8209004533610972256?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/8209004533610972256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=8209004533610972256' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8209004533610972256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8209004533610972256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/posmo.html' title='Posmo'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-7290556413858977184</id><published>2009-02-05T18:18:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T18:36:57.299-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Benar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Agama yang “Benar”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh RADEA JULI A HAMBALI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan ini, media massa ramai memberitakan tentang fenomena munculnya aliran keagamaan (Islam) yang dalam “keyakinan” Majlis Ulama Indonesia (MUI) dipandang “sesat” dan “menyesatkan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tampaknya, paramater sesat dan menyesatkan itu didasarkan pada adanya indikasi bahwa beberapa isi ajaran aliran keagamaan itu telah nyata-nyata menyempal, tidak searah atau malah merusak sendi-sendi keyakinan keagamaan yang selama ini dianut oleh sebagian besar masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya ajaran yang dipandang menyimpang dan diikuti oleh pola-pola rekruitmen pengikut/anggota yang misterius, munculnya aliran-aliran keagamaan ini telah membuat gusar dan meresahkan masyarakat. Sangatlah wajar, jika sebagian masyarakat kita dalam menyikapi munculnya fenomena ini kerap menggunakan cara-cara yang kurang etis dan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak hendak memotret benar atau tidaknya keyakinan aliran-aliran keagamaan yang dipandang menyesatkan itu. Pun, ini juga bukan seruan gugatan atas jatuhnya fatwa MUI yang telah menjadi harga mati bagi kelompok-kelompok keagamaan ini. Tulisan ini hendak menelusuri setting sosial yang bagaimanakah yang menjadi penyebab munculnya aliran-aliran keagamaan ini serta bagaimana “seharusnya” para pemuka agama merumuskan arah baru bagi agama itu sendiri ketika menghadapi fenomena seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Globalisasi: Paradigma Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Bagi masyarakat kita hari ini, globalisasi adalah paradigma baru kehidupan. Sebagai sebuah paradigma, globalisasi mencita-citakan lahirnya suatu masyarakat manusia yang sejahtera di bawah kendali ilmu pengetahuan. Luasnya cakupan cita-cita mulia yang dijanjikan itu (ekonomi, politik dan sosial juga agama) serta merta telah menempatkan globalisasi sebagai arah baru terbitnya suatu peradaban manusia yang lebih baik dan maju. Dilihat dari janji manisnya ini, barangkali globalisasi adalah hikmah bagi manusia modern. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi seperti halnya ideologi-ideologi sekuler yang lain, nubuwat globalisasi tentang cita-cita kesejahteraan umat manusia tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Di tepi yang lain, globalisasi menebarkan sebuah ancaman yang membawa suatu resiko dan bahaya bagi masyarakat manusia. Dan, salah satu bahaya yang secara nyata bisa menjadi gelombang perlawanan terhadap globalisasi adalah munculnya kelompok-kelompok dalam masyarakat yang menawarkan ajakan untuk kembali menduduki ruangan yang lebih sempit, yang kini telah tergerus habis oleh badai globalisasi. Arus kecenderungan itu disebut dengan regionisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak dengan jelas, ancaman terhadap globalisme tidak datang dari suatu nasionalisme, melainkan justeru oleh sesuatu yang lebih sempit, yakni oleh yang regional: Bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, melainkan Gerakan Aceh Merdeka atau Gerakan Papua Merdeka. Dari arasy ini, globalisasi yang mengajak manusia untuk mempunyai pandangan seluas dunia, justeru membuat manusia rindu untuk kembali intim dengan wilayah yang lebih sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan lahirnya regionalisme adalah lahirnya lokalisme baru. Dengan lokalisme baru, manusia ingin mencari keintiman bersama dan berlindung pada keyakinan-keyakinan baru yang lebih bisa mempersatukan mereka dalam lingkup yang tidak hanya lebih kecil tapi juga lebih aman. Inilah yang disebut dengan integrisme. Tampaknya, fenomena munculnya gerakan-gerakan atau sekte-sekte keagamaan yang mewartakan tentang ajaran-ajaran yang dipandang menyimpang bisa diteropong berdasarkan integrisme ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu integrisme dalam ranah keagamaan adalah ajakan untuk kembali pada pola-pola lama yang lebih mementingkan wahyu ketimbang yang lainnya, lihatlah keyakinan kelompok Qur’an Suci yang lebih meyakini kebenaran al-Qur’an ketimbang hadits Nabi. Selain dari itu, integrisme dalam ajaran keagamaan biasanya diletakkan pada ketokohan seorang manusia “istimewa” yang mengaku mendapat “wangsit” ataupun “wahyu”, karena itu integrisme biasanya diikuti oleh klaim bahwa dirinya adalah penyelamat yang dijanjikan (al-ma’ud) dan memperoleh missio canonica (hak resmi) dari Tuhan melakukan suatu tindakan penyelamatan umat manusia dari suatu kehidupan yang telah rusak. Tengoklah keyakinan kelompok al-Qiyadah al-Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, kemunculan aliran-aliran keagamaan seperti al-Qur’an Suci ataupun al-Qiyadah al-Islamiyah dan masih banyak lagi yang lainnya yang membawa keyakinan baru tentang agama dan kehidupan menjadi tantangan tersendiri bagi agama-agama besar. Di titik ini, fenomena aliran-aliran keagamaan ini seharusnya menjadi “cermin” dan kesediaan para pemuka agama untuk mau melakukan kritik- diri, mengenali persoalan-persoalan mendasar manusia modern, dan mampu menawarkan visi peradaban dan kemanusiaan baru. Tanpa kemauan ini, isu kebangkitan kembali agama hanya akan menjadi slogan kosong dan menyesatkan. Alih-alih menjadi tawaran perpektif baru yang menarik, ia hanya akan berakhir sebagai kekuatan disintegrasi peradaban paling mengerikan, sisa-sisa keterbelakangan yang menjengkelkan, atau semangat nostalgis naif yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kinerja baru agama&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi telah menjadi tantangan tersendiri buat agama. Supaya kehadirannya di tengah-tengah kehidupan tetap bernilai dalam mengarahkan manusia, maka mau tidak mau agama mesti melakukan kerja keras untuk mengoreksi dan memperbaharui kinerjanya pada dua wilayah ini. Pertama, ajaran sosial. Setiap agama memiliki ajaran sosial. Dengan ajaran sosialnya, agama dapat mengontrol globalisasi agar sistem tersebut bertanggungjawab secara moral terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kebaikan umum. Dengan ajaran sosialnya yang disusun secara bijak, agama dapat membantu masyarakat dan dirinya sendiri untuk “melihat” (to see) secara akurat, menilai (to judge) secara jernih, dan bertindak (to act) secara bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pembaharuan misi.Setiap agama memiliki unsur universal tentang keselamatan seluruh umat manusia, namun dalam perjuangannya mewujudkan keselamatan itu, kiranya agama membutuhkan perspektif baru dalam bentuk kesediaan untuk meletakkan dialog sebagai cara yang paling bernilai dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Dengan dialog, ketika agama berhadapan dengan keyakinan baru atau faham yang bertentangan dengannya sekalipun, tidak akan dilihat sebagai lawan yang harus “dimatikan” hak hidupnya, melainkan sebagai kolaborator dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai spiritual bersama yang berguna bagi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua hal di atas, agama –meminjam pernyataan Anthony Giddens—telah melakukan “politik emansipatoris” dan “politik kehidupan”. Pada aras politik emansipatoris, agama menjadi sebuah kekuatan yang bertujuan mengurangi atau menghapuskan eksploitasi, ketidaksamaan dan penindasan, sedangkan pada aras politik kehidupan, agama menjadi ujung tombak yang mampu memberikan motivasi tentang aktualisasi diri, kepedulian moral, dan eksistensi yang dipinggirkan oleh tindakan-tindakan yang tidak adil. Barangkali, inilah rumusan agama yang “benar”.*** Wallahu a’lam bi-Shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dimuat di Pikiran Rakyat, tanggal 5 November 2007&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-7290556413858977184?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/7290556413858977184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=7290556413858977184' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7290556413858977184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7290556413858977184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/benar.html' title='Benar'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-6683136076778850536</id><published>2009-02-04T20:27:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T20:29:52.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Izinkan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Izinkan Aku Menyangimu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh JAJANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa menerima apapun alasan yang akan kamu sampaikan atas sikap tak acuhmu. &lt;br /&gt;Aku memang bukan manusia sempurna. &lt;br /&gt;Terlalu banyak kekurangan yang aku miliki. &lt;br /&gt;Itu semua yang membuatku sadar bahwa aku tidak berarti bagimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku sadar perasaan ini terlalu dalam, tapi itulah adanya. &lt;br /&gt;Aku tidak ingin berbohong pada diriku dan dirimu. &lt;br /&gt;Apa yang aku rasakan adalah apa yang aku ungkapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau cintaku tak berarti apa-apa bagimu, izinkanlah aku menyayangimu dalam kepapaanku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 13 January 2008 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-6683136076778850536?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/6683136076778850536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=6683136076778850536' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6683136076778850536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6683136076778850536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/izinkan.html' title='Izinkan'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4603131339026399786</id><published>2009-02-04T20:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T20:12:13.922-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Partai</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Memulihkan Fungsi Partai Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh AMIN R ISKANDAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAH satu dampak positif dari bergulirnya orde Reformasi adalah Indonesia dapat merealisasikan cita-cita demokrasinya. Salah satu bukti nyata adalah menjamurnya pertumbuhan partai politik (parpol). Hal ini boleh jadi merupakan angin segar, kesempatan emas bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya dengan bebas, benar, dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keberadaan parpol itu sendiri, merupakan salah satu bentuk dari transformasi semangat demokrasi. Sebagaimana -Samuel P Huntington–mengungkapkan dalam The Thired Wave of Democratization (1991), bahwa semangat utama demokrasi adalah meruntuhkan rezim yang tidak demokrasi dengan rezim yang demokrasi. Di mana ada tiga kerangka substantif demokrasi. Yaitu: pertama, berakhirnya rezim otoriterian. Kedua, adanya transisi yang memberikan kesempatan pada partisipasi publik dan liberalisasi politik menuju pembentukan rezim demokrasi. Ketiga, konsolidasi rezim demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, kehadiran parpol merupakan sebuah langkah awal dalam merevitalisasi sistem politik otoriterian menjadi sistem yang terbuka dan bertanggung jawab. Artinya sistem otoriterian yang tertutup pada orde baru telah berakhir. Kerangka substantif pertama Huntington pun menampakan diri ke permukaan. Oleh karena itu kita mesti berbangga hati dan ikut berperan aktif dalam memanfaatkan kesempatan ini. Tujuannya adalah supaya kondisi bangsa kian membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di samping besarnya rasa kebanggaan hati karena terbukanya “keran” demokrasi ini. Kita masih perlu waspada akan kerangka substantif kedua, yakni kondisi transisi. Proses transisi ini kerap dimanfaatkan oleh inisiasi elit politik berkuasa. Buktinya kita saksikan dengan banyak bercokolnya elit politik dari kalangan tua (eks penguasa orde baru) dengan parpol barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inisiasi para elit politik ini boleh jadi membiaskan fungsi parpol. Di mana fungsi parpol sebagai media pembelajaran (pendidikan) politik bagi masyarakat, jembatan penghantar menuju perebutan kekuasaan, dan wahana pematangan konsep kebernegaraan. Digeser atau bahkan digerus ke fungsi lain menjadi seperti perusahaan misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dapat kita amati selama ini, kiranya menagemen parpol sudah sedikit tergerus pada model menagemen perusahaan. Salah satu gejala yang dapat dirasakan adalah ketika seseorang “melamar” menjadi caleg pada salah satu parpol. Para caleg tidak cukup hanya memiliki intelektualitas, moralitas, spiritualitas, loyalitas, dan integritas. Tetapi juga mesti memiliki modal (baca: uang) banyak untuk diserahkan kepada parpol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti seseorang yang menanam saham pada sebuah perusahaan. Sedangkan harapan para penanam saham tidak lebih dari keuntungan material sebanyak-banyaknya. Begitu juga yang akan terjadi bila managemen parpol seperti perusahaan. Parpol secara tidak sadar telah melatih masyarakat untuk berpikir “kotor”. Yakni mencari keuntungan material dengan cara masuk ke kancah pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, parpol sejatinya bukan lembaga atau tempat mencari keuntungan material. Melainkan sebuah wadah yang dibangun di atas landasan kebersamaan, kecerdasan, dan kesamaan ide gagasan untuk membangun bangsa yang makmur dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sikap kewaspadaan terhadap parpol, kita dapat belajar pada belasan caleg salah satu partai baru dengan pimpinan elit politik lama. Mereka (belasan caleg) menarik diri dari pencalonan legislatif di Tasikmalaya. Pengunduran diri ini-seperti diberitakan alam Tribun Jabar, Kamis (30/10/200 – didasari oleh faktor ketidak jelasan sistem managemen partai yang tidak jauh beda dengan managemen perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ada alasan faktor lain pendorong langkah pengunduran diri yang berbeda, saya pikir di sana terletak satu tekad baik yang sama-sama ingin diwujudkan. Yakni mengembalikan, meluruskan, dan memulihkan fungsi parpol sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, era demokrasi yang kita tunggu-tunggu selama ini, supaya berjalan dengan baik dan mulus, rezim demokrasi (baru) perlu melakukan konsolidasi. Setidaknya memperjuangkan agar fungsi parpol tetap berada pada jalur yang semestinya. Sebab jika tidak, mungkin saja kita akan kembali terjebak ke jurang seperti pada orde baru dulu. Di mana ada satu raksasa penguasa yang memasung kebebasan parpol. Kata demokrasi pun menjadi palsu adanya. Apakah itu yang diharapkan? Jangan sampai. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung, Sekretaris Umum PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini termuat dalam H.U. Tribun Jabar edisi Rabu, 19/11/2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4603131339026399786?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4603131339026399786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4603131339026399786' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4603131339026399786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4603131339026399786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/partai.html' title='Partai'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4802305621533517724</id><published>2009-02-04T20:00:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T20:03:58.462-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Maknai</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Memaknai Ulang Proses Penciptaan Perempuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh DUDI RUSTANDI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anita, seorang TKW Indonesia yang bekerja di Kuwait meninggal secara mengenaskan. Ia meninggalkan misteri kematian yang membuat hati keluarganya tersayat. Betapa tidak, kepulangan Anita ke Indonesia justeru untuk dirawat di Rumah Sakit. Ketika masuk ke Rumah Sakit kondisi Anita sudah cukup parah dengan luka-luka lebam disekujur tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut sumber berita, Anita mengalami penyiksaan oleh majikannya di Kuwait, tidak hanya berupa pukulan dan tendangan saja, bahkan setrikaan panas pun pernah hinggap di bagian tubuhnya.(H.U. Pikiran Rakyat edisi 28 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, diberitakan pula seorang Ibu Rumah Tangga melaporkan suaminya ke Kantor Polisi Sektor Cikelet Garut, usut punya usut, ternyata si Ibu yang mempunyai Nama Ida, sudah tidak kuat lagi menerima siksaan dari suaminya. Sejak pertama menikah—Nyonya Ida—bukan menikmati bulan madunya, malah sudah mendapatkan tamparan dan tendangan dari suaminya. Hal ini terjadi selama delapan tahun kehidupan rumah tangganya. Karena tak kuasa menahannya, akhirnya nyonya Ida melaporkan Suaminya Ke Polisi. (H.U. Priangan Tasikmalaya, edisi 28 Mei 2005)&lt;br /&gt;Cerita (fakta) di atas hanya salah dua kekerasan yang di alami oleh makhluk yang namanya perempuan. Masih banyak kasus-kasus lain yang mendiskreditkan posisi perempuan, menjadikan wanita sebagai objek. Belum lagi, bahwa seorang perempuan menjadi komoditi yang sangat menggiurkan untuk dijual. Baik di Barat sana ataupun di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksploitasi terhadap permpuan telah terjadi sebelum Al-Qur’an turun. Oleh kalangan Atas, perempuan hanya dijadikan pemuas nafsu dan disekap dalam istana-istana. Dan di kalangan bawah, wanita sangat menyedihkan, mereka diperjualbelikan, sedangkan yang bersuami, mereka di bawah kekuasaan suaminya, mereka tidak mempunyai hak sipil, bahkan hak waris pun tidak ada. Dalam peradaban Yunani, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah menikah, kekuasaan berpindah ke tangan suami. Kekuasaan ini mencakup kewenagan menjual, menganiaya, mengusir dan membunuh. Keadaan tersebut berlangsung sampai abad ke enam masehi. Segala hasil usahanya menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Hingga Abad modernpun tampaknya posisi perempauan masih tampak sama, yang membedakan adalah adanya gerakan yang cukup signifikan dari komunitas perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, terutama yang berbasis sosiologis Historis, ditambah lagi dengan kondisi sosial politik—baik di dunia, terutama Indonesia pasca reformasi—yang berubah, tampaknya kondisi keperempuan Indonesia pun mendapatkan momentumnya. Wacana bahkan gerakan perempuan Indoonesia menyeruak ke permukaan. Perempuan tidak lagi berada di sektor domestik tapi lebih muncul ke publik, baik dalam wilayah profesi ekonomi ataupuin politik. Kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan sudah mendapatkan perhatian yang amat sangat, sampai-sampai ada menteri khusus perempuan, padahal menteri khusus pemberdayaan laki-laki tidak pernah ada. Dalam politik, kita tentunya tahu bagaimana Kyai-Kyai yang berasal dari PPP melarang perempuan menjadi pemimpin dalam patwanya, tapi pasca reformasi khususnya ketika Bu mega hendak manggung, penafsiran itu menjadi pro dan kontra, bahkan menyepakatinya, bahwa Perempuan boleh menjadi pemimpin. Di satu sisi—dalam hal apapun—posisi wanita sudah bisa menyamai posisi laki-laki walaupun dalam porsi yang kecil, tapi di sisi yang lain. Perempuan tetap saja di anggap sebagai second man (woman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan perempuan dalan Al-Qur’an dan Asumsi Tentang Perempuan&lt;br /&gt;Ayat Al-Qur’an yang popular dijadikan rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang satu (sama), dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan lelaki dan perempuan yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jumhur ulama, kata nafs dirujukan pada Nabi Adam A.S., tetapi para mufassir modern seperti Muhammad Abduh mengartikan nafs dengan “ jenis”. Dari pandangan yang berpendapat bahwa nafs adalah Adam, di pahami pula bahwa kata zaujaha, yang arti harfiyahnya “pasangan” mengacu pada isteri Adam, yaitu Hawa.&lt;br /&gt;Agaknya karena ayat di atas menerangkan bahwa pasangan tersebut diciptakan dari nafs yang berarti adam, para penafsir terdahulu memahami bahwa isteri Adam (perempuan) diciptakan dari Adam sendiiri. Pandangan ini kemudian melahirkan pandangan negatif terhadap perempuan, dengan menyatakan bahwa perempuan adalah bagian dari laki-laki. Hal ini rupanya bersumber pada hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tuilang rusuk yang bengkok… (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah) Hadits di atas dipahami oleh ulama-ulama terdahulu secara harfiyah. Namun tidak sedikit ulama kontemporer memahaminya secara metafora. Yang memahami secara metafora berpendapat bahwa hadits di atas memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana, karena kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, karakter perempuan sangat berbeda dengan karakter laki-laki. Hal ini bisa kita baca dalam Revolusi IQ, EQ, SQ (Mizan 2000). Kecenderungan perbedaan karakter antara perempuan dan laki-laki karena perbedaan struktur bioloisnya, diantaranya yang paling utama adalah pembagian struktur otak kanan dan otak kiri pada perempuan dan laki-laki sangat berbeda. Pada otak kanan (otak yang mengatur emosi, sikap dll) perempuan strukturnya lebih besar dari pada laki-laki, hal ini menyebabkan emosi perempuan berbeda dari laki-laki sehingga timbul pernyataan bahwa emosi perempuan dan laki-laki itu sepuluh berbanding satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ath-Thabathaba’I, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat Al-Qur’an yang dapat mengantarkan kita untuk menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau bahwa penciptaan laki-laki berbeda dari penciptaan perempuan. Pada prosesnya laki-laki dan perempuan diciptakan dari nafs yang satu. Allah menciptakan manusia dari lakii-laki dan perempuan seperti terdapat dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13.&lt;br /&gt;"Wahai seluruh manusia sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kamu berswuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia dihadapan kamu adalah yang paling bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Ekstrim Rasyid Ridla dalam Tafsir Al-Manar menyatakan bahwa Kata “tulang rusuk“ dipengaruhi oleh Kitab perjanjian lama (taurat), yang menyatakan bahwa ketika adam terlelap tidur,maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkannya pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam itu, dibuat Tuhan seorang perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penafsiran bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk, menurut Riffat Hasan dalam Muhamad Yazid, ada tiga asumsi dasar yang telah lama digunakan dalam tradisi pemikiran teologi di lingkungan umat Islam. Pertama; Bila mahluk yang bernama Hawa diciptakan Tuhan dari tulang rusuk laki-laki, maka dengan sendirinya perempuan diyakini sebagai mahluk yang secara ontologis adalah sekunder. Kedua; bahwa perempuan --bukan laki-laki-- yang merupakan penyebab utama tergelincirnya Adam dari surga atau yang kita kenal sebagai dosa manusia atau terusirnya manusia dari surga, karena itu semua anak perempuan Hawa harus diperlakukan dengan rasa benci, curiga dan --bahkan-- hina. Ketiga; Bahwa perempuan diciptakan pada dasarnya adalah untuk laki-laki, oleh karena eksistensinya hanyalah pelengkap. Asumsi di atas telah begitu jauh mempengaruhi pemahaman para ulama terhadap teks kitab suci tentang penciptaan manusia yang secara serta merta menempatkan laki-laki di atas perempuan, pada hal sejauh yang dapat ditangkap dari pesan-pesan kitab suci tidak ada penjelasan tentang perbedaan kualitas penciptaan antara laki-laki dan perempuan, walaupun al-Qur’an menggunakan istilah laki-laki dan perempuan, maskulin dan feminin, tidak dimaksudkan untuk memperioritaskan yang satu dan merendahkan yang lain, karena pada dasarnya hakekat penciptaan mahluk secara eksistensial adalah sama, seperti terdapat dalam Q.S. Al-Isra ayat 70:"Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, kami angkat mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan). Kami beri merek rizki yang baik-baik, dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang kami ciptakan." Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal-orang-orang yang beramal, baik lelaki dan perempuan (Q.S. Ali Imran 195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan derajat laki-laki dan perempuan&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Sebagai penyampai risalah, mempunyai tujuan untuk menyempurnakan Akhlak ummatnya. Begitupun dalam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sejak Islam datang ke dunia Arab, telah tejadi revolusi yang sangat dahsyat dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Perempuan yang saat itu kelahirannya dianggap sebagai aib oleh orang Arab, setelah Islam datang perempuan begitu disucikan, bahkan dalam suatu hadits, perempuan (ibu) ditinggikan derajatnya 3 kali lebih tinggi dari pada laki-laki (bapak), hal ini dimaksudkan bahwa posisi perempuan sama halnya dengan laki-laki, bahkan dalam hal tertentu posisi wanita lebih tinggi dari pada laki-laki. Bahkan dalam dunia tasauf, adalah perempuan yang pertama kali memurnikan ajaran tasauf dari hal-hal yang negatif, ia adalah Rabi’ah Al-Adawiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan gambaran di atas, Al-Qur’an memberikan hikmah tentang seorang perempuan yang sangat berkuasa pada zaman Nabi Sulaiman, yaitu Ratu Balqis. Al-Qur’an memberikan gambaran bahwa Ratu Balkis sebagai penguasa di suatu negeri yang kekuasaannya tidak tertandingi, tentunya dengan pengecualian. Semua laki-laki tunduk di bawah kekuasaan Ratu Balkis. Nabi Sulaiman yang saat itu mempunyai misi meng-Islamkan semua ummatnya, termasuk Ratu Balkis, mendapatkan tantangan yang cukup signifikan, sampai-sampai nabi sulaiman harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Menggunakan burung hud-hud, para semut, binatang-binatang lain sebagai mata-mata dan para jin untuk membuat istana yang membuat takjub Ratu Balkis, hingga akhirnya, setelah kekuatan Nabi Sulaiman dikeluarkan akhirnya Ratu Balkis masuk Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begiitupun, Al-Qur’an meceritakan kisah Siti Maryam sebagai perawan suci yang dilindungi Allah saking shalehahnya. Hal ini menunjukan bahwa Allah sama sekali tidak membuat diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Pada periode Nabi Muhammad SAW, tentunya kita mengenal sosok Siti Kahdijah. Ia merupakan partner Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi dakwahnya. Bahkan tidak sedikit peran Siti Khadijah dalam memotivasi suaminya, misalnya ketika pertamakali turunnya ayat, terdapt pula isteri nabi yang lain dan juga putrinya Sayyidah Patimah yang berjuang melawan kesewenag-wenangan bani Umayyah bersama suaminya Sayyidina Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya Peminisme (faham keperempuanan)&lt;br /&gt;Tidak bisa disangkal, apabila kita kaji teks Al-Qur’an dan Hadits Nabi, menurut Muhammad Yazid, Agama Islam tidak membeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki. Pembedaan muncul karena pijakan mitologi perempuan pada zaman kuno yang masih menempel dan menjadi warisan bagi manusia. Pembedaan terjadi karena ada kontsruk budaya masyarakat yang cenderung patriarki. Hal ini tidak terlepas dari sifat superior laki-laki. Mitologi, Konstruk budaya dan sifat superior ini menjadi inheren dengan penafsiran yang dilakukan oleh ulama yang berasal dari kaum laki-laki. Bahkan lebih ekstrim menganggap perempuan sebagai manusia nomor dua yang layak untuk dilecehkan. Akibat dari pelecehan ini menimbulkan kekerasan terhadap kaum perempuan, perempuan banyak yang menjadi korban ekploitasi, baik di lingkungan domestik ataupun publik. Hal inilah—acuan sosiologis—yang memicu munculnya feminisme, penuntutan hak yang sama bagi perempuan. Pada prakteknya gerakan feminisme ini ada yang lebih radikal (Feminisme radikal) yang membuat suatu praktek untuk tidak menikah dengan laki-laki bahkan lebih ekstrimnya lagi menganggap bahwa laki-laki adalah musuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskursus budaya pop, pembedaan muncul dipertajam oleh kaum perempuan sendiri. Perempuan banyak mewacanakan tentang perbedaan tersebut. Padahal wacana yang dimunculkan oleh laki-laki bersifat universal dan tidak semua laki-lakipun bereaksi sama terhadap kaum perempuan, masih banyak kaum laki-laki mngakui posisi perempuan sebagai mitra hidup, sejajar dengan posisi laki-laki dan sebaliknya. &lt;br /&gt;Konstruk budaya inipun saya pikir karena peran perempuan yang tergolong kecil. apabila kita telusuri pada zaman klasik, tidak ada kaum perempuan yang menghasilkan karya fiqh, atau zaman lahirnya ilmu kalam, tidak ada perempuan yang emgkonsentrasikan ke dalam bidang ini termasuk dalam bidang penafsiran, sehingga sangat wajar bila konstruk yang ada cenderung patriarki sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesti dipahami, bahwa budaya patriarkal ini tidak saja terjadi dalam masyarakat non Islam. Kalau kita telusuri sejarah dari zaman yunani kuno, romawi, mesir, sampai asia Asia Timur; Jepang, China dan Asia lainnya, partisipasi wanita di wilayah publik adalah sesuatu hal yang tidak biasa. Jadi suatu hal yang memang dialami oleh masyarakat dunia secara umum, dan Islam memulainya memberikan hak yang penuh terhadap wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Gagas&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya Asmaul Husna (Nama-nama Allah)—terlepas dari polarisasi—mencakup feminin dan maskulin yang selalu diasumsikan dengan sifat kewanitaan dan kelaki-lakian dan inipun tercermin dalam diri Rasulullah SAW. Atau dalam istilah kita—menurut sayyid Hossein Nasr—mencakup sifat ke-Mahabesaran (Jalal), ke-Mahasempurnaan (Kamal) dan ke-Mahaindahan (Jamal). Sifat-sifat ini harus dimiliki oleh seorang hamba, tidak ada pengecualian, tidak dikhususkan untuk perempuan dan laki-laki seperti halnya dinyatakan dalam pirman-Nya di atas bahwa manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Q.S. Al-Baqarah 187 disebutkan bahwa tiap-tiap pasangan pakaian bagi masing-masing pasangannnya, tidak hanya dalam pengertian seksual saja tapi menyentuh pada persoalan lain, bahwa antara laki-laki dan perempuan harus saling menjaga kehormatannya. Diciptakannya masing-masing pasangan adalah untuk saling melengkapi, laki-laki tidak akan menjadi sempurna kelaki-lakiannnya bila tidak ada perempuan, begitupun sebaliknya perempuan tidak akan sempurna keperempuanannya bila tidak ada laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena stereotipe yang di alami perempuan cenderung bersifat sosiologis, tampaknya hal ini tidak bisa mengeneralisir kesalahan hanya terhadap pihak laki-laki saja, justeru persoalannya, apakah kaum perempuan mau mengejar ketertinggalan tersebut atau tidak, berlomba mengejar dan melakukan kebaikan (fastabiqul Khoirot), baik dalam hal ilmu pengetahuan umum, agama ataupun dalam bidang profesi, bisnis, ruang politik dan lain-lain. Jangan malah terjebak dengan diskursus kewanitaan yang dipublikasikan oleh Barat yang bahkan punya kecenderungan negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, kita sebagai kader muslimah (kohati), mesti mewaspadai segala bentuk gerakan feminisme, sebab agenda feminisme yang datang dari kaum Sana (Barat), mempunyai agenda yang bisa jadi bertentangan dengan budaya lokal kita di Indonesia, bahkan lebih ekstrim bertentangan dengan ajaran Islam. Bagaimanapun budaya Indonesia—filosofi Sunda yang mempunyai ungkapan; ngahormat ka saluhureun, ngahargaan ka sasama jeung nya’ah ka sahandapeun yang berasal dari ajaran Islam harus tetap kita pegang teguh. Filosofi ini ahrus menjadi landasan gerak kita dalam membangun human relation dengan siapapun termasuk dengan lawan jenis kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tulisan ini semacam makalah yang penulis sampaikan pada diskusi umum Korp HMI wati di HMI Cabang Kabupaten Bandung&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4802305621533517724?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4802305621533517724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4802305621533517724' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4802305621533517724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4802305621533517724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/maknai.html' title='Maknai'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4603186732594949671</id><published>2009-02-04T19:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T19:59:55.787-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Minat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menumbuhkan Minat Baca Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh SITTA R MUSLIMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan membaca adalah salah satu faktor penentu kecerdasan seseorang. Dengan rajin membaca, seseorang akan memperoleh ilmu dan wawasan, sehingga dirinya dapat mengembangkan potensi ke arah yang positif. Maka, kegiatan bertajuk Hari Kunjungan Perpustakaan, saya pikir adalah jalan menuju tersedianya “library for all”, yang membutuhkan dukungan kalangan pendidik agar menumbuhkan minat baca dalam diri peserta didiknya (anak-anak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kegiatan membaca yang membudaya, akan tercipta ketika siswa atau siswi – sebagai seorang murid – di suatu instansi pendidikan membiasakan berkunjung ke perpustakaan. Pembiasaan itu harus dikawal dengan kultur di lingkungan pendidikan yang mengarah kepada pertumbuhan minat baca anak didiknya. Menurut data tahun 2007, tercatat ada 63.717 perpustakaan di Jabar, dikelola 23.298 pustakawan (Kompas Jabar, 22/10/2008), yang berperan sebagai pendorong minat baca masyarakat, khususnya anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jumlah 1.500 orang yang tercatat berkunjung ke Perpustakaan Daerah Jabar per hari, mengindikasikan tradisi membaca menampakkan iklim yang membaik. Oleh karenanya, dukungan berbagai pihak sangat diperlukan untuk merealisasikan cita-cita bangsa, yakni mencetak generasi bangsa yang cerdas dan bermartabat, yang bisa diraih dengan membudayakan kegiatan membaca di kalangan anak-anak. Untuk kepentingan masa depan, semestinya kita mulai merancang strategi penanaman kesadaran membaca secara mengasyikkan terhadap anak-anak, agar mereka mau berkunjung ke perpustakaan dan membaca buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan pihak sekolah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya kegiatan membaca membudaya, diperlukan peran serta pihak sekolah – terutama guru – untuk menanamkan kesadaran dalam diri anak, bahwa membaca adalah kegiatan yang mengasyikkan. Misalnya, mengadakan wisata outbond selama satu hari yang disertai dengan penanaman motivasi mereka menyenangi kegiatan membaca. Dalam tataran praktis, mereka disuruh menyelesaikan bacaan satu eksemplar buku atau komik tipis yang didalamnya terkandung muatan edukasi. Setelah menyelesaikan satu eksemplar buku atau komik tipis itu, mereka dipersilahkan mengapresiasi isi yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, dalam kegiatan wis ata outbound ini juga diadakan perlombaan mengarang, menulis puisi, dan lomba mewarnai bagi anak-anak. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca dalam diri anak sejak usia dini, sehingga ketika dewasa nanti, mereka telah terbiasa membaca, menulis dan berkunjung ke perpustakaan untuk menambah wawasan keilmuan. Program wis ata outbond, dilaksanakan pihak sekolah selama satu kali per dua minggu. Misalnya, setiap hari Minggu, oran gtua dan anak-anaknya diikutsertakan dalam program outbond penanaman kesadaran budaya membaca, sehingga ketika selesai melaksanakan program ini, oran gtua dan anak menjadi akrab dengan tradisi membaca dalam kehidupan sehari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan program ini juga, hubungan harmonis antara guru, oran gtua dan anak diharapkan akan terjalin harmonis. Selain program ini juga, pihak sekolah selayaknya melengkapi sarana dan prasarana perpustakaan mini untuk para siswa dan siswinya di lingkungan sekolah, sehingga kebutuhan terhadap buku terpenuhi. Caranya, dengan mendirikan perpustakaan yang dilengkapi buku-buku yang sesuai dengan dunia anak-anak, dan ini adalah salah satu bentuk dukungan pihak sekolah terhadap program penanaman anak terhadap kegaitan membaca sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika dalam aktivitas sehari-hari, minimalnya ketika mereka berada di lingkungan sekolah menyukai kegiatan membaca; kunjungan ke perpustakaan akan meningkat. Dengan peningkatan pengunjung ke perpustakaan juga, merupakan pertanda bahwa kualitas hidup warga-bangsa di masa mendatang, mengarah kepada produktivitas. Sebab, dengan membiasakan kegiatan membaca, ilmu dan wawasan semakin bertambah, sehingga di masa mendatang mereka mampu menjadi generasi penerus bangsa yang berwawasan luas, arif dan bijaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklim kondusif keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan keluarga yang kondusif dengan kebiasaan membaca yang tinggi, akan mempengaruhi anak-anak untuk mengadofsi kebiasaan itu sehingga membekas dalam dirinya. Orang tua yang selalu berlangganan Koran, majalah, dan membeli buku; tentunya sangat berguna bagi pembiasaan membaca anak-anak. Maka, dengan iklim kondusif dalam keluarga seperti inilah, program membiasakan anak untuk membaca dan berkunjung ke perpustakaan menjadi lebih mudah untuk dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tinjaun psikologi behaviorisme, kebiasaan yang dilakukan lingkungan keluarga, kalau ditularkan kepada anak-anak akan membentuk kepribadiannya sehingga menyukai aktivitas membaca. Misalnya, di ruangan keluarga, tersedia bacaaan yang dikhususkan untuk konsumsi anak-anak, seperti komik, cerita, koran anak, majalah anak, dan buku panduan untuk anak-anak. Ketika sedang berkumpul dengan anak-anak juga, oran g tua hendaknya menemai anak membaca buku atau yang lainnya. Ini dimaksudkan agar anak dapat menanyakan dan mendiskusikan materi yang terdapat dalam buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan iklim keluarga yang kondusif, dengan kebiasaan membaca yang tinggi, akan menumbuhkan minat baca dan berkunjung ke perpustakaan dalam diri anak. Kalau betul bahwa mencari ilmu itu dapat meningkatkan derajat seseorang, alangkah baiknya jika mulai saat ini, sebuah keluarga melengkapi rumahnya dengan lemari khusus untuk buku bacaan anak-anak. Kemudian, mengajak mengunjungi toko buku setiap kali bepergian ke luar rumah juga, akan menumbuhkan minat baca mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kegiatan membaca telah membudaya, perkembangan jiwa anak-anak akan sesuai dengan yang diharapkan, demi terciptanya kegiatan membaca dalam diri anak. Setelah, di dalam dirinya terpateri minat baca yang tinggi, boleh jadi itu akan mendukung program hari berkunjung ke perpustakaan yang diadakan BAPUSDA, beberapa minggu ke belakang. Semoga! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITTA R MUSLIMAH. Pemerhati Perkembangan Anak Usia Dini, Pengajar di Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN SGD Bandung. [Artikel dimuat Kompas jabar, 20 November 2008]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4603186732594949671?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4603186732594949671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4603186732594949671' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4603186732594949671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4603186732594949671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/minat.html' title='Minat'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-3574647590170575098</id><published>2009-02-04T19:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T19:55:38.252-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Waria</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Waria Berjilbab?&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Oleh KLIK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini, dalam perjalanan ke jalaprang dari sancang, di perempatan supratman-katamso ada kejadian yang unik, setidaknya menurutku. seorang waria membawa kecrik bernyanyi, entah lagu apa, mengamen di pintu angkutan kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; dulu pernah, ketika di perempatan riau-merdeka, aku dipaksa waria yang ngamen untuk mensedekahkan sedikit uang kepadanya. entah takut, malu, segan atau memang takut, aku merogoh saku dan memberinya uang. entah berapa. tak sempat ku hitung, melirik berapa uang dalam kepalan saja ku tak berani. secepat kilat kuambil dan kumasukkan dalam gelas air kemasan yang kosong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan mungkin itu fenomena yang menyeruak di ibukota priangan ini. hampir di setiap perempatan, selalu ada waria yang bergabung dengan pengamen jalanan lainnya. jadi, para pengamat masalah sosial, sosiolog, dll mesti meneliti lebih jauh tentang hal ini. kehadiran waria di perempatan jalan merupakan fenomena tersendiri. dan penyelesaiannya, jika itu memang dianggap sebuah masalah, mesti memakai kaca mata mereka pula. tidak bisa kita memaksakan untuk melihat fenomena ini dengan kacamata lelaki atau perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang menarik lagi buatku adalah. sore ini waria di pertigaan supratman-katamso itu berjilbab. setidaknya ada beberapa fenomena menarik mengenai ini. pertama, mungkin ia merasa bukan lelaki dan juga bukan waria. ia menganggap dirinya adalah perempuan. karena ia memakai kerudung. sebab, yang memakai kerudung adalah perempuan. Tuhan pun mewajibkan menutup seluruh tubuh hanya kepada perempuan. setidaknya ia telah merasa menjadi perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku semakin bingung, apakah waria itu perpindahan seks dari lelaki menjadi perempuan. atau kah waria itu memang jenis kelamin sendiri. ia tidak merasa lelaki dan juga tidak merasa perempuan. sebab, ada juga yang menyebut mereka transeksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua, sang waria itu memang merasa dirinya waria. bukan lelaki bukan perempuan. sebab, mengapa ia memakai jilbab, menunjukkan bahwa walau ia waria tetapi ia islam. dan sebagai muslim ia menutup seluruh tubuhnya dengan kerudung. mungkin jika dalam dunia yang dibelah dengan dua kelamin pria dan wanita, ia adalah waria perempuannya. karena mungkin saja, ada waria yang lebih merasa dirinya adalah lelaki. sehingga mesti memakai kopiah, misalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang pasti mereka merasa ada di dunianya sendiri. sehingga, dunia mereka tidak bisa disamakan dengan dunia kita yang serba status quo ini. sehingga tidak bisa menerima kehadiran mereka yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin juga fenomena waria berjilbab juga karena sekarang ini sedang gencar-gencarnya kasus pembunuh berantai yang berasal dari kaum homoseksual. padahal, kaum homo itu tidak bisa disalahkan dan digeneralisir mereka itu berbahaya dan wajib dibunuh. itu sama saja dengan logika amerika menyerang irak. tetapi, ini bukan berarti saya setuju dengan tindakan seks sejenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam sistem kepercayaan (agama) samawi menunjukkan semua Tuhannya membenci kaumnya yang berorientasi seksual sejenis. bahkan di Islam diceritakan, umat luth dijungkirbalikkan sekaligus dengan bumi yang mereka injak  aikbat orientasi seksual yang bisa menghancurkan masa depan kelestarian umat manusia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallahu'alam&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-3574647590170575098?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/3574647590170575098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=3574647590170575098' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3574647590170575098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3574647590170575098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/waria.html' title='Waria'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-7820831782835762998</id><published>2009-02-04T03:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T03:40:53.369-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Cinta</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Cinta Bagaikan Kentut &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh DASAM SYAMSUDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang mendeskrifsikan cinta, semua orang pasti bisa mendeskrifsikan cinta. Ya, semua orang memiliki cinta, dan berbeda pula mereka mengalaminya. Sehingga tidak heran definisi cinta beragam. Ada kalanya professor botak berpendidikan tinggi definisinya tentang cinta, tidak diterima orang lain. Ya, sudah pasti karena semua orang mengalami cinta dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Itulah, kenapa aku juga punya deskrifsi cinta yang berbeda pula. Entah, ini definisi atau deskrifsi, yang aku tahu “cinta itu bagaikan kentut”. Bagaimana tidak, kentut, tentu kalian tahukan? Kentut, bila ditahan bikin sakit perut, dan bila dikeluarkan bikin orang ribut—setidaknya orang itu menembakan kentutnya ditempat umum—contoh, Ibu-ibu yang sedang mengaji di sebuah Majelis Ta’lim, kalau salah satu bokong mereka ada yang kentut, sudah pasti mereka akan ribut. Setidaknya ibu-ibu itu saling menuduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang kualami, tepatnya yang aku dan pacarku alami—maaf, mantan pacarku. Kami pacaran hampir empat tahun. Tapi, aku merahasiakannya dari orang tuaku. Memang, aku sudah tidak tahan dengan kondisi ini. Aku ingin sekali kehadiran kekasih hati di hidupku diketahui orang tuaku. Cuma, aku masih malu, konkretnya gak berani. Sedangkan pacarku, selalu gelisah. Ia ingin sekali aku mengenalkannya kepada orang tuaku. Sebagaimana dia mengenalkanku pada orang tuanya tiga tahun silam. Pacarku itu, sangat ingin. Sungguh sangat ingin kenal dengan orang tuaku, ia tak suka cintanya disembunyikan—ditahan—bak kentut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hari itu pun tiba. Aku duduk manis di depan orang tuaku, dan memberikan senyum terbaik untuk mereka. Dengan sangat gemetar aku katakan pada mereka, “mak, aku sudah punya pacar, ia cantik. Kami sudah pacaran selama empat tahun. Semua itu berawal dan berlangsung sejak aku masuk pesantren. Dam. Emmmm… ia mau emak dan bapak mengenalnya.”. Sudah kubilang cinta bagaikan kentut. “apa”, kata ibuku, “hah…. Apa…”bapakku menambah ketegangan, “tidak mungkin” kata kakekku, “Sem, kamu?....” bibiku, aku pun tidak ngerti maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang waktunya nasihat ibuku bak peluru deretan mesin yang akan membidikku. “kamu itu masih kecil, baru kelas 3 SMA, jangan dulu pacaran serius, apalagi harus membawa ia kemari. Apa kata orang-orang sini, kalau kamu sekolah dimana-mana, mesantren lagi, pulang membawa seorang wanita. Oh, jangan anakku, jangan buat harapan orang tuamu ini jadi ragu padamu. Oh, Tuhan aku tidak percaya anakku seperti ini. Ku kira selama ini ia memang sangat baik, setidaknya tidak seperti ini.”, ibuku menghela nafas, dan “kalau kau berani membawanya kemari, sekolah saja dengan uangmu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuh, kan, sudah aku bilang. Cinta bagaikan kentut. Seluruh keluargaku ribut. Orang kampungku dapat gosip baru, bahwa aku seorang santri yang sekolah dimana-mana akan membawa wanita kerumah. Adapt kampungku, kalau seorang yang bekerja, atau sekolah diluar kota pulang membawa wanita, artinya ia akan menikah. Ribut…. Sudah kubilang, bikin ribut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di rumahku. Langsung kulaporkan pada kekasihku. Ia, pacarku, tidak percaya bahwa kehadirannya ridak diharapkan dikeluargaku—setidaknya belum siap diterima—ia tersinggung, sakit hati, putus asa, tidak percaya lagi padakku, ia mendesakku, aku menolaknya. Ia memutuskan : putus !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berakhir, ia pacaran lagi. Katanya ia bahagia dengan pacarnya yang baru. Karena ? kenapa ? karena, ia mendapat pacar yang bisa dikenalkan pada orang tuanya dan, jelas orang tuanya senang atas kehadirannya. Sekarang aku kesal, hatiku hancur, ibu bapakku bahagia, kakekku senang, semua keluarga tentram dan aku di sini bahagia. Kenapa bahagia ? karena tiga bulan kemudian. Ehhhmmmm…. Mantan pacarku nelepon, dan katanya ‘Aku menyesal memutuskanmu’. Kamu tahu, hal yang menarik dari pacaran adalah, saat mantan pacar kita menyatakan dirinya menyesal karena memutuskan kita. So, penyesalannya kutolak, ia pun kutolak. Dan sekarang aku yang lebih jahat. Ah, tidak juga, kalau cewek sudah berani berkhianat, pasti sama pacar barunya akan melakukan hal yang sama. Trust me, it true.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-7820831782835762998?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/7820831782835762998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=7820831782835762998' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7820831782835762998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7820831782835762998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/cinta.html' title='Cinta'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-3994330335548169172</id><published>2009-02-04T03:32:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T03:36:57.211-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Baca</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Membaca Buku adalah Gaya Hidup, Bro!&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh SUKRON ABDILAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi buku di Indonesia kalah telak oleh Negara Vietnam. Indonesia, dengan penduduk 225 juta baru mampu memproduksi buku sekitar 8 ribu per tahun. Akan tetapi, Vietnam yang merdeka pada tahun 1968, sudah mampu memproduksi buku sekitar 15 ribu per tahun. Hebatnya lagi, rasio penduduknya di bawah Negara kita, yaitu sekitar 80 juta penduduk (Kompas, 31/01/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya, yang baru 27 tahun menjadi warga Indonesia sedikit menutup muka. Malu dengan perkembangan peradaban Negara tetangga kita, yang pada tahun 2008 menjuarai piala AFC (dulu piala Tiger). Lagi-lagi, Indonesia ketinggalan kereta oleh Negara Vietnam dalam bidang olah raga. Sekarang, Negara Vietnam – katanya – sudah bisa menjadi eksportir beras untuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua ini menandakan bangsa kita tengah mengalami ketertinggalan atau semacam tanda kematian peradaban Nusantara? Dahulu kala, nenek moyang kita unggul dalam segala hal. Sekarang, ketika zaman cepat bergulir ke bentuk modern, tanda-tanda sebagai masyarakat modern itu seolah tak nampak. Produksi buku, misalnya, kalah kuantitas dibandingkan dengan Negara Vietnam yang baru tahun 60-an merdeka. Saya yakin, kalau dibandingkan dengan Negara Malaysia juga kita pasti kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya, seorang mahasiswa ada yang tak pernah memiliki atau membeli buku selama menimba ilmu di perguruan tinggi. Kebutuhan primer – saya menyebut buku kebutuhan primer – itu dikalahkan oleh sebungkus rokok yang bisa dibelinya dalam satu-dua hari. Saya jadi berpikir, coba kalau satu bungkus rokok itu dikurangi. Sisihkan sekitar tiga ribu per hari untuk dialokasikan membeli buku. Dengan jumlah uang sekitar 90 ribu per bulan, kita sudah mendapatkan paling sedikit 3 eksemplar buku baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak mampu membeli buku baru, di depan kampus saya ada si Abah yang menjual buku-buku bagus seharga 10 ribu per eksemplar. Silahkan dibagi, dengan 90 ribu yang kita kumpulkan untuk buku, kita sudah mendapatkan 9 eksemplar per bulan. Rokok, hari ini sudah mengalahkan buku dalam masyarakat modern Indonesia. Utamanya, dalam kehidupan mahasiswa dan pelajar kita. Saya adalah perokok aktif, tetapi sejak mahasiswa selalu mengusahakan untuk membeli 3 judul buku baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metodenya begitu, saya menabung 3 ribu per hari selama sebulan. Aktivitas merokok saya bagi waktunya menjadi 4 kali per hari. 3 batang setelah makan dan 1 batang kalau saya kebetulan baru tidur larut malam. Sekarang, ketika uang di rekening bertambah ratusan ribu, saya bisa membeli buku baru (terbitan 2008-2009) dalam satu bulan sekitar 4-5 judul yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain teman yang tidak pernah membeli buku itu. Saya juga memiliki teman, tepatnya adik seperjuangan di organisasi IMM, yang rajin menghitung harga buku yang pernah dibelinya selama menjadi mahasiswa. Sekarang, ia masih jadi mahasiswa di perguruan tinggi dulu, tempat di mana saya pernah menjadi bagian kampus ini. Ketika ditanya, selama mahasiswa sudah berapa ratus ribu yang dikeluarkan untuk membeli buku. Ia menjawab, “kurang lebih lima juta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul saja, ketika saya main ke kontrakannya, buku-buku itu tertata rapi. Belum lagi, katanya, buku-buku yang disimpannya di kampung halaman. Karena tidak menjadi perokok aktif, logis sekali kalau teman saya itu bisa membeli buku ratusan judul berbeda selama 4 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua teman saya itu ada perbedaan ketika mengeluarkan ide-gagasannya. Berisi dan tak berisi. Itu adalah buah dari membaca buku. Setidaknya, ide yang diberikan oleh orang yang rajin membaca buku akan lebih padat dan berisi. Yang tak rajin, akan bergema seperti suara yang berasal dari tong kosong. Maka, Tuhan mengatakan “iqra” (bacalah) sebagai landasan bahwa sebagian hidup harus diisi dengan membaca. Bisa membaca buku dan alam yang menghampar luas ini. Selain itu, realitas juga tak boleh luput dari aktivitas pembacaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah manusia beradab. Menjadikan kegiatan membaca sebagai gaya hidupnya. Life style-nya, gitu! Setelah membaca sudah menjadi bagian hidupnya, ia akan tertarik menuangkan ide-gagasan dalam bentuk tulisan, baik artikel ataupun buku. Dengan demikian, produksi buku kita per tahun ke depannya akan meningkat. Bikin perpustakaan di setiap daerah, jangan hanya perpustakaan di daerah perkotaan saja. Tetapi ada perpustakaan kecamatan, desa, atau kampung. Insya Allah dengan menumbuhkan minat baca di masyarakat, buku akan lahir dari Indonesia sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Honor atau royalti buku yang gede juga, bisa terwujud kalau masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Penulis – yang di Indonesia kesejahteraannya tidak diperhatikan – akan lebih bersemangat melahirkan karya-karyanya. Tapi, bagi saya yang terpenting hari ini adalah ide-gagasan dibaca orang lain. Itu juga, menurut saya sudah dirasa cukup. Tidak muluk-muluk kalau menerbitkan buku. Itung-itung nabung, mas!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-3994330335548169172?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/3994330335548169172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=3994330335548169172' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3994330335548169172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3994330335548169172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/baca.html' title='Baca'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4965284732966594124</id><published>2009-02-02T01:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T01:23:35.786-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ego</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ego di UIN SGD Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh B F SYARIFUDIN*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air menjadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah menjadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin menjadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam….????&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dua spot lampu atas pada sisi kanan kiri panggung bersinar redup, spot sisi kiri seorang perempuan menggeliat-geliat seperti sedang menari. Gundukan pasir yang menggunduk di depannya kemudian digenggamnya, lalu dibasuhkan ke muka, tangan, dan kaki seperti layaknya seseorang yang tengah melakukan tayamum. Perlahan dengan langkah lamban ia mendekat pada sisi spot sebelah kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spot pada sisi bagian kanan panggung, seorang laki-laki berkepala gundul setengah telanjang berdiri di dalam sebuah kelambu panjang berbentuk tabung yang membentang dari atas ke bawah. Lambat laun ia pun mulai mengexplorasi tubuhnya, menari memainkan lunglai tubuhnya di dalamnya. Si perempuan mendekati, lalu keduanya saling bersentuhan, mengexplorasi tubuh yang satu dengan tubuh yang lain, mengexplorasi ruang yang satu dengan ruang yang lain. Dan penulis sendiri berasumsi bahwa mereka sedang melakukan proses komunikasi tubuh di antara mereka (sex).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian awal dari sebuah pertunjukan teater yang berjudul EGO, karya /sutradara Yayan ‘Katho’ Musiarso (27/08/08) yang dipentaskan di Galeri UIN Sunan Gunung Djati Bandung garapan Teater Awal yang akan berlanjut di UNSIKA Karawang dan TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta. Mendengar kata ego, penulis membayangkan dalam pertunjukkan ini adalah sebuah pertunjukkan yang membicarakan tentang oposisi biner tentang sesuatu. Tetapi ternyata tidak! Ego dalam pertunjukkan garapan Teater Awal ini adalah sebuah komunikasi tubuh antara dua lawan jenis laki-laki dan perempuan bagaimana mereka untuk mencipta dan bagaimana untuk menjadi. Mengapa, bagaimana, dan untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freud seorang pelopor psikoanalisis mengatakan bahwa manusia memiliki insting yang sangat mendasar yaitu insting kehidupan (eros) dan insting kematian (thanatos). Insting kehidupan ini di bagi menjadi dua yaitu insting individual dan insting spesies. Insting individual ini adalah sebuah dorongan dari setiap individu bagaimana setiap individu tersebut melakukan sebuah proses pertahanan hidup. Sedangkan insting spesies adalah insting di mana setiap manusia harus menjaga keberlangsungan hidupa spesies mereka (re-generasi). Insting spesies ini merupakan upaya atau dorongan untuk melakukan aktivitas seksual yang bersifat reproduksi di mana kehidupan manusia itu sendiri tetap eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada adegan awal dalam pertunjukkan ini, merupakan sebuah proses pemunculan dua karakter yang berbeda di mana pada adegan ini merujuk pada teori Freud tadi, bahwa manusia itu mempunyai insting spesies—melakukan proses komunikasi tubuh (dua lawan jenis berbeda) untuk melahirkan sesuatu (manusia-manusia yang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada adegan selanjutnya, setelah melalui proses persetubuhan di antara keduanya, dari sisi wing kanan dan kiri muncul empat orang laki-laki gundul setengah telanjang dan empat orang perempuan bertopeng Semar berpakaian putih. Pada masing-masing bagian perut pakaian yang di kenakan keempat actor tersebut bergambar seorang bayi yang siap-siap mau dilahirkan. Hal ini mungkin untuk menunjukkan pada para penonton bahwa para perempuan-perempuan itu tengah hamil dan pada adegan ini pula memang keempat perempuan tersebut melakukan adegan di mana mereka sedang berusaha keras untuk melahirkan anak-anaknya. Ketegangan pun berlangsung dengan tata cahaya liar seperti kita tengah berada di dunia pub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kelahiran pun terjadi, sosok laki-laki muncul dari sebuah property panggung yang lebih menyerupai tulang iga manusia. Ia berlari ke sana ke mari, sesekali berjalan lamban sambil melihat bayangannya sendiri, bersosialisasi dengan ruang di sekitarnya. Seolah-olah sedang berusaha untuk mengenal siapa dirinya dan siapa di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada pemahaman penulis mengenai teorinya Freud, bahwa manusia itu tidak hanya memiliki apa yang disebut insting. Melainkan ada satu hal yang dinamai dengan ego. Proses komunikasi tubuh, kelahiran, sampai pengenalan terhadap sesuatu, pada bagian ini penulis berasumsi bahwa proses tersebut merupakan sebuah implementasi dari hasil kreasi dari apa yang disebut dengan ego. Ego sendiri kata Freud bukanlah ke-aku-an dalam mementingkan diri sendiri melainkan ego adalah mengacu kepada keberfungsian diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberfungsian ini yang nantinya mengacu kepada untuk apa manusia hidup dan bagaimana melaksanakan hidup. Ego dalam hal ini merupakan sebuah strategi psikologi yang dilakukan manusia untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan cita-diri. Posisi ego haruslah sangat kuat karena dapat menjaga setiap individu untuk berada dalam keseimbangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Ego adalah pembelajaran. Ego adalah diri. Ego adalah hasrat dan keinginan. Ego adalah hidup dan menghidupi. Ego adalah perjalanan untuk sampai pada ujung-Nya, perjalanan yang akan membuat kita bernama manusia atau perjalanan yang akan membuat kita bukan bernama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat buat Teater Awal UIN SGD Bandung dalam pementasan ini…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4965284732966594124?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4965284732966594124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4965284732966594124' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4965284732966594124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4965284732966594124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/ego.html' title='Ego'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-6741832672102401519</id><published>2009-02-02T01:19:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T01:20:45.054-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>menulis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keuntungan Menulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh AEP KUSNAWAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abi Hurairah R.A., Rasulullah SAW bersabda: Tiga orang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah: Mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga khormatannya. (HR. Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Siapapun Anda, jika sampai detik ini mengira bahwa dengan tulisan dapat mendatangkan uang, itu tidak keliru, sebab dengan tulisan yang dibuat kemudian diterbitkan, dengannya berarti penulis telah berjasa, dan karena jasanya itu, secara logis penerbit akan menyampaikan “terima kasih”-nya kepada penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda menganggap dengan tulisan dapat mempertajam intelektualitas, itu juga tidak salah. Sebab, dengan keinginan menulis yang semakin baik, maka Anda akan semakin banyak membaca. Baik membaca Qur’an, koran, buku, majalah, atau sumber lainnya. Selain itu Anda juga akan semakin sering membaca kondisi, situasi, lingkungan, alam atau segala macam ciptaan Allah dengan berbagai permasalahannya. Dengan demikian, Anda akan semakin dituntut peka terhadap berbagai persoalan yang berkembang, dan Anda akan semakin merasa haus terhadap segala macam sumber informasi. Bukankah itu merupakan suatu yang mendorong terhadap peningkatan intelektualitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga Anda mengira bahwa dengan tulisan dapat meningkatkan popularitas, itu juga merupakan hal yang logis. Sebab dengan diterbitkan tulisannya, meski Anda sendiri berada di ruang kamar dengan pesawat komputer, maka sungguh Anda akan dikenal orang. Anda dikenal tidak hanya oleh puluhan orang atau ratusan orang, tidak pula hanya oleh orang di satu daerah, tetapi sebanding lebih dengan jumlah oplah yang diterbitkan oleh media yang memuat tulisan itu, atau sebanding dengan sejumlah orang yang membaca media tersebut, dengan jangkauan wilayah seluas media itu tersebarluaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, hanya keuntungan yang sifatnya sesaat itukah menulis itu? Sehingga karena sesuatu dan lain hal, masih merasa ragu untuk menekuni dunia tulis, atau barangkali tidak cukup terpuaskan karena keuntungan tulisan yang Anda ketahui, terpaku pada batas-batas yang masih pragmatis, sempit dan tidak lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umpamanya Anda ingin memberikan konstribusi kepada masyarakat atau bahkan lebih dari itu, ingin memiliki “saham” bagi peradaban dunia. Lalu ia bertanya, dapatkah dengan tulisan keinginannya itu tercapai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hal itu, penulis mengajak Anda untuk kembali mengingat sejarah. Betapa sejarah peradaban manusia sebelum mengenal tulisan adalah sejarah yang kelam bagi manusia yang ada pada masa kini. atau direkonstruksi dari jejak peninggalan yang tampak dan bekas-bekas yang ditinggalkan, dan itu amat terbatas adanya. Sehingga kurun waktu sebelum Anda mengenal tulisan itupun disebut sebagai zaman pra sejarah. Saat itu ahli Antropologi mencatat, antara laju peradaban dengan evolusi manusi berjalan berbanding sejajar, peradaban berjalan lambat seperti jalanya seekor siput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sejarah peradaban manusia dipandang baru muncul, setelah ditAndai oleh keberhasilan manusia menciptakan lambang-lambang yang kemudian disebut huruf, yang pada mulanya dituliskan di dinding-dinding gua. Huruf-huruf itu kemudian di rangkai menjadi kata-kata dan disusun menjadi kalimat-kalimat, yang memiliki fungsi untuk mengatakan pikiran-pikiran mereka dari hasil pengalaman yang telah mereka alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jika sebelum orang mengenal tulisan, suatu pengalaman atau pemikiran manusia hanya menjadi milik dia atau milik masyarakat yang semasa ketika itu, maka setelahnya mereka dapat menulis dan membaca, pengalaman dan pemikiran tersebut tidak hanya dinikmati oleh generasinya, tetapi oleh generasi sesudahnya, bahkan generasi yang jauh sesudah mereka meninggal. Dengan begitu, pemikiran-pemikiran menjadi tekoleksikan dalam suatu arsip yang bernama tulisan. Sejak itu pula, para ahli sejarah mencatat, peradaban manusia mengalami perkembangan yang pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu mengenal sejumlah tokoh dalam Islam yang hidup beberapa ratus tahun yang lalu. Namun banyak di antara mereka tetap hidup bersama hingga saat ini, meskipun jasadnya telah terkubur tanah ratusan tahun silam. Al-Ghazali, misalnya, telah meninggal tahun 1111, tapi ia tetap hadir bersama Anda saat ini, karena tulisan-tulisannya yang mengikat erat namanya untuk tetap hidup dan bahkan terus berkembang. Teori-teori Ibn Khaldun pun tetap dibaca Anda, dan dengan teori itu pula Anda kemudian mengembangkan teori-teori baru sesuai dengan perkembangan dan perubahan. Demikianlah, sejumlah pemikir dan pemilik ilmu masa lalu, karena tulisan-tulisannya, hingga saat ini masih hadir bersama generasi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Saatnya Anda Pun Menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemaparan di atas, nampak kehebatan tulisan, yang telah mampu berperan dengan sangat menakjubkan. Betapa tulisan telah mampu menampung, menabung dan mengkoleksi karya-karya serta menyebarkannya. Bahkan ia juga telah mampu “mendongengkannya” kepada generasi yang hidup sampai berpuluh, beratus, bahkan ribuan tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan juga bukan hanya mengakumulasi pengetahuan, tetapi juga memungkinkan bagi pengkoreksian, penambahan dan penyempurnaan dari pengembangan pengetahuan yang baru. Ia ibarat alat rekam, disamping mampu menyimpan memori dari hasil karya rasa dan cipta manusia, juga mampu menerima masukan-masukan baru, sehingga koleksinya kian hari kian bertambah banyak dan semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kini tergambar sudah, jika Anda mendambakan untuk bisa berhubungan dengan masyarakat luas, turut dalam mencerdaskan kehidupan umat manusia generasi kini dan kemudian, memberikan informasi berharga, menyampaikan penemuan-penemuan, menegakan idealisme dan keadilan, menyuarakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai suatu yang salah, atau Anda ingin berjuang dan berdakwah untuk peradaban yang bermuatan rahmatan bagi seluruh alam, maka melalui tulisan, hal itu bukan hal mustahil. Menulis bisa dimulai dari bentuk diary, dokumen, khutbah, biografi, majalah dinding, buletin, artikel, sampai menulis buku atau kitab. Sekecil apapun karya tulis seseorang, tentu akan tetap terkenang dan terarsipkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian adanya, maka bukan hanya penulis yang untung, tetapi akan banyak pihak yang diuntungkan. Tidak pula yang diuntungkan itu hanya satu generasi, tetapi juga bisa berlanjut kepada berbagai generasi sesudahnya, bahkan mungkin jauh sesudah Anda tiada. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis, adalah Penulis Buku “Berdakwah Lewat Tulisan”. Sekretaris Juusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri SGD Bandung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-6741832672102401519?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/6741832672102401519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=6741832672102401519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6741832672102401519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6741832672102401519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/02/menulis.html' title='menulis'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5284123554870687252</id><published>2009-01-28T19:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T19:34:46.033-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Sunda</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunda Mendorong Kemajuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh IU RUSLIANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para karuhun (orang tua dulu) yang arif dan bijaksana selalu mengingatkan generasi penerusnya agar jangan sampai menjadi manusia kuulen (tidak gaul). Tercermin dalam pepatah (etik); Kade Ulah Kurungen Batok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara sederhana, kurungen batok artinya tidak mau terbuka dengan dunia di luar. Senang dengan dunia sendiri, tanpa memperhatikan dunia yang tengah berkembang pesat. Kemajuan bersama harus dijemput. Sikap kurungen batok tak akan mendorong kemajuan. Apalagi dengan pemikiran (perspektif) yang kurung batok. Itu lah saya kira yang dimaksud dengan kampungan. Bukan berarti orang kampong. Kampungan artinya tidak mau menerima fakta adanya kemajuan, malu dan ragu untuk memulai suatu hal yang baik padahal itu adalah akar kemajuan. Takut melakukan sesuatu yang baik, padahal harus dimulai. Kebanyakan diskusi dan berpikir dalam melakukan sesuatu sehingga tidak ada yang dikerjakan. Orang menyindirnya dengan istilah NATO (Not action talk only). Kalau kawan saya di kampus UIN Bandung dulu menyebutnya Kongres, Ngawangkong teu beres-beres (Berbicara terus menerus, tidak selesai-selesai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuulen dalam tulisan ringan ini bukan sekedar tidak gaul, dalam artian tidak membuka mata dan telinga mengikuti apa yang terjadi di dunia ini. Tapi kuuelen karena tidak mau menjadikan keharmonisan bersama menjadi pijakan dalam bersikap dan bergaul bersama yang lain baik itu dengan tetangga, sahabat atau orang lain sekalipun. Hatta, dalam perspektif lebih luas, tidak mau berharmonisasi dengan alam sekitar. Kuuelen karena dirinya merasa sendiri, kumaha aing, tidak toleran, asal aing geunah, teu paduli batur kumaha, dan seterusnya. Kuuelen disini artinya sikap yang egois, tak peduli yang lain. Suatu perspektif mata kuda yang hanya melihat ke jalan di depannya, tak mau menengok ke kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca falsafah karuhun Sunda tersebut, saya kira bisa disimpulkan kalau sesungguhnya orang Sunda sangat mendukung kemajuan. Karena para karuhun dulu pun mendorong itu. Jadi, kalau ada yang menilai orang Sunda cenderung tidak dinamis, itu hanya kesalahan pemahaman. Atau, itu lah bentuk penjajahan pikiran, etika yang didoktrinasikan oleh para penjajah dulu, karena memang mereka sangat betah tinggal di daerah Sunda; alamnya sejuk, nyaman, subur dan penuh keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sayangnya, tanpa kekritisan kita selaku genarasi muda saat ini, sikap pasif, betah di lembur sorangan, kuat sehingga tidak mau keluar dari daerah atau cara berpikir lama mencari daerah atau pemikiran baru yang lebih dinamis, progresif dan merespon perkembangan jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya harus tegaskan, keliru nampaknya kalau ada pendapat yang menyebutkan orang Sunda mah teu resep merantau. Baik merantaukan dirinya untuk mendapatkan pengalaman langsung, atau merantaukan pikirannya untuk melakukan interaksi pemikiran dengan perkembangan pemikiran yang bergerak cepat di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak gaul bukan berarti sikap anti pergaulan bebas- istilah tidak gaul cenderung negatif, tudingan untuk anak muda yang tidak mau ikut arus jaman yang konsumeris, hedonis, tapi dalam pengertian yang positif, anti kepada kemajuan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya, urang Sunda, utamanya generasi muda Sunda berpikir maju ke depan. Bukan sekedar berpikir primordialisme sempit, namun mau terbuka dan menghijrahkan pikiran dan badannya ke tempat yang lebih maju. Sehingga generasi muda Sunda mau menjemput kemajuan dan menariknya ke masa kini. Generasi muda Sunda menjadi manusia masa depan yang hidup di masa kini. Mereka lah para pemimpin yang siap mempercepat kemajuan yang normalnya dirasakan seratus atau dua ratus tahun yang akan datang kini bisa dipercepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan adalah keniscayaan. Namun pertanyaannya, apakah perubahan yang menuju ke arah yang lebih baik atau bukan? Keluarlah dari kotak (Out of The Box), lakukanlah inovasi, belajarlah ke orang lain yang lebih maju, lalu pelajari bagaimanacaranya, bukan sekedar melihat hasilnya, aplikasikanlah yang mungkin, buang yang tak mungkin. Karena pemimpin yang mampu menjemput masa depan bukanlah mereka yang tidak mau memahami orang-orang yang dipimpin, yang jelas-jelas pasti bingung karena mereka baru berpikir ke-2, sementara sang pemimpin sudah berpikir ke-4, tapi pemimpin yang dengan ramah dan sabar menuntun yang dipimpinnya meraih tangga dengan lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya kira etik karuhun yang menyatakan hendaknya manusia Sunda keluar dari kurung batok harus menjadi nilai dasar bagi masyarakat Sunda untuk berhijrah, bertransformasi dan mendinamisir kehidupannya, menjemput dan meraih kemajuan lebih cepat. Karena kemajuan bersama diperlukan untuk keadilan dan kesejahteraan bersama. Jika ada pandangan yang menyebutkan orang Sunda tidak mau maju, itu adalah kesalahan berpikir yang harus segera dikritisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cicing di lembur (diam di daerah) bukan solusi. Karena perspektif, pengalaman, ilmu dan jejaring tidak akan bertambah. Sementara tanah pun akan semakin menyempit seiring dengan industrialisasi dan semakin banyaknya manusia yang dilahirkan. Kampung sorangan (daerah sendiri) simpanlah di dalam hati. Dengan begitu, ketika kemajuan diperoleh, segeralah mengabdi ke daerah dan ibu pertiwi (lemah cai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tidak akan ada lagi ketimpangan pembangunan karena masyarakat di daerah tersebut sangat dinamis, terbuka dan mau belajar terhadap kemajuan di daerah lain (Teu kurung betoken). Selain maju, karena perspektifnya terbuka, tidak sombong, mau bersinergi dan bersedia berbagi pengalaman. Bertindak lokal, berpikir global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cibiru Indah VII Bandung &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5284123554870687252?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5284123554870687252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5284123554870687252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5284123554870687252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5284123554870687252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/sunda.html' title='Sunda'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5054860309874171022</id><published>2009-01-23T20:50:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:51:50.044-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Emas</title><content type='html'>Cerita Pendek &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cian Ibnu Sina Sj&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Emas 24 Karat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUNGGUH berharga sekerat emas, walau hanya secuil dimiliki. Tak ada seorang pun yang tak mengetahui perhiasan ini, apalagi menolaknya jika diberi secara cuma-cuma. ”Tak harus terburu-buru lah Nak, tak memakai perhiasan emas juga tak mengapa. Tak usah risau, apalagi gusar. Memang betul Nak, emas adalah ukuran barang bagus, simbol utama; kaya miskin banyak orang pakai emas, meski hanya ¼ gram yang hanya dipasang di sebelah telinga kirinya. Santai lah Nak, Ayah mu belum ada duit untuk membeli gelang emas permintaan mu itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berkali-kali sang Ibu menasehati anaknya, sudah sering meneteskan air mata hingga kering. Tetapi sang buah hati masih keras kemauan meminta emas untuk dijadikan gelang sebagai perhiasan di tangannya. Mungkin benar di zaman sekarang ini, anak sangat terbeban menanggung malu bila tak memakai perhiasan dari emas. Setiap hari setiap waktu, menjerit hanya inginkan perhiasan emas. Tak siang tak malam, air mata terus diteteskan demi mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan pura-pura lah Bu, sekarang kan zaman modern, sudah bukan zaman kerajaan lagi. Sudah lah Bu, beliin aku sikit saja, tak usah banyak-banyak yang penting aku pakai gelang dari emas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang  Ibunya hanya menatap lembaran acara di televisi, asyiknya mengintip Audisi Penyanyi Indonesia, sebuah televisi swasta. Apakah dengan memakai perhiasan emas adalah suatu kewajiban bagi perempuan yang memang tak bisa ditawar-tawar lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya penasaran bener terhadap perhiasan yang kuning ini, tak habis pikir. Ibu yang cerdas, selalu berbincang dengan nuraninya. Bagaimana kalau buah hatinya di ajak jalan-jalan, biar melihat bagaimana sebenarnya perhiasan kuning itu. Gayung pun bersambut, suami dari Ibu yang cerdas tentu lelaki cerdas juga. Ia mengizinkan istrinya untuk membawa jalan-jalan belahan jiwanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti sunyi, sepi menghilangkan ramai. Matahari masih mamayungi seisi bumi, tak ditunda-tunda lagi. Demi sang buah hati, apa pun dikorbankan untuk kebahagiannya. Yang jauh terasa dekat, begitu lah yang dekat semakin tiada jarak lagi. Sehabis memikir sambil meneguk jamu hasil ramuannya sendiri, sambil menulis agenda hariannya. Engku Putri mengajak Rara untuk bepergian ke luar negeri, sekadar menatap bagaimana di manca negara sebenarnya perhiasan itu digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah lah Nak! Tak baik pula menangis terus, sekarang berangkat sama Ibu ke negeri jiran. Untuk melihat emas, siapa tahu kamu suka dengan emas di negeri seberang sana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari lah Bu! Aku juga sudah tak tahan ingin memiliki emas untuk perhiasan gelang, kelak aku pakai di tangan kanan dan kiri”. Keduanya setuju untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Engku Putri membawa ke tiga tempat saja, berangkat dari Singapura menepi di Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu meneruskan perjalanannya ke Yerusalem, Palestina. “Lihat lah Nak, yang bundar besar di atas bangunan suci ini. Ini masjid kaum muslimin sejak dahulu, ini berumur ratusan tahun. Dahulu dibangun pada tahun 690 Masehi. Nama masjid ini adalah masjid Qubbah As-Sakhirah atau biasa dijuluki dengan sebutan; Dome of The Rock. Tampak dari sini Nak, bukan kah yang besar di atas itu terbuat dari emas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rara hanya bisa menatap, lalu membenarkan perkataan Ibunya, setelah menikmati hidangan sarapan ala Israel. Mereka berdua sejenak melepas lelah di sudut waktu, dekat Al-Aqsa. Di pinggiran masjid itu nampak banyak orang yang lumpuh mengayuh tubuhnya, hanya minta-minta sekadar untuk makan. “Bu, apakah orang-orang lumpuh ini sejak lahir atau karena suatu peristiwa dan kenapa dibiarkan begitu saja?”. Pertanyaan yang cerdas, membangkitkan memory Engku Puteri ke masa silam. “Mereka lumpuh karena perang Nak, karena kebiadaban orang-orang Yahudi Israel”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sebentar saja mereka berdua berbincang soal emas besar itu, tak lama kemudian, keduanya membersihkan sisa lelah yang terpenggal pada lembaran perjalanan. Kemudian membeli tiket melanjutkan perjalanan ke negeri lain. “Sudah dulu ya Nak, diskusinya nanti kita teruskan lagi. Sekarang kita harus meramu waktu agar sampai di tanah minyak, segera menepi di negeri suci Syi'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di sebuah negeri “seribu satu malam” itu, Engku Puteri dan Rara berhenti di tepian diskotik milik Hajjah Fatimah Nurul Qashrie. Sambil meneguk arak timur, sedikit berbincang-bincang soal perjalanannya. Namun disela-sela perbincangan, sudah nampak di pelupuk mata Rara sebuah bangunan besar, persis seperti yang ia lihat kemarin hari di Palestina. “Bu kok bangunan itu sama seperti yang kemarin, kita mendekat yu?”. Rupanya sudah tak sabar ingin melihat yang kedua kalinya. “Sabar lah Nak, sekarang malam mau menutup cahaya siang, besok pagi kita mendekat tepat ke arah sana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani pagi yang cerah, tanpa tetesan hujan tanpa irisan angin. Keduanya bergegas menyulam memori semalam yang telah lewat. Secepatnya membungkus cerita kemarin bersama Hajjah Fatimah Nurul Qashrie. Lalu pamit meninggalkan diskotik tua itu, Rara tak ketinggalan melipat anggur timur yang segar itu di kantong kecilnya. Sedangkan Engku Puteri tidak sempat melupakan arak timur jauh yang seperti jamu itu, ia bahkan teringat saat meneguk jamu ramuannya sendiri, tiga hari sebelum pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya menunggang keledai sewaan seharga 120 dirham, bersama sengat siang mereka menepi di pembaringan terik matahari. Tak jauh dari bangunan besar itu, mereka berhenti. Lalu berjalan perlahan, sambil menatap bangunan tua itu. Selangkah demi selangkah menapaki tanah kering itu, tiba lah mereka berdua tepat di depan bangunan itu. ”Bu nampaknya bagunan ini sama seperti yang aku lihat kemarin di Yerusalem, ini juga terbuat dari emas sebesar ini? Aneh, kok masih banyak juga orang-orang miskin keliaran menjejali dinding nasib di negeri ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rara mulai senang sekaligus bimbang, ia baru merasakan kalau apa yang dilihatnya kurang begitu meyakinkan hati nuraninya. Sedangkan Engku Puteri mulai merasa lega, ia berhasil membawa Rara ke hamparan nalar yang mapan selama ribuan tahun. Ia sukses membawa jalan-jalan anak kesayangannya menemukan keindahan, sekaligus duka yang mendalam yang pernah disaksikan langsung oleh buah hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru lah kali ini, Rara lupa kalau ia sesungguhnya sedang menginginkan sangat emas itu. Akan tetapi, Engku Puteri yakin bahwa lupa anaknya adalah justru sangat ingat tentang emas yang diinginkannya itu. Ia yakin bahwa lupa sebenarnya ingat yang sangat mendalam. Karenanya, ia membawa ke tiga tempat itu. ”Sudah lah Nak! Tak usah melamun, besok kita sambung lagi perjalanan ke tanah Melayu. “Tidak lah Bu! Beri tahu lah aku terlebih dahulu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu gembiranya hati Engku Puteri, hingga tak sempat banyak menjelaskan kepada Rara seperti saat di Palestina. “Oh ya, maafkan Ibu Nak! Ini namanya masjid Hasan Al-Askari, di bangun pada tahun 944 Masehi. Daerah ini namanya Samara, nama negaranya Irak berdekatan dengan negara Iran. Penamaan masjid ini disandarkan kepada cucu Rasulullah saw, yaitu Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib. Masjid ini merupakan bangunan suci kaum Syi'i; pengagum sahabat Rasulullah saw. Yang menantunya sendiri, ia adalah Imam Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surut lah sudah keinginan keras Rara memiliki perhiasan emas, tapi belum habis penasaran di hatinya. Sambil termenung sepanjang jalan, keduanya meneruskan ke tanah Melayu. Berlabuh di Bandar Sri Begawan, beramah tamah dengan negeri kerajaan Melayu itu. Hidangan ramah tamah negeri seribu minyak ini, mengingatkan ke kampung halaman. Selain karena dekatnya dengan tempat keduanya tinggal, juga bahasanya masih sama. Seleranya mirip dengan budaya sendiri, senantiasa akrab saling menyapa setiap menemui orang yang diajak berbincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagunan ketiga ini juga besar, terbuat dari emas murni. Indah dipandang, meski tak sempat bagaimana rasanya. Rara menganggapnya demikian, soalnya pikir Rara, dua tempat sebelumnya,  ada emas besar itu justru berbarengan orang-orang sekitar miskin yang papa itu. “Bu kalau masjid yang satu ini aku tahu; dibangun tahun 1980-an, ada 29 kubah berlapis emas 24 murni karat. Namanya masjid Jami'e Al-Asr atau masjid Bandar Sri Begawan, luasnya 2 hektar, ke mana lagi kita melihat emas lebih besar lagi, masih ada?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai terbuka luas cakrawala kehidupan duniawi di mata Rara, Engku Puteri bergembira mendengar keluhan buah hatinya itu. Tak lama keduanya bergegas menuju bandara, langsung meluncur menuju Jakarta. Setibanya di Bandara internasional Soekarno-Hatta, lalu melanjutkan perjalanannya ke Depok dan bermalam di sana. “Besok kita sambung terus ke Cinere Nak, melihat indahnya bagunan yang paling baru, emasnya tak kalah lebih besar dari yang sebelumnya”. Tanpa mengasah lelah atau menjumput ragu. Dengan penuh kasih sayang yang harmonis, Ibu dan anak itu menuju Cinere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alamak besar sangat Bu! Kapan masjid Indonesia ini dibangun?”. Spontan rasa penasaran menghadang Rara saat melirik ke bilik parkir di halaman bagunan megah itu. “Marilah kita masuk, kita tanyakan kepada mereka tentang masjid ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat mengucapkan salam, keduanya telah diterima sebagai tamu. Lalu masuk menuju ruangan masjid, melirik ke sana ke mari. Dengan penuh senyum, penjaga masjid itu lalu menjamu berbagai hidangan ala Sunda. “Ini tanah Pasundan, silakan mencoba makanan khas kami. Setelah shalat berjama'ah, nanti saya jelaskan sejarah masjid ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikmati jamuan, si penjaga masjid menghilang  ke kamar,  nampaknya ada sesuatu yang tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kembali dari kamar itu, ia berganti dari seragam penjaga masjid menjadi pakaian biasa khas Indonesia. “Maaf agak lama sedikit, bagini lah ceritanya: namanya sesuai pemiliknya, masjid ini bernama Masjid Dian Al-Mahri. Kepunyaan Hajjah Dian Juriah Al-Rasyid Al-Mahri, seorang wanita kaya-raya. Dibangun pada tahun 1999, dan diresmikan pada tahun 2006. Bagunan seluas 8000 meter ini, berdiri di atas tanah 70 hektar. Halaman dalamnya berukuran 45 x 75 meter, mampu menampung jama'ah sebanyak 10000 orang, dengan altar marmer impor dari Turki”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penerangan penjaga masjid ini, Rara hanya termengu mendesap aneh luar biasa. Kaget penuh keheranan. Berdampingan dengan Ibunya, Rara tak banyak tanya tentang masjid ini. Bahkan memberi isyarat dengan bahasa tubuh untuk setuju saja menyimak penjelasan dari penjaga masjid selanjutnya. Sang Ibu pun tak bisa berbuat banyak, pikirnya lebih selamat membimbing kesayangannya dalam bahasa diam. Sambil menikmati suasana senja, sementara si penjaga masjid seakan tak sabar ingin terus melanjutkan ceritanya. Ia pun mohon diri untuk meneruskan, maklum banyak kesibukan yang harus dikerjakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kemudian enam menara berbentuk segi enam ini, yang menjulang ke atas setinggi 40 meter itu, adalah perlambang rukun Iman. Semua menara ini dibalut dengan batu granit yang indah berwarna abu-abu, ini impor dari Itali dan Brazil. Di tengah ruangan masjid bergantung lampu megah dari kuningan berlapis emas murni, beratnya 2, 7 ton. Lampu ini dikerjakan oleh tenaga ahli orang asing, masih impor pula dari Itali. Sementara luas areal parkir hanya 700 meter, cukup untuk 300 mobil besar dan 1400 kendaraan kecil. Yang berdekatan dengan masjid itu adalah gedung serba guna, sanggup menampung 25000 jama'ah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama senja menuju larutnya malam, penjelasan si penjaga masjid belum habis. Hilir mudik orang keluar masuk masjid, membuat tempat ini ramai. Indah megah menawan mata memandang, seperti istana di kerajaan tempo dulu. Nampaknya, desain arsitektur gaya Timur melekat pada bangunan ini. Jama'ah pun bukan hanya nyaman memasuki ruangan ini, malah begong seribu tanya. Setiap orang masuk, saat itu pula mata memudar menatap sekeliling seni  ornamen di masjid itu. Orang-orang pun selalu kebingungan benar kah ini masjid yang sedemikian megah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rara yang duduk dihimpit Ibunya, menatap tajam ke arah si penjaga masjid itu. Penuh sugesti, betapa dunia tengah dinikmati aneka impor-an. Nyaris tidak ada barang yang memukau yang asli dari tanah air. “Bu semua bangunan nampaknya dari negeri jauh ya Bu?”. Engku Puteri hanya cukup menegaskan kalau ucapan anaknya itu benar. “Kamu benar Nak! Bangsa kita memang bangsa impor, hampir semua di impor dari negeri orang”. Ditemani hingar bingar udara senja yang semakin menyurut, keduanya semakin serius menyimak cerita dari penjaga masjid; kemegahan, keindahan, dan keluarbiasaan adalah inti dari cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaga masjid melanjutkan tentang masjid megah itu, setelah meneguk teh manis yang juga kiriman dari Itali. Matanya mengedip pejam terbuka, tanda menikmati teh dari negeri mafia itu. Kedua tamunya tak dihiraukan, saat merasakan selera dari teh itu. “Sementara kubah besar itu berlapis emas murni 24 karat, dengan berat 2000 ton. Ini masjid kubah emas keempat, sekaligus terbesar dunia setelah Palestina, Yerusalem, dan Brunei Darusalam. Keseluruhan berat lapisan emas semuanya hanya 200 kwintal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tuntas penjaga masjid berturtur, Rara menyimak dengan diam seribu bahasa. Ia menaruh kewaspadaan yang mendalam sangat. “Mengapa membuat bumi Allah Swt ini dengan begitu mahal, menghabiskan milyaran bahkan tryliunan rupiah. Sementara masih banyak orang-orang berada di bawah garis kemiskinan; pendidikan, ekonomi, dan kesehatan?”. Meski dikatakan dalam hati yang terdalam, namun seorang Ibu tahu apa yang terlintas dalam jiwa anaknya. Lalu menyapa Rara dengan nada yang sungguh mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu lah Nak, emas digunakan untuk menghiasi kubah masjid yang besar-besar. Sebagai persembahan hamba kepada pencipta-Nya. Apakah tangan kamu mau Ibu pakaikan emas juga, seperti kubah itu?” Setelah pamit meninggalkan halaman masjid Dian Al-Mahri itu, baru lah Rara menjawab sapaan Ibunya. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mau, Aku tidak mau lagi Bu! Aku tak suka ditangan ku ada gemilang emas, namun disampingku malah banyak kaum papa; masih banyak yang tertindas, terbelakang (ekonomi dan pendidikan), dan terpinggirkan. Aku sungguh tak kuasa beribadah yang disampingnya banyak kaum lemah, Apakah aku harus ibadah di atas penderitaan orang lain dengan semegah ini ?”. Katanya sambil menoleh manis kepada ibunya.*** [&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Batam Pos, Minggu, 28 Desember 2008&lt;/span&gt;]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5054860309874171022?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5054860309874171022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5054860309874171022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5054860309874171022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5054860309874171022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/emas.html' title='Emas'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-3946729433724772762</id><published>2009-01-23T20:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:32:28.274-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Gen</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gen Yahudi dan Co-Creator&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh AHMAD SAHIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUMAT pagi, alhamdulillah saya bisa kembali mendapatkan pencerahan dari seorang penulis dan saintis Dr. Tauhid Nur Azhar. Bapak tiga putra ini datang ke kantor (Penerbit Salamadani: Jalan Pasirwangi I No.3 Soekarno Hatta, Bandung) dengan gaya dan ke-khas-an yang tetap melekat padanya. Sosok yang berperawakan tinggi dan full senyum itu langsung naik ke lantai dua, bersalaman, dan duduk di kursi meja rapat tempat kami berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah seorang teman saya, yang kini menempati jabatan cukup strategis dalam penerbit tempat saya bekerja ini, langsung menyambut dan memberikan informasi tentang maksud dihadirkannya Dr.Tauhid NA dalam acara koordinasi pekanan kali ini. Setelah dibacakan profil Dr.Tauhid NA, dimulailah “ceramah” yang mencerahkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, Dr.Tauhid mengawali pembicaraannya itu tidak lepas dengan humor-humor. Awalnya ia memaparkan tentang hijrah dan makna-maknanya, termasuk hijrah dalam konteks “gen” manusia dan gen Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, gen itu merupakan potensi (dasar) manusia yang sudah tertanam bersamaan dengan lahirnya manusia ke alam dunia. Tiap bayi yang lahir pasi memiliki gen (asli) yang, seiring dengan perkembangan tubuh dan otaknya, mengalami perubahan hingga mengerucut pada salah salah satu “gen” yang ada dalam diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia memiliki gen yang bermacam-macam. Ada gen yang bisa berkembang menjadi orang baik dan juga terdapat potensi yang dapat menjadikan diri manusia itu zalim atau berakhlak buruk. Seperti Yahudi, hakikatnya bukan bangsa, tapi gen atau sifat dasar manusia terburuk yang ada pada manusia. Sehingga karakter culas, tidak menepati janji, anti kemanusiaan, licik, bisa pula melekat pada diri kita. Jika kita berperilaku itu, ya berarti bisa disebut Yahudi,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diri kita tidak ingin seperti Yahudi, lanjutnya, maka energi negatif berupa sifat-sifat buruk dalam diri manusia itu harus dikendalikan (manage) dengan energi positif kita sehingga menghasilkan energi suportif. Misalnya tentang kemalasan, yang biasanya menjadi karakter yang sulit dilepaskan dari manusia, bila terus dipacu dengan motivasi yang baik bisa berubah menjadi rajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanaman yang kurang perhatian manusia atau hanya dipupuk saja, hasilnya beda dengan yang tanaman yang dipupuk dan diberi sentuhan kasih sayang atau perhatian manusia. Pasti lebih segar dan tumbuhnya bagus ketimbang yang tidak diperhatikan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, menurutnya, seorang manusia (Muslim) haruslah melakukan hijrah agar kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Yakni dengan mengenali hakikat diri dan hal-hal di luar diri, sehingga dalam proses berjalannya bisa lebih baik dan dapat terdeteksi ke ara mana langkah kita. Menuju ke arah yang membinasakan atau justru yang melejitkan diri kita menjadi manusia yang berprestasi. Untuk meraih itu, manusia tidak boleh tetap bersikukuh memegang pemahaman lama, tapi harus mencoba menghasilkan sesuatu yang baru dengan senantiasa pro-aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma “jemput bola” atau pro-aktif ini oleh Dr.Tauhid disebut dengan istilah co-creator. Ia mendefinisikannya sebagai “metode” gabungan antara realitas (kondisi riil) dengan cita-cita (hasrat) dalam rangka menghasilkan kesimpulan atau keputusan sehingga dari sana bisa menghasilkan produk. “Sudah bukan zamannya lagi kita memaksakan bacaan atau buku kepada orang agar dibeli atau dinilai berguna. Karena tiap orang kebutuhan bacanya beda, jadi tak bisa dipaksakan. Karena itu sebaiknya penerbit coba menggunakan metdode co-creator dalam menghasilkan buku bacaan. Yakni dengan melakukan riset kebutuhan pasar dan dari fakta itu redaksi bisa memulai bekerja,” kata doktor lulusan Universitas Sains Malaysia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, banyak point-point penting dikemukakan oleh Dr.Tauhid NA, termasuk tentang buku terbarunya tentang “DNA Rasulullah saw” yang akan diterbitkan Penerbit Salamadani pertengahan tahun ini. Buku Dr.Tauhid NA yang telah diterbitkan Salamadani adalah “Love for All”, “Haram Bikin Seram”, ”Ajaib bin Aneh”, ”Simbol-simbol Shalat”, “Berkawan dengan Malaikat Maut”, “Gelegar Otak”, dan “Jejak Kuliner”. Meskipun dari judul-judulnya tampak sederhana, tapi isinya masih tidak bisa lepas dari nuansa sains (ilmiah). Bahkan, dalam ceramah atau diskusi yang sempat saya hadiri, meskipun tema acara itu membahas philanthropy, tetap saja ada nuansa sainstis. Mungkin sudah menjadi icon dari sosok Dr.Tauhid NA. Karena bernuansa sains, bagi pembaca seperti saya yang kurang memahami dunia sains menjadi sebuah wawasan baru; pencerahan yang menyadarkan tentang pentingnya memahami persoalan dari berbagai perspektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke wacana co-creator. Gagasan tentang co-creator yang dikemukakan Dr.Tauhid NA bukan hal yang baru dalam khazanah filsafat Islam. Sebut saja penyair dan filsuf Muslim modern Muhammad Iqbal. Dalam pemikiran filsafat manusia, Iqbal menjelaskan tentang co-creator. Menurutnya, manusia dalam mengembangkan jati diri (insaniyah) yang berperan sebagai khalifatullah sebenarnya adalah co-creator yang memiliki potensi sama dengan yang dilakukan Tuhan. Namun bukan berarti bahwa manusia itu sama dengan Tuhan. Tapi hanya berperan sebagai pengembang dari ciptaan Tuhan. Contohnya tentang kelahiran manusia baru. Kelahiran bayi (manusia baru) bisa terjadi bila ada hubungan seks antara laki-laki dan perempuan. Aktivitas seks yang hingga membuat hamil istri dan kemudian lahirlah manusia baru ke dunia ini—dalam konsep penciptaan—bisa disebut co-creator; yang maknanya bahwa manusia itu memiliki sifat Creator Tuhan dalam menghasilkan manusia baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa terjadi? Bukankah banyak pasangan suami-istri yang bertahun-tahun menikah tapi belum dikaruniai anak? Jawabannya: belum ada kesatuan kehendak dengan Tuhan. Meskipun manusia bermohon-mohon, bila tidak ada kehendak dari Tuhan tidaklah terjadi. Jadi, konsep co-creator bisa terwujud bila ada kesatuan kehendak: antara keinginan manusia dan keridhaan Ilahi. Sehingga wajar bila umat Islam oleh Rasulullah saw diperintah untuk selalu mendekatkan diri dengan Allah; karena Dia merupakan sumber dari terjadinya alam semesta dan kehidupan manusia. Dia merupakan wujud asal dari semua wujud yang tanpak di alam semesta ini; Dia yang menjadikan segalanya tercipta dan terjadi hanya dengan Kun faya kun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan tentang co-creator ini dalam wacana filsafat kontempor mengalami perkembangan yang mulai mengerucut ke arah filsafat integralisme; yang mencoba menyatukan pengetahuan atau disiplin ilmu-ilmu dalam satu paradigma universal. Di negeri kita, gagasan integralisme ini telah diawali oleh Armahedi Mazhar—guru besar ilmu fisika ITB—yang menulis buku “Filsafat Integralisme” (yang diterbitkan oleh Pustaka ITB dan edisi revisi oleh Mizan); Husein Heriyanto—dosen UI Jakarta—yang menulis buku “Paradigma Holistik” (diterbitkan oleh Teraju); dan pakar filsafat Islam Dr.Mulyadi Kartanegara yang menulis buku “Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik” (diterbitkan oleh Mizan). Dalam buku yang terakhir ini, diulas tentang landasan-landasan untuk menyatukan kembali khazanah ilmu-ilmu agama dan sekular (umum); dengan merujuk klasifikasi ilmu-ilmu dari para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, Mulla Shadra, dan lainnya. Dan kabarnya, wacana co-creator dan integralisme, kini menjadi salah satu disiplin (ilmu) yang diajarkan di pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 23 Januari 2009.e-mail: ahmadsahidin@ymail.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-3946729433724772762?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/3946729433724772762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=3946729433724772762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3946729433724772762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3946729433724772762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/gen.html' title='Gen'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5345391487434936043</id><published>2009-01-23T20:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:25:24.541-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Jihad</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengkritisi Effektifitas Jihad Ke Palestina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh ALINUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kirim berjihad ke Lapindo saja… tidak perlu jauh-jauh sampai Israel… ongkos mahal, kalo ke Lapindo jalan kaki saja bisa sampai… ngirit dana, berani ke Lapindo nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Itulah kata-kata spontan teman saya ketika kami menonton televisi yang menyiarkan ramainya beberapa organisasi Islam di Indonesia membuka pendaftaran untuk berjihad ke Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya, tak lama setelah pasukan Israel menyerang Palestina secara brutal dan menimbulkan banyak korban jiwa diawal tahun baru hijriah, masyarakat Muslim Indonesia langsung bereaksi. Ada dua reaksi keras dari umat Islam Indonesia yang banyak menyita perhatian media massa baik itu televisi maupun koran ketika Israel memulai serangan. Pertama, adanya unjuk perasaan di hampir seluruh kota besar di Indonesia menentang agresi Israel ke Palestina tersebut. Mereka menuntut organisasi dunia Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan juga Amerika untuk mengecam dan memaksa Israel menghentikan agresinya. Unjuk perasaan terbesar adalah yang dilakukan oleh simpatisan dan anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dihadiri lebih dari 200 ribu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota PKS unjuk perasaan di depan kedutaan Amerika Sarikat di Jakarta karena negeri Paman Sam itu dianggap mendukung serangan tersebut. Bahkan Amerika dengan tega memveto resolusi dewan keamanan PBB agar kedua hala mengadakan gencatan senjata (ceasefire).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adanya pembukaan pendaftaran berjihad ke Palestina yang diorganisir oleh beberapa organisasi Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Majlis Mujahidin Indonesia (MMI). Kantor FPI di Jember dan Bandung misalkan didatangi ratusan orang yang siap menjadi relawan untuk dikirim ke Palestina. Begitu juga MMI mendaftar lebih dari 1000 orang dari berbagai kota seperti Solo, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta dan Padang yang siap berjihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja solidaritas yang dilakukan oleh PKS dan organisasi-organisasi Islam di Indonesia itu perlu dihargai dan dibanggakan. Ikatan emosional sebagai Muslim (brotherhood) tentunya telah mendorong mereka untuk merasakan penderitaan saudaranya di Palestina. Dalam sejarah Indonesia, negara-negara Timur Tengah termasuk Palestina adalah negara yang pertama-tama mengakui kemerdekaan nusantara pada tahun 1945. Artinya, situasi Palestina sekarang hampir sama dengan situasi Indonesia diawal kemerdekaan yang memerlukan dukungan di arena politik internasional. Maka wajar kalau rakyat Indonesia sangat prihatin dengan nasib rakyat Palestina sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, selain bangga atas solidaritas kemanusian mereka, ada hal yang perlu dikritisi dan dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus unjuk perasaan PKS, banyak orang yang memuji bahwa PKS adalah satu-satunya partai politik di Indonesia yang berani terjun ke jalan mendukung Palestina. Padahal ada lebih dari empat puluh partai politik di Indonesia yang siap bertanding pada pilihan raya tahun ini. Tapi ada juga yang mengkritisi bahwa PKS hanya memanfaatkan situasi gejolak di Palestina untuk kepentingan politik menjelang pilihan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ratusan ribu anggota dan simpatisan PKS yang melakukan unjuk perasaan banyak yang membawa bendera PKS sambil mengangkat nomor urut PKS dalam pemilu yaitu nomor lapan (8). Komentar negatif bahwa PKS menggunakan isu Palestina untuk kepentingan kampen dibantah oleh presiden PKS Tifatul Sembiring. ”Itu tuduhan tidak benar! Kalau aksi PKS hanya saat ini sahaja, mungkin benar adanya. Tapi perhatikan konsistensi PKS! Ada pilihan raya atau tidak PKS tetap melakukan aksi solidaritas ke Palestina,” ujar Tifatul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tifatul kelihatannya benar karena sejak tahun 2006, PKS sering melakukan unjuk perasaan untuk mendukung Palestina dengan programnya ”One Man One Dollar to Save Palestina”. Dalam unjuk perasaan tahun ini, PKS mengklaim berhasil mengumpulkan uang sebesar 2 milyar rupiah dari para pendukungnya yang siap dikirim untuk membantu Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pendaftaran jihad oleh berbagai organisasi Islam di Indonesia juga perlu dikritisi dan dipertanyakan effektifitasnya. Salah satunya adalah seperti komentar teman saya diawal tulisan ini yaitu bahwa sebaiknya para relawan yang siap berjihad ke Palestina itu perlu berpikir ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tentunya susah mendapatkan ijin dari pemerintah Indonesia dan Israel untuk berangkat ke Gaza, medan pertempuran di Gaza juga perlu diperhatikan oleh para relawan jihad. Janganlah keberangkatan ke Palestine seolah olah membiarkan diri untuk mati konyol karena tidak tahu medan dan tidak tahu cara berperang apalagi tanpa senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, emosi sesaat ingin membantu sesama saudara Muslim di Palestina tanpa perhitungan yang matang adalah kurang baik. Karenanya, setiap solidaritas kemanusiaan baik itu yang dilakukan oleh PKS ataupun organisasi-organisasi Islam seperti HTI, FPI dan MMI perlu dilakukan secara proporsional dan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, kalau PKS peduli dengan masyarakat Palestina yang jauh di Timur Tengah sehingga bisa mengumpulkan uang miliyaran rupiah, PKS juga harus mampu ikut berpartisipasi mengumpulkan dana untuk membantu masyarakat miskin di Indonesia yang ada dalam kesulitan. Kalau alasannya adalah persaudaraan (brotherhood), bukankah persaudaraan sesama warga Indonesia yang jaraknya lebih dekat jauh lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih terasa manfaatnya kalau PKS bisa membantu saudara-saudara sebangsa yang ada di Sidoarjo yang sampai sekarang masih belum bisa keluar dari kesulitan karena musibah lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranikah PKS unjuk perasaan besar-besaran seperti ditunjukan ketika demo Palestina untuk mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan kasus lumpur Lapindo yang berlarut-larut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga semangat berkorban untuk berjihad para sukarelawan (volunteers) dari FPI, HTI dan MMI. Beranikah para relawan itu berjihad di Indonesia dalam bentuk lain seperti ikhlas mengajar tanpa bayaran anak-anak jalanan dan anak miskin yang tidak bisa belajar di bangku sekolah karena tidak mampu membayar iuran? Bukankah mencari dan menyebarkan ilmu pengetahuan kepada mereka yang membutuhkan merupakan bagian dari jihad juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masyarakat Muslim Indonesia dengan suka rela berlomba-lomba mengumpulkan uang sumbangan untuk mengirim obat-obatan ke Palestina, beranikah mereka dengan suka rela mengumpulkan uang untuk membantu sesama warga Indonesia yang miskin, kekurangan gizi, sakit-sakitan dan tidak mampu berobat karena tak ada biaya. Artinya, selain peka terhadap penderitaan saudara Muslim di Palestina, masyarakat yang siap berjihad ke Gaza itu juga harus peka terhadap penderitaan sesama warga Indonesia di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya bukan berarti solidaritas terhadap Palestina yang ditunjukkan oleh PKS dan organisasi-organisasi itu tidak berguna. Hanya saja, mereka juga perlu merenung sejauhmana pengorbanan mereka akan effektif membantu rakyat Palestina. Solidaritas dan semangat untuk membantu rakyat Palestina juga harus ditunjukan dalam membantu sesama warga Indonesia. Janganlah ada kesan bahwa mereka lebih peduli kepada penderitaan orang lain yang jauh di Timur Tengah tetapi tidak peduli dengan penderitaan saudara-saudaranya yang lebih dekat. Janganlah ungkapan penderitaan kuman diseberang lautan (penderitaan rakyat Palestina) kelihatan, sementara penderitaan gajah (sesama warga negara) dipelupuk mata tidak kelihatan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5345391487434936043?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5345391487434936043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5345391487434936043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5345391487434936043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5345391487434936043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/jihad.html' title='Jihad'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-781659871832967033</id><published>2009-01-23T20:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:19:41.696-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>HHM</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Haji Hasan Mustapa, Lokalitas, Spiritualisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh ASEP SALAHUDIN&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Hampir tidak ada yang menyangsikan kebesaran nama Haji Hasan Mustapa dalam tradisi dan budaya Sunda. Haji Hasan Mustapa inilah yang pada hari Rabu tanggal 21 Januari 2009 dalam sebuah seminar dikaji di al-Jamiah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung atas kerja sama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Monash University, dan Pusat Studi Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Haji Hasan Mustapa disebut-sebut sebagai The Great Sundanese Mystic (Seorang Sufi Besar Sunda). Ajip Rosidi mendeskripsikannya sebagai mistikus dan filsuf Islam yang hanya dapat dihitung dan berkembang di lingkungan yang mengenal jiwa dan kebudayaan Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian Haji Hasan Mustapa sangat luas membentang mulai persoalan tasawuf sampai etnografi Sunda. Tema-tema yang dibahasnya dielaborasi dengan perenungan mendalam dan dibalut dengan gaya ungkap metaforis sehingga seringkali memberikan ruang bagi pemaknaan yang beragam di samping kemungkinan untuk diapresiasi dengan salah paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Haji Hasan Mustapa, tradisi bukan sebagai sesuatu yang statis, namun benar-benar dihidupkan kembali dengan muatan makna baru termasuk tradisi keislaman. Ketika cerita Hariang Banga, Ciung Wanara, Sunan Ambu, Prabu Siliwangi, Ratu Galuh, Dayang Sumbi dikedepankan, ada muatan makna religiositas lokal yang mencuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pribumisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya pada 1980-an, Abdurrahman Wahid pertama kali melontarkan gagasan pribumisasi Islam yang menggambarkan bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing sehingga tidak perlu lagi ada yang namanya agenda pemurnian Islam atau proses menyamakan dengan praktik keagamaan masyarakat Muslim di Timur Tengah, maka sesunggunya kalau kita cermati jauh sebelum itu kesadaran yang sama telah tumbuh dalam jiwa Haji Hasan Mustapa tentu saja dengan ideom yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana misalnya, Haji Hasan Mustapa menegaskan tentang keniscayaan Islam berdialog secara kreatif dengan tradisi lokal (Sunda). Ketika Islam datang ke tatar Pasundan, kedatangannya itu tidak identik dengan proses peminggiran terhadap budaya lokal yang sudah hidup ratusan tahun lamanya, tetapi justru harus mengakomodasi budaya yang hidup. Dalam ungkapannya yang menarik, "Baheula ku basa Sunda ahirna ku basa Arab. Jadi kaula nyundakeun Arab nguyang ka Arab, ngarabkeun Sunda tina Basa Arab." Dalam pemaknaan Islam pribumi, Islam dibebaskan dari puritanisme, radikalisme, dan segala bentuk pemurnian Islam dan pada saat yang sama kearifan lokal tetap terjaga tanpa menghilangkan identitas normatif Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kreatif mengawinkan Islam dengan budaya lokal inilah yang seringkali menimbulkan salah pengertian bahkan ketegangan di antara para ulama, apalagi Islam yang dikembangkan Haji Hasan Mustapa bukanlah Islam eksoteris (fikih), namun Islam esoteris (tasawuf). Ia kerap dituduh sebagai zindik dan kapir seperti dalam pengakuannya: beja majarkeun kaula//geus leungit elmuning santri//geus ngaruksakeun agama//jadi kapir jadi zindik//zindikna jadi mungkir//kana tutur lampah rasul//kana salat puasa//ana malik kula nyeuri//kahuruan ngajawab jeung handuruan. Namun akhirnya, Haji Hasan Mustapa sebagai seorang pemikir soliter hanya cukup mengapresiasi ketidaksetujuan ulama lainnya itu dengan ungkapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiwari tacan arusum&lt;br /&gt;Nepi kana pamake kami&lt;br /&gt;Heulaanan kuring mundur deui&lt;br /&gt;Tacan tega ka barudak urang&lt;br /&gt;Basana serab pangilo&lt;br /&gt;Sapedah kula kitu&lt;br /&gt;Matak risi nu sisip budi&lt;br /&gt;Budi daya kula&lt;br /&gt;Geus tepi ka kitu&lt;br /&gt;Dongkap ka masyaallohna&lt;br /&gt;Kajen teuing hararemeng galih&lt;br /&gt;Moal matak doraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ia juga dengan atraktif menyerukan kepada alim ulama dan para khatib untuk setia dan terus berkhutbah dan berceramah dengan menggunakan media bahasa Sunda sebelum dua tahun yang lalu Ajip Rosidi menegaskan bahwa agama adalah rasa dan yang paling efektif untuk menyampaikannya adalah dengan bahasa rasa (bahasa Sunda) sehingga tidak perlu khatib ceramah memakai bahasa Melayu jika tidak justru mereka ikut ambil bagian dalam proses sakratulmautnya bahasa Sunda. Haji Hasan Mustapa menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;""Pondokna wae, ngawalatrakeun pangaji Kuranul Adim, Alloh jeung para Nabina sing walatra kahartina kasurtina, sugan sabasa-sabasana. Jadi diurangna pangheulana hutbah mending ku basa Sunda. Barangtangtu panglaerna jampe wudu, jampe adus, telikin ku basa Sunda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia kosmopolit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedalaman perenungan keagamaan Haji Hasan Mustapa sedikit banyak dipengaruhi oleh track record dirinya yang cukup tuntas mendalami ilmu-ilmu agama mulai dari fikih, nahwu, sharaf, tauhid, sampai tasawuf. Belajar tidak hanya di nusantara kepada Kiai Haji Hasan Basri (Kiara Koneng, Garut), Kiai Haji Yahya (Garut), Kiai Abdul Hasan (Tanjungsari, Sumedang), Kiai Muhamad (Cibunut Garut), Muhamad Ijra`I (murid Kiai Abdulkadir, Dasarema, Surabaya) dan Kiai Khalil (Bangkalan, Madura), namun sampai ke luar negeri ke Syekh Muhammad, Syeh Abdulhamid, Syeh Ali Rahbani, Syeh Umar Sani, Syeh Mustomal Afifi, Sayid Bakir, dan Sayid Abdul Janawi yang ada di Mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Hasan Mustapa pada sisi lain, juga merupakan cermin manusia kosmopolit yang tidak kehilangan jati diri kesundaannya. Ia tuntas memahami kultur Sunda, Arab, dan juga kultur lainnya seperti Jawa dan Madura. Tiga yang terakhir itu dilakukan ketika melakukan lawatan budaya secara intens bersama karibnya tahun 1889 Snouck Hurgronye keliling Jawa dan Madura seperti didokumentasikannya dalam Aantekeningen over Islam en Volklore in West en Midden Java.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan pengalaman ini pada gilirannya telah membentuk Haji Hasan Mustapa menjadi pribadi yang toleran, bijak, dan selalu berpikir dengan paradigma ragam banyak kemungkinan. Paradigma seperti ini yang dengan penuh kesadaran, membuat Haji Hasan Mustapa lebih tertarik untuk mengemas pemahamannya dalam bentuk dangding dan guguritan di samping dialog imajinatif yang cerdas dan jenaka. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEP SALAHUDIN, Pemerhati kebudayaan Sunda, mahasiswa doktoral Unpad Bandung. {Pikiran Rakyat, 24 Januari 2009]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-781659871832967033?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/781659871832967033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=781659871832967033' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/781659871832967033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/781659871832967033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/hhm.html' title='HHM'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-8481423513009095104</id><published>2009-01-23T20:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T20:17:12.980-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Tokoh</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tokoh Yang Bukan Pahlawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh JULIAN MILLIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA naik taksi ke Cibiru. Waktu itu tinggal beberapa hari lagi sebelum saya dan teman-teman menyelenggarakan semiloka bertema "Haji Hasan Mustapa, Dulu dan Kini". Begitu mobil masuk ke Jalan P.H.H. Mustapa, saya tergerak untuk bertanya kepada pak sopir tentang tokoh yang namanya diabadikan jadi nama jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Pak, saha P.H.H. Mustapa téh?’ tanya saya mencoba menggali pengetahuan warga Bandung mengenai ulama dari Garut yang meninggal pada 1930 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eta mah pahlawan ti Pesantren Cipasung, Tasikmalaya," jawab Pak Sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu, walaupun tidak betul secara faktual, memang bisa dimengerti. Pesantren, pahlawan, dan ulama adalah tiga konsep yang menonjol dalam ingatan sejarah (historical memory) Ki Sunda. Selain itu, masyarakat modern suka menamai jalan dan tempat umum lainnya dengan nama-nama tokoh dan pahlawan yang berjasa dalam perjuangan Republik Indonesia. Jawaban sopir tadi selaras dengan kebiasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jawaban itu menimbulkan pertanyaan menarik tentang Haji Hasan Mustapa, bagaimana penyair mistik itu diperingati dalam peringatan sejarah Ki Sunda? Apakah ada saat-saat dalam kehidupan sehari-hari ketika Ki Sunda sempat mengingat Penghulu Bandung itu? Dengan cara-cara apa Ki Sunda memperingatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya menjadi lebih jelas apabila Hasan Mustapa dibandingkan dengan ulama-ulama lain yang seangkatan dengan beliau. Misalnya, K.H. Hasyim Asy’ari, ulama terkenal dari Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur (1871-1947). Dia diperingati dengan beberapa cara di berbagai lingkungan sosial. Sebagai kiai, dia diperingati dalam acara haul, yang dilaksanakan komunitas pesantren pada tanggal kematian sang kiai. Sebagai salah seorang pendiri ormas Islam, Nahdlatul Ulama, dia diperingati oleh sekian banyak pengikut organisasi raksasa itu. Sebagai pahlawan nasional, dia sudah dinobati dengan ketetapan pemerintah sebagai pengakuan terhadap fatwa-fatwanya yang melawan pemerintah penjajah, serta diberi tempat di Museum Pahlawan Nasional. Sebagai penulis dan ulama, dia juga diperingati melalui munculnya edisi baru dari beberapa tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasyim Asy’ari sampai sekarang masih diberi arti dalam masyarakat sekarang oleh beberapa komunitas. Lain halnya dengan Hasan Mustapa. Sulit mengakui ulama ini sebagai pahlawan. Dia bekerja dalam pemerintah penjajah sebagai penghulu dan menjadi sahabat sekaligus asisten Christian Snouck-Hurgronje, yang ketika itu menjabat sebagai "penasihat pemerintah dalam urusan pribumi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tidak seperti Hasyim Asy’ari yang masih diperingati oleh komunitas pesantren dalam acara-acara keagamaan, tidak ada komunitas yang membina serta mengkaji gagasan-gagasan keagamaan Hasan Mustapa. Pernah ada golongan elite yang memandang karya-karyanya sebagai ajaran-ajaran, yaitu Galih Pakuan, yang dipimpin oleh Wangsaatmadja, mantan sekretaris Mustapa. Grup itu bubar pada 1960-an. Dengan demikian, peringatan atas Mustapa berada jauh di bawah Asy’ari dalam skala dan frekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Mustapa diberi arti besar dalam bentuk peringatan tersendiri, yaitu penelitian akademis. Ada beberapa penelitian penting mengenai tokoh ini dan karya-karyanya (termasuk oleh R.A. Kern, Ajip Rosidi, Tini Kartini, dkk.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan bentuk peringatan ini, dalam pengamatan saya, ada dua hal yang menjadi motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, warisan tulisan-tulisan luar biasa. Ditilik dari segi kecanggihan puisinya dan pemakaian lambang-lambang Islam yang kreatif, baik dari khazanah Islam Arab maupun dari tradisi lokal, sulit ditemukan bandingnya dalam sejarah kesusastraan Indonesia (mungkin ada satu kekecualian, yaitu pada karya penyair mistik asal Barus, Hamsah Fansuri). Warisan itulah yang menarik perhatian peneliti-peneliti dan penggemar-penggemar sastra Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, nilai kedaerahan. Kaum akademis Sunda menempatkan tulisan-tulisan Mustapa sebagai warisan yang bernilai sebagai sumber untuk diketahuinya inti kebudayaan Sunda (Inggris: patrimony). Dengan demikian, penting sekali tulisan-tulisan itu dikaji dan disebarkan dalam lingkungan masyarakat Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain peringatan dalam bentuk penelitian, ada juga fenomena baru yang bisa memperkenalkan tokoh Sunda ini kepada khalayak yang lebih luas. Pemikir muda Sunda Asep Salahudin sengaja memakai tulisan-tulisan Mustapa sebagai bahan pemikiran dalam perang wacana yang sedang diterbitkan dalam media zaman sekarang. Sebagai contoh, dia mengutip beberapa bait dangding Mustapa untuk mendukung sudut pandangnya mengenai kurang banyaknya urang Sunda yang berjabatan tinggi di atas panggung politik nasional ("PR", 17/01/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan contoh ini, tampaknya sangat mungkin generasi sekarang dan masa depan memaknai Haji Hasan Mustapa dengan cara-cara yang tidak bisa kita bayangkan sebelumnya. Walau dalam beberapa segi peringatan dia tidak seperti Hasyim Asy’ari, terutama dari segi kepahlawanannya, daftar cara-cara peringatan Hasan Mustapa belum tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memakai penelitian tentang beliau yang sudah digarap oleh angkatan sebelumnya, tokoh yang menarik ini bisa diperingati oleh angkatan muda sesuai dengan kemampuan dan prestasinya. Setidaknya, itulah yang terpikir oleh saya sewaktu naik taksi.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JULIAN MILLIE, Dosen dan peneliti dari Universitas Monash, Melbourne, Australia. [Pikiran Rakyat, 24 Januari 2009]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-8481423513009095104?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/8481423513009095104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=8481423513009095104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8481423513009095104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8481423513009095104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/tokoh.html' title='Tokoh'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-2902517052549731500</id><published>2009-01-23T20:13:00.001-08:00</published><updated>2009-01-23T20:23:04.118-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Sastra</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastrawan Sunda dan Perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh ATEP KURNIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perempuan digambarkan atau direpresentasikan oleh sastrawan Sunda? Novel Sunda sebelum Perang Dunia II, umumnya menggambarkan tokoh-tokoh perempuan yang malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Novel Sunda pertama yang memulainya. Ya, Baruang ka nu Ngarora (1914) karya D.K. Ardiwinata menampilkan Rapiah. Ia digambarkan sebagai perempuan tidak teguh pendirian. Ia berupaya mengikatkan dirinya pada laki-laki berstatus menak, Aom Kusman. Yang ekstrem, bahkan ia rela diperlakukan sewenang-wenang oleh suaminya yang bergelar raden itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawacan Rusiah nu Geulis (1921) karya R. Candapraja pun demikian. Tokoh Raden Ayu Lasmana, akhirnya, digambarkan bunuh diri karena tidak kuat berumah tangga dengan saudagar Arab, Sayid Abu Bakar bin Ma`ruf, yang tidak membolehkannya keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel karya Yuhana pun menggambarkan perempuan. Pertama, Eulis Acih (1925): Eulis Acih jatuh cinta kepada Arsad. Mereka melarikan diri, tetapi setelah harta bawaan Eulis Acih habis, ia diusir oleh Arsad. Eulis Acih kemudian melahirkan seorang anak, Sukria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Mugiri (1928): Neng Rahmah melarikan diri dengan Gan Adung. Mereka tidak direstui sebab menurut orang tua Neng Rahmah, Gan Adung laki-laki hidung belang dan suka memeras perempuan yang mencintainya. Neng Rahmah hamil. Ketika kandungannya membesar, ia diusir Gan Adung, dengan menuduhnya serong dengan laki-laki lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Kalepatan Putra Dosana Ibu-Rama (1928): Hadijah dinikahkan kepada Haji Saleh, dengan cara ditipu oleh orang tuanya. Padahal ia telah berpacaran dengan Mahmud. Setelah Hadijah menikah, Mahmud suka bermain perempuan dan berjudi. Bahkan karena itu, ia menculik Hadijah. Mereka kumpul kebo. Ketika sudah bosan, Mahmud mengusir Hadijah. Hadijah terpaksa kembali ke rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHKAN, di era itu ada beberapa novel Sunda yang menggambarkan keterpaksaan perempuan menjadi nyai-nyai. Dalam Siti Rayati (1923) karya Moh. Sanusi, Patimah, tukang petik teh di perkebunan Ragasirna, diperkosa oleh si galak Tuan Steenhart. Patimah pun hamil. Namun ketika ia minta dijadikan nyai-nyai, Steenhart malah mengusirnya dan menendangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S.H. Kartapradja juga menyajikan cerita nyai-nyai. Dalam Carita Nyi Suhaesih (1928): Nyi Suhaesih sering bertengkar dengan suaminya yang berhenti bekerja karena ada perampingan. Ia pun terbujuk oleh orang yang hendak menjadikannya nyai-nyai Belanda di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Nyi Aminah dalam Carios Istri Sajati (1929) karya Moehamad Moekhtar, hampir saja jadi nyai-nyai. Setelah disia-siakan oleh suami keduanya, ia hampir terbujuk oleh orang yang akan menjualnya kepada seorang tuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ada satu novel dari era ini, yang berbeda dengan novel-novel di atas. Itulah Lain Eta (1932), buah tangan Moh. Ambri. Novel ini mulai memperlihatkan perlawanan perempuan atas otoritas kaum laki-laki, meski dikarang laki-laki dan juga pada akhirnya ada bias gender di sana. Neng Eha, tokoh perempuan dalam novel tersebut, semula menuruti kehendak ayahnya untuk menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya. Tetapi sesudah menikah, ia tidak menjalani perannya sebagai istri yang baik, sesuai dengan adat. Ia bahkan meninggalkan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Indonesia merdeka, nasib perempuan di tangan sastrawan Sunda pun tampak tidak beranjak. Dalam Sripanggung (1963), Caraka menggambarkan Empat yang kabur dari perkebunan karena hendak diperkosa oleh pegawai berbangsa Belanda. Kemudian ia ikut sandiwara keliling, sebagai sripanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yus Rusamsi menulis Randa Bengsrat (1965) dan Dedeh (1966). Dalam Randa Bengsrat, Esih memilih bercerai dengan suami pilihannya, Udi, karena terpengaruh pemikiran saudara sepupunya, Ikah. Ia terpengaruh ide kemandirian perempuan. Meski pada akhirnya, ia pun jatuh cinta dan hamil di luar nikah oleh kekasihnya, Alex Kohar. Yang agak lain adalah Pipisahan (1977), karya Rahmatullah Ading Affandie (RAF). Tokoh Emin diceraikan atas permintaan ayah suaminya. Emin tak menolaknya. Setelah menjanda, ia berjuang menghidupi anak-anaknya dengan usaha menjahit pakaian. Pikirannya tertuju pada membesarkan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam roman Ngabuang Maneh (1979), Ki Umbara di antaranya menceritakan Gilang (seorang gadis perawat asal Kuningan). Karena kakaknya berbuat tidak senonoh terhadap seorang gadis, Gilang pun merasa malu dan memilih membuang diri ke tanah seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada Asmaramurka jeung Bedog Si Rajapati (1987) karya Ahmad Bakri. Dalam novel tersebut, Nonoh yang dinikahkan dengan pria pilihan orang tuanya, berselingkuh dengan laki-laki lain. Dan di akhir kisah digambarkan, Nonoh harus menanggung malu karena hamil, masuk bui karena terlibat pembunuhan, dan akhirnya gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, bagaimana perempuan ditampilkan oleh sastrawan Sunda kini? Bila membaca tulisan Teddi AN Muhtadin, "Tubuh, Erotisme, dan `Kompleks Cinta Romantis`: Penggambaran Seksualitas Perempuan dalam Lima Novel Sunda karya Pengarang Pria" (dalam Seks, Teks, Konteks, 2004: 152-179), tampak tidak juga beranjak nasib perempuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan tersebut, dari lima novel yang dibahas, Teddi menampilkan dua novel kontemporer yang dikarang sastrawan Sunda: Galuring Gending (2001) karya Tatang Sumarsono dan Panganten (2004) karya Deden Abdul Aziz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galuring Gending bercerita tentang percintaan antara Sarah dan Panji. Sarah adalah penari dan Panji mahasiswa-aktivis. Suatu kali Sarah "diperkosa" oleh Um Sar, ketika mengadakan pertunjukan di luar negeri. Sejak saat itu ia jadi simpanan beberapa laki-laki. Kemudian sejak kejadian di salah satu diskotek dan ditolong oleh Panji, Sarah pun jadi kekasih Panji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teddi mencatat dua ketimpangan hal setelah membaca buku ini. Pertama, ia menilai bahwa fokalisator ekstern melihat Sarah hanya pada tubuhnya. Sedangkan pencerita intern dan fokalisator intern Sarah terhadap Panji adalah kepintaran, keperayuan, dan kejujurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Teddi mencatat bahwa sebenarnya dari sisi Sarah, Galuring Gending menampilkan masalah keperawanan beserta konsekuensi-konsekuensinya, terutama ketika rusak sebelum waktunya (hal. 172-173).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Panganten menampilkan Rinrin yang selalu dibayangi kematian teman curhatnya, Gumilang. Bahkan, Rinrin limbung. Hingga akhirnya ia mengakhiri hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi penderitaan perempuan. Dari pembacaan Teddi, "seksualitas Rinrin (perempuan)," ia nilai, "sangat ditentukan oleh orientasinya kepada Gumilang (laki-laki). Betapa berkuasanya laki-laki. Ia masih bisa mengontrol diri Rinrin bahkan ketika ia tidak hadir (misalnya karena sudah meninggal)." Dengan demikian, dari sisi gender, "Panganten tidak memberikan jalan keluar atas dominasi laki-laki, selain malah mengukuhkannya." (hal. 174-175).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita dapat dari beberapa bacaan di atas? Tidakkah dari dulu hingga kini, perempuan menderita di tangan sastrawan Sunda?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATEP KURNIA Penulis lepas, tinggal di Bandung. [PR, 24 Januari 2009]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-2902517052549731500?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/2902517052549731500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=2902517052549731500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/2902517052549731500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/2902517052549731500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/sastra.html' title='Sastra'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-9169194221825243591</id><published>2009-01-21T18:44:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T18:45:00.160-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Mustapa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P.H.H. Mustapa, Pemikir Islam yang Terlupakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"BAPAK tahu siapa Penghulu Haji Hasan (PHH) Mustapa?" tanya Dr. Jullian P. Millie kepada sopir taksi yang duduk di sebelahnya, saat taksi yang ditumpanginya memasuki kawasan jalan tersebut. Dengan amat meyakinkan, sopir taksi menjawab, "Eta mah pahlawan ti Pasantren Cipasung, Tasikmalaya!" Jawaban itu tentu saja salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Petikan percakapan tersebut disampaikan Indonesianis asal Australia Dr. Jullian P. Millie dalam acara "Mesek Karya-karya Haji Hasan Mustapa", yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Sunda bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung dan Monash University, Australia, Rabu (21/01) di aula Al Jami’ah UIN SGD, Jln. A.H. Nasution No. 105, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban sopir taksi yang salah itu, menunjukkan bahwa P.H.H. Mustapa tidak begitu dikenal oleh masyarakat Sunda pada umumnya. P.H.H. Mustapa hanya dikenal dan diperbincangkan di bangku-bangku akademi, baik di dalam maupun di luar negeri. Sebagian besar karya-karyanya yang berbentuk manuskrip, yang ditulisnya dalam rumpaka dangding itu tersimpan di Universitas Leiden, Belanda. Sebagian besar manuskripnya itu ditulis dalam hurup pegon (hurup Arab-Sunda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan intelektual di tatar Sunda pada zamannya, P.H.H. Mustapa tidak hanya dikenal sebagai penyair atau pujangga, tetapi juga dikenal sebagai pemikir Islam dan sebagai ahli hukum dalam bidang agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwa dalam sejarah hidupnya P.H.H. Mustapa bekerja pada Belanda, yang pada masa itu disebut sebagai masa perjuangan, tidak masalah. Hal itu tidak mengecilkan arti P.H.H. Mustapa sebagai penyair besar Sunda yang hingga kini belum ada tandingannya. Puisi-puisi yang ditulisnya sarat dengan renungan filosofis, kaya dengan nuansa mistik Islam. Selain itu, P.H.H. Mustapa sangat pandai mencipta idiom baru dengan cara antara lain ngadumaniskeun kosa kata Arab dengan kosa kata Sunda," ujar Hawe Setiawan, salah seorang pembicara dalam acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Hawe dan Jullian, pembicara lainnya adalah Mukhlas, Gibson Al Bustomi, Ruhaliah, dan Alfathri Adlin. Acara tersebut dibuka oleh Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. Nanat Fatah Natsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanat Fatah Natsir mengatakan, membaca kembali karya-karya P.H.H. Mustapa menjadi penting dewasa ini, karena apa yang ditulisnya baik dalam bentuk dangding maupun dalam bentuk prosa, mengandung nilai-nilai yang tinggi untuk diapresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"P.H.H. Mustapa mampu menjabarkan nilai-nilai keislaman dan kesundaan dengan jernih. Untuk itu, tak aneh kalau karya-karya yang ditulisnya hingga kini masih jadi bahan kajian, baik di dalam maupun di luar negeri," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.H.H. Mustapa adalah orang besar pada zamannya. Karya-karya yang ditulisnya banyak mengungkap renungan religius. Pengalaman mistik dalam menghayati keislamannya itu lebih banyak ditulis dalam bentuk dangding. Salah satu petikan dangding-nya yang mengungkap persoalan tersebut seperti petikan di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;la ilaha illahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pokpokan nu beurat lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ilallah nu beurat enya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahu meh taya lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hu bitu ngan kari enya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hakeki ngan kari budi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayangnya, karya-karya P.H.H. Mustapa yang demikian itu, masih banyak yang belum dialihbahasakan ke dalam huruf latin. Seluruh karya P.H.H. Mustapa yang ada di Leiden itu sebagian besar masih ditulis dalam huruf pegon. Saya sendiri saat ini tengah mengalihbahasakan dangding P.H.H. Mustapa dari dua manuskrip yang dipinjam dari Kang Ajip Rosidi dalam bentuk mikrofilm," ungkap Dr. Ruhaliah, M. Hum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.H.H. Mustapa memasuki dunia proses kreatif sebagai penulis, justru dimulai bukan dalam usia muda. Akan tetapi dimulainya pada usia tua, yakni ketika memasuki usia 47 tahun. Selain itu, naskah-naskah yang ditulisnya pun hanya diketahui oleh masyarakat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyanya yang pertama yang ditulis tahun 1899 adalah Aji Wiwitan Gelaran, sedangkan yang terakhir Aji Wiwitan Aji Saka II jilid ke-14, yang ditulis tahun 1929. Dalam kariernya sebagai penulis dangding, P.H.H. Mustapa berhasil menulis lebih dari 10.000 bait dangding, suatu prestasi yang luar biasa. (Soni Farid Maulana/"PR")&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-9169194221825243591?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/9169194221825243591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=9169194221825243591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/9169194221825243591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/9169194221825243591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/mustapa.html' title='Mustapa'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-8692239005386352056</id><published>2009-01-21T18:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T18:41:48.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Kamar</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sajak Mikoalonso&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kamar Malaikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah dinding neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penuh cat  darah dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembok kusam yang menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun kalian dilarang menginap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan kencing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar tunggu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para malaikat itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pulang dari bioskop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mikoalonso, Bandung, 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-8692239005386352056?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/8692239005386352056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=8692239005386352056' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8692239005386352056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8692239005386352056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/kamar.html' title='Kamar'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-7759514690813066398</id><published>2009-01-21T18:37:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T18:38:32.525-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jati Diri Hidup dari seorang Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh MYRNA NUR SAKINAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari jati diri hidup merupakan salah satu tujuan dari kebanyakan tujuan Mahasiswa. Ketika seseorang telah memasuki Dunia Kampus yang merupakan dunia baru bagi mereka-mereka setelah mereka duduk di bangku SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Itulah kenyataannya, banyak berbagai fenomena yang dialami oleh Mahasisiwa sendiri ketika dalam masa pembelajaran masa perkuliahan. Banayak kendala dan cobaan yang datang mendadak ketika kita menuju masa taraf hidup kedewasaan. Masing-masing orang yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda mencerminkan dirinya yang hidup di tengah-tengah khalayak masyarakat. Melalui tingkat pendidikan, bagaimana dia bersosialisasi, belajar dan bekerjalah yang dapat membedakan Mahasiswa  yang satu dengan Mahasiswa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam pendidikan Mahasiswa sangat memerlukan fasilitas yang memadai yang mendukung masa perkuliahannya. Ketika dia mempraktekan teori yang didapatkannya, dia pun juga harus mampu untuk mengaplikasikannya kepada orang lain. Mahasiswa dituntut agar mampu untuk menjelaskannya kepada orang lain atas pendidikan yang dia dapatkan. Disinilah kita menemukan keanekaragaman yang dimiliki oleh tiap Mahasisiwa. Ada yang mempraktekannya secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat dicontohkan ketika seorang Mahasiswa barada di dalam pembelajaran akademik yang dilakukan didalam masa perkuliahannya. Mengerjakan tugas, membaca, mencari sumber lain yang dijadikan sebagai acuan untuk pendidikan. Secara tidak langsung dapat dicontohkan ketika seseorang melakukan diskusi dengan siapapun tentang dunia pendidikan ketika mereka  ada dimanapun. Ketika di warung, café, warnet, dan tempat-tempat lainnya yang selalu dijadikan tempat mereka kunpul dan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampu untuk Hidup bersosialisasi dengan yang lainnya merupakan salah satu kebanyakan tujuan Mahasiswa. Ada empat karakter yang dimiliki Mahasiswa bahkan metode tiap orang pun berbeda-beda dalam menjalani bagaimana ia dapat hidup bersosialisasi.Pertama, Mahasiswa yang mengetahui tentang teori dan langsung mengaplikasikannya dengan yang lain. Kedua, Mahasiswa yang tidak tahu akan teori-teori bersosialisasi namun mampu untuk mengaplikasikannya dengan yang lain. Ketiga. Mahasiswa yang tahu tentang teorinya namun tidak dapat mengaplikasikannya. Keempat, Mahasiswa yang samasekali tidak tahu teori dan tidak mengaplikasikannya. Namun jenis yang keempat ini jarang ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dan bekerja dapat membedakan Mahasiswa yang satu dengan lainnya. Tingkat inilah yang menjadi acuan pertama dalam masa pembelajaran. Seseorang yang sungguh-sungguh dengan belajar dan bekerjanya akan sangat berbeda dengan orang yang selalu nyantai ataupun menyepelekannya(tidak perduli dengan apa yang terjadi). Bahkan berdasarkan survey, Mahasiswa berasumsi dengan belajar dan bekerjalah kita dapat menemukan jati diri kita. Siapa kita, dimana kita belajar dan bekerja, mengapa kita belajar dan bekerja, kapan kita belajar dan bekerja, untuk siapa kita belajar, apa yang kita pelajari. Namun itulah kenyataannya, segala apapun membutuhkan prosesnya tersendiri. Di dalam proses inilah mahasiswa dituntut agar selalu bersabar dan berdo’a dalam menjalani apapun dan selalu ada dalam jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara yang berbeda-beda setiap orang mempunyai karakter dan khasnya masing-masing dalam upaya pencarian jati hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis  Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-7759514690813066398?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/7759514690813066398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=7759514690813066398' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7759514690813066398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7759514690813066398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/hidup.html' title='Hidup'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-3688757067829598824</id><published>2009-01-12T18:37:00.000-08:00</published><updated>2009-01-12T18:39:25.347-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Etika</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adabul Ikhtilaf : Etika Berbeda Pendapat*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (Al Ahzab : 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Difference is one of existential  feature or characteristic oh creture, specially man kind. The characteritic wich substantially differ bitween the creature as an finite formed with God, The One and The Only.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dan adanya perbedaan merupakan salah satu ciri eksistensial dari makhluk, secara spesifik manusia. Karakteristik yang secara substansial membedakan antara makhluk sebagai wujud yang berbilang dengan Allah Yang Maha Esa. Masyarakat manusia hidup dan menjalani kehidupannya berdasarkan azas perbedaan itu. Interaksi sosial antar sesama manusia, selain didasarkan pada sejumlah kesamaan, tetapi juga secara mendasar didasarkan pada sejumlah perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dua sikap individu dan masyarakat terhadap perbedaan-perbedaan itu, dan sikap ini cenderung bersifat ambivalent (ada secara bersamaan dan saling bertentangan). Satu sisi menerima kenyataan bahwa manusia itu berbeda-beda, tapi di sisi lain dalam waktu bersamaan, manusia cenderung merasa tidak nyaman dengan adanya perbedaan-perbedaan itu. Kadang lebih dari itu, manusia cenderung marasa terancam dengan adanya perbedaan-perbedaan itu. Dalam kehidupan manusia, perbedaan adalah fakta yang bersifat mutlak (faktisitas), sedang kesamaan dan kebersamaan adalah sebuah kemungkinan harus diupayakan dan cendeung bersifat utopis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif psikologi dan psiko-analisa, sikap agresi pada manusia merupakan suatu fakta instingtif yang mengalir yang tidak selalu merupakan hasil dari rangsangan luar. Manusia hanya mencari dan memilih kanal untuk mengekpresikan kecenderungan agresi tersebut. Dengan kata lain, agresi bukanlah suatu reaksi seorang individu manusia terhadap stimuli (rangsangan) dari luar, melainkan rangsangan dalam yang sudah “terpasang” yang mencari pelampiasan dan akan terekspresikan melalui kanal rangsangan yang kecil sekalipun. Kanal itu hanyalah sekedar pijakan dalam membangaun alasan untuk menjadikan ekpresi agresi itu menjadi syah secara sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat untuk menaklukan merupakan hasrat yang ada secara inheren pada diri manusia. Hasrat yang semakin menemukan bentuk dan kekuatannya kita dan mendapatkan ruang serta pasilitas untuk mengekpresikan dan mengaktualisasikannya. Menaklukan, secara implisit memiliki makna menguasai, memiliki dan menghancurkan. Dan menaklukan (eksternal) juga, dalam perspektif filsafat eksistensialisme, memiliki makna egosentik. Diri sebagai pusat segala hal. Suatu sikap dan prinsip yang (dalam perspeksif eksistensislime tertentu) dianggap sebagai untuk yang akan melenyapkan eksistensi manusia karena pada saat itu manusia melepas dan menafikan relasi sebagai pondasi dasar bagi aktualisasi eksistensi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita mengingat kata-kata yang disampaikan para Malaikat pada saat penobatan Adam (manusia) sebagai pengeman amanat kekhilafahan, yaitu bahwa manusia sebagai agressor (senang menumpahkan darah), tampaknya ada benarnya. Kemudian, apakah kehadiran agama dimaksudkan sebagai entitas untuk menetralisir dan mengikis kecenderungan agresi tersebut, atau sebagai kanal dan justifikasi bagi aktualisasi karakter instingtif tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Geneologi Adabul Ikhtilaf dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Islam ke muka bumi di tangan Rasulullah Muhammad saw. telah dengan sendirinya membawa sesuatu yang berbeda, dan karenanya kehadirannya menuai pertentangan dan perlawanan dari masyakatnya. Padahal, apa yang disampaikan oleh Rasulullah pada saat itu bukan merupakan ajaran yang benar­-benar asing bagi masyarakat Quraisy, bahkan harus dikatakan sebagai ajaran yang berakar dari ajaran nenek moyang “pemilik” tempat suci di jazirah Arab, yaitu Nabi Ibrahim dan Ismail yang “mewariskan” tempat suci Ka’bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat berbagai jenis perlawanan yang dilakukan masyarakat, khususnya Quraisy. Diantaranya dalam bentuk bantahan dan penolakan karena ajaran yang dibawa Rasulullah itu akan membawa efek perubahnya struktur dan infra-struktur masyarakat; dan itu tentunya akan sangat “meresahkan” masyarakat. Dan untuk itu, Rasulullah saw. membuka dialog terbuka dengan menghadirkan para pemuka Quraisy. Dan secara umum dialog itu gagal. Kegagalan itu, pada dasarnya bukan terletak pada “ketidakpercayaan” mereka terhadap integritas kepribadian Rasulullah, karena Rasulullah sangat dikenal sebagai individu yang memiliki kejujuran yang jarang ditemukan bandingannya (al-amin). Akan tetapi lebih pada kekhawatiran akan perubahan­perubahan pada struktur sosial serta masalah kedudukan dan peran-peran sosial. Struktur sosial-kultural yang merujuk pada sitem keyakinan yang telah sekian lama hidup, dan telah “mengalami perubahan”, lama setelah ditinggal nenek moyangnya, Ibrhim dan Ismail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para pengikut Rasulullah mayoritas dari kelompok masyarakat kelas bawah, bahkan tidak sedikit dari kelas sosial ‘abid mulai banyak yang mengikuti Rasulullah, maka tekanan tersebut semakin meningkat pada tindak anarkis dan kekerasan dalam bentuk penyiksaan-­penyiksaan. Ketika itulah ada upaya Rasulullah untuk menghijrahkan para sahabatnya dan memina perlindungan dari Raja Ethiophia. Semakin lama tekanan kepada Rasulullah dan para sahabatnya semakin kuat dan gencar. Dan, pada titik kulminasi muncul upaya pembunuhan bukan hanya terhadap para sahabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasullah, bahkan terhadap Rasulullah sendiri. Bahkan lebih dari itu, diadakan semacam sayembara untuk melakukan pembunuhan terhadap Rasulullah dengan hadiah dan imbalan yang sangat menggiurkan. Pengejaran terhadap Rasulullah pada akhirnya secara syah dilegalkan. Hanya karena Kekuasaan dan Pertolongan Allah-lah, Rasulullah bisa selamat dari pengejaran dan upaya pembunuhan yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, pada akhirnya Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah dengan ditemani oleh Abu Bakar ra., sementara tempat tidur Rasulullah ditempatih Ali bin Abi Tahlib kw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejak Rasulullah mulai menyebarkan dan mendakwahkan ajaran Islam hingga terjadinya hijrah ke Madinah, merupakan suatu drama dari tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh perbedaan, perbedaan agama dan keyakinan. Haruskah perbedaan-perbedaan itu berujung seperti yang Rasulullah dan para sabahat alami? Kebencian, penyiksaan, pengejaran dan pembunuhan serta perang terbuka antar sesama saudara dan familly? Dan bagaimana sikap dan perlakukan Rasulullah terhadap semua perlakuan mereka itu? Dalam konteks dan kondisi inilah, bukti dari kualitas kepribadian Rasulullah sebagai soko guru, tauladan, uswah-hasanah. Bahkan dalam konteks kekinian, kita harus akui bahwa sikap Rasulullah dalam menghadapi perbedaan dan tekanan dari orang lain yang memiliki perbedaan keyakinan itu sebagai suatu tauladan yang “utopis”. Kenapa utopis? Karena kita tampaknya tidak memiliki kesabaran yang memadai untuk menghadapi semua itu, serta tidak memiliki iman yang cukup kuat untuk meyakini bahwa terdapat hak­hak Allah dalam menentukan keimanan dan masa depan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditakar dengan apa yang kita lakukan dalam menyikapi perbedaan-perbedaan itu, sangatlah jauh, seperti jarak antara lapisan tanah paling dasar dan bawah dengan lapisan langit paling tinggi dan atas. Mungkin kita akan mengatakan dan dengan sadar sering atau tidak, kita katakan “Ya wajar saja beliaukan seorang Rasul, manusia pilihan, sedangkan kita manusia biasa, bukan Rasul dan bukan pula manusia pilihan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sejumlah gambaran ekstrim dari sikap Rasulullah yang perlu kita ingat dan renungkan. Suatu siang tidak kita temukan perbedaan pada Rasulullah, baik dalam keadaan lemah maupun dalam keadaan kuat. Ekstrim dalam pengertian bahwa sikap-sikap Rasulallah itu berada di luar takaran kemampuan manusia biasa untuk melakukannya. Yaitu sikap tauladan Rasul yang sering kita dengar dalam ceramah keagamaan serta khutbah-khutbah, atau yang kita baca, antara lain peristiwa Rasulullah saw. yang dilempar dengan kotoran unta. Dan, apa balasan Rasulullah terhadap orang yang berlaku hina pada Rasulullah ini? Rasulullah mendo’akannya supaya orang itu mendafat hidayah dan pertolongan Allah, dan ketika orang itu sakit, Rasulullah menjenguknya. sikap yang jarang sekali kita temukan dalam keseharian kita. Dan, satu lagi sikap yang apabila dilihat dalam konteks kesekarangan, benar-benar sangat sulit tuk dipahami, yaitu ketika peristiwa futuh Makkah. Selain memberikan amnesti masal pada orang-orang yang sebelumnya memusuhi, memerangi dan menganiaya Rasulullah dan sahabatnya. Dan, hal itu mungkin belum seberapa mengingat kelembutan dan sifat kasih sayang Rasulullah, akan tetapi mengingat bagaimana Rasulullah selain mema’aflcan Abu Sufyan juga meneguhkan kedudukannya di Makkah, dalam kedudukan sebelumnya ketika Makkah belum ditaklukan (futuh Makkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap-sikap Rasulullah itu tentunya bukan merupakan gambaran dari sikap penakut Rasulullah untuk melakukan perlawan secara prontal. Akan tetapi keluar dari sikap-mental dan cara berpikir yang khas. Dan, hal ini terbukti dari banyaknya orang yang masuk Islam (menyatakan keimanannya) karena sikap Rasul itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat sikap Rasulullah dalam menyikapi orang yang memiliki perbedaan (keyakinan, paham) maka kita akan melihat bahwa sikap Rasulullah itu bukan sekedar sebuah sikap “toleran”, tapi lebih dari itu: suatu sikap yang terlahir dari cinta antar sesama manusia, bahkan sebagai sesama makhluk Allah. Dan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah, bukan didasarkan pada sekedar keinginan untuk memiliki sejumlah pengikut, akan tetapi benar-benar lebih didasarkan pada keinginan untuk menyelamatkan manusia sebanyak-banyaknya. Menyelamatkan dalam arti yang sebenar-benarnya, sehingga tidak ada satu patah kata pun istilah “dendam” dan “sakit hati” dalam kamus dakwah dan kehiclupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, etika berbeda pendapat dan paham (adabul ikhtilaf) dalam kehidupan Rasul, tidak hanya didasarkan pada kepentingan-kepentingan dan fungsi sosial belaka, tapi didasarkan cinta yang merupakan realisasi dari Rahman­-Rahim Allah. Manifestasi kongkrit dari paradigma amal-soleh yg selalu mengawali seluruh aktivitasnya dengan dijiwai oleh apa yg diucapkannya, yaitu: Bismillahirrahmanirrahimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila, sikap, prilaku dan cara pandang Rasulullah ketika berhadapan dengan orang yang memiliki perbedaan keyakinan dan agama tersebut bisa kita sebut sebagai etika atau akhlak (prilaku yang dilakukan secara sadar) dalam berbeda pendapat atau paham (‘adabul ikhtilaf) yang dicontohkan Rasulullah untuk ditiru dan diteladani oleh ummatnya. Tidak jarang ditemukan keterangan, bahwa terdapat sejumlah kaum kafir yang masuk Islam dan menjadi sahabat Rasulullah hanya karena melihat kelembutan dari sikap Rasulullah. Dan dalam konteks ini, harus saya katakan bahwa, tidak sedikit orang yang nyinyir dan merasa tidak simpatik oleh sikap sebagian umat Islam yang berlaku “kasar” dalam menghadapi komunitas lain yang berbeda paham. Hal yang tidak jarang, sikap nyinyir itu diekspresikan dan diungkapkan oleh sesama umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah assassination (mihnah), yang merupakan sikap dan aksi terhadap orang­orang yang berbeda pendapat (paham) dalam beragama dalam Islam memang bukan sesuatu yang baru, baik secara terbuka maupun secara halus. Diantara yang paling dikenal adalah peristiwa mihnah yang dilakukan kaum Mu’tazilah terhadap kaum salaf yang bersebrangan dengan kaum Mu’tazilah. Hal yang kurang lebih sama, walau pun tidak seradikal yang terjadi dalam “dunia pemikiran Kalam”, juga terjadi dalam dunia pemikiran fiqh (hukum Islam). Tidak sedikit ulama fiqh yang mengalami pengasingan, dan meninggal dunia dalam kesepian dan penderitaan yang berkepanjangan. Dan pada umumnya itu terjadi dan diawali oleh perbedaan paham keagamaan. Dan dalam kancah politik Islam hal ini (perbedaan paham politik) bahkan sempat mengorbankan para cucu Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, menjadi “wajar” apabila contoh dari etika berbeda pendapat (adabul ikhtilaf) yang dicontohkan Rasulullah itu kini hanya menjadi ajaran yang bersifat “utopis”, dan karenanya dakwah Islam tidak jarang diwarnai oleh kekerasan dan umpatan. Sikap pema’af yang dicontohkan Rasulullah berubah menjadi sikap anarkis, dan do’a yang juga dicontohkan Rasulullah berubah menjadi hujatan. Karenanya, sejarah perjalanan umat Islam pasca Rasulullah kaya dengan bekas ceceran darah dan kutukan. Kini kita menjadi terbiasa dengan itu. Sikap yang mana sesungguhnya yang Islam (Allah dan Rasul-Nya) ajarkan pada kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Rasul memandang orang kafir dengan tatapan penuh kasih sayang dan penuh perma’afan, sedangkan kita memandang orang kafir dengan tatapan penuh kebencian dan hasrat untuk melenyapkannya dari muka bumi. Saya tidak yakin, apakan ilustrasi saya ini terlalu bernuansa generalisasi dan dibesar-besarkan, atau sebagai fakta yang benar-benar terjadi. Saya berdo’a dan berharap, bahwa apa yang ada dalam pikiran saya ini mutlak salahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* disampaikan pada “Penataran dan Lokakarya Pencegahan dan Penanggulangan Pemurtadan dan Penyimpangan Pemahaman Agama (Islam); Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat, di Wisma Taruna JI. Lengkong Besar No. 64B Bandung. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-3688757067829598824?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/3688757067829598824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=3688757067829598824' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3688757067829598824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3688757067829598824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/etika.html' title='Etika'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-8335224749732636041</id><published>2009-01-12T18:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-12T18:35:01.930-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Komitmen</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komitmen Ketulusan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;oleh BAMBANG Q ANEES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah polemik tentang pencabutan mandat dan persoalan Poso yang seperti tak ada habis-habisnya, ada baiknya kita berefleksi mengenai reformasi. Reformasi adalah komitmen bersama untuk bertransformasi dari kehidupan lama yang represif menuju tatanan masyarakat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Reformasi politik telah berjalan sedemikian rupa, namun sayangnya — setiap saat– sepertinya kita mengalami sesuatu yang selalu salah jadi dan salah guna.Mungkin ada yang kurang dari komitmen reformasi kita, reformasi politik saja memang tak akan mampu mewujudkan harapan. Ada reformasi lain yang harus segera diwujudkan, Jakob Utama (2000) menyebutnya “reformasi ketulusan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal reformasi memang bukan melulu soal politik, yang lebih utama adalah soal mental. Setelah sekian lama terkungkung otokrasi orde baru, kita terhanyut dalam kebiasaan penuh rekayasa, tertutup, penuh curiga, dan susah untuk percaya pada pihak yang berbeda. Kita juga “terdidik” untuk tidak menyatakan apa yang sebenarnya demi keselamatan atau keuntungan pribadi. Akhirnya seluruh jerih payah reformasi politik atau hukum menjadi aturan main dengan mental pemain yang masih sama dengan sebelumnya: pemain yang melupakan ketulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, meminjam pertanyan Jakob Utama, “Dapatkah kita katakan atau sekurang-kurangnya kita jadikan komitmen bahwa kita juga sedang bertransformasi dari masyarakat yang tidak tulus ke masyarakat yang tulus; dari masyarakat serba tertutup dan serba curiga ke masyarakat terbuka yang disertai sikap dan kebajikan saling percaya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtiar dalam Ketulusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kita sungguh-sungguh membutuhkan ketulusan. Ada satu kisah menarik yang dikutip Gay Hendricks (2002) pada buku The Corporate Mystic. Ada dua orang pengangkut batu yang menampilkan raut muka berbeda. Yang pertama mengangkut batu dengan wajah penuh kekesalan, dari mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah; sedang yang kedua justru sebaliknya. Pengangkut batu kedua justru menampilkan wajah riang, mata berbinar-binar, dan sambil bersenandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap keduanya, seseorang bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan?” Orang pertama menjawab, “Lihat saja sendiri, di hari yang panas begini saya harus mengangkut batu-batu sialan ini!” Sedang orang kedua menyatakan, “Di sana akan dibangun rumah ibadah, kelak kami akan memiliki rumah yang hangat untuk berdekatan dengan Tuhan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi reformasi ini, semua warga negara seperti pengangkut batu itu. Semuanya melakukan kerja yang melelahkan, memperbaiki tatanan kehidupan yang memang sudah porak poranda dan menyelesaikan masalah-masalah yang seperti tak pernah habis. Dalam rasa lelah keluhan pasti muncul, juga rasa putus asa. Namun pengangkut batu kedua mengajari kita bagaimana menanggung beban hidup menjadi kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan membuat seseorang menjadi lebih jujur, menerima tugas sebagai amanah, bebas dari kepura-puraan, dan bahagia. Melalui ketulusan, rasa lelah tak membuat seseorang merasa lebih berjasa –seraya mengajukan bayaran yang lebih tinggi. Dalam ketulusan, seluruh penderitaan dapat tertahankan. Ketulusan tak pernah bisa melahirkan “kambing hitam” dari suatu persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama dan Ketulusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran utama semua agama adalah membimbing pemeluknya untuk menjalani kehidupan secara tulus. Al-Quran (QS Shad, 46), misalnya, menyatakan bahwa para nabi dan rasul adalah mereka yang tulus-ikhlas, bebas dari pelbagai penyakit busuk hati, tidak berpura-pura, dan bebas dari segala penyakit yang dapat meruntuhkan hakikat kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif Khalidi (2003), dalam The Muslim Jesus, mengutip kisah menarik dari Kitab al-Bayan karya Abu Utsman al-Jahiz (ulama muslim abad ke-9). Konon, suatu hari Yesus berpapasan dengan Bani Israil yang menghinanya. Setiap kali mereka mengucapkan kata-kata kotor, Yesus menjawabnya dengan kata-kata yang baik. Simon yang suci mengajukan protes, “Akankah engkau menjawab mereka dengan baik ketika mereka terus-menerus mengucapkan kata-kata kotor?” Yesus menjawab dengan tenang, “Setiap orang mengucapkan apa yang dimilikinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat, betapa damainya ikhtiar ketulusan!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-8335224749732636041?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/8335224749732636041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=8335224749732636041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8335224749732636041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/8335224749732636041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/komitmen.html' title='Komitmen'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5912702338760614275</id><published>2009-01-01T17:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T17:58:01.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>2009</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Refleksi Tahun Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh SUKRON ABDILAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   BEBERAPA hari ke belakang kita telah merayakan tahun baru umat Islam, 1430 Hijriyah. Tinggal beberapa hari juga tahun baru 2009 Masehi tiba. Bagi umat Islam, hari ini adalah awal tahun yang harus diisi dengan aksi nyata membebaskan umat dari keterpurukan. Dan, bagi bangsa Indonesia yang majemuk, akhir tahun ini (2008) adalah ruang dan waktu yang tepat untuk merenungi segala tindak-tanduk yang dilakukan pada tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berdekatannya perayaan dua tahun baru (Hijriyah dan Masehi) ini, diharapkan ada secercah harapan transfomatif bagi kelangsungan NKRI. Tahun baru hijriyah harus diawali dengan hijrah-nya bangsa ini dari kondisi kurang baik menjadi baik. Kemudian, tahun baru masehi adalah awal kita menengok tingkah laku di tahun yang lalu dan menatap optimis apa yang hendak dilakukan pada tahun yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dalam mitos Yunani kuno, awal tahun baru masehi diberi nama Januari, karena diambil dari nama Janus, salah satu dewa yang memiliki dua wajah. Kenapa Januari memiliki dua wajah? Sebab, di satu sisi bulan ini berdekatan dengan tahun 2008 dan juga awal memasuki tahun 2009. Biasanya, ada peralihan budaya di awal tahun (Januari). Kita bakal merasa susah menanggalkan kebiasaan di tahun 2008, tapi cahaya optimisme meruak setiap kali memandang kalender yang berganti dengan angka 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Seperti seorang siswa sekolah yang baru naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi. Pertama kali seseorang memasuki kelas baru dan meninggalkan kelas lama, ada semacam kebiasaan di kelas lama yang tanpa sadar dibawanya ke kelas baru. Tahun baru juga begitu rasanya. Kita memasuki tahun baru, tapi ada kebiasaan tahun lalu yang sulit diubah, direkonstruksi, dan bahkan diganti dengan kebiasaan yang lebih baik. Dan, tugas kita adalah menyelami secara reflektis dan kritis apakah ada tingkah laku yang semestinya diubah, diganti, bahkan harus dibuang dan ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kecanggungan budaya, biasanya akan menyertai pergantian tahun baru masehi nanti. Gegap gempita perayaan tahun masehi tidak menggambarkan kondisi jiwa bangsa seluruhnya. Di tengah kegembiraan, belum tentu setiap orang merasakan kegembiraan tak terkira. Riuh-rendahnya suara terompet dan taburan kembang api pada pukul 00.00 juga tidak mewakili kegembiraan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bukan hal mustahil kalau di tengah perayaan yang gerlap gemerlap itu ada sejumlah warga yang terganggu, tak bisa makan, dan tidur beralaskan tembikar di trotoar jalan raya, yang pasti dipadati pengendara bermotor. Malam tahun baru harusnya diisi dengan refleksi, tafakkur, dan renungan kasih terhadap kondisi bangsa yang sedemikian lelah dengan soal sosial-politik, ekonomi, budaya, dan tetek bengek soal yang membuat pusing tujuh berkeliling-keliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jengah hati ini dengan praktik korupsi. Gelisah jiwa ini dengan bertebarannya kemiskinan dan kesenjangan. Golput adalah filsafat politik protes dari sebagian bangsa yang mulai tak percaya kepada partai politik. Ini bukan soal cerdas ataukah tidak bangsa Indonesia. Tapi, soal kejujuran dan keteguhan memperjuangkan aspirasi rakyat yang mulai memudar dari wakil rakyat bagai air laut yang mulai tak terasa asin. Tenggelamlah rakyat Indonesia di tengah pusaran samudera ketakberesan persoalan yang melilit, seolah menjadi bumbu kebernegaraan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Filsafat kura-kura adalah tanda keawasan dan kewaspadaan yang mesti ditiru di tahun baru. Kebijaksanaan hidup lewat tempurung yang selalu dijadikan tempat berlindung. Merefleksikan diri. Sambil mengawasi segala marabahaya yang setiap saat pasti mengancamnya dari luar menjadikan hewan bijaksana ini memiliki usia panjang. Kesejahteraan Indonesia akan panjang, jika saja para pejabat awas dan waspada terhadap bahaya yang mengancam stabilitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kekuatan kolektif semut dalam membangun sarangnya. Kerendahhatian sebatang pohon bambu dan setangkai padi, adalah filsafat hidup yang bisa diperoleh dari kebijaksanaan kita atas hidup ini. Kedermawanan kerang berbalut mutiara juga adalah ajaran setiap agama. Kesabaran menggelindingkan batu besar dari Sisifus, adalah soal ketekunan yang harus mulai dipegang bangsa ini. Mudah-mudahan di tahun baru, kita mampu berkaca pada tahun lalu, untuk kemudian berjalan awas di tahun yang baru. Itulah semangat yang harus mulai ditanamkan dalam jiwa ketika membangun Indonesia tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Selamat tahun baru 1430 H dan tahun baru 2009. Semoga kita bahagia selalu menjalani tiap detik, menit, jam, dan hari di tahun yang akan datang. Sebab, tahun adalah sekumpulan ruang dan waktu yang didalamnya, kita harus mulai mencelubkan diri memberikan arti bagi kehidupan. Berpikir kontemplatif yang tersistematisasi adalah inti dari semangat mengurai benang kusut kehidupan, yang jadi pusat kesadaran bahwa berbuat baik dalam hidup adalah keniscayaan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5912702338760614275?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5912702338760614275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5912702338760614275' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5912702338760614275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5912702338760614275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2009/01/2009.html' title='2009'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-9069908934741214092</id><published>2008-12-29T17:45:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T17:47:57.030-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Menulis Yuk..!!</title><content type='html'>Jurnal SUAKA mengundang anda untuk menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ISLAM DAN SEKULARISME”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik, Demokrasi, Kontroversi, Indonesia, Agama, Tuhan, Pancasila, Hukum, Gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kriteria dan Prosedur Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Penulis adalah mahasiswa S1 seluruh perguruan tinggi di Indonesia, ditunjuk oleh SUAKA dan/atau mengajukan diri (khususnya UIN SGD BANDUNG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Tulisan merupakan karya sendiri bukan hasil terjemahan atau saduran serta belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Tulisan mengungkapkan sebuah gagasan dan/atau persoalan, bisa berupa survey, hasil penelitian, atau studi pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Term of Reference (TOR) dapat dapat diperoleh dengan mengakses situs SUAKA suakaonline.wordpress.com atau meminta langsung ke kantor redaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Gaya bahasa penyajian dipentingkan. Gunakan bahasa Indonesia yang benar dan enak dibaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Tulisan disajikan secara ilmiah populer. Untuk sumber acuan digunakan catatan akhir (endnote) lengkap dengan nama penulis, buku yang diacu, tempat penerbit, penerbit, tahun terbit, dan halaman kutip (SUAKA sangat menghargai kejujuran intelektual)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Dalam penulisan endnote dapat diberi keterangan tambahan secukupnya, baik sumber yang dirujuk maupun yang berkaitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Penggunaan data untuk memperjelas tulisan sangat diharapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Redaksi berhak menyunting tulisan dan memperbaikinya tanpa mengubah maksud tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Panjang tulisan 10 halaman kertas A4 dengan spasi ganda, huruf Times New Roman 12, margin 4-4-3-3. Tulisan dikirim dalam bentuk print-out dan harus menyertakan softfile&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Penulis mencantumkan daftar riwayat hidup (CV lengkap) termasuk didalamnya riwayat pendidikan, pengalaman organisasi, penelitian/publikasi yang pernah dilakukan, dan melampirkan fotocopy KTM dan foto close up posisi bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Selambat-lambatnya naskah harus sudah diterima redaksi pada 10 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Bagi naskah yang lolos seleksi, SUAKA akan memberikan imbalan sepantasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Redaksi SUAKA dapat dihubungi di kantor SUAKA, Gedung Student Center lantai 1 Blok B3. Jl A.H Nasution no 105 UIN SUNAN GUNUNG DJARI BANDUNG atau via-email; suakanews@gmail.com Kontak : Miftahul Khoer (miko) 0856 2008 705; Iyan 0857 2045 8674&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-9069908934741214092?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/9069908934741214092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=9069908934741214092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/9069908934741214092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/9069908934741214092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/12/menulis-yuk.html' title='Menulis Yuk..!!'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-1385998896507456976</id><published>2008-12-29T17:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T17:41:26.584-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>1430 H</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pergantian Tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh AHMAD SAHIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN Baru ditandai berakhirnya penanggalan. Ia berganti jadi yang baru. Sebuah masa yang belum dialami sebelumnya dan insya Allah disongsong. Setiap tanggal 1 Januari masyarakat dunia merayakan Tahun Baru Masehi. Tak jarang sebagian umat Islam pun ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Hal ini dkarenakan ketidaktahuan bahwa Islam pun mempunyai sistem penanggalan tersendiri. Hijriyah nama kalender Islam, yang diambil dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Rasulullah saw beserta umat Islam dari Makkah ke Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ahli sejarah berpendapat, penanggalan dalam Islam dimulai sejak masa Umar bin Khattab menjadi khalifah. Tepatnya pada 638 M, yaitu 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, ia menetapkan kalender Hijriah yang berdasarkan sistem lunar sebagai basis penanggalan Islam. Lahirnya penanggalan ini dilatarbelakangi adanya seorang utusan khalifah yang berkunjung ke Yaman. Ia mengkabarkan pada khalifah bahwa orang Yaman menuliskan tanggal dalam surat-suratnya. Maka sejak itu Umar bin Khattab memerintahkan pembuatan penanggalan. Riwayat yang lain mengatakan, seorang penguasa protes terhadap surat yang dikirim khalifah karena tidak jelas mana surat yang ditulis duluan mana yang belakangan—maklum tidak ada tanggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui fungsi adanya kalender hijriyah ini. Selain untuk mengetahui kapan bulan puasa Ramadhan, melaksanakan haji atau kelahiran Nabi Muhammad saw, juga untuk mengenal peristiwa-peristiwa bersejarah Islam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak ada penjelasan sejarah, namun pemilihan 1 Muharram sebagai awal tahun Hijriyah didasarkan atas keutamaan atau peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan tersebut. Banyak kisah yang menceritakan bahwa di bulan Muharram, Allah menyelamatkan para Nabi dari marabahaya dan Allah melarang pertumpahan darah. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran surat At-Taubah ayat 36, bahwa sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah sebagaimana disebut di Kitabullah ada 12 bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan terdapat empat bulan di dalamnya merupakan bulan yang diharamkan, salah satunya bulan Muharram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dilihat dari bahasa, kata muharram berasal dari kata harrama—yang mengalami perubahan bentuk menjadi—yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun. Arti muharraman sendiri adalah yang diharamkan. Apa yang diharamkan? Jelas pertumpahan darah dan perang atau yang dapat menghilangkan jiwa manusia. Intinya, Muharram sebagai awal Tahun Baru Islam merupakan bulan untuk mensucikan diri melalui berbagai ibadah, baik ritual maupun sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru Islam tak hanya perpindahan tahun dan mengingat perjalanan panjang hijrah Rasulullah saw beserta umatnya ke Madinah, tapi juga sebuah momentum perubahan diri. Alangkah ruginya apabila Tahun Baru ini tidak menjadi momentum perubahan. Bukankah Rasulullah saw mengingatkan, barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Inilah orang yang bahagia, yang tidak terlindas badai-badai zaman. Dengan bergantinya tahun, mari kita berbuat dan melakukan perubahan agar hidup bahagia dan lebih baik. Setidaknya berubah dari, yang asalnya tak sering berjamaah menjadi shalat berjamaah. Asalnya sering shalat di rumah beralih shalat berjamaah di masjid. Tadinya sering membentak anak, tahun baru ini mulai mengurangi bentaknya, bahkan kalau bisa langsung mengubahnya menjadi sosok yang arif dan bijaksana. Perubahan-perubahan akhlak dan mentalitaslah yang perlu diwujudkan di tahun baru ini. Jika hanya perubahan fisik dan aksesoris hidup, tahun baru hanya akan sekadar pergantian kalender saja tanpa ada makna atau dampak positif yang membuat hidup makin baik. Saya kira hal ini yang perlu kita renungkan di tahun baru 1430 Hijriah dan 2009 Masehi ini. Selamat merenung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24-12-2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-1385998896507456976?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/1385998896507456976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=1385998896507456976' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1385998896507456976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1385998896507456976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/12/1430-h.html' title='1430 H'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-5653602384695395435</id><published>2008-12-29T17:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T17:38:02.358-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Titik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Titik Temu Agama-agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh MUHAMMAD YUSUF WIBISONO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan agama-agama di dunia seringkali menjadi topik pembahasan yang tak henti-hentinya dari masa ke masa. Terutama yang menyangkut agama-agama besar seperti Yahudi, Kristen dan Islam, yang menurut sejarah Islam adalah dari satu keturunan yang sama yaitu dari Nabi Ibrahim, atau dikenal dengan ”Bapak para Nabi” (abul-anbiya’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ibrahim juga dijuluki “Bapak Orang Beriman” dalam tiga tradisi agama Yahudi, Kristen dan Islam, meskipun pada gilirannya konsep keimanan di antara tiga agama tersebut menjadi pemicu perbedaan yang berarti sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang disebutkan Al-Quran bahwa setiap kelompok manusia selalu didampingi oleh para rasul, meskipun hanya sebagian kecil saja yang dituturkan oleh Al-Quran dan Nabi Muhammad. Bahkan dalam satu riwayat tertentu, Nabi Muhammad menyatakan jumlah rasul itu ada tiga ratus lima belas orang. Tetapi yang banyak dikenal oleh umat Islam pada umumnya sebanyak dua lima rasul, mulai dari Nabi Adam (bapak umat manusia) sampai Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul (khatam al-anbiya wa al-mursalin). Nurcholis Madjid (1994) menuturkan, bahwa Al-Quran pun mengisahkan sebagian para rasul itu adalah pelanjut dari ajaran Taurat dan Injil (“Perjanjian Lama” dan “Perjanjian Baru”), dan semua berasal hanya dari kalangan bangsa-bangsa Semit di Timur Tengah.&lt;br /&gt;Menurut keimanan Islam, bahwa sebagian besar para rasul itu merupakan keturunan Nabi Ya’qub yang digelari Israil (hamba Allah) yang kemudian mereka lebih dikenal dengan sebutan Bani Israil (keturunan Israil). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Al-Quran dengan sebutan al-asbath (lihat QS.Al-Baqarah: 136 dan 140) yang terbagi ke dalam dua belas suku (QS.Al-A’raf:160), yang mengikuti jumlah anak Nabi Ya’qub yang berjumlah dua belas orang. Dalam sejarah Islam mengisahkan bahwa suku-suku Israil itulah yang selama ratusan tahun dijadikan budak dan selalu ditindas oleh Fir’aun sang penguasa Mesir, yang dikemudian hari dibebaskan oleh Nabi Musa dan sekaligus menjadi umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut kisah Al-Quran, bahwa Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishaq dan Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim dari istri pertamanya, Sarah. Sedangkan dari istri kedua, Siti Hajar, Nabi Ibrahim mempunyai putra bernama Nabi Ismail yang kelak menurunkan Nabi Muhammad SAW. Jadi secara geneologi bahwa para rasul itu adalah masih satu keturunan yaitu Ibrahim. Untuk itu, secara primodial paham-paham keimanan ketiga agama itu (Yahudi, Kristen dan Islam) adalah bertolak dari “Millah Ibrahim” (Agama/ajaran Ibrahim). Artinya, ketiga agama itu, idealnya mempunyai konsep keimanan yang sama, meski pada tataran tradisi ritual (syari’ah) beraneka ragam sesuai dengan perbedaan ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, membicarakan ketiga agama, Yahudi, Kristen dan Islam dalam rangka mencari titik temu merupakan agenda utama yang perlu dikedepankan. Hal itu terkait dengan semakin meruncingnya perbedaan cara pandang teologis yang unjungnya merangsek pada konflik fisik berabad-abad lamanya. Untuk hal tertentu, peristiwa konflik bernuansa agama diperingati sebagai “tragedi kemanusiaan” yang sulit dicarikan penyelesainnya. Padahal, semua ajaran agama-agama besar itu menyerukan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi dengan menjunjung tinggi semangat menebar kasih sayang di antara sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sosiologis, pertemuan agama Yahudi, Kristen dan Islam sudah berlangsung sangat lama. Berbagai dialog sudah dan sedang dilakukan oleh mereka dalam rangka mencari persamaan dan perbedaannya, baik dari aspek tradisi ritualnya sampai pada tataran teologisnya. Dialog dalam konteks teologis pada dasarnya bukan hanya mencari perbedaan semata, tetapi hal itu akan menjadi basis etika hubungan kemanusiaan. Dalam arti, agama-agama apa saja dalam melangsungkan dialog tidak menjadi “tabu” ketika sekaligus mencari persamaan dan perbedaannya dalam tataran teologisnya, yang pada gilirannya menjadikan spirit “agree and dis-agreement” (kesafahaman dalam perbedaan). Hal ini juga sesuai dengan pernyataan filosof modern Hans Kung yang dikutip Nurcholis Madjid, “No peace among the nations without peace the religions; No peace among religions without dialog between the religions; No dialogue between religions without investigating the foundation of the religions”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-5653602384695395435?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/5653602384695395435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=5653602384695395435' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5653602384695395435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/5653602384695395435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/12/titik.html' title='Titik'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-3049301838591639298</id><published>2008-12-29T17:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T17:30:31.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ibu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memperingati Hari (Kematian) Ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh BADRU TAMAM MIFKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual Hari Ibu tanggal 22 Desember adalah kado ulang tahun yang sangat istimewa bagi para Ibu. Tapi masihkah istimewa ketika kemudian sang ibu hanya dianggap semacam ”mesin produksi” belaka? Di satu sisi kita rajin memperingati Hari Ibu, tetapi di sisi lain kita hirau dari bertambahnya angka kematian ibu akibat melahirkan. Kita tak peduli, betapa banyak Ibu di negeri ini tak mendapat hak untuk melanjutkan hidup setelah tugas melahirkan selesai ditunaikan. Sekali melahirkan, sudah itu mati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bangsa yang besar ini menuntut kaum perempuan untuk melahirkan generasi bangsa yang berkualitas, tetapi di sisi lain acapkali lalai memberikan jaminan yang layak bagi proses terciptanya generasi bangsa. Bangsa yang besar ini menuntut kaum ibu untuk memenuhi kewajibannya sebagai tulang punggung negara, tetapi di sisi lain tak memberikan hak-hak para ibu dengan baik. Bangsa yang besar ini rajin menggelar seminar di hotel-hotel berbintang dengan biaya besar tentang kondisi kaum perempuan, tak tanggung-tanggung honor pembicara memakan biaya jutaan rupiah, tetapi pedulikah mereka dengan nasib seorang ibu di sebuah desa yang meninggal karena tak mampu membiayai ongkos kelahiran anak yang hanya sebesar 350.000 rupiah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis. Problem kesejahteraan perempuan di negeri ini masih sangat memprihatinkan. Tidak terjaminnya kesejahteraan kaum perempuan berakibat pada buruknya kondisi kehidupannya. Rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi adala2__€tret buram hilangnya hak kaum perempuan mendapatkan kesejahteraan, termasuk hak mendapat pelayanan kesehatan ketika melahirkan. Di Indonesia, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih sangat tinggi. Data statistik tahun 2002-2007 memperlihatkan AKI sebesar 307 kasus per 100.000 kelahiran. Artinya, setiap 1000 kasus kelahiran, minimal 3 orang Ibu meninggal akibat melahirkan. Jumlah ini sama dengan rata-rata 15000 orang ibu mati setiap tahun ketika melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab utama kematian ibu adalah komplikasi berupa pendarahan setelah persalinan, keracunan kehamilan (eklamsia), penyakit penyerta, persalinan lama, dan abortus. Sedang kematian bayi umumnya disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan, tetanus, gangguan perinatal dan diare. Semua itu terjadi karena akumulasi faktor penyebab tidak memadainya sarana dan pelayanan kesehatan, faktor ekonomi, sosial budaya dan peran serta masyarakat. Selain itu, ada faktor-faktor penyebab yang tak kalah krusial yaitu kurangnya pengetahuan tentang pentingnya kesehatan, masih rendahnya pemahaman pengarusutamaan gender, serta anggaran pemerintah yang minim untuk puskesmas dan posyandu sehingga dana untuk sarana dan prasarana serta penyuluhan di posyandu masih sangat minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang disebut terakhir adalah faktor yang mesti segera diselesaikan oleh pemerintah. Masalah penyediaan pelayanan kesehatan khusus bagi ibu hamil dan melahirkan harus dijadikan prioritas kebijakan. Tentu saja, mengenai kebijakan pemerintah, ada hal yang paling mendasar yaitu bagaimana membangun paradigma pembuat kebijakan yang sensitif gender. Karena sebuah kebijakan akan sangat tergantung dari sejauhmana respon positif pemerintah terhadap isu-isu gender. Ketidakresponsifan pemerintah terhadap isu gender dapat kita lihat dari minimnya alokasi anggaran untuk dana kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jabar, misalnya, alokasi dana kesehatan dalam APBD selama 2003-2007 saja masih sangat minim, yakni Rp 2.200,00/orang (seharga dua strip obat sakit kepala) dari jumlah ideal Rp 243.783,00/orang. Sementara di tahun 2008, Rancangan APBD Kab. Bandung secara keseluruhan masih belum berpihak pada masyarakat. Sebesar 60-70% anggaran daerah dikonsumsi untuk belanja aparatur (belanja rutin), sisanya baru untuk belanja publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, dampak dari minimnya anggaran untuk kesehatan itu berkorelasi pada tingkat kematian ibu. Dalam catatan BPS tahun 2007 di perkirakan dari persalinan oleh nakes 53,4 % akan ada AKI 450 bumil/100.000 KH. Sedangkan menurut data Dinkes kabupaten Bandung tahun 2007 tercatat ada 46 kasus ibu melahirkan yang meninggal dan ada 115 bayi yang meninggal. Masih minimnya masyarakat kabupaten Bandung yang menggunakan tenaga kesehatan hanya 53,4 % masih jauh dari targetan MDG’S 85,3%. Berdasarkan kenyataan tersebut, AKI/AKB kabupaten Bandung menempati urutan tertinggi di jawa barat. Sungguh ”prestasi” yang menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen Pemerintah dan Pemberdayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang yang pemenuhannya menjadi tanggungjawab bersama, baik individu, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Kesehatan adalah hak semua orang, seperti termaktub dalam UUD 1945 tahun 2000 pasal 28 h ayat (1) bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, penting sekali adanya komitmen pendanaan anggaran daerah bagi program kesehatan dalam rangka mencapai penurunan AKI/AKB. Pun perlu dikembangkannya intervensi program strategis yang sesuai dengan tantangan wilayah kabupaten Bandung, tepat sasaran dan tepat jumlah anggaran dan harus memenuhi program yang cost efektif. Selain itu, perbaikan tingkat pendidikan, ekonomi dan geografis akan menunjang penurunan kematian ibu dan bayi. Misalnya upaya-upaya perbaikan transportasi jalan di desa-desa terpencil, wajib belajar 9 tahun untuk laki-laki dan perempuan, kesetaraan gender dan juga upaya-upaya penundaan usia perkawinan (nikah dini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan perempuan pun harus dimulai sejak remaja. Perempuan remaja harus cerdas, pintar dan tepat dalam mengambil keputusan. Pendidikan ibu-ibu terutama yang ada di pedesaan mesti terus dikembangkan. Masih banyaknya ibu yang beranggapan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan sesuatu yang alami yang berarti tidak memerlukan pemeriksaan dan perawatan, serta tanpa mereka sadari bahwa ibu hamil termasuk kelompok risiko tinggi. Ibu hamil memiliki risiko 50% dapat melahirkan dengan selamat dan 50% dapat mengakibatkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun masih banyak masyarakat yang memandang kematian bayi dan ibu pada saat melahirkan dianggap suatu hal yang biasa. Atau tidak diutamakannya asupan gizi bagi ibu hamil; sebagian masyarakat malah mengutamakan bapak dibandingkan ibu, sebagai contoh dalam hal makanan, sang bapak didahulukan untuk mendapat makanan yang bergizi sedangkan bagian yang tertinggal diberikan kepada ibu, sehingga angka anemia pada ibu hamil cukup tinggi mencapai 40 %. Padahal pemberian ASI yang baik kepada bayi merupakan intervensi yang menentukan kesehatan bayi dan tidak dapat ditinggalkan. Hak bayi untuk menerima air susu ibu hendaknya terus dikampanyekan oleh semua elemen masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, keterlibatan semua pihak harus dioptimalkan dalam menekan AKI/ AKB, dari mulai bidan desa, masyarakat, peran aktif pemerintah desa sampai di tingkat pemegang kebijakan. Karena kesehatan ibu dan bayi adalah salah satu faktor utama bagi tumbuhnya generasi bangsa dan kehidupan keluarga di Indonesia yang lebih baik.[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-3049301838591639298?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/3049301838591639298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=3049301838591639298' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3049301838591639298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3049301838591639298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/12/ibu.html' title='Ibu'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-1751735194909452211</id><published>2008-11-28T01:28:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T01:30:38.803-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anekdot'/><title type='text'>Penyakit</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyakit Menular di Kampus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh RIDHO EL-FARIZI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin (20/8), ane tanya sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan ane.&lt;br /&gt;“Pada kemana neh?”&lt;br /&gt;“Nggak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maksudnya ngga ada yang jaga. Ane sebagai warga jurusan yang baik menyempatkan diri ke stand expo jurusan ane. BSA –Bahasa dan Sastra Asing. Ia pun pergi. Ane duduk sendiri di stand tersebut. Ceritanya ikut jaga. Secara ane juga dapat jabatan berarti di Hima-J, sebagai Ketua Bidang Pengembangan Pers Mahasiswa. Lagi-lagi berhubungan dengan pers. Padahal ane kan bukan anak jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane duduk sendiri. Tiba-tiba datang seorang senior bernama Anay. Ia duduk di samping ane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamana wae?” — Kemana aja, tanya ane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aya wae.” — Ada aja, jawabnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, naha teu jaraga?” — Wah, kenapa nggak ada yang jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duka, saya ge karek kadieu.” — Nggak tahu, saya juga baru kesini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh!” — Tak perlu terjemahan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak terlalu singkat cerita. Ia sedikit curhat kalau di kelasnya ada sedikit perpecahan. Perpecahan itu memang tak asing lagi bagi mahasiswa kampus ane. UIN — Universitas IAIN Negeri. Konon, politik disini begitu kuat. Sehingga rentan terjadi perpecahan antara mahasiswa karena perbedaan cara pandang ideologis organisasi masing-masing. Dan, itu yang ane tangkap dari Anay. Senior ane yang barusan curhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane cuma tersenyum. Tak terlalu kaget. Setidaknya itulah yang ane lihat dari kelas ane sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, orang-orangnya asyik. Kompak. Akrab. Pemikirannya juga masih polos-polos. Sebagian sih. Soalnya, ada yang masuk ke kelas ane dengan membawa beban umur yang berat alias muajdul — maksudnya muka jaman dulu. Tapi biasanya, alumni SMA seperti ane masih membawa jiwa SMA ke dalam kelas dan kampus. Tapi sebab organisasi yang mereka ikuti, ada saja perubahan dari diri mereka. Mengerikannya, perubahan itu dari tingkat wajar hingga tingkat ekstrem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ane berpendapat bahwa organisasi itu mendewasakan (lihat tulisan ane sebelumnya), itu memang benar. Tapi tak lupa ane berargumen bahwa kadang banyak teman yang salah kaprah dengan makna organisasinya. Coba, kalau semua ikut Persma mungkin sepakat. Itulah fungsi Persma itu netral. Apalagi di kampus ane yang rentan kena penyakit politik. Atawa, paling tidak teman-teman ikut ekskul yang lebih menekankan pentingnya mengasah bakat. Seperti Persma, pembinaan bahasa, belajar dakwah, atawa olahraga. Ekskul yang ane sebut insyaallah tidak terlalu mendoktrin politik yang terlalu kuat atau bahkan nol. Tapi, bisa juga terjadi karena beberapa sebab yang rumit tuk dibicarakan.&lt;br /&gt;Balik lagi ke teman di kelas ane. Di kampus ane ada tiga organisasi pergerakan mahasiswa yang besar kekuatannya. Ada PMII, ada HMI, ada KAMMI. Semuanya kegiatan ekstra kampus. Seperti jenisnya, organisasi pergerakan biasanya mengumpulkan massa yang banyak. Itu alasannya agar bisa bergerak. Masing-masing punya idealisme. Punya visi misi. Dan, landasan pemikiran yang sama-sama kuat. Organisasi tersebut bagus untuk mahasiswa. Bagus untuk calon pemimpin. Para penguasa. Karena di dalamnya belajar berpolitik secara kompleks. Bagus, pokoknya bagus. Makanya, insyaallah jebolannya pada pintar ngomong. Pintar diskusi, pintar “negoisasi”, juga pintar “berjuang”. Daya ciumnya kuat. Biasa mengendus dan mencium bau kotoran di antara jajaran pemimpin hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, di balik kehebatannya, ketiga organ tersebut seperti memiliki kepentingan masing-masing. Setiap ada pemilihan rektor, tersulut nama-nama tersebut sebagai salah satu pendukung, teranga-terangan atau tersembunyi. Bahkan di tingkat jurusan pun. Pemilihan ketua Hima-J saja, organ-organ tersebut berperan di belakang nama-nama calon. Padahal organ tersebut adalah organ ekstra kampus. Masing-masing organ mencalonkan sebuah nama. Dan, layaknya parpol, mereka mengumbar janji dan berebut gelar pemenang. Ada apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungannya dengan kelas dan teman-teman ane? Ya, begitulah potret yang terjadi di kelas ane. Dulu, saat pemilihan ketua Hima-J, calon dari sebuah organ ekstra tersebut menang. Sayangnya, dalam perekrutan pengurus Hima-J, si ketua terpilih nampaknya nggak bisa berlaku adil. Kuota tuk jadi pengurus dari organ ekstra yang berbeda darinya sedikit. Seperti tak diberi kesempatan bagi mereka tuk “berkuasa”. Ditambah kesadaran dari mereka yang “tersisihkan” begitu minim. Tak ada yang mau hadir dalam raker — alias rapat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halo? Ane nggak ngerti. Padahal kita kan mau berjuang untuk jurusan kita. BSA — Bahasa dan Sastra Asing. Tapi mengapa perbedaan itu menyulutkan nita tuk berjuang. Malah BSA-nya yang terbengkalai. Jaga stand saja malas. Tak usah tersinggung! Ane menyalahkan diri ane sendiri kok. Toh, ane kan juga pengurus. Tapi ane lebih mentingin jaga stand Persma dari jurusan. Tapi, untungnya ane kan berada di pihak netral. Secara, Pers itu independen. Dan, saatnya Independen Memimpin Kota Bandung, Loh?!?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi. Ini klimaks ceritanya. Teman-teman ane di kelas juga terjangkit syndrom yang sama. Salah satu kubu dominan di kelas ane. Parahnya, militansinya begitu kuat. Serasa golongan mereka yang paling benar. Yang tersisih adalah yang bukan golongannya. Salah! Bukan itu yang tersisih. Yang tersisih hanyalah yang tak kuat. Biar ane berada di luar kubu-kubu tersebut. Tapi ane bukan orang yang merasa tersisih, toh masih banyak yang musti ane kerjakan di kantor Persma. Yaitu, menulis tentang penyakit yang menular dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yang hanya ada di kawasan isolasi UIN — Universitas IAIN Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bisa berkata, para pejabat itu haus kekuasaan. Padahal perilakunya dididik sejak dini, di benak para agen perubahan yang berteriak lantang, para pejabat itu haus kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-1751735194909452211?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/1751735194909452211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=1751735194909452211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1751735194909452211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1751735194909452211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/penyakit.html' title='Penyakit'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4528265021044965865</id><published>2008-11-28T01:23:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T01:24:43.544-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Sunda</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daerah Sunda dan Pendidikan Bahasa Sunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh DASAM SYAMSUDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG sebagai Ibu Kota Jawa Barat mempunyai bahasa daerah yang bagus, yaitu bahasa Sunda. Ciri khas bahasa urang Sunda ini mempunyai undak-usuk—tingkatan penggunaan bahasa dengan keberagamannya—sebagai cerminan dari tatkrama berbahasa yang berindikasi pada tatakesopanan perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Disamping bahasa sunda cerminan orang sunda, bahasa ini pun tidak bisa dinafikan sebagai identitas urang sunda. Keberagaman bahasa adalah identitas bagi kelompok manusia yang mendiami daerah tertentu. Maka, bahasa sebagai identitas masyarakat sunda harus dijaga dan dilestarikan. Pasalnya, bahasa ini masih sangat kental bagi masyarakat pedesaan. Namun, bagi masyarakat perkotaan yang sudah banyak terpengaruh dengan pluralitas bahasa dan budaya, penggunaan bahasa sunda sebagai alat komunikasi mulai memudar. Bahkan. Tidak sedikit masyarakat sunda khususnya yang tinggal diperkotaan tidak bisa menggunakan bahasa sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, di daerah Bandung sendiri penggunaan masyarakat kota terhadap bahasa sunda mulai memudar. Hal ini bisa kita saksikan pada tempat-tempat hiburan, mal, pasar dan apa saja di pusat keramaian kota. Identitas kesundaan tidak terkesan begitu baik tatkala menyaksikan interaksi urang sunda menggunakan bahasa indonesia, misalnya. Sehingga, cerminan bahasa yang melahirkan sifat dan sikap orang sunda tidak begitu terkesan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini di biarkan, bisa menggerogoti bahasa daerah orang sunda berpindah kebahasa nasional. Bahasa nasional memang sangat baik karena itu bahasa persatuan. Namun, jika urang sunda menggunakan bahasa tersebut di daerah sundanya sendiri hal ini tidak baik. Sejatinya, bahasa sunda sebagai identitas media komunikasi sunda cerminan sikap dan perilaku itu. Suatu saat akan berubah dan akan mempengaruhi ciri khas dari etnik sekolompok masyarakat yang tinggal daerah sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelunturan lisan sunda akan mempengaruhi kelestarian sastra dan budaya sunda. Misalnya, kesenian Jaipong, beluk di Sumedang, wayang golek dan budaya-budaya sunda lainnya, kalah dengan musik yang kurang mempunyai nilai kearifan lokal. Sisindiran sebagai sastra urang sunda sudah jarang terdengar di daerah sunda. Hal ini disebabkan karena pengguna bahasa sunda sudah banyak yang kurang memaknai akan kearifannya karena lisan sunda kurang difahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan bahasa sunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah hal itu agar tidak terjadi, maka bahasa sunda harus dilestarikan dikalangan masyarakat sunda. Cara ini bisa dilakukan secara efektif melalui jalur pendidikan. Setiap sekolah yang ada di daerah sunda, seyogianya memuat pelajar MULOK (muatan lokal) dengan bahasa sunda, baik negeri mapun swasta. Lebih baik lagi apabila pelajaran bahasa Sunda dijadikan sebagai pelajaran wajib bagi masyarakat sunda sebagaiamana bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuhan bahasa sunda harus digarap dengan serius oleh lembaga pendidikan. Karena, sekolah atau lembaga pendidikan mempunyai peran khusus di masyarakat yang diakui eksistensinya. Sistem pengajarannya jangan hanya menyentuh sisi kognitif siswa saja, tapi dari segi psikomotor dan apektifnya harus bisa dijamin. Dengan demikian, para murid bisa mempraktikan pelajaran bahasa sunda tersebut kedalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Pengukuhan pendidikan bahasa sunda karena tidak sedikit sekolmpok masyarakat yang meninggalkan bahasa sunda. Khususnya masyarakat perkotaan. Pendidikan ini harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak agar ia mencintai bahasa daerahnya dan memahami kearifannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah-sekolah yang ada di daerah sunda, sudah seharusnya menyajikan muatan lokal bahasa sunda. Apapun sekolahnya baik itu sekolah umum atau agama, bahkan dari tingkat SD sampai SMA harus memuat pelajaran ini, agar mereka berkomunikasi dengan bahasa sunda yang baik. Bahkan, pelatihan-pelatihan bahasa sunda harus sering diadakan pada lembaga pendidikan baik formal ataupun informal. Dengan demikian, masyarakat sunda akan berkomunikasi dengan keluarga, tetangga atau masyarakat lainya dengan bahasa daerahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi bahasa sunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan bahasa sunda disamping sebagai alat komunikasi juga sebagai pelestari sastra, tradisi, budaya dan cerminan perilaku urang sunda. Jika masyarakatnya sudah mencintai bahasa daerahnya sendiri, maka apa-apa yang lahir darinya akan ia cintai dan dilestarikannya. Sastra sunda yang mulai luntur, kearifan budaya sunda yang mulai terlupakan akan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra-sastra sunda seperti pantun, sisindiran, tembang sunda, babad karajaan, jangjawokan, wawasanglan, dan sastra-sastra lainnya pasti akan menghiasi lisan dan tulisan masyarakat sunda. Jika pendidikan bahasa sunda secara efektit diterapkan. Semua sastra itu mengandung pesan kearifan disamping sebagai hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi budaya, bahasa lisan sunda akan mampu melestarikan kembali atau mempertahankannya kendati dideru pengaruh budaya-budaya lainnya seperti budaya barat. Misalnya, kesenian wayang golek, kuda ronggeng, singa depok, Jaipongan, mufusti perkakas kerajaan kuno sunda, tradisi adu domba di garut—pemicu peningkatan kualitas peternakan domba—dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping semua itu, bahasa sunda sebagaimana telah disinggung diatas adalah cerminan dari tatakesopanan urang sunda. Berawal dari pendidikan bahasa sunda yang penuh undak-usuk jika hal ini mampu diterapkan pada siswa maka kearifan moral masyarakat sunda akan tercipta. Norma berbahasa adalah indikator pertama dari sifat dan sikap seseorang. Oleh karena itu, pendidikan bahasa sunda merupakan kewajiban moral bagi masyarakat sunda baik secara lembaga atau indvidual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara individual, pendidikan bahasa sunda bisa diterapkan pada anak-anak dengan lingkungan keluarga. Mendidik anak adalah kewajiban orang tua, dan bagi masyarakat sunda mendidik anaknya melatih berbahasa sunda adalah kewajiban moral agar melahirkan sikap normatif dalam lingkungannya. Tidak sepatutnya sepuh urang sunda mendidik anaknya dengan bahasa di luar daerahnya yang mengakibatkan seoarng putra sunda tidak bisa berdialog dengan bahasa daerahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, peningkatan pendidikan bahasa sunda harus ditanamkan pada generasi keluarga. Disamping orang tua menanmkan bahasa sunda, lembaga pendidikan yang ada didaerah sunda harus benar-benar menyajikan pelajaran bahasa sunda. Agar kelestarian bahasa sunda dan yang lahir darinya seperti sastra budaya dan tatakesopanan bisa terjaga&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4528265021044965865?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4528265021044965865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4528265021044965865' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4528265021044965865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4528265021044965865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/sunda.html' title='Sunda'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-1674658367697892443</id><published>2008-11-28T01:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T01:23:16.501-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ruh</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ruh Haji Transformatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh SUKRON ABDILAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunaikan ibadah haji adalah cita-cita puncak umat Islam dan seolah satu-satunya jalan yang mesti ditempuh untuk memeroleh perhargaan. Hanya demi sebuah prestise, tanah Mekkah jadi alternatif pilihan meraih kelas tertinggi dalam sistem sosial umat Islam Nusantara. Tak heran jika ibadah ini ditunaikan tanpa paradigma transformatif karena nihil penghayatan terhadap nilai-nilai sosial yang terkandung dalam prosesi haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepulang dari Arab Saudi sikap dan perilaku juga masih banyak yang tidak mencerminkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang manusia bergelar haji. Keadigungan menyandang gelar haji di depan namanya, ketidakpekaan terhadap realitas objektif masyarakat yang sedang terpuruk ranah ekonominya, bahkan gelar haji acap kali dijadikan tameng untuk melindungi diri dari pelbagai sanksi Negara dan sosial. Dalam bahasa lain, jika ingin selamat dari aneka persepsi negatif masyarakat dan ancaman konstitusional; bangsa kita banyak yang langsung pergi melaksanakan umroh atau haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jangan heran jika koruptor “kelas kakap” ada juga yang menyandang gelar haji di depan namanya. Ini mengindikasikan gejala ketidaktulusan hati menunaikan ibadah telah menghijabi ranah spiritualitas umat. Alih-alih memberikan sumbangsih berupa kemajuan bagi bangsa sepulang dari Mekkah, umat (Islam) yang bergelar haji malah tak berkutik hadapi keberbagaian persoalan yang melingkari bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulus-ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah haji seharusnya bernilai kritis-konstruktif, kritis-transformatif, dan kritis-emansipatoris agar kepulangan dan kehadiran jamaah haji di tanah air dapat memberikan pencerahan bagi bangsa. Untuk itu, ketulusan hati yang tanpa embel-embel dalih memeroleh perlindungan gelar haji yang tak abadi di depan nama dari umat Islam yang berangkat ke tanah suci, mesti tertanam di hati sanubari semenjak akan berangkat ke tanah suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Syafii Ma’arif (2005) berpendapat bahwa ketulusan berarti kejujuran, kebersihan, dan keikhlasan. Ikhlas (dalam bahasa Arab) dapat diartikan dengan pengabdian yang tulus (sincere devotion), karena itu perkataan sincere mesti melukiskan manusia yang suci bersih, dipercaya, bebas dari tipuan dan kepura-puraan, jujur, tulen, murni, dan terus terang. Tanpa semua itu agama tak akan bermakna dihadapan Tuhan, bahkan tak dapat mentransformasi realitas “acak-acakan” yang menjalar di tubuh bangsa dan bisa-bisa menyesatkan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika keikhlasan dipegang teguh oleh setiap jamaah haji yang dari tahun ke tahun menampakkan peningkatan kuantitas; sepulang dari Mekkah mereka tidak akan menciptakan kelas-kelas baru dalam stratafikasi sosial. Sebab, ada kecenderungan tatkala mereka selesai menunaikan ibadah haji punya keinginan dihargai masyarakat dan acap kali timbulkan suasana yang tak harmonis. Jika kondisinya demikian, kemunculan haji-haji yang gila gelar sosial, bahkan merupakan petanda bahwa sindrom feodalisme masih mengakar kuat di tubuh umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pengorbanan jamaah haji ketika menempuh perjalanan panjang ke Arab Saudi bisa dijadikan warning up untuk memoles diri dengan gerak jasad (aktus) yang berdimensi kritis-transformatif. Tujuannya untuk mengubah kondisi bangsa dari berjibunnya ketidakharmonisan relasi sosial, misalnya, menuju arah keharmonisan hingga secercah perubahan dapat terakumulasi menjadi semangat membangun bersama-sama sebagai modal menggapai keadilan dan kesejahteraan. Itulah yang saya istilahkan dengan “ruh haji transformatif”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji transformatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji tempo dulu acap kali melakukan perubahan dalam pelbagai ranah kehidupan bangsa tanpa sekat-sekat pengamalan doktrinitas agamanya dengan cara radikal dan ekstrem. Haji sekarang lebih menitikberatkan pada memeroleh status sosial, namun nihil dari nilai-nilai transformatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar tafsir negeri ini, M Quraish Shihab (2002) mengatakan bahwa praktik ritual ibadah haji pada hakikatnya merupakan penegasan kembali tentang keterikatan umat dengan prinsip-prinsip keyakinan tentang keesaan dan neraca keadilan Tuhan, serta tentang nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Berkaitan dengan penghayatan nilai-nilai kemanusiaan, ia menerangkan bahwa Surah Al-Baqarah ayat 199 turun untuk menegur orang-orang yang disebut dengan “al-hummas” yakni orang yang merasa memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu dengan jamaah haji lain tatkala mereka melakukan wukuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal menarik yang dapat kita teladani dari tokoh agama Islam Indonesia yang sepulang menunaikan ibadah haji mereka melakukan perombakan-perombakan dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, politik dan budaya. Sebut saja nama K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari yang berkontribusi besar bagi bangsa dengan mendirikan ormas sebesar Muhammadiyah dan NU yang sampai saat ini telah melahirkan intelektual di level lokal, nasional maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan uniknya lagi ketika mereka pulang dari Mekkah tidak memahami ajaran Islam dengan cara-cara radikal, ekstrem, dan menakutkan seperti stereotipe yang dilontarkan “Barat”. Hal ini terbukti telah dipraktikkan Haji Ahmad Dahlan dengan mendirikan Majlis Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) ketika masa awal pendirian Muhammadiyah yang ditujukan untuk memberikan bantuan kepada fakir miskin tanpa melihat keyakinan religinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika Haji Ahmad Dahlan mengajarkan kepada muridnya Surah 107, Al-Ma’un (Pertolongan) berkali-kali ia menekankan untuk tidak memahami saja, tapi sampai pada tahap mempraktikkannya. Dia juga menyerukan untuk merenungkan penderitaan tetangga miskin dan hendaknya membantu mereka (Alwi Shihab, 1998: 117). Dalam tradisi NU juga nilai-nilai transformatif kyai yang bergelar haji dapat disaksikan dari bertebarannya lembaga-lembaga pendidikan tradisional (pesantren) yang telah berkontribusi mencerdaskan kalangan bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian di atas mengindikasikan bahwa gelar haji haruslah disandang oleh orang-orang yang dapat membumikan ajaran-ajaran langit, karena agama itu turun ke dunia (bukan ke akhirat) untuk kepentingan umat manusia. Sudahkah kita bergelar haji transformatif? Seorang haji yang hidupnya tidak gila kelas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, Bergiat pada Institute for Religion and Future Analysis (Irfani) Bandung, Alumni Universitas Islam Negeri SGD Bandung.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-1674658367697892443?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/1674658367697892443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=1674658367697892443' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1674658367697892443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1674658367697892443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/ruh.html' title='Ruh'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4883691091674000039</id><published>2008-11-20T18:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-20T18:11:35.376-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Tujuh</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tujuh Abad Kesunyian "i la galigo"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh ZAKY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh abad silam penulis Sureq Galigo mungkin tak pernah berpikir karya mereka akan dipentaskan di Lincoln Center Festival New York atau dibawa keliling ke berbagai kota penting seperti Paris dan London di Eropa. Bahkan, menurut kabar pada setiap akhir pementasan, mereka selalu mendapatkan standing ovation yang menerbitkan rasa haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padahal, sebelum orang-orang seperti Rhoda Grauer (penulis dramaturgi), Robert Wilson (sutradara), Restu Imansari (koordinator artistik), Rahayu Supanggah (penata musik), dan Elisabetta di Mambro (produser) bertemu dengan Sureq Galigo, epik masyarakat Bugis itu seperti naskah berdebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Galigo sebelum ini sudah sekarat, tak ada orang yang pernah peduli,” ujar penerjemah Sureq Galigo asal Makassar, Mohammad Salim. Ia bahkan harus menyalin teks asli yang tersimpan selama lebih dari 150 tahun di negeri Belanda. ”Saya kerjakan selama lima tahun, itu pun baru separuh dari perkiraan 8.000 halaman,” ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak bisa begitu saja kita sepadankan antara teks Galigo dan pentas I La Galigo, 10-12 Desember 2005 di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), setidaknya telah terjadi satu introduksi yang gigih dari tim ini kepada publik dunia bahwa di sebuah wilayah bernama Sulawesi Selatan, bagian dari Indonesia, terdapat naskah klasik yang diyakini panjangnya melebihi epik terkenal Ramayana dan Mahabaratha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pentas ini baru kulitnya Sureq Galigo,” kata Mohammad Salim. Dalam kesempatan berbeda Robert Wilson sebagai sutradara malah mengaku, ”Saya tidak tahu apa pun tentang Galigo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini bukan semata upaya merendah, tetapi pembacaan secara menyeluruh terhadap teks Galigo sementara ini menjadi upaya yang mustahil. Selain cukup tebal, belum semua teks asli yang ditulis dalam bahasa Bugis bercampur Sansekerta itu berhasil diterjemahkan. Bahkan, Salim (mungkin) menjadi satu-satunya orang yang bisa membaca teks Galigo dari teks aslinya yang ditulis di atas daun lontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhoda Grauer yang khusus melakukan studi tentang Galigo sebelum menulis dramaturgi mengatakan teks ini seperti sebatang pohon. ”Banyak sekali cabang cerita yang tidak berhubungan langsung dengan cerita utamanya,” tutur Rhoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan I La Galigo yang kaya tata cahaya ibarat menyinari tujuh abad kesunyian Sureq Galigo. Teks yang tadinya berdebu, di tangan Robert Wilson hadir menjadi suguhan yang sedap dipandang mata. Ia ibarat puisi yang dijalin dari cahaya menuju cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan pembuka ketika orang-orang bergerak lambat dengan berbagai sikap tangan kemudian Batara Guru turun dari Dunia Atas (langit) menjadi adegan paling mengesankan sepanjang pertunjukan. Wilson mengikuti teks asli dengan membuat tangga (dari bambu), di mana disebutkan Batara Guru turun lewat sebatang bambu diser petir dan pelangi tujuh warna. Tangga memang menjadi gambaran artifisial, tetapi bukankah sering kita dengar ungkapan seperti ”tangga langit”? Dan itu menjadi ungkapan yang amat puitis, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah yang disusun sangat naratif oleh Rhoda Grauer tentang diutusnya Batara Guru oleh penguasa langit Patotoqe ke Dunia Tengah sampai berkumpulnya keluarga Sawerigading (anak Batara Guru), karena keahlian Wilson memainkan tata artistik dan cahaya, menjadi sesuatu yang mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara ini jago benar menerjemahkan berbagai situasi dan karakter dengan unsur pencahayaan sehingga pada beberapa adegan kita seperti dibawa ke alam mitologi. Hebatnya mitologi yang tampil telah d**emas sebagaimana kemudian kita tonton di layar televisi. Ia tidak lagi arkaik, tetapi memasuki era audio-visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang tidak bisa menuntut Wilson secara berlebihan memunculkan seluruh moral-etik di dalam Sureq Galigo. Terang-terangan ia bilang Sureq Galigo ”hanya” sebagai inspirasi pementasan I La Galigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pementasan ini harus ditempatkan sebagai pembuka jalan bagi teks yang terpendam berabad-abad itu untuk ”memperkenalkan” dirinya kepada publik dunia. Bernada agak ”mistis”, sesepuh warga adat Luwuq, Sulawesi Selatan, Andi Anton Pangeran, mengatakan ada nujuman bahwa pada suatu saat Sureq Galigo akan d**enal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menganggap lakon I La Galigo dari Robert Wilson telah menjadi bukti kebenaran nujuman itu. Ia bersama Mohammad Salim turut menyer rombongan berpentas keliling dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, I La Galigo menjadi babak baru bagi naskah klasik asli Indonesia untuk memasuki industri seni pertunjukan dunia. Tidak mudah menembus jaringan kerja Robert Wilson-Elisabetta di Mambro. Restu Imansari, Rhoda Grauer, dan Rahayu Supanggah setelah bertemu Wilson di Bali harus melakukan presentasi di Watermill Center, Amerika, markas salah satu sutradara terkemuka dunia itu, tahun 2001 silam. Dan kejadian pentasnya baru dilakukan tahun 2004 serta menjadikan panggung Esplanade, Singapura, sebagai awal ”petualangan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pertanyaan seperti, mengapa harus dimulai orang bule, dijawab Rhoda dengan ringan, ”Sebagai orang asing, saya bangga membawa pulang I La Galigo ke negara saya (Amerika). Kalau ada yang bilang ini dicuri dari pemilik aslinya, I La Galigo bukanlah sepotong roti. Teks kendatipun dikunyah, ia tak akan pernah hilang....” Sureq Galigo telah bangkit dari tidur panjang, menyapa dunia dengan bermandi cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah untuk kalian yang seneng bergelut didunia teater dan yang sejenis, lebih baik kalian kenalan dengan karya i la galigo deh. katanya seeh ceritanya seseru cerita-cerita seperti mahabrata dsb dan yang lebih menarik lagi bahwa epik ini adalah epik terpanjang didunia. so what ar u waiting for, it's time to make you know what haven't knowed yet before, check it out&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4883691091674000039?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4883691091674000039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4883691091674000039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4883691091674000039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4883691091674000039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/tujuh.html' title='Tujuh'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4251629852234616314</id><published>2008-11-20T18:04:00.000-08:00</published><updated>2008-11-20T18:07:00.598-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kuliah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sepenggal Riwayat Perkuliahan”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;-refleksi bagi mahasiswa baru dan semester baru-&lt;br /&gt;Oleh TEDI TAUFIQRAHMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(semester tujuh, semester angker ; semester pertama, semester seger)&lt;br /&gt;[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semester tujuh adalah semester angker” begitu gumamku pada suatu ketika. Ucapan ini muncul di angkot manakala saya habis pulang dari kampus menuju rumah teman. Saya kira ucapan ini tidak terlalu berlebihan, biasa saja. Tapi memang menimbulkan pertanyaan; kenapa angker?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak terasa. Seperti baru kemarin saya menginjakkan kaki di atas tanah kampus ini, sekarang sudah hampir menuntaskannya. Ya saya sudah semester tujuh. Masih terbayang pakaian hitam putih yang saya kenakan ketika mengikuti taa’ruf seolah ingin mewajahkan semangat empat lima yang berkobar terpancar meruak di dadaku dalam menjalani kehidupan kampus, “tragedi teologis” (perkataan a****huakbar) yang menyambut saya di kampus ini menjadi tantangan dalam benak untuk menjadi “seseorang yang bisa membuat sesuatu”, perkenalan angkuh, congkak, sok pintar sewaktu bertemu teman baru seakan ingin menegaskan citra diri siapa saya sekaligus menutupi siapa saya yang sebenarnya jauh-jauh dalam almari batin—ternyata pertemanan yang dulu kita jalin dibangun atas dasar kepalsuan imaji dan citra diri, apa yang bisa diharapkan dari itu? Hanya pertukaran sosial yang saling memanfaatkan tak lebih dari itu—dan pelbagai macam rentetan peristiwa lainnya yang menyetai menjadi bintang tersendiri dalam melengkapi langit pada malam hari. Bintang itu ada yang cerlang namun juga ada yang meredup.&lt;br /&gt;Rentangan jam semester telah menunjukkan angka tujuh, angka keramat. Angka tujuh setidaknya memberikan tanda jumlah berbilang, itu pertama kali pemahaman saya tentang angka tujuh. Namun ternyata, bilangan 7 telah mempesona manusia sejak zaman dahulu kala, da¬lam sebuah studi yang berjudul Seven, the Number of Creation, Des¬mond Varley berusaha, sebagaimana dilakukan banyak sarjana lain sebe¬lumnya, untuk meringkas segala sesuatu di dunia nyata ini menjadi bi¬langan 7.&lt;br /&gt;Misalnya, dunia ini tersusun atas tiga prinsip kreatif (in¬telek aktif, bawah sadar pasif, dan kekuatan penata dan kerja sama) dan empat materi yang mencakup 4 unsur dan kekuatan sensual yang se¬laras (udara = kecerdasan, api = kehendak, air = emosi, tanah = mo¬ral). Pembagian 7 menjadi dua prinsip penyusun ini, yakni 3 spiritual dan 4 material, telah dilakukan sejak zaman dahulu dan dipakai da¬lam hermeneutik Abad Pertengahan serta merupakan dasar pem¬bagian 7 seni liberal menjadi trivium dan quadrivium.&lt;br /&gt;Hal lain contohnya, ditulis pada akhir abad ke-18, yang menyebutkan bah¬wa periodisasi selalu berkaitan dengan 7, misalnya dalam musik, sa¬tu oktaf terdiri dari 7 not, atau dalam susunan unsur kimia. Ini didasarkan pada pandangan ku¬no yang mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia berlangsung dalam periode 7 dan 9.&lt;br /&gt;Tujuh usia manusia, kata Sha¬kespeare. Philo menulis bahwa pada akhir tujuh tahun pertama tumbuhlah gigi dewasa setelah gigi susu; pa¬da akhir tujuh tahun kedua dimulailah masa puber; dan pada tujuh ta¬hun ketiga tumbuhlah jenggot di janggut seorang pemuda. Tujuh ta¬hun keempat merupakan titik kehidupan yang tinggi, dan tujuh tahun ke¬lima adalah saatnya untuk menikah. Tujuh tahun keenam ditandai de¬ngan kematangan intelektual, sedangkan tujuh tahun ketujuh memu¬liakan jiwa dengan nalar, tujuh tahun kedelapan menyempurnakan ke¬cerdasan dan penalaran, dan pada tujuh tahun kesembilan, nafsu-nafsu te¬lah redup yang berarti melapangkan jalan bagi keadilan dan keseder¬hanaan. Tujuh tahun kesepuluh adalah saat terbaik untuk meninggal, ka¬rena jika pada usia ini masih hidup manusia sudah menjadi tua renta, ti¬dak berguna, dan pikun: sebagaimana Alkitab tegaskan dalam Mazmur 90, batas usia manusia adalah 70 tahun.&lt;br /&gt;Di Cina 7 juga dihubungkan dengan kehidupan manusia, khususnya dengan kehidupan perempuan: gadis mempunyai gigi susu pada usia 7 bulan dan tanggal pada usia 7 tahun; dalam 2 × 7 tahun “roda yin” membuka ketika ia mencapai masa puber, dan pada 7 × 7 = 49 da¬tanglah masa menopause.&lt;br /&gt;Kemudian ditegaskan oleh Pseudo-Hippocrates (di¬kutip oleh Varley), “Bilangan 7 dengan kearifan-kearifan gaibnya cen¬derung membuat segala sesuatu menjadi ada. Bilangan 7 adalah mesin pem¬buat kehidupan dan sumber dari semua perubahan; fase-fase bulan berubah setiap 7 hari. Bilangan ini mempengaruhi semua benda la¬ngit.”&lt;br /&gt;Di Yunani kuno, 7 menduduki tempat penting dalam kait¬annya dengan Apollo dan Athena. Angsa-angsa yang bernyanyi ber¬putar mengelilingi pulau Delos sebanyak 7 kali sebelum Letto melahirkan Apollo yang wajahnya berseri-seri, dan kelahiran ini terjadi pada ha¬ri ketujuh (atau kesembilan), yang karenanya diperuntukkan baginya. Li¬rik yang disenandungkan Tuhan mempunyai 7 ba¬ris. Bahkan ada spekulasi yang menyatakan bahwa Apollo, yang hidup ber¬sama dengan orang-orang Hyperborean selama 7 bulan, berkaitan de¬ngan 7 bulan pada musim dingin, tetapi spekulasi ini agak meragukan.&lt;br /&gt;Kaitannya dengan Athena justru lebih kuat, karena 7 adalah bi¬langan penting yang tidak menghasilkan atau dihasilkan (yakni tidak bi¬sa dibagi dan tidak diketahui faktornya pada dekade pertama). Bi¬langan ini sangat cocok dengan Athena, seorang perawan yang muncul dari kepala Zeus. Hubungan ini diungkapkan secara apik oleh Phi¬lolaus, yang pada abad ke-5 SM menulis bahwa 7 itu “sebanding dengan dewi Athena, pemimpin dan penguasa segala sesuatu, dewi abadi, ko¬koh, tetap, serupa hanya dengan dirinya sendiri, dan berbeda dari se¬mua lainnya”. Fakta bahwa 7 tidak mampu menghasilkan (tidak bisa di¬bagi) diserap oleh mistisisme Yahudi menjadi Sabath, hari ketujuh, ke¬tika umat manusia dituntunkan untuk beristirahat dan tidak melakukan aktivitas apa pun. Di Yunani kuno, ide-ide Pythagorean tentang bi¬langan 7 dielaborasi secara khusus oleh Nicomachus dari Gerasa, yang meng¬kaji hubungan-hubungan antara 7 planet, 7 not dalam satu oktaf, 7 kunci musik, dan 7 vokal dalam bahasa Yunani.&lt;br /&gt;Sekalipun diasosiasikan dengan dewi perawan Athena, 7 juga dikait¬kan dengan pandangan patriarkal yang dikuatkan oleh pemakaian 7 di Roma kuno, dan dengan struktur sosial yang patriarkal. Roma dibangun di atas 7 bukit (yang kebetulan dinisbahkan untuk banyak tempat lainnya). Tujuh adalah bilangan keberuntungan penduduk Roma dan menjamin langgengnya kekuasaan negara yang terus berkembang ini. Ungkapan Roma septemgeminata (tujuh Roma) menunjuk pada ke¬per¬cayaan tersebut. Namun demikian, nilai penting 7 dieks¬presikan dengan baik dalam agama Kristen terdahulu ketika pendeta ge¬reja Roma, Tertullian, menyebut Tuhan dengan “septemplex spiritus qui in tenebris lucebat, sanctus semper” (tujuh ruh kudus yang bersinar da¬lam kegelapan).&lt;br /&gt;Pada zaman Kristen awal sejumlah pemujaan ke¬¬pada misteri juga tumbuh di Kerajaan Romawi, dan banyak di antara¬nya membagi entitas-entitas suci dan spiritual menjadi tujuh ala pem¬ba¬gian kuno. Pada zaman kuno akhir di Mesir terdapat 7 pembawa tong¬¬kat lambang kekuasaan yang berkaitan dengan 7 planet dan 7 hari. Na¬¬ma-nama mereka menyebar ke Prancis melalui Roma dan kemudian di¬¬ambil oleh tradisi Anglo-Saxon dan Jerman. Makanya, hari-hari kita da¬¬lam satu minggu masih ada hubungannya dengan nama-nama dewa la¬¬ngit yang dimulai dari matahari (Sunday, Minggu) dan bulan (Monday, Senin). Mars tercermin dalam bahasa Prancis mardi ‘Selasa’ atau Dienstag dalam bahasa Inggris dan Jerman, karena Ziu = Thiu bertalian de¬¬ngan Mars.&lt;br /&gt;Selanjutnya, ada Merkurius (Prancis, mercredi; Inggris, Wed¬¬nesday yakni Wodan’s day), Yupiter (Prancis, jeudi; Inggris, Thursday; dan Jerman, Donnerstag, dari kata Tunar, Donar), Venus (Prancis, ven¬dredi; Inggris, Friday; Jerman, Freitag, setelah dewi Freya), dan terakhir Saturday yang berasal dari nama Saturnus.&lt;br /&gt;Islam awal juga mengakui pentingnya bilangan 7. Menurut Alquran, Tu¬han menciptakan langit dan bumi dalam 7 lapis. Tawaf, mengelilingi Ka‘bah di Makkah selama ibadah haji, dilakukan sebanyak 7 kali, de¬mikian juga lari-lari kecil antara Shafa dan Marwa; pada akhir haji, di de¬kat Mina setan dilempar 3 kali masing-masing dengan 7 buah kerikil. Tra¬disi masyarakat mempertahankan 7 syair pujian yang “digantung”, mu‘al¬laqat, sebagai kekayaan puisi pra-Islam di Arab (meskipun 7 telah men¬jadi sebuah bilangan kelompok yang mengawali suatu puisi). Menu¬rut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, ada 7 dosa besar. Tu¬juh pemuda yang tertidur di gua Kahfi, yang juga dikenal dalam se¬ja¬rah Kristen awal, disebutkan dalam Alquran (al-Kahfi [18]:21), dan n¬a¬ma-nama pemuda saleh ini, “yang kedelapan adalah nama anjing¬nya”, dipakai dalam tradisi Islam dan tradisi gereja Timur Ortodoks se¬bagai azimat, yang sering ditulis dalam kaligrafi nan indah. Surah al-Hijr [15]:87 menyebut 7 matani ‘surah-surah ganda’, yang mungkin me¬ngacu pada 7 ayat al-Fâtihah yang diwahyukan dua kali.&lt;br /&gt;Kelompok Islam yang secara khusus aktif dalam spekulasi nume¬rologis adalah Hurufis di Iran pada akhir abad ke-14. Dengan kepercaya¬an bahwa segala sesuatu terkandung di dalam huruf-huruf dan nilai-ni¬lai numeriknya, mereka secara mudah menarik hubungan-hubungan an¬tara sapta-sapta di dalam Alquran dan 7 bagian tubuh manusia: wajah, rambut, dan bagian-bagian selebihnya.&lt;br /&gt;Dan terakhir ada sebuah pepatah Arab yang menyebut 7 hal yang ti¬dak pernah bisa diraih orang sepenuhnya, yakni “roti yang ditawarkan dengan ramah, daging kambing, air dingin, bahan pakaian yang lem¬but, wewangian yang semerbak, tempat tidur yang nyaman, dan pe¬mandangan yang indah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari pelbagai macam potensi runyam-misterius yang ada dalam angka tujuh, saya sendiri, tidak terlalu mempercayai seratus persen sekaligus percaya seratus persen—pertimbanganku ini dikarenakan belum ada pengaruh mistis yang secara langsung berimplikasi kepada hidup keseharian yang saya jalani. Ruwet?&lt;br /&gt;Maksud saya begini, misal, saya adalah pemain sepakbola kemudian saya memilih angka tujuh untuk menjadi nomor punggung saya, ketika saya berganti nomor punggung dengan angka tujuh kemudian dengan serta merta saya terus menerus beruntung, kalau nendang langsung masuk, ketika melakukan pelanggaran tidak mendapatkan kartu apapun, yang tadinya jomlo kemudian dapat pacar, kentut tidak ketahuan sama orang lain, mau buang air besar wc sedang kosong, dapat tawaran dari klub besar, kehidupan berubah menjadi baik, pokoknya terus beruntung. Tidak bisa disimpulkan bahwa memang angka tujuhlah yang menyebabkan semua itu. Bisa jadi itu adalah sugesti karena ada mitos sebelumnya yang menyatakan bahwa angka tujuh membawa keberuntungan. Tidak ada alasan logis yang menyatakan bahwa angka tujuh bisa membuat seseorang mendapat pacar, mendapatkan pekerjaan, mendapat tawaran dari klub sepakbola yang lebih besar, kentut tidak ketahuan sama orang lain dan wc terus kosong.&lt;br /&gt;Atau kesimpulan kedua, bisa jadi memang angka tujuh bisa menyebabkan itu semua, seperti halnya Tuhan. Apa bedanya angka tujuh dengan Tuhan? Bisa jadi angka tujuh adalah manifestasi dari Tuhan itu sendiri atau sebaliknya? Siapa yang tahu? Siapa yang menjamin? Sebab bukankah kita mempercayai Tuhan hanya lewat perantara kata-kata T-u-h-a-n (Allah dalam Islam dan penyebutan lain dalam agama lain, Yahweh, Hyang dan lain sebagainya), Siapa yang akan menjamin bahwa kata-kata T-u-h-a-n yang telah menciptakan alam semesta, gunung, laut, langit dan kita sendiri?&lt;br /&gt;Nabi? Siapa yang akan menjamin bahwa nabi tidak akan berbohong? Karena nabi juga seperti kita, manusia.&lt;br /&gt;Kitab suci? (Al-qur’an, Injil, Taurat, Veda dan lainnya) apakah memang kita benar-benar percaya terhadap berita yang dibawa oleh kitab suci? Siapa tahu itu hanya kumpulan dusta belaka?&lt;br /&gt;Pada titik ini kepercayaan kita terhadap angka tujuh, sejatinya, tak ada beda dengan kepercayaan kita terhadap Tuhan. Bisa jadi Tuhan adalah sugesti diri kita sendiri? Padahal dalam kenyataannya Tuhan sendiri tidak ada, yang kita percaya hanya kata-kata T-u-h-a-n, tanpa mengetahui apa realitas yang ada di sebaliknya. Apakah memang ada entitas yang lain atau sama sekali kosong? Namun hal ini juga menuai problem, masalahnya siapa yang telah menciptakan kita? Maaf, jangan jawab orang tua kita! Karena jawaban itu sangat kedengaran konyol sekali.&lt;br /&gt;Pertanyaan siapa yang menciptakan kita, adalah problem klasik yang tidak akan pernah tuntas sampai kapanpun, sekalipun pemisahan klasik-modern tidak menjadikan seseorang haram untuk membahasnya. Kemudian saya ganti pertanyaannya; bukan siapa yang menciptakan kita melainkan siapa yang menciptakan realitas sosial yang ada di hadapan kita, siapa yang membuat kenyataan yang ada di hadapan kita seperti ini adanya? Bagaimana menguraikannya? Kalau jelek, bisakah kita membuatnya lebih baik?.&lt;br /&gt;Pada mulanya tulisan ini hanya ingin memotret semester pertama namun dikarenakan susah juga rupanya untuk menulis tanpa menyertakan “diri” di dalamnya, bisa saja sih sebenarnya, namun tulisan itu akan terkesan romantis dengan dibumbui bau doktrin idealis super canggih maka kuurungkan niat itu, sebab saya tidak akan mendakwahkan supaya seseorang menjadi malaikat tetapi saya juga tidak mau melihat seseorang menjadi iblis. Singkatnya, jadilah manusia!!&lt;br /&gt;Pembahasan selanjutnya, saya ingin merefleksikan tentang apa saja yang terjadi pada semester pertama yang kemudian dikomparasikan dengan semester tujuh mulai dari gagasan, kebiasaan dan segala sesuatu yang terkait. Mari mulai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]&lt;br /&gt;“Semester pertama adalah semester seger!” itu adalah pemeo saya untuk menggambarkan, semester pertama. Betapa tidak, semester pertama adalah semester dimana seseorang berubah status dari siswa menjadi mahasiswa, perubahan ini seogyanya mengiringi semua perubahan tindak dan laku. Sekalipun murung dan tidak bersemangatnya orang itu untuk kuliah namun di semester pertama setidaknya semua orang akan terhanyut dengan esktase semangat dunia baru. Semangat dunia kampus.&lt;br /&gt;Gelegak semangat itu disertai dengan rasa ingin tahu (curiosity) dan ingin mencoba dunia baru yang di jajakinya. Ibaratnya bayi yang baru lahir, dunia menjadi sesuatu yang sama sekali asing. Mahasiswa baru pada semester pertama adalah bayi yang baru lahir di dunia kampus yang menghadirkan berbagai kegemerlapan.&lt;br /&gt;Berbagai niat seseorang untuk kuliah bercampur satu dalam jasad yang kemudian menimbulkan beberapa sikap beragam. Tak pelak lagi bahwa ketika seseorang merespon kenyataan yang ada di hadapannya selalu merujuk pada persepsi pribadi awalnya. Persepsi pribadi awal ini dibangun dari akumulasi wawasan yang sudah ada sebelumnya yang dirangkai dari niat, motivasi. Maka penyikapan dan keputusan suatu hal selalu berdasarkan, pertama kalinya, kepentingan pribadi. Tak salah orang ketika mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini politis. Politis diartikan dengan sederhana yaitu kepentingan, setiap orang berinteraksi sesuai dengan kepentingannya dan kepentingan ini di dorong oleh kebutuhan, begitu Mannheim mengurainya.&lt;br /&gt;Setiap orang akan membawa mental primordialnya sebagai modal dasar dalam interaksi selanjutnya pada dunia baru, pada ruang sosial baru yang akan di tempatinya nanti; misal, seseorang akan memilih jurusan yang berbeda dengan yang lainnya sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing (mentality potention), inilah mengapa kamu memilih sosiologi bukan yang psikologi.&lt;br /&gt;Tetapi adakalanya potensi mental ini (minat, bakat, keinginan, kepentingan, basic needs dan lainnya) akan tersandung oleh realitas sosial yang mesti mau tidak mau dihadapinya. Disintegrasi (ketidaksesuaian) antara potensi mental dan realitas sosial ini akan memunculkan yang disebut disorder of reality (realitas yang kacau). Realitas yang kacau ini pada akhirnya juga akan/mesti direspon oleh potensi mental yang bersangkutan dan pada gilirannya memunculkan sikap baru, realitas yang baru.&lt;br /&gt;Uraian prosesif sosial dasar ini akan menjadi kerangka yang hendak menjelaskan pelbagai macam sikap, perilaku yang terbentuk dalam kenyataan hidup keseharian. Kerangka teoritis di atas akan menyebutkan tesis bahwa pada faktanya banyak mahasiswa baru di UIN tetapi tidak pada kenyataannya.&lt;br /&gt;Kenyataan dan fakta pada asumsi ini sangat berbeda dan sengaja dibedakan, fakta hanya menunjukan data statistik secara kuantitatif sedangkan kenyataan menunjukkan hal yang sebaliknya. Pada faktanya memang banyak yang masuk UIN tetapi pada kenyataannya “tidak”. Ke-tidak-an ini mendapat penjelasannya dalam konsep motivasi dasar seseorang; banyak mahasiwa baru yang masuk UIN karena “terjebak”, “tak ada pilihan lain”, “tertipu”, “terperosok”, “terpaksa” serta motivasi dan alasan lainnya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, “kenyataan inheren di dalamnya potensi mental terwujud sedangkan fakta tidak”, maka disebutlah ungkapan “mimpi terwujud menjadi kenyataan” bukan “mimpi terwujud menjadi fakta”. Sesuatu terwujud menjadi kenyataan berbeda dengan sesuatu terwujud menjadi fakta (tentunya term fakta yang dimaksud dalam kerangka durkhemian). Pertanyaan sederhana; apakah perbedaan antara fakta dan kenyataan? Apakah setiap fakta dapat disebut kenyataan? Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Oke! Mari kita simpan sejenak pembicaraan tentang fakta dan kenyataan, nanti kita lanjutkan penjelasan itu di lain kesempatan. Meskipun penjelasan fakta dan kenyataan masih debatable, tetapi dikarenakan kita memerlukan pegangan simpulan untuk melanjutkan pembicaraan ini maka dibutuhkan kebenaran aksiomatik untuk merucutkan penjelasan.&lt;br /&gt;Kebenaran aksiomatik itu dapat dirumuskan seperti ini; kenyataan yang ada dalam diri setiap mahasiswa baru, 1) mahasiswa yang benar-benar pilihannya adalah jurusan sosiologi, 2) mahasiswa yang memilih jurusan sosiologi sebagai pilihan kedua, 3) mahasiswa yang “terpaksa” memilih jurusan sosiologi karena “pilihan tawaran/ketiga” (di UIN ada pilihan semacam ini karena tidak lulus kedua pilihan maka ditawarkan pilihan ketiga, pilihan yang masih kosong kuotanya, pikir-pikir “kasian amat universitas kita ini ya sampai sebegitunya, takut kehilangan pelanggan ya?! Wadugh!! Susah itu!?)&lt;br /&gt;Ketiga jenis taksonomi mahasiswa, yang telah di paparkan di atas, akan serta merta melenyap dalam ekstase semangat mahasiswa baru akan tetapi dalam varietas pertimbangan. yang berbeda. Mahasiswa jenis 1 akan memasang kuda-kuda strategi perkuliahan yang benar-benar jitu, setidaknya demikian, sebab niat awalnya memang masuk jurusan sosiologi. Mahasiswa jenis 2 akan mencari ketertarikan dari jurusan sosiologi ini, kenapa mesti mencari dulu? Sebab pilihan pertamanya bukan sosiologi, bisa saja jurusan lain, dalam pertimbangannya kalau jurusan sosiologi tidak asyik mungkin ia akan pindah ke jurusan atau bahkan pindah universitas. Nah, mahasiswa jenis 3 bisa memilih berbagai macam sikap; sabar, langsung pindah karena tidak menarik (itu juga kalau punya orang tua kaya), atau ikuti saja petunjuk Tuhan; siapa tahu pilihan Tuhan lebih baik ketimbang pilihan kita? Bukankah Tuhan yang menciptakan kita, maka Tuhan pasti tahu apa yang kita mau. (Tapi persoalannya, dari mana kita tahu “ini” adalah pilihan Tuhan dan “itu” bukan?)&lt;br /&gt;Untuk mahasiswa sosiologi baru sekarang, jenis mahasiwa manakah yang paling banyak? Jenis 1, jenis 2 atau malahan semuanya adalah jenis 3? Kalau iya semuanya jenis ke 3, Wadugh?! Repot itu?! Sebab mana mungkin predikat mahasiswa, khususnya sosiologi, sebagai “agent social of change”, “agent social movement”, “agent social control” bisa tercapai kalau persoalan primordialitasnya belum terpecahkan. Dirinya masih bingung, mana mungkin akan membuat perubahan? Jangan-jangan perubahan yang akan dikerjakannya juga membingungkan?&lt;br /&gt;Maka semester pertama adalah semester seger sekaligus angker, dikatakan seger karena perubahan status siswa menjadi mahasiswa (biasanya semenjak siswa status “mahasiswa” ini sangat diidam-idamkan dengan berbagai macam impian-gloriusnya). Dan dengan perasaan ini pula maka citra ideal mahasiswa akan tercipta; saya akan menjadi seperti ini!! begitulah tukasnya.&lt;br /&gt;Tetapi di sisi lain angker sebab setiap siswa sebelum mendapatkan predikat mahasiswa telah melewati beberapa fase reality disorder misal SPMB gagal dan bebeberapa kegagalan lainnya. Dalam keangkeran ini sebenarnya setiap orang lamat-lamat telah melepaskan keluguannya terhadap kenyataan kemudian merayap menjadi dewasa dan tahu apa yang harus dihadapi dengan berbagai tanggungan resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan semester pertama, semester tujuh adalah semester angker dan tetap angker meski di seger-seger. Ini mungkin ucapan hiperbolik sebab tidak ditunjang dengan berbagai macam validitas data dan terkesan overgeneralisir. Kekuatan argumentasi tesis ini hanya di topang oleh analogi “serampangan” kepercayaan angka tujuh dan Tuhan.&lt;br /&gt;Paling tidak, saya bisa menyebutkan bahwa, hitungan setelah angka tujuh mendekati sepuluh. Dan sepuluh adalah angka tua dalam standar semester, setidaknya bagi sebagian orang dan sebagian orang tua. Semangat perkuliahan mulai melorot tidak lagi melotot seperti semester-semester sebelumnya hal ini bisa disebabkan banyak hal; tersingkapnya realitas di balik kampus, pikiran-pikiran sudah mulai menerawang ke depan (apa yang akan dilakukan setelah beres kuliah?) pikiran ini semakin radikal manakala dia (perempuan/lelaki) sudah memiliki pasangan yang ngebet pengen nikah.&lt;br /&gt;Sementara aktivitas di kampus sudah mulai menjemukan apalagi di tambah dengan sedotan pelbagai macam kebutuhan pragmatis yang menuntut kehidupan sehari-hari, pikiran berkecambah yang sebenarnya belum saatnya dirambah. Para aktivis pun terkena sindrom angker seperti ini, pada semester tujuh mereka mulai melirik perkuliahan, pengen beres-beres nilai, dengan pelbagai macam dalih meski tersandung fallacy of thinking.&lt;br /&gt;Maka dari itu saya mengajukan hipotesis; bagaimana caranya agar pada setiap semester tetap seger? Tesis saya; menulislah!!!!&lt;br /&gt;Wallahu ‘alam bish showab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4251629852234616314?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4251629852234616314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4251629852234616314' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4251629852234616314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4251629852234616314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/kuliah.html' title='Kuliah'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-3384334688888045122</id><published>2008-11-16T19:13:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T19:16:55.283-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Janji</title><content type='html'>Cerpen AMIN R ISKANDAR&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Janji Terakhir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua taman saya tidak akan percaya. Saya orang, selalu kesepian setiap malam hari datang menyapa. Saya orang. Kesepian karena diputuskan pacar empat bulan silam. Sebab saya orang, yang biasa beri semua teman saya lelucon pemancing tawa. Tapi hanya dalam siang hari saja. Sekali lagi saya katakan. Saya orang, selalu kesepian setiap malam hari menyapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua teman saya tidak akan percaya. Kebencian pada mantan pacar saya begitu besar. Sungguh saya amat benci dia. Wanita yang saya puja, cinta, sayang setulus hati dan segenap asa dalam jiwa. Tega tanduskan ladang kasih yang pernah saya pupuk dan siram dengan air cinta yang jernih. Mestinya dapat tumbuh subur dan berbunga, pikir saya. Dan pada akhirnya akan berbuah kebahagiaan bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku salut padamu kawan!!!” ucap teman saya suatu hari. “Masih sudi temui mantan pacar kamu. Apalagi sampai hati membantunya” lanjutnya. “Padahal jelas-jelas dia tega hianati kestiaan dan ketulusan cintamu. Jika aku di posisimu, mungkin akan sangat membencinya. Jangankan menemui dan membantunya, melihat mukanya saja aku tak sudi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu salah sobat” saya menjawab singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah gimana???” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diam tak menjawab. Rokok di tangan saya hisap. Kopi hitam pun saya teguk, meski hanya sedikit. Kepulan asap rokok melayang buyarkan harap teman saya akan keterangan ucapan saya tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar matahari panas bakari kulit. Kulit saya yang terlanjur sudah hitam. Tapi kata teman-teman saya, saya nampak manis jika tersenyum. Anehnya cuaca hari saat ini. Meski panas, tingkat kelembaban udara cukup memaksa tubuh menggigil. Padahal ini musim musim kemarau. Bikin kering kulit saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena saya amat membencinya. Melebihi kebencian yang kamu utarakan barusan” jawab saya singkat. Lantas diam kemudian, lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya bengong tanda heran. Heran akan jawaban saya yang menyimpan kebencian yang teramat besar. Saking besar rasa herannya, sampai-sampai tak kuasa tuk tanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar. Jangankan teman saya, saya sendiri tidak kurang herannya. Saya sangat membencinya. Tapi jujur pula harus saya akui, untuk membuang kebencian itu tiada jalan lain. Selain duduk dekat dengannya; bercerita, bercanda, dan sesekali saya tertawa bareng bersamanya. Hanya di sisinya saya merasa nyaman, usir segala bosan dan sepi. Di sisinya pula saya masih bisa merasa bahagia dan bangkitkan gairah hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan terakhir saya tidak jumpai mantan pacar saya. Tidak juga berkomunikasi lewat ponsel. Saya yang sengaja mengambil jalan itu. SMS darinya tak pernah lagi saya jawab. Sederhana saja saya pikir, takut lebih lanjut membara rasa cinta saya dan harus lebih kecewa kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia bosan kirim SMS tanpa ada balasan. Dia pun berhenti kirim SMS, sudah dua bulan lamanya. Di balik rasa tersiksa. Lumayan, saya jadi bisa melupakannya. Rasa ingin bertemu kian berkurang, bahkan sirna sama sekali. Saking bencinya, saya bertekad untuk tidak menyapa, tidak menghadapkan muka ke arahnya. Biar saya akan selalu berpaling darinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menakdirkan lain. Saya harus berpapasan di tengah jalan, setelah dua bulan lamanya. Tak etis kiranya jika tak bertegur sapa. Lagi-lagi hati saya luluh dan layani sapaannya. Tangannya yang mulus pernah saya sentuh dia ulurkan. Saya sambut dengan tulus. Sperti biasa dia letakkan tangan saya di pipinya. Alamaaaa… sungguh ini yang telah lama saya rindukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai… lama tak jumpa. Bagaimana kabarnya” dia menyapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya baik-baik saja” jawab saya tetap singkat. “Situ gi mana?” saya balik Tanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih utuh… Seperti dapat dilihat” katanya bercanda. Seraya melempar senyuman khas dari gigi gingsulnya. Sungguh tidak berlebihan bila saya melihat kemiripan wajah dengan Sandra Dewi, pemain sinetron yang lagi naik daun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senang bisa berjumpa. Terutama karena keutuhan dirumu” saya membalas senyumannya. Kami saling bertukar senyuman. Senyuman yang selama dua bulan tidak saling menyapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sombong akhir-akhir ini. Jangankan berkunjung ke kost-an, balas SMS aja seakan tidak minat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sombong??? Tanyaku dalam hati. I-A kali, saya sedikit sombong. Akibatnya saya tak mampu menjawab kecuali tersenyum malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang aku mau pulang liburan. Kapan pulang juga?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak tau. Saya benci kampung halaman. Di sana hanya memperpanjang catatan penat saja. Di sini lebih rame meski sedikit kere” di akhir sempat saya sisakan senyuman untuknya sebagai penutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau pulang, jangan lupa main ke rumah. Aku juga akan sama, di rumah pasti bosan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak janji. Kalo sempat pulang akan mampir. Kalo tidak, saya tak akan memaksakan diri” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus, di sini mau ngapain? Bukankah sama-sama libur” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini juga saya tidak menjawab selain memberi dia senyuman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, namanya berpapasan, tidak pernah lama, lalu kami berpisah lagi. Dia tempuh jalan dan tujuannya. Saya tempuh jalan dan tujuan saya. Sama-sama menempuh jalan dan tujuan masing-masing. Kami pun benar-benar berpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum berpisah saya sempat berkata untuknya. “Jangan lupa, kita masih punya satu janji”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janji apa???” dia menyerang dengan Tanya. Kulit dahinya mengerut tanda mengeryit. Heran sepertinya dia, atau tidak mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menikmati cahaya purnama bersama. Sehabis pulang nanti saya akan menagih janji itu” lantas saya pergi, tak beri dia kesempatan tuk ngomong lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan di balik perpisahan, sempat saya melihat tatapan matanya. Tiada banyak yang berubah. Masih menyimpan rasa itu. Rasa sanyang yang pernah saya dapatkan. Rasa sayang yang sedikit telah terkecewakan. Karena tak beri kesempatan lagi. Karena menolak keinginan untuk terus bersahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Purnama, kini kehadiranmu yang ditunggu benar-benar tiba. Terang-terangan kau hadir kepermukaan seterang cahayamu” hati saya meracau di malam purnama. Dia, mantan pacar saya duduk di samping saya. Di atas rumput hijau di bawah kaki gunung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak percaya rasanya mesti tumbuh seusia jagung” kata saya pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam. Tangan saya letakkan melingkari pinggulnya. Dia sandarkan punggungnya di dada. Hewan malam bersiul tembangi kami. Sungguh syahdu saya rasa. Saya usap kepalanya, membelai panjang rambutnya, dan saya ucapkan dalam hati. Sungguh aku masih sayang kamu, Andriani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lebih dari dua jam, waktu mamaksa kami pulang. Saya antar dia pake motor hingga depan kamar tidurnya. Sebelum pisah saya selipkan secarik kertas di saku jaketnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas yang saya tulis di dalamnya. “Ini adalah malam terakhir hubungan kita. Pada akhirnya tiada lagi janji yang mesti dipenuhi. Saya berharap kita tak pernah bertemu lagi, apalagi menjalin hubungan kasih bersama. Terimakasih untuk malam ini, good bye”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMIN R ISKANDAR&lt;br /&gt;Lahir di Tasikmalaya, 28 Juli 1985,&lt;br /&gt;Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati&lt;br /&gt;bergiat di komunitas Qaf Wau Sin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-3384334688888045122?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/3384334688888045122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=3384334688888045122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3384334688888045122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/3384334688888045122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/janji.html' title='Janji'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-6341758338756246300</id><published>2008-11-16T19:07:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T19:12:13.740-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Buruk</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Cai Buruk Milu Mijah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh DHIPA GALUH PURBA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASARINA mah ngojay téh tara ngajak motor. Ari dina peuting harita mah (23/04/06), kapaksa kudu ngojay bari nungtun motor. Kétang, da teu aya niat rék ngojay tadina mah. Biasa baé, rék nepungan si manéhna di wewengkon Dayeuhkolot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Najan hujan ngagebrét dibarung kilat patingburinyay tur dor-dar gelap matak kapiuhan jalma sawan, tapi pikeun kuring henteu jadi halangan. Geus kadung jangji, najan kudu ngayonan galura motah atawa unggah gunung, moal rék pugag léngkah pikeun nepungan si manéhna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bada Magrib, ngabiur ti Cibiru, nyorang Jalan Bypass nepi ka Cigéréléng. Tuluy méngkol ka kénca, Jln. Moch. Toha, bras ka wewengkon Palasari—anu ngahubungkeun Jl Moch Toha jeung Dayeuhkolot. Teu wudu rada hookeun ningali jalan anu ngadadak robah jadi balong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A, mending uih deui! Jero pisan…!” aya hiji lalaki mépélingan, basa nyaksian kuring anu tuluy nyebrut, meulah cai nu nguyumbang saparat jalan. Teu didéngé, angkanan téh geus pangalaman ieuh motor kuring mah, da ampir saban hujan, pasti ngaliwatan banjir cileuncang di Gedebagé. Palakiah mawa motor dina banjir mah gampil, kari panteng wé gasna. Sabab, manteng gas, hartina kenalpot ngaluarkeun angin. Sabalikna, lamun gas dikendoran, kenalpot nyedot angin. Puguh baé ana kaayanana banjir mah, anu kasedot téh lain angin, tapi cai. Ari motor kaasupan cai, nya tangtu bakal paéh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanjakal pisan palakiah éta téh, henteu metu ngayonan banjir di wewengkon Palasari mah. Teu mangga pulia deui, motor téh paéh. Kilang kitu urang teu kudu hariwang, da motor mah najan paéh ogé, sok bisa hirup deui (conto séjén nu paéh bisa hirup deui). Taya deui jalan, iwal ti didorong, da piraku ari nu nyupiranna kudu milu paéh mah tangtu moal bisa hirup deui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jok motor ampir kakeueum. Kuring asa keur ngojay wé, ngan bédana harita mah bari nungtun motor téa. Sangkan henteu pati karasa capé, kuring ngabayangkeun anu keur dituungtun téh si manéhna anu keur diajar kokojayan bari maké baju ngojay. Tapi bangga diajak badamina imajinasi téh. Nu puguh mah haté ngocoblak, nyarékan laklak dasar ka manusa tukang ngaruksak alam, anu temahna matak balangsak masarakat. Sabab, kajadian banjir téh tangtu aya sabab-musababna. Buktina, di lembur kuring mah tara aya banjir, da kalumangsungan alam téh masih kapiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamun kaayaanana wanci beurang, kawasna bakal kaciri, yén cai anu ngeueum Palasari mah béda warnana, henteu sakadar coklat. Sabab, lain sakali-dua kali nyorang banjir cileuncang di wewengkon Palasari. Tong boro hujan ngagebrét, dalah hujan leutik ngaririncik ogé di wewengkon éta mah sok banjir cileuncang samet mumuncangan baé mah. Warna caina rupa-rupa, aya beureum, héjo, abu-abu, jsb. Boa-boa éta mah lain sabanjir-banjirna, siga limbah industri anu ngahaja dipiceun kalayan ngagunakeun kasempetan dina mangsana hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puguh deui ari walungan mah, saperti Citarum anu geus jadi pamiceunan limbah industri tina rébuan pabrik anu ngajajar sapanjang sisi walungan. Kangaranan cairan anu dipiceun ku pabrik, sajabana ti bau téh katambah ngandung zat racun anu ngabahayakeun (B3). Sanajan méméh dipiceun diolah heula ku IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) atawa water threathmen, tetep baé lain hiji jaminan cairan ti pabrik aman (komo anu henteu diolah heula). Tong boro bisa diinum, dipaké masak, atawa dipaké mandi, dalah dipaké kaperluan tatanén ogé moal bisa. Kilang kitu, ulah aya nu kumawani nyarék pabrik, da maranéhna mah apan geus nyepeng Surat Izin Pembuangan Limbah Cair (SIPLC). Ka hareupna, SIPLC téh alusna mah kudu meunang idin heula ti masarakat. Sabab, lamun Citarum henteu diurus baé, 76 héktar kacamatan Dayeuhkolot bakal salawasna jadi langganan banjir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayeuna, sabada geus taya lolongkrang pikeun miceun limbah ka walungan, naha jalan raya ogé rék ‘dirékrut’ jadi pamiceunan? Deudeuh teuing urang Bandung, mani bangga rék leumpang-leumpang ogé. Lemah cai nu subur ma’mur téh kiwari mah tinggal susuluk. Solokan, walungan, tug nepi ka jalan raya, geus pinuh ku limbah industri. Pamaréntah ogé kawasna geus ngarasa weudeu ngaspal jalan di wewengkon Palasari, sabab tara kungsi awét. Rék awét kumaha, da ampir saban mangsa kakeueum cai buruk nu milu mijah (wewengkon éta, lain hiji-hijina tempat anu mindeng kakeueum ku cai buruk dina mangsana hujan). Ceuk sawangan, cai warna-warni anu mindeng mijah di jalan raya téh, asa piraku ari jolna ti sabangsaning limbah loték atawa bajigur mah, pamohalan kabina-bina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A, badé didorong?” aya budak leutik nyampeurkeun, kukucuprakan dina cai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sok, dorong lah!” témbal téh. Budak leutik semu atoheun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wios ku duaan, A?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pék baé tiluan ogé…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tilu urang budak leutik katingali mani ocrak. Motor hiji didorong ku opatan, dibarung ku tingcikikik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya kénéh seuri dina mangsa katarajang musibah alam. Sanajan rada bangga ngabédakeunana, naha éta seuri téh kaasup kana seuri maur, seuri konéng, atawa seuri nanahaon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Geus nyata karuksakan di darat jeung di laut dilantarankeun ku pagawéan leungeun-leungeun manusa, supaya Alloh ngarasakeun ka maranéhna sabagéan tina akibat pagawéanana, sangkan maranéhna mulang ka jalan anu bener.” (Q.S. Ar Rum: 41)*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayeuhkolot, 25 Rabiul Awal 1427 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ieu seratan dimuat di KSM Galura, Minggu I, Juni 2006&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-6341758338756246300?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/6341758338756246300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=6341758338756246300' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6341758338756246300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6341758338756246300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/buruk.html' title='Buruk'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4160990963836345191</id><published>2008-11-16T19:02:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T19:03:24.348-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Menulis</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Membaca Sastra, Menulis Sastra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh BADRU TAMAM MIFKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis sastra ternyata sangat menyenangkan. Jika kita punya keinginan,ternyata menciptakan karya sastra, baik cerpen, puisi dsb., bukanlah pekerjaan yang penuh derita, jika pekerjaan menulis, dalam bentuk apapun, dijadikan kegemaran atau hobi yang menghibur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jadikan kegiatan menulis sastra seperti kegemaran mengoleksi benda-benda, bermain game, atau kegemaran bermain sepak bola. Simpan saja obsesi membuat karya sastra adiluhung atau keinginan dimuat di media massa. Hiraukan dahulu teori-teori menulis sastra jika rumit. Jangan jadi beban, menulislah seribu cerita dan puisi setiap hari. Di sanalah, kita akan masuk dalam sebuah taman imajinasi yang indah penuh beribu sahabat. Kita melahirkan banyak tokoh-tokoh yang kita inginkan. Kita membuat alur cerita yang kita kehendaki. Kita bermain dengan beribu kata dan cerita, seolah-olah kita tengah menyusun nada-nada di ruang kesunyian, nada-nada yang bersahutan, dan kelak menjelma nyanyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana memulainya? Tentu saja, kenikmatan menulis akan lahir jika kita sudah punya kenikmatan membaca buku-buku dan keseharian hidup. Sebab dengan membaca, pada gilirannya, kita akan mempunyai kebutuhan untuk menulis dan bicara. Dalam umpama sedikit jorok, membaca buku dan realitas seperti menyantap hidangan ke perut kita, tentu saja tak ada orang yang bisa menolak kebutuhan untuk buang air besar! Orator ulung dan penulis produktif lahir dari kegemaran membaca. Membaca buku dan realitas akan menghadirkan gagasan dan imajinasi dalam kepala kita. Karena dalam buku, kita akan terbiasa mengenali kosa kata, tata kalimat, gagasan, pemikiran, pengalaman, dan sebagainya. Pun mengamati realitas, kita akan belajar mengasah kepekaan yang kelak akan muncul dalam bentuk kebutuhan untuk ditulis atau dibicarakan dan disampaikan pada seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah menulis sastra, kita mulai dengan kegemaran membaca karya-karya sastra yang banyak di temukan di koran, majalah dan buku-buku. Kita kenali dan nikmati alur cerita, lalu kita bayangkan kembali. Kita kenali, nikmati dan apresiasi diksi dalam puisi, lalu kita olah dalam benak. Setelah dirasa cukup akrab dengan bentuk cerita dan puisi, bisakah kita membuat cerita dan puisi dengan tema yang sama? Bisakah kita punya alur cerita yang berbeda dan punya pemilihan kata yang lain? Kita bisa mulai dengan menulis cerita-cerita dan puisi-puisi pendek, tentang pengalaman, perasaan dan pendapat kita terhadap sesuatu. Misalnya kita terpesona pada matahari tenggelam, keheningan malam dan keindahan seseorang. Setelah itu, kita berdialog dengan diri sendiri, apa yang menarik dari yang kita lihat? Apa yang kita rasakan ketika menyaksikan dan mengingatnya? Apa menurut kita tentang itu? Kemudian kita buat sebuah puisi dengan pemilihan bahasa yang segar, unik, tidak klise (jarang dipakai), padat dan reflektif. Atau kita buat cerita dengan alur sederhana yang sederhana tentang pengalaman keseharian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, teruslah belajar mengakrabi karya-karya sastra yang ada. Masuki dunia sastra dengan terlebih dahulu sebagai penikmat, setelah itu cobalah membuat karya sendiri. Intensitas membaca karya-karya sastra orang lain memungkinkan kita memiliki kekayaan dan kepekaan bahasa dan imajinasi. Jangan berharap bisa membuat puisi yang bagus jika kita tak pernah sedikitpun punya pengalaman membaca puisi, begitupun dengan cerita pendek. Luangkan waktu untuk sendiri, bacalah sebuah cerita atau beberapa puisi, bersedia membuka mata, hati dan pikiran, lantas himpunlah apa yang kita lihat dan rasakan. Saatnya kita rekam setiap kejadian yang melintas di depan mata dan pikiran dalam cerita dan puisi. Teruslah membaca dan menulis sastra setiap hari. Karena karya yang bagus, berawal dari kepingan-kepingan karya tanpa henti yang dibuat setiap harinya…[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4160990963836345191?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4160990963836345191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4160990963836345191' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4160990963836345191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4160990963836345191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/menulis.html' title='Menulis'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-1514265765698126491</id><published>2008-11-16T18:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T18:58:47.295-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Jihad</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Teologi Jihad, Bukan Seperti Amrozi cs&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh AHMAD SAHIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KASUS eksekusi mati Amrozi cs setidaknya bisa dikatakan selesai—meskipun pihak keluarga dan pengacaranya menggugat ketidakterbukaan (tidak transparan) dalam menentukan eksekusi dan tidak diikutsertakannya pihak pengacara dan keluarga dalam proses eksekusi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di televisi kita menyaksikan bagaimana keluarga korban ‘Bom Bali’merasa puas dengan tindakan hukuman tersebut. Begitu juga sebagian pengamat Islam, menilai tindakan eksekusi mati itu bisa membuat jera ‘generasi’ setelah Amrozi cs dalam aksi-aksi selanjutnya. Tapi sayang, perkiraan awal itu meleset; karena ternyata teror terhadap beberapa instansi dan kedutaan asing malah kian muncul. Ini memang sebuah fenomena yang memerlukan sebuah penelusuran lebih lanjut, terutama aspek yang melatarbelakanginya sehingga bisa melakukan tindakan yang tidak bersahabat dan mencelakakan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, persoalan tersebut tidak lepas dari pemahaman keislaman dan keimanan yang parsial-harfiah dan tanpa diimbangi dengan ‘pendalaman’ sehingga membentuk watak dan orientasi hidup yang bersifat instan. Hanya untuk surga berani mengorbankan orang-orang yang belum tentu memiliki kesalahan yang dipersoalkan oleh mereka. Padahal, pintu menuju surga itu tidak hanya melalui perang melawan kaum kafir, tapi ada pintu-pintu lainnya; seperti berbagi dan peduli pada kaum dhuafa dan memberdayakan orang-orang miskin. Maksudnya, ‘jihad’ jangan selalu diidentikan dengan perang fisik atau perlawanan berdarah. Tapi ‘jihad’—seperti kata M.Quraisy Shihab—dalam Islam bermakna ‘sebuah upaya yang sungguh-sungguh’ dalam melakukan sebuah perbuatan atau amaliah yang membawa kebaikan; karena hal itu yang menjadi tujuan utama dari risalah Islam dibawa Nabi Muhammad saw—rahmatan lil `alamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita membaca sejarah Islam, keberhasilan Rasulullah saw dalam menjalankan misinya itu didasarkan pada konsep tauhid, keadilan, dan pemberdayaan. Dengan doktrin tauhid ini Nabi saw tidak hanya berhasil menarik massa dalam naungan kalimat la ilaha illallah, tapi juga membebaskan manusia dari belenggu stratifikasi sosial (kasta) sehingga kedudukan umat Islam tidak beda satu sama di mata Allah kecuali karena taqwa dan keimanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doktrin pengakuan keesaan Tuhan ini berimplikasi pada terciptanya keadilan (al-`adl) di seluruh masyarakat Arab, baik Muslim maupun non-muslim. Saat Nabi Muhammad saw, tidak ada yang merasa terdzalimi, tidak ada demonstrasi dikarenakan perlakukan atau kebijakan Nabi, semuanya merasakan ketenangan dan kedamaian dalam masyarakat yang dibangun Nabi. Keadilan memang menjadi inti dari pemerintahan yang dibangun Nabi ketika itu. Kepada anaknya sendiri, Nabi sanggup memberikan hukuman apabila Sayyidah Fahtimah Az-Zahra mencuri. Demikian yang termaktub dalam hadits yang disampaikan Nabi. Sebaliknya, Nabi berani mengusir saudara dari sahabat dekatnya yang menghina dan tak mau mengikuti aturan yang digariskan dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Pendeknya, Nabi Muhammad saw tidak ‘pandang bulu’ dalam menegakkan keadilan bagi masyarakat Muslim maupun non-muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan memang diberlakukan pada semua komunitas yang berada dalam naungan pemerintahan Islam Nabi Muhammad saw. Namun aspek pemberdayaan tidak semua mendapatkannya, hanya orang-orang yang tertindas dan kemampuan ekonomi serta membutuhkan pencerahan ‘baca-tulis’ saja yang dibantu. Nabi memberikan ampunan kepada tawanan perang dari kaum kafir atau musyrik, apabila bisa ‘membebaskan’ salah seorang Muslim dari kebodohannya (baca: tidak bisa baca tulis) melalui pengajaran. Bentuk pemberdayaan lainnya, mereka yang memiliki potensi bertani diberi keluasan untuk menggarap tanah rampasan perang yang menjadi hak kaum Muslimin. Memberi wewenang menyebarkan risalah Islam ke Abu Dzar di kampungnya. Inilah bentuk pemberdayaannya. Pemberdayaan orang-orang tak mampu dan pembebasan dari ketidakadilan dan dari buta huruf yang dilakukan Nabi saw di masa awal Islam adalah menjadi bukti dari penerapan ‘jihad’yang sesuai maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah aksi Amrozi cs itu termasuk ‘jihad’? Secara hakikat saya tak tahu. Tapi bila merujuk kepada Ahmad Syafii Maarif—dalam wawancara detikcom, Ahad (09/11/2008)—bahwa tindakan Amrozi cs itu didasarkan pada konsep teologi maut. “Prinsip teologi maut, yakni mereka berani mati karena tidak berani hidup. Kecuali hanya mengagungkan sejarah, marah, menganggap yang tidak sepaham dengannya sebagai musuh,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat jihad &lt;br /&gt;Lalu, apa makna jihad yang terdapat dalam Al-Quran? Cendekiawan Muslim Muhammad Quraisy Shihab mengemukakan bahwa kata jihad terulang dalam Al-Quran sebanyak empat puluh satu kali dengan berbagai bentuknya. Jihad berasal kata ‘jahd’ yang berarti letih atau sukar. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata ‘juhd’ yang artinya kemampuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan arti jihad di atas. Antara lain surat Ali ‘Imran: 142, 169; Al-Baqarah: 214, 155; Al-Tawbah:19, 24, 44, 81; A1-Ankabut: 6, 69; Luqman: 15; Al-Hajj: 78; dan lainnya. Dalam ayat-ayat tersebut, ‘jihad’artinya berkaitan dengan ujian manusia yang harus dilalui dengan penuh kesabaran dan ketabahan dalam menjalani hidup, kesungguhan dalam aktivitas sehingga mencapai tujuan, serta bersifat fitrah kemanusiaan. Bila bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan nilai-nilai Islam, maka aktivitas tersebut di luar kategori ‘jihad’ atau sesuatu yang tidak dibenarkan. Namun entah mengapa arti ‘jihad’—yang terdapat Al-Quran—tidak muncul, malah yang bersifat kekerasan atau perlawanan bersenjata (perang fisik). Ini mungkin karena kurangnya ‘pendalaman’ dalam memahami ayat-ayat Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad dan mujadah&lt;br /&gt;Ar-Raghib Al-Isfahani dalam kamus “Mu’jam Mufradat Al-Fazh Al-Quran” menerangkan bahwa makna ‘jihad’ dan ‘mujahadah’ adalah sama, yaitu mengerahkan segala tenaga untuk mengalahkan musuh yang nyata, menghadapi setan, dan menghadapi nafsu dalam diri sendiri. Sebagaimana tertuang dalam Surat Al-Hajj ayat 78, “Berjihadlah demi Allah dengan sebenar-benarnya jihad”; “Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah, hanya mengharapkan rahmat Allah” (QS Al-Baqarah [2]: 218); dan “Wahai Nabi, berjihadlah menghadapi orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat” (QS At-Tawbah [9]: 73 dan At-Tahrim [66]: 9). Juga hadits Rasulullah saw, “Jahiduw ahwa akum kama tujahiduna ‘ada akum” (Berjihadlah menghadapi nafsumu sebagaimana engkau berjihad menghadapi musuhmu); dan “Jahidu Al-kuffar ba aidiykum wa al-sinatikum” (Berjihadlah menghadapi orang-orang kafir dengan tangan dan lidahmu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari ayat dan hadits tersebut tampak bahwa jihad adalah ‘perjuangan’ dengan seluruh potensi yang dimiliki manusia, sehingga ‘musuh’ tidak lagi melakukan tindakan yang merugikan manusia dan menghadapi orang kafir dan munafik yang jelas-jelas menentang Allah dan Rasul-nya serta menghalangi terwujudnya kemaslahatan umat. Jihad bukan hanya perang fisik, tapi juga sikap dan rasa tanggungjawab yang luhur terhadap amanah yang diemban dan menuntun diri sendiri agar selamat dunia dan akhirat. Bila makna ini yang dipegang kaum Muslimin, maka jihad dalam dimensi teologi Islam akan menciptakan kehidupan manysyarakat yang gandrung dengan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian. Saya kira semua orang merindukannya. Semoga saja terwujud di negeri ini. Amien ya rabbal `alamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHMAD SAHIDIN adalah Editor Penerbit Salamadani Bandung&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-1514265765698126491?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/1514265765698126491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=1514265765698126491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1514265765698126491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/1514265765698126491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/jihad.html' title='Jihad'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-4936897862845136887</id><published>2008-11-11T05:08:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T05:14:21.273-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Film Nasioanl</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelajaran dari Film Laskar Pelangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh ALI NUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan terakhir ini tepatnya sejak 25 September, bioskop-bioskop di Indonesia dibanjiri penonton yang penasaran untuk menonton film Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 2 juta orang menyaksikan film ini sejak mulai diputar sebulan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepenasaranan masyarakat Indonesia terhadap film ini juga menggugah Presiden Yudhoyono untuk menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada 8 Oktober yang lalu, didampingi beberapa menteri kabinetnya, Dr. Yudhoyono menyaksikan film ini di Blitzmegaplex Grand, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat film ini begitu istimewa dan mengundang penasaran para pecinta film untuk menontonnya termasuk seorang kepala negara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini sebagaimana film popular sebelumnya Ayat-ayat Cinta, diangkat dari sebuah novel terkenal di Indonesia dengan judul yang sama Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini merupakan novel pertama dari empat novel tetralogi yang ditulis Andrea Hirata. Novel selanjutnya adalah Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah karpov.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan film Ayat-ayat Cinta yang mengambil setting di Mesir, Laskar Pelangi bercerita tentang sepuluh anak miskin di Belitong, sebuah perkampungan di provinsi Bangka-Belitung, dalam menggapai cita-citanya melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pengakuan penulisnya, novel ini merupakan rekaman masa kecil sang penulis ketika menempuh pendidikan di SD Muhammadiyah Belitong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mereka sekolah di kampong dengan fasilitas terbatas, tetapi semangat untuk belajar dan prestasi akademik para anak Laskar Pelangi ini sangat mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini membangkitkan semangat melawan segala bentuk keterbatasan dan menunjukkan bahwa kejayaan bisa diraih oleh siapapun, jika mau berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang mengilhami Andrea untuk menebarkan semangat untuk maju kepada anak-anak di seluruh Indonesia lewat novelnya dan sekarang dengan film yang penyutradaraannya diserahkan kepada Riri Reza..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita film ini dimulai dengan situasi menegangkan ketika 9 murid baru disekolah itu bersama guru dan kepala sekolah menunggu satu orang lagi murid agar menjadi genap 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak sampai 10 orang murid baru maka SD Muhammadiyah itu harus ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, di menit-menit terakhir datanglah Harun, seorang anak berusia 15 tahun dengan keterbelakangan mental, diantar oleh ibunya daftar disekolah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah, pergulatan kesepuluh murid dengan julukan Laskar Pelangi diceritakan dalam film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiakawanan, kebersamaan, keakraban, kehangatan, perjuangan dan pengorbanan 10 anak desa mewarnai cerita film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pelajaran bisa diambil dari pergulatan kesepuluh tokoh Laskar Pelangi termasuk peran guru dan kepala sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, film ini menunjukkan bagaimana perjuangan tanpa henti dengan semangat tinggi untuk maju ditunjukkan oleh anak-anak kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintang, salah seorang tokoh sentral dalam film ini, misalkan harus berjuang mengayuh sepeda sejauh 80 kilometre pulang pergi tiap hari untuk berangkat ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun jauh, dia sabar menjalaninya dan bahkan berhasil menjadi seorang murid yang unggul dan berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kecerdasan dan kegigihannya belajar, Lintang berhasil menjadi juara di kelasnya dan menjadi terkenal setelah berhasil membawa sekolah miskin itu menjadi juara cerdas cermat mengalahkan sekolah elit yang lengkap fasilitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Lintang mengayuh sepeda ke sekolah dengan berbagai rintangannya dan juga situasi dramatis bagaimana perlombaan cerdas cermat ditunjukkan dengan mengagumkan dalam film ini yang membuat penonton larut terbawa emosi haru, tegang dan gembira ketika menyaksikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, film ini menunjukkan bagaimana kesetiaan, pengabdian dan integritas seorang guru terhadap profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa dilihat dari pengorbanan Ibu Muslimah yang dengan gigih penuh pengorbanan mendidik para Laskar Pelangi untuk menjadi murid yang pintar dan berhasil meskipun berada dalam segala keterbatasan seperti bangunan sekolah yang sederhana dan gaji yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran yang ditunjukkan Ibu Muslimah ini bisa menginspirasi para guru lainnya untuk berjuang mempersiapkan masa depan sumber daya manusia yang lebih unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, film ini mengajarkan bagaimana perlunya saling menghargai sesama warga bangsa Indonesia yang multikultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa dilihat bagaimana sekolah Islam (SD Muhammadiyah) mau menerima A Kiong seorang beretnis Tionghoa dan berlatar belakang Konghucu untuk bersekolah di SD tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemanan akrab diantara para Laskar Pelangi tanpa memandang etnis dan agama ditunjukkan dalam film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton seolah diajarkan bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia yang multikulturalis bisa hidup saling berdampingan dan bersama-sama bisa maju seperti persahabatan para Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menjadi sangat signifikan terutama bagi para pelajar di Indonesia yang perlu ditanamkan sejak dini bagaimana hidup saling menghargai, menghormati dan hidup rukun meskipun berasal dari keluarga yang berbeda agama dan etnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan antar etnis juga ditunjukkan dalam film ini ketika Ikal seorang Melayu (tokoh lainnya dalam film ini) tanpa sungkan jatuh cinta pada A Ling, seorang Chinese anak pemilik Toko Sinar Harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, film ini juga menunjukkan bahwa kemiskinan bukan halangan untuk maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat jelas bahwa pesan utama dari film ini adalah untuk menunjukkan bahwa kemiskinan seperti terlihat dari latar belakang ekonomi keluarga anak-anak Laskar Pelangi, bukanlah halangan bagi anak-anak itu untuk menggapai cita-cita setinggi langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, meskipun hidup dalam kemiskinan, seorang anak sekolah harus mempunyai mimpi menggapai cita-cita yang luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan ini juga terlihat jelas dalam permulaan syair soundtrack film ini yang dinyanyikan oleh group band Nidji sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi adalah kunci&lt;br /&gt;Untuk kita menaklukkan dunia&lt;br /&gt;Berlarilah tanpa lelah&lt;br /&gt;Sampai engkau meraihnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya pesan moral dari film Laskar Pelangi ini tidak hanya cocok bagi situasi Indonesia tapi juga bagi negara-negara lain terutama bagi kalangan yang peduli terhadap pendidikan dan sumber daya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan moral menanamkan sikap saling menghargai dan menghormati sejak dini pada anak-anak bagi warga bangsa yang multikultural juga bisa dicontoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan moral lainnya tentu masih banyak yang bisa diambil dari film Laskar Pelang ini tergantung dari sisi mana penonton melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan film ini tidak hanya beredar di Indonesia tapi juga bisa merambah negara jiran seperti Singapore atau Malaysia yang juga merupakan bangsa yang multukultural.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-4936897862845136887?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/4936897862845136887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=4936897862845136887' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4936897862845136887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/4936897862845136887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/film-nasioanl.html' title='Film Nasioanl'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-2217422354229146713</id><published>2008-11-11T05:04:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T05:07:37.707-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Silaturahim</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Pancakaki", Silaturahim Urang Sunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Sukron Abdilah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/01/10555796/pancakaki.silaturahim.urang.sunda"&gt;Kompas&lt;/a&gt;, Sabtu, 1 November 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Lebaran lalu, saya kedatangan tamu dari desa lain. Kakak saya yang paling besar (cikal) memperkenalkannya dan melontarkan kata-kata, "Sok, pancakaki heula maneh teh (Silakan berkenalan dulu kamu ini)". Ternyata, setelah mengobrol panjang lebar, tamu itu adalah keponakan (alo) dari ayah saya (alm), yang telah sekian lama tidak bersilaturahim. Sejak kecil, baru sekarang ia ber-pancakaki dengan keluarga saya karena kebetulan bertemu dengan kakak saya di Jakarta. Ternyata tamu itu satu garis keturunan dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran garis keturunan (sakeseler) dalam khazanah kesundaan diistilahkan dengan pancakaki. Dalam Kamus Umum Basa Sunda (1993), pancakaki diartikan dengan dua pengertian. Pertama, pancakaki menunjukkan hubungan seseorang dalam garis keluarga (perenahna jelema ka jelema deui anu sakulawarga atawa kaasup baraya keneh). Kita pasti mengenal istilah kekerabatan, seperti indung, bapa, aki, nini, emang, bibi, euceu, anak, incu, buyut, alo, suan, kapiadi, kapilanceuk, aki ti gigir, dan nini ti gigir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah tersebut merupakan sistem kekerabatan masyarakat Sunda yang didasarkan pada hubungan seseorang dalam sebuah komunitas keluarga. Dalam sistem kekerabatan urang Sunda diakui juga garis saudara (nasab) dari bapak dan ibu, seperti bibi, emang, kapiadi, kapilanceuk, nini ti gigir, dan aki ti gigir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pancakaki juga bisa diartikan sebagai proses penelusuran hubungan seseorang dalam jalur kekerabatan (mapay perenahna kabarayaan). Secara empiris, ketika kita mengunjungi suatu daerah, pihak yang dikunjungi akan membuka percakapan, "Ujang teh ti mana jeung putra saha (Adik itu dari mana dan anak siapa)?" Ini dilakukan untuk mengetahui asal-usul keturunan tamu sehingga sohibulbet atau pribumi akan lebih akrab atau wanoh dengan semah guna mendobrak kekikukan dalam berinteraksi dan berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pancakaki pada pengertian ini adalah proses pengorekan informasi keturunan untuk menemukan garis kekerabatan yang sempat putus. Biasanya hal ini terjadi ketika seseorang nganjang ke suatu daerah dan di sana ia menemukan bahwa antara si pemilik rumah dan dirinya ada ikatan persaudaraan. Maka, ada peribahasa bahwa dunia itu tidak selebar daun kelor. Antara saya dan Anda, mungkin kalau ber-pancakaki, ternyata dulur. Minimal sadulur jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal-usul keturunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Edi S Ekadjati (Kebudayaan Sunda, 2005), urang Sunda memperhitungkan dan mengakui kekerabatan bilateral, baik dari garis bapak maupun ibu. Ini berbeda dengan sistem kekerabatan orang Minang dan Batak yang menganut sistem kekerabatan matriarkal dan patriarkal, yaitu hanya memperhitungkan garis ibu dan garis keturunan bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancakaki dalam bahasa Indonesia mungkin agak sepadan dengan silsilah, yakni kata yang digunakan untuk menunjukkan asal-usul nenek moyang beserta keturunannya. Akan tetapi, ada perbedaannya. Menurut Ajip Rosidi (1996), pancakaki memiliki pengertian hubungan seseorang dengan seseorang yang memastikan adanya tali keturunan atau persaudaraan. Namun, menjadi adat istiadat dan kebiasaan yang penting dalam hidup urang Sunda, karena selain menggambarkan sifat-sifat urang Sunda yang ingin selalu bersilaturahim, itu juga merupakan kebutuhan untuk menentukan sebutan masing-masing pihak dalam menggunakan bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Sebab, pancakaki sebagai produk kebudayaan Sunda diproduksi karuhun Ki Sunda untuk menciptakan relasi sosial dan komunikasi interpersonal yang harmonis dalam komunitas, salah satunya ajen-inajen berbahasa. Tidak mungkin, jika kita tahu si A atau si B memiliki hubungan kekerabatan dengan kita, dan lebih tua, kita mencla-mencle berbicara tak sopan. Jadi, dengan ber-pancakaki sebetulnya kita (urang Sunda) tengah membina silaturahim dengan setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen kebudayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuntowijoyo dalam buku berjudul Budaya dan Masyarakat (2006:6), menulis bahwa dalam budaya kita akan ditemukan adanya tiga komponen pokok, yaitu lembaga budaya, isi budaya, dan efek budaya (norma-norma). Lembaga budaya menanyakan siapa penghasil produk budaya, pengontrol, dan bagaimana kontrol itu dilakukan. Isi (substansi) budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa saja yang diusahakan. Adapun efek budaya menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, anomali budaya (kebudayaan disfungsional) akan terjadi jika simbol dan normanya tidak lagi diejawantahkan masyarakat. Akibatnya, muncul kontradiksi sehingga memicu lahirnya kelumpuhan dasar-dasar relasi secara sosiologis. Ini akan terjadi juga dalam ruang lingkup relasi sosial kemasyarakatan urang Sunda jika pancakaki sebagai isi kebudayaan lokal tidak mendapatkan porsi pengamalan dan pelestarian. Efek kebudayaan pun tidak akan dirasakan, seperti menggejalanya keterputusan komunikasi dan relasi antar-dulur (kerabat) yang satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tidak memiliki efek budaya, hal itu akan memicu lahirnya anomali akibat minimnya keinginan kita untuk mengaktifkan simbol kebudayaan, salah satunya pancakaki, dalam hidup keseharian. Tradisi silaturahim atau silaturahim khas Sunda (baca: pancakaki) ini sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan umatnya untuk menyebarkan keselamatan. Silaturahim juga merupakan salah satu penentu masuk surga dan terciptanya keharmonisan interaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagi urang Sunda kiwari, ber-pancakaki tidak hanya dilakukan untuk menelusuri garis keturunan, tetapi juga menelusuri dari mana asal diri kita. Karena itu, seorang pengusaha dan pejabat, umpamanya, sadar bahwa sebetulnya mereka berasal dari rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saatnya kita ber-pancakaki. Lirik kiri-kanan, jangan-jangan ada keluarga dekat atau jauh, bahkan rakyat miskin yang tak bisa makan. Sebab, dalam ajaran agama, semua manusia bersaudara. Semua berasal dari Nabi Adam AS. Jadi, dulur sadayana oge manusa mah! Wallahualam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKRON ABDILAH&lt;/span&gt; Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-2217422354229146713?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/2217422354229146713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=2217422354229146713' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/2217422354229146713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/2217422354229146713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/silaturahim.html' title='Silaturahim'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-6912048608957660766</id><published>2008-11-03T20:12:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T20:16:26.038-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Mati</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kultum, Malamatiyah, dan Eksekusi Mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh AHMAD SAHIDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM sebuah diskusi di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, cendekiawan Muslim Prof.Dr.Jalaluddin Rakhmat, M.Sc., menyampaikan bahwa tradisi kultum sebelum shalat mempunyai akar historis. Yakni pada masa kekuasaan Daulah Umayyah atau masa hidup Imam Hasan bin Abu Thalib, cucu Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Khalifah yang memegang Daulah Umayyah ini punya kebiasaan menyampaikan tausiyah singkat atau kultum tiap menjelang shalat dzuhur di masjid pemerintah. Selain menyampaikan doktrin-doktrin Islam, juga seringkali digunakan sebagai alat untuk mencaci-maki dan menghina atau menghujat keluarga Nabi Muhammad saw. Sudah bukan lagi rahasia bila Ali bin Abu Thalib beserta keturunannya dianggap sebagai penentang penguasa yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, orang yang dijelek-jelekkan itu, yaitu Imam Hasan, tidak marah atau menghujat balik. Malah mendengarkan saja sambil menunggu waktu shalat berjamaah. Setelah selesai kultum dan dikumandangkan iqamat; khalifah yang memberi kultum itu menjadi imam shalat. Makmumnya adalah para parajurit DaulahUmayyah dan masyarakat, termasuk Imam Hasan. Kultum itu tiap hari dilakukan oleh penguasa Umayyah dan tiap hari juga Imam Hasan menyimaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Imam Hasan terlambat datang. Sang penguasa yang memberi kultum clengak-clenguk ke barisan belakang jamaah shalat dzuhur. Kultum pun terus berlangsung. Lebih dari tujuh menit, penguasa itu menyampaikan tausiyah. Sambil menyampaikan petuah-petuah politisnya, penguasa itu tak sadar mengeluarkan kata-kata, “ke mana putra Ali, belum datang juga. Apa sudah pindah masjid karena saya caci maki dan jelek-jelekkan terus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu tedengar oleh jamaah. Jamaah saling berpandangan. Sebagian ada yang tampak geram sambil memanggut-manggutkan kepalanya. Lebih dari satu jam, muncullah cucu terkasih Rasulullah saw itu dari arah belakang. Saat terlihat datang, salah seorang prajurit langsung bilang pada khalifah, “Tuan, orang yang ditunggu sudah hadir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh,” kata khalifah dengan wajah ceria. Khalifah pun menyampaikan cacian dan makian serta hujatannya pada keluarga Rasulullah saw tersebut. Setelah itu dikumandangkan iqamah dan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, termasuk yang dicaci pun turut serta menjadi makmum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesabaran Imam Hasan tidak berbalas kebaikan atau kesadaran. Kian hari malah tambah bengis. Terutama pada mereka yang dekat dengan keturunan Rasulullah saw. Mereka yang dekat dengan Imam Hasan diancam dan yang membandel disiksa dan dipenjarakan. Banyak yang telah menjadi korban. Namun penguasa tampaknya tidak merasa cukup puas dengan tindakan keji dan zalim yang ditimpakan pada keturunan Rasulullah dan pengikutnya. Setelah dipisahkan dari umat dan dikecam: Imam Hasan diracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh akhlak mulia yang dimiliki Imam Hasan bin Abu Thalib ini. Meski dicaci dan dimaki dihadapan publik, tetap saja masih ikut serta dalam barisan shalat jamaah. Bahkan, saat dibunuh dengan racun pun tiada sepatah pun kata kecaman terlontar pada musuhnya. Sebuah pelajaran akhlak yang luhur yang tidak dimiliki oleh kaum Muslim setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Kang Jalal—panggilan Jalaluddin Rakhmat—sosok Imam Hasan bin Abu Thalib merupakan tokoh penganjur persatuan dan kesatuan umat Islam—ukhuwah islamiyah. Cacian dan makian, bagi seorang Muslim yang kaffah dan pecinta perdamaian, tidak membuatnya ikut-ikutan mencaci kembali atau membalasnya. Tapi justru dengan membiarkannya, telah menjadi bukti bahwa kita tak perlu mengikuti atau meniru perbuatan jelek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, demi mempertahankan keberadaan Islam dan agar umat Islam tidak berpecah serta tidak ditindas, Imam Hasan merelakan dirinya untuk diperlakukan tidak horrmat dihadapan publik. Inilah sebuah nilai keislaman yang sangat langka dan perlu penafsiran yang mendalam. Sebab sikap dan tindakan cucu Rasulullah saw ini sudah masuk wilayah amalan batin: sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, cacian dan makian bagi Imam Hasan bin Abu Thalib merupakan bagian dari riyadhah untuk meningkatkan kualitas iman sekaligus sebuah upaya tazkiyatun nafs. Sikap Imam Hasan ini dikemudian hari menjadi salah satu bentuk praktik kaum sufi; yang dikenal dengan istilah malamatiyah. Istilah ini diambil dari kata ‘malamah’, yang secara bahasa berarti ‘celaan’. Kaum malamatiyah adalah orang-orang yang dengan sengaja menjalani kehidupan hina dengan tujuan untuk menyembunyikan hakikat pencapaian spiritualnya. Pendiri ajaran ini biasanya disandarkan pada Hamdun al-Qashshar, sufi abad ke-3 H/9 M, yang berasal dari Naisyapur di Khurasan. Pengikutnya meyakini bahwa al-Qashshar secara batiniah hidup dalam kebersatuan dengan Allah; dan secara lahiriah bertindak seolah-olah terpisah dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik malamatiyah merupakan sebuah tradisi untuk menurunkan derajat kita agar diri ini tidak menjadi sombong; karena yang berhak untuk sombong dan mengaku mulia dan besar hanyalah Allah. Sebuah kisah mengenai praktik sufi ini diceritakan bahwa seorang sufi yang duduk di masjid merasa gembira ketika ia diseret oleh petugas masjid. Atau berterimakasih ketika diberi makan bersama anjing. Memang sebuah irasionalitas: keimanan yang di luar kategori orang-orang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri kita ini, saya kira ada yang berpendapat bahwa tiga orang anggota Jamaah Islamiyah yang menunggu eksekusi mati ini sebagai orang yang termasuk mempraktikan malamatiyah: rela dikorbankan demi sebuah tujuan yang diyakininya mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja mereka berbeda dengan Imam Hasan bin Abu Thalib, Suhrawardi al-Maqtul, atau Syaikh Siti Jenar. Ya, harus diakui bahwa sebuah keyakinan merupakan wilayah tersendiri dan mandiri. Tak ada yang bisa menjamahnya: karena ia sebuah ‘teka-teki’ yang di akhirat akan terbuka semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHMAD SAHIDIN,Alumni jurusan Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung; kini sedang menyelesaikan penulisan buku TEOLOGI DAN PEMIKIRAN ISLAM: sejak masa klasik hingga sekarang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-6912048608957660766?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/6912048608957660766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=6912048608957660766' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6912048608957660766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/6912048608957660766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/matii.html' title='Mati'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-7089539037769559894</id><published>2008-11-03T20:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T20:12:09.636-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Anak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anak-anak dan Kekerasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh SITTA R MUSLIMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentang masa perkembangan anak semestinya dipenuhi kegembiraan sehingga berpengaruh positif bagi jiwanya. Akan tetapi, kecemasan dan ketakutan anak sekarang hadir di mana-mana: di sekolah, di jalanan, bahkan di rumah yang dihuni orangtuanya sekalipun. Kak Seto, dalam suatu kesempatan, pernah mengklaim bahwa kekerasan terhadap anak yang dilakukan orangtua mencapai angka 80 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya pikir, ketika anak akrab dengan kekerasan, ancaman kehilangan jati diri, kepercayaan, dan kemandirian dalam dirinya akan menghilang. Maka, menciptakan lingkungan yang menenteramkan anak adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar. Sebab, tanpa situasi tenteram dan tenang, anak akan merasa tertekan sehingga berakibat pada terganggunya perkembangan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran jika pribadi anak pada masa mendatang akan memantulkan laku yang keras dan otoriter. Ia akan berubah menjadi warga keras, tidak toleran, pendendam, dan antisosial. Bahkan, timbul fanatisme berlebihan terhadap keyakinannya sehingga ia menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang mengarah pada kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan terhadap anak secara fisik atau psikis adalah perilaku masyarakat jahiliyah dan tidak berbudaya. Melakukan kekerasan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa anak sehingga harus kita redam. Mencaci, berkata-kata kotor, tidak sopan, dan menjewer anak akan membentuknya menjadi seorang anak yang tidak disiplin. Paling berbahaya lagi, kekerasan fisik dan psikis terhadap anak akan melahirkan generasi yang menyelesaikan sengketa dengan kekerasan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanjut bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi sumber daya manusia, anak adalah generasi penerus berlanjutnya suatu bangsa dan kelompok strategis yang harus diperhatikan agar mereka dapat tumbuh dan berkembang mencapai kedewasaan sampai berumur 18 tahun. Saat ini, dengan jumlah penduduk berusia kurang dari 18 tahun sekitar 68 juta jiwa atau 30 persen, diperlukan perhatian yang tidak sekadar tertuang dalam bentuk peringatan rutin tahunan, misalnya Hari Anak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian harus berlanjut sepanjang hayat dalam memperlakukan anak dengan cara yang baik dan beradab tanpa kekerasan. Menurut mantan Deputi Perlindungan Anak Kementerian Peranan Wanita Rachmat Sentika (2007), kunci utama untuk menjadikan anak sebagai potensi negara dalam rangka keberlangsungan hidup dan kejayaan bangsa adalah komitmen pemerintah untuk menjadikannya prioritas utama pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, upaya merealisasikan harapan bangsa untuk mencetak generasi penerus bangsa di Indonesia adalah menciptakan lingkungan yang mengutamakan perlindungan bagi anak, menghidupkan nilai dan tradisi yang memajukan harkat dan martabat anak, serta mengeksplorasi dan memobilisasi sumber daya untuk mendukung penyelenggaraan perlindungan anak (www.kapanlagi.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Indonesia sangat membutuhkan kehadiran pemimpin yang peduli terhadap anak. Sebab, pemimpin bangsa yang arif dan bijaksana berasal dari seorang anak yang sehat jiwa dan fisik. Ketika kita banyak memperlakukan anak-anak secara keras, berarti kita gagal membentuk generasi penerus bangsa. Pada posisi ini, anak adalah mustika atau mutiara berharga yang sering kita cari untuk dijadikan tumpuan berharap atas membaiknya Indonesia ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Muslimah, tokoh dalam novel Laskar Pelangi, yang sejak tanggal 25 September 2008 difilmkan, adalah potret seorang guru yang mendidik muridnya dengan kasih sayang. Akrab, tidak canggung, dan merasa seperti anak sendiri ketika mengajar muridnya seharusnya menginspirasi guru, orangtua, dan pejabat negara untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak. Jadi, upaya menciptakan kondisi jiwa anak yang sehat sehingga kelak mereka bisa berkontribusi untuk negara adalah menggagas pendidikan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu merupakan salah satu bentuk pendidikan yang tidak hanya mengurus kemampuan intelektual siswa dan anak kita. Secara pribadi, saya sangat terharu dengan metode pendidikan kasih sayang yang diberikan Bu Muslimah kepada Harun, seorang murid yang mentalnya terbelakang. Beliau memberikan rapor khusus kepada Harun meskipun menurut standar pendidikan nasional ia tidak dapat dikategorikan sebagai murid yang pantas naik kelas. Maka, bagi guru dan orangtua di rumah, ketika anak-anak kita tidak mampu mencapai prestasi seperti yang kita inginkan, jangan lantas bertindak keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah memberikan motivasi dan bimbingan tanpa mengebiri kegembiraan anak-anak sebagai upaya mempraktikkan pendidikan kasih sayang di lingkungan sendiri. Kita tidak boleh seperti guru otoriter dan keras yang selalu menghukum muridnya ketika mereka tidak bisa menyelesaikan soal secara benar dan tepat. Kita tidak boleh juga seperti ayah dan ibu yang selalu overprotective karena ingin anaknya berprestasi tanpa mengindahkan kondisi mentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepentingan anak seharusnya kita memberikan pendidikan yang bisa diterima anak tanpa merasa terpaksa. Ingat, proses pendidikan adalah wahana untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak, yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Ketika kita ingin semua murid atau anak kita pintar secara akademik, tanpa melihat potensi yang lain, itu sama saja dengan mendidiknya secara keras. Itulah kiranya yang tak pantas kita lakukan ketika mengelola anak-anak, titipan Tuhan, untuk kemajuan bangsa pada masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mari kita perangi kekerasan anak dengan menggagas pendidikan kasih sayang bagi mereka. Mudah-mudahan dengan pendidikan kasih sayang mereka mampu menjadi generasi pelanjut bangsa yang selalu menyebarkan kebajikan bagi orang-orang di sekitarnya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITTA R MUSLIMAH Pemerhati Masalah Perkembangan Anak, Tinggal di Bandung &lt;br /&gt;Kompas Jawa Barat, Kamis, 30 Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2749962603004961258-7089539037769559894?l=sunangunungdjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/feeds/7089539037769559894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2749962603004961258&amp;postID=7089539037769559894' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7089539037769559894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2749962603004961258/posts/default/7089539037769559894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunangunungdjati.blogspot.com/2008/11/anak.html' title='Anak'/><author><name>Sunan Gunung Djati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16704279823534375168</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2749962603004961258.post-2735823781267294122</id><published>2008-11-03T20:01:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T20:02:36.784-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Padamu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Padamu Tuhanku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh M ARKEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan..&lt;br /&gt;Kadang aku ingin bertanya: dalam dunia apakah aku hidup sekarang ini..? Jalinan kehendak-Mu yang seperti apa yang melingkarinya..? Bagaimana aku memahami semua yang terjadi? Tapi itu tak pernah berani kuajukan. Karena aku mungkin terlamapu takut itu bisa meremukkan gagasanku tentang diri-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tuhan…&lt;br /&gt;Tapi masalahnya: Aku berdiri di altar dan hari yang dipenuhi sesaknya ironi cinta dan kamarahan-Mu. Entah harus bagaimana mengimani diri-Mu dalam kondisi seperti itu. Lintang hidup sekitarku sesak oleh tragedi rumitnya menuntaskan emosi. Apa gerangan yang menyebabkan seperti ini..? Sementara oleh kesetiaan pada anggapanku tentang diri-MU, aku diam-diam telah menjadikan-Mu Tuhan yang menjaraki benak dari semua jawaban, bahkan kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan….&lt;br /&gt;Mungkin sebagian besar peristiwa bisa teruraikan oleh sucinya ayat-ayat dan petunjuk para penafsir-Mu. Tapi itu kurasakan hanyalah menjadikan hadirmu bak singularitas tanpa cerita. Lalu tiba-tiba aku hanya harus yakin bahwa dari sana ruang, waktu, materi energi bahkan pertanyaan ini lahir. Dan percayalah..! titik. Maaf, aku tidak bisa seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan…&lt;br /&gt;Tidak ada keraguan pada diri akan keagungan-Mu. Tidak ada kebimbangan dalam hati tentang ke-Mahaan-Mu. Tapi, hidup ini terlampau singkat dan silap untuk iku
