Mendapat Cinta Allah, Sulitkah?
Oleh Akhmad Mikail
Apa itu cinta? Apa sebenarnya urgensi cinta dalam kehidupan kita?, kemudian, bagaimana mendapatkan cinta Ilahi Yang Maha Tinggi?. Untuk mengetahui jawaban dari semua itu kita perlu mensegmentasikan makna cinta kedalam beberapa bagian.
Cinta dalam kehidupan manusia terbagi kedalam beberapa bagian diantaranya Cinta Mahabbah, Cinta Mawaddah, dan Cinta Rahmah. Satu persatu akan dicoba kita bahas sehingga kita tahu makna cinta yang lebih mendalam.
Cinta Mahabbah, yaitu cinta yang mengenal bosan. Manusia diciptakan Allah dengan segala kemungkinannya, baik dan buruknya, suka dan senangnya,, begitupun dengan perasaan cinta terhadap sesuatu, misalkan kita sangat menyukai ikan bakar, tetapi kalau terlalu sering dimakan rasa bosan itu akan muncul dengan sendirinya.
Cinta Mawaddah, yaitu cinta yang tiada akhir dari manusia terhadap manusia, seperti suami terhadap isterinya, orangtua terhadap anaknya, ataupun cinta kakek dan nenek terhadap cucunya.
Yang terakhir adalah Cinta Rakhmah, cinta yang tiada akhir dari Allah SWT terhadap manusia atau yang disebut dengan cinta tingkatan tertinggi. Lalu bagaimanakah cara kita, akankah kita mendapatkan cinta Allah tersebut? Insya Allah.
Ada beberapa cara untuk meraih cinta Allah, kita analogikan bagaimana jika kita mencintai seseorang, apa yang akan kita lakukan untuk mendapatkan cinta orang tersebut? Yang pasti kita mencari tahu apa yang dia sukai, lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan orang yang kita cintai tersebut. Begitu pula cara kita untuk mendapatkan cinta Allah, ada beberapa cara yang mesti kita lakukan antara lain:
1. Tadaburi Al-Quran
Kenali atau tela’ah Al-Quran adalah suatu cara untuk mengetahui apa yang Allah sukai dan apa yang tiada Allah sukai, sehingga kita dapat mengimplementasikan apa yang Allah sukai dalam setiap segi kehidupan kita sehingga Allahpun akan menyukai kita.
2. Banyak melakukan komunikasi dengan Allah
Bagaimana cara kita komunikasi dengan Allah. Banyak cara yang bias kita lakukan diantaranya dalam bentuk do’a dan dzikir. Hamper setiap orang tau apa itu do’a, yaitu memohon atau mengharapkan sesuatu kepada Allah. Tapi tidak banyak orang tahu bagaimana cara berdo’a yang baik dan benar, ada beberapa cara berdo’a yang baik diantaranya:
a. Awali dengan Asma’ul Husna
Asma’ul husna adalah nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah. Atau dengan memujinya seperti pernah dilakukan oleh seorang sahabat Rasul yang Rasul sangat suka dengan apa yang dia katakan waktu dia sedang berdo’a:
“Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa engkau adalah Allah tidak ada tuhan kecuali engkau yang satu, tempat bergantung yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada yang setara denganmu.”
b. Lakukan do’a dengan segala kerendahan hati
Dalam berdo’a kita harus benar-benar butuh akan apa yang kita pinta dan merasa tidak ada yang akan member apa yang kita pinta tersebut kecuali Allah.
c. Lakukan do’a dengan prasangka yang baik bahwa Allah akan mengabulkan do’a tersebut.
Memanfaatkan waktu-waktu terbaik untuk berdo’a, antara lain:
- Ketika sedang sujud pada waktu shalat
- Ketika shalat Malam (shalat tarawih, shalat tahajud)
- Ketika sedang safar (bepergian)
- Ketika sedang shaum
- Akhir dari setiap shalat
- Ketika waktu susah, waktu senang, waktu sempit atau waktu luang
Setelah kita tahu cara-cara kita meraih cinta Allah, tentu kitapun perlu tahu bagaimana tanda-tanda Allah mencintai kita:
Doa yang dipanjatkan akan selalu dikabulkan oleh Allah, dan tentunya menurut ilmu Allah baik untuk kita. Akan tetapi jika do’a kita belum di kabulkan janganlah berprasangka buruk kepada Allah karena mingkin apa yang kita panjatkan dan kita harapkan belum tentu baik untuk kita dan Allahpun akan menggantinya dengan yang lebih baik menurut ilmu Allah.
Allah akan memberikan ketentraman dalam hati kita dalam kehidupan kita tanpa mengenal gender, karena kita tahu Allah maha adil dalam segala hal.
Allah akan memberikan perlindungan sesuai dengan QS. Al-Baqarah: 257”Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya(iman)...”.
Allah akan memberikan pertolongan kepada setiap orang yang Allah cintai.
Allah akan selalu membimbing dengan hidayahnya untuk merasa nikmat belajar agama, untuk merasa minat terhadap sesuatu dan dapat berfikir karena memiliki akal sehat serta merasa mudah untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan Allah. Hal ini tercantum dalam QS. At-Taghaabun: 11 “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan member petunjuk (hidayah) kepada hatinya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu”.
Allah akan memberikan barokah hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QA. Al-Araaf:96” jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri ini beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”.
Yang tidak ada bandingannya dengan cinta yang kita harapkan dari manusia selama ini, bukankah hanya ridha Allah yang kita tuju karena hanya dengan ridha dan cinta-Nyalah kita berjalan di muka bumi ini. Wallahu’alam.
Minggu, 10 Februari 2008
| [+/-] |
Cinta |
| [+/-] |
Final |
Final LI 2008
Oleh Fauzan
Rencana cukup aneh dikeluarkan oleh Menegpora Adhyaksa Dault, dimana beliau berencana untuk tidak menggelar final Liga Indonesia 2007-2008 di senayan Jakarta. Keputusan ini merupakan rekomendasi dari Kapolda Metro Jaya yang tidak sanggup mengamankan final yang akan diikuti oleh PSMS Medan dan Sriwijaya FC.
Padahal kalau dilihat dari track recordnya, para pendukung kedua kesebelasan adalah pendukung yang damai dan sportif. Tampaknya keduanya tergena getah dari kejadian kemarin.
Keputusan ini sedikit aneh, karena polisi merasa ‘tak mampu’ mengamankan supporter. Padahal yang bertanding bukan tim tuan rumah. Atau mungkin karena bukan tim tuan rumah yang bertanding sehingga harus digelar di tempat lain? Kasihan PSMS dan Sriwijaya FC yang telah berjuang keras supaya mendapat tempat di Senayan.
Pindahin aja ke Jalak Harupat pak, biar saya bisa nonton. ;)
Menonton berita kerusuhan kemarin, dimana bis supporter Persija dilempari batu, jadi teringat ketika bis pemain PERSIB dilempari di Jakarta. Karma Nih yee… Koq tuan rumah bisa dilempari begitu dan gak ngelawan? gak berani ya? di rumah sendiri gak berani, apalagi di rumah orang laen. hihihi
Wassalam
| [+/-] |
Menulis |
Menulis Adalah Kewajiban Moral
Oleh Sukron Abdilah
Dunia tulis menulis menjadi hobi baruku setelah sekian lama aku menyukai permainan sepakbola. Namun, ada ganjalan yang seringkali menghambatku untuk menuangkan sebuah ide menjadi sebentuk tulisan yang menarik. Tak pelak lagi, aku pun kelabakan di bikin pusing, karena ide terasa mengawang-ngawang tak tentu arah dibenak kepala.
Bahkan yang lebih parah lagi, ketika aku membaca realitas atau gejala sosial disekitar muncul beragam pandangan dan sangat sulit diejawantahkan dalam sebuah coretan.
Hingga suatu ketika aku menemukan kata-kata yang telah usang menurut orang lain, tetapi dalam kehidupanku kata-kata itu seolah menjadi titik awal untuk menikmati hobi baruku ini. Kata-kata itu berbunyi, "tangkaplah ide, sebelum ide tersebut hilang dari benakmu". Dengan susah payah, aku renungi makna yang tersembunyi dibalik teks tersebut agar melahirkan pemahaman baru.
Setelah kulewati berbagai ujian hidup berwujud kemalasan, ternyata muncul makna yang tak kusadari, bahwa kata-kata itu memiliki arti, "semangatlah kawan". Karena tanpa memiliki semangat hidup, boro-boro menangkap ide, untuk menghasilkan ide pun akan terasa sulit. Makanya tak salah bila musuhku yang pertama dan terakhir adalah ketidaksemangatan dalam diri.
Bahkan pada kesempatan lain, aku teringat sebuah ungkapan yang maha dahsyat memotivasi hidup: “Hal-hal yang menakjubkan, tidak lain adalah hal-hal sederhana yang disentuh oleh tangan jenius”. Begitulah Boris Pasternak dalam novelnya Dr. Zhivago menyebutkan.
Kejeniusan tanganku harus mulai diasah kemampuannya guna mendapatkan ketentraman jiwa dan tergapainya peradaban bangsa yang cemerlang. Dalam bahasa lain, kalaulah tak segera dituangkan dalam sebuah tulisan, jiwa ini seakan terus-menerus mengidap penyakit "insomnia" di malam hari. Bahkan ketika masalah tak pernah dituangkan dalam sebuah teks, malam serasa siang dan siang pun serasa malam sehingga hidup selalu dilingkari kegundahan. Mungkin inilah yang disebut oleh Umberto Eco -- menulis adalah sebuah kewajiban moral.
Bacalah
Carut-Marutnya kondisi bangsa seakan tak terlepas dari sebuah permasalahan yang hadir sebagai akibat dari kebijakan kaum pemegang otoritas yang “salah sasaran”. Mulai dari kebijakan di dunia pendidikan, sosial, ekonomi, politik, bahkan sampai budaya pun tak jarang menuai imbasnya. Tak sampai disitu, peran diriku dan kawan-kawan sebagai “pengkritik” seakan meredup, bahkan nyaris padam laiknya cahaya lilin yang terhembusi angin malam.
Media massa sebagai wahana yang pas bagi aku dan kawan-kawan untuk “berunjuk gigi” pun seolah terlupakan sebagai akibat dari minimnya budaya baca-tulis. Tak heran bila fublic opinion (pandangan umum) yang seharusnya diketahui masyarakat sering tidak tersampaikan secara efektif. Bahkan, orientasi gerakanku dan kawan-kawan pada masa sekarang seolah hanya berwujud oralistik. Demontrasi, aksi, pembakaran ban, dan membuat macet jalan raya di perkotaan seolah menjelma laiknya rutinitas gerakan.
Dari gejala diatas, bukan berarti gerakanku dan kawan-kawan tidak diharuskan turun ke jalan. Namun, untuk melebarkan sayap, alangkah arifnya bila mulai menengok media massa yang cakupan pembacanya lebih luas, sehingga mampu membangun citra (image building). Dengan demikian, model gerakan tak sebatas berkoar-koar di depan gedung pemerintahan an sich, tapi melakukan pandangan tertulis yang hadir di media massa.
Tujuan tersebut tak mungkin menjadi kenyataan, bila saja dalam diri tidak tertanam budaya baca-tulis. Sebab itu, kehadiran media massa layak diapresiasi dengan membacanya sehingga mampu menjadi term of reference bagi gerakan kedepan. Tanpa adanya kultur membaca inilah, maka kultur menulis pun akan lekang di telan zaman. Sehingga elan vital gerakan untuk membela rakyat kecil pun hanya utopia belaka. Paulo Freire dalam bukunya Education of Oppresed (1985) berangapan bahwa untuk melakukan sebuah perubahan, maka rakyat harus digiring pada kesadaran.
Proses penyadaran ini, menurutku bakal lebih efektif ketika menggunakan media massa sebagai perangkat untuk menggapai kesadaran bersama (kolektive). Ketika aku buka lembaran ayat suci Al-Quran, kutemukan Firman Allah yang diturunkan pertama kali di Gua Hira, berbunyi, iqra bismi rabbika al-ladzi khalaq, khalaqal insana min 'alaq, (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan manusia dari sesuatu yang bergantung atau segumpal darah). Artinya, sudah sejak lama ajaran Islam menyuruh umatnya untuk selalu membaca, merenungi dan memikirkan kondisi sekitar sehingga memunculkan ide-ide yang bisa dijadikan solusi permasalahan (problem solving). Salah satunya adalah membaca tulisan.
Yang lebih unik lagi, ketika aku memahami kata "'alaq" sebagai sesuatu yang bergantung, serta merta kusamakan dengan ide yang posisinya bergantung juga pada pikiran seorang manusia. Mungkin dari sinilah tujuan manusia berkebudayaan, tiada lain untuk menuangkan ide-ide yang bergantung sebagai salah satu jalan meredakan kecemasan. Hampir sama ketika Nabi Muhammad Saw merasa cemas dan gelisah ketika menyaksikan perilaku bangsa Arab yang jahiliyah ("bodoh") dengan mengasingkan diri ke Gua Hira. Beliau memiliki ide yang bergantung dalam benaknya, tetapi masih tetap bergantung, sehingga Allah memerintahkannya untuk menuangkan ide tersebut, dengan kata-kata jimat, iqra (bacalah).
Ketajaman Pena
Namun, tanpa adanya kesemangatan dalam diri, mungkin tulisan tidak akan pernah lahir, hingga pada akhirnya, aktivitas membaca pun hanya sesuatu yang “absurd”. Dari tesis inilah, mungkin bisa juga aku katakan bahwa ketika menangkap ide dan mengurungnya dalam sebuah tulisan, itu semua merupakan upaya dari proses meredakan kecemasan. Sama seperti ketika sahabatku merasa terganggu jiwanya ketika tidak menuangkan segala masalah hidupnya dalam sebuah tulisan di buku diary.
Bahkan aku pun sempat berpikir bahwa para filsuf dan agamawan menciptakan teks-teks tertulis guna menghilangkan kecemasan yang diakibatkan seringnya berdialektika dengan kehidupan. Unikmya, ketika aku mulai mengajukan judul skripsi di jurusan, maka aku temukan istilah “data primer dan sekunder” yang dipergunakan untuk menunjang hipotesis yang kita ajukan dalam skripsi tersebut.
Lagi-lagi, aku mulai berpikir bahwa yang namanya “biografi kehidupan” ternyata bisa dijadikan sebagai data utama. Misalnya ketika aku harus meneliti pemikiran seorang tokoh, maka akupun harus mengetahui biograrfi kehidupannya. Seandainya tidak mengetahui dan menuliskannya, maka out line skripsi pun bakal ditolak mentah-mentah oleh pembimbing.
Nah, sekarang mulai lagi pikiranku mengawang-ngawang pada metode penelitian sejarah, yang menjadikan teks-teks tahun kebelakang sebagai data primer penunjang penelitian. Meskipun aku bukan seorang sejarawan atau mahasiswa jurusan sejarah, tapi aku masih yakin bahwa teks yang tersusun pada hari ini di media massa bakal menjadi data primer bagi anak-anak kita ketika mereka meneliti suatu peristiwa penting.
Waduh..ngelantur juga ya.
Tapi biar saja, yang jelas aku masih yakin bahwa kultur tulis-menulis mesti dipelihara agar generasi selanjutnya tidak terjebak pada hipotesis-hipotesis yang dangkal dari nilai keilmiahan. Bahkan sampai mengabaikan realitas sosial-historis. Karena menulis adalah kewajiban moral. ***
Selasa, 05 Februari 2008
| [+/-] |
Persib |
Persib Nu Aing!
Diposting Oleh Pengelola
: “Neng, bogoh ka akang mah nyarios we tong isin-isin…”
: “Har, kunaon akang sok teu puguh-puguh hareeng. Bari na oge saha nu bogoh…”
: “Eta geuning nyandak karcis?”
: “Kang, ieu mah karcis nonton persib. Naon hubunganna jeung akang?”
: “Apan persib nu aing!”[Mifka]
| [+/-] |
Konflik |
Konflik: Perbedaan Distribusi Otoritas
Oleh Yusup Wibisono
Sang teoritis konflik modern Ralf Dahrendorf (1958), menyatakan munculnya konflik sosial sistematis di semua asosiasi disebabkan terjadi perbedaan pendistribusian otoritas. Arti kata, otoritas atau kekuasaan lah selama ini yang menjadikan penentu utama konflik individu atau kelompok yang belakangan ini marak diberbagai belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia.
Belajar dari proses perjalanan kepemimpinan Soeharto (rezim ORBA), banyak yang dapat dipetik untuk dijadikan proses pembelajaran yang berharga bagi warga-bangsa Indonesia. Paling menarik untuk direview adalah model distribusi otoritas yang dilakukan rezim ORBA, yaitu perpaduan yang tidak seimbang antara model fungsionalisme (keseimbangan) dengan konflik -- meski tidak disadarinya.
Dalam perspektif Dahrendorf, yang dilakukan rezim ORBA atau rezim siapapun merupakan perwujudan yang mesti terjadi. Sebab, dalihnya bahwa otoritas dalam setiap asosiasi selalu bersifat dikotomi, yaitu satu sisi kelompok yang memegang posisi otoritas (superordinat) dan kelompok yang dikendalikan (subordinat) di sisi lain. Dua kelompok ini dalam situasi apapun selalu berhadapan dan saling bertentangan untuk memperjuangkan "kepentingan" masing-masing. Kalau kelompok superordinat fungsi konflik -- meminjam istilah Lewis Coser -- kepentingannya untuk mempertahankan status quo, sedangkan kelompok subordinat kepentingannya perubahan.
Jadi kalau menurut teori konflik modern, siapapun dan apapun bentuk kepemimpinannya selalu dibanyang-bayangi oleh makna otoritas. Sebab setuju atau tidak, makna otoritas selalu melekat pada status/posisi yang merupakan dua entitas yang tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Maksudnya, mereka yang menduduki posisi otoritas secara otomatis mengendalikan bawahan dan memposisikan sebagai superordinat yang berkuasa atas subordinat.
Secara sosiologis, mereka yang berkuasa karena produk espektasi dari orang-orang yang di sekitar mereka, dan bukan karena karaktristik psikologis mereka sendiri, tetapi memang karena posisi lah yang menciptakan seseorang mempunyai otoritas penuh. Alhasil, karena otoritas adalah absah, maka berbagai punishment dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang. Hal ini berlaku bagi siapapun yang memposisikan sebagai pemegang otoritas atau kuasa, berikutnya hanya tergantung pada perbedaan kadar sanksi yang diberikan pada lawan posisinya.
| [+/-] |
Toleran |
Pendidikan Toleransi, Dimulai dari Kitab Suci?
Oleh Alinur
Ketika dunia semakin mengglobal dengan ciri pluralismenya dalam berbagai bentuk, kemungkinan benturan antar etnik, budaya dan agama semakin terbuka lebar. Hal ini menjadi tantangan bagi seluruh komponen masyarakat untuk berusaha tetap menjaga keserasian dan perdamaian universal.
Salah satu kelompok yang diharapkan mampu berperan menjaga stabilitas itu adalah para pemuka agama.Darimana semestinya para agamawan memulai membangun paradigma perdamaian universal pada masyarakat global? Mungkinkah toleransi pada masyarakat dunia sekarang ini dimulai dari kitab suci masing-masing?
Tidak bisa disangkal lagi bahwa Kitab Suci adalah sumber utama kebenaran tiap-tiap agama. Sebagai standar kebenaran masing-masing agama, kitab suci sangat berperan penting dalam menentukan stabilitas dan identitas pemeluk agama. Sebagai starting point pendidikan agama, di satu sisi kitab suci mengajarkan identitas dan dasar-dasar etik bagi pemeluknya. Tapi disisi lain terkadang kitab suci juga mempromosikan sikap ekslusivisme dan perbedaan. Karena sempitnya cara berpikir dan sempitnya interpretasi terhadap kitab suci, terkadang masing-masing agama, secara tidak langsung, mengajarkan klaim kebenaran absolut atas kitab sucinya masing-masing. Selama klaim kebenaran masing-masing agama itu terus kental dita-ngan pemeluknya, jangan diharap bahwa pluralisme dan kedamaian abadi bisa tercipta di dunia global sekarang.
Ketika salah satu fungsi setiap kitab suci adalah menekankan pentingnya pendidikan moral dan etik, adalah penting untuk dicatat bahwa bagi pendidikan agama-agama di jaman modern nampaknya perlu mempertimbangkan dimasukkannya paradigma berpikir bahwa masing-masing agama di dunia ini juga mengajarkan kebenaran dengan jalan masing-masing yang mempunyai legitimasi kebenaran sendiri-sendiri.
Perbandingan Isi
Para tokoh agama, baik itu ulama, pendeta, biksu dan apapun sebutannya perlu terus berusaha mengembangkan pendidikan doktrin agama yang lebih terbuka dan tidak narrow-minded. Dalam memberikan pengajaran kitab suci, para tokoh agama dituntut untuk tidak alergi memberikan penjelasan bahwa selain kebenaran yang ada pada kitab suci yang diyakininya, ada juga kitab suci agama lain yang tentunya mengajarkan kebenaran dengan perspektif kitab suci masing-masing. Para agamawan harus berani memberikan stimulus bagi anak didiknya untuk jangan segan-segan membaca dan mempelajari kitab suci agama lain sebagai upaya studi banding.
Para agamawan bisa belajar dari metode pendidikan sekuler di negara-negara Barat ketika mereka mengajarkan paham nasionalisme. Mereka menekankan pentingnya pengajaran budaya negara lain dengan tujuan menghilangkan rasa saling curiga yang bisa menimbulkan paham nasionalisme sempit, dengan cara memberikan pengajaran sejarah peradaban dunia global, selain sejarah dan budaya lokal. Adalah menarik seandainya para agamawan mampu memasukkan pelajaran multiagama dan perbandingan isi kitab suci pada pendidikan agama masing-masing, karena di dunia modern-global, agama-agama tak kalah pentingnya seperti institusi-institusi sekuler, yaitu mempunyai tugas untuk memberikan pengertian kepada masyarakat akan pentingnya saling memahami dan menghormati orang lain yang berbeda komunitas dengan kepercayaan agama yang berbeda pula.
Ketika teks suci agama berfungsi sebagai teks utama dalam pendidikan agama, maka pendekatan penulisan buku-buku agama yang menekankan perbandingan kitab suci agama-agama perlu dibudayakan. Penting juga diusahakan bahwa dalam mempelajari kitab suci, masing-masing tokoh agama diharapkan mampu memberikan arahan perbandingan bahwa dalam kitab suci orang lain pun doktrin semacam itu ada, hanya saja dengan bahasa yang berbeda.
Ada yang Sama
Pemerintah pun bisa turut andil dengan cara menyediakan teks-teks kitab suci yang disusun dengan cara perbandingan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyusun kitab suci dengan pendekatan tematis dan disusun dengan cara membandingkan dalam satu tema. Diharapkan anak didik secara tidak langsung belajar mengenal doktrin agamanya sendiri serta bisa memahami bahwa dalam agama orang lain pun ada doktrin yang sama. Permasalahannya adalah apakah setiap agama mempunyai tema yang sama, bagaimana cara membandingkannya, dan apakah hal itu tidak terlalu sensitif?
Meskipun kelihatannya sulit untuk dilakukan, paling tidak sosialisasi wacana perlunya perbandingan antar kitab suci bisa dijadikan rujukan bagi para tokoh agama di negeri ini, terutama mereka yang terlibat langsung dengan pendidikan agama. Agamawan bisa memulai dengan menginventarisasi tema sentral kitab suci agama-agama yang menekankan pentingnya perdamaian universal di dunia yang semakin mengglobal ini.
Dalam membandingkan tema-tema perdamaian dalam kitab suci, tentu saja penjelasan yang komprehensif diperlukan, sehingga anak didik tidak salah pengertian, dan murid bisa bersikap bijak dalam memahami kitab suci, sehingga klaim kitab sucinya saja yang paling benar bisa dihilangkan.Juga sikap atau pandangan bahwa isi kitab suci orang lain bersikap bias dan sudah terdistorsi bisa dihindarkan. Dengan demikian, kitab suci dicoba untuk didesain dalam setiap pengajaran agama sebagai jalan untuk mempromosikan kedamain dunia yang universal.[SH, 05/08/05]