Budapest Im Coming
Oleh IRFAN AMALEE
Setelah menunggu 10 jam akhirnya terbang juga ke Budapest. Di pinggir saya duduk 2 oran ibu-ibu centil, dari bahasanya kayaknya mereka orang hungaria.
Sejenis ibu-ibu arisan yang hobi ngerumpi. Sepanjang perjalanan negerumpi, sambil sesekali lihat saya, lalu saling berbicara, untung saya nggak ngerti. Mungkin kalau ngerti bisa sakit ati.
Di belakang saya duuk dua orang lelaki, saya sudah menduga bahwa mereka adalah peserta study seasonjuga. Baru pas di bis bandara Budapest kami saling menyapa. dan ternyata benar. Qaisar dari Pakistan dan Miled dari Palestine. Kami bertiga meluncur menggunakan airport minibus dengan ongkos 2100 hu menjuju Youth Centre Budapest tempat kami menginap.
Sepanjang jalan yang terlihat adalah jalanan sepi, bangunan tua klasik peninggalan romawi kuno. agak angker, yang terbayan bahwa di dalam bangunan itu pasti banyak drakula. Eh, tapi Drakula bukan di Hungaria ding, drakulla dari Rumania. Hampir sepanjang trotoar jalan penuh parkiran mobil mewah. Tapi nggak ada seorang pun manusia yang terlihat. Memang cuaca di Budapest dingin banget, dengan angin besar, membuat orang malas keluar.
Waktu di jakartam saya bilangke Habib Chirzin bahwa bahwa saya mau ke budapest. Dia langsung bilang, "The most wonderful city!" Dan bener! Indah banget. Bangunan tertata rapi di bukit-bukit. Kota dipenuhi bangunan tua yang terawat (nggak seprti di bandung, banyak yang terlantar). Saya baru ngerti mengapa kota ini sering jadi tuan rumah acara-acara perdamaian berskala Internasional.
Jam 9 malam acara dimulai dengan sessi perkenalan. I got many new friends! Ada yang dari Rumania, Hungaria, German, Brazilia, Nepal, Pakistan, Palestine, Moldova, Italia, Azerbaijan. Ada seorang utusan dari belanda, dari wajahnya sepertinya saya kenal, wajah khas orang melayu atau jawa, yup ternyata dia orang Indonesia berdarah surabaya dan jepara. Tapi lahir dan besar di Belanda. Bahasa Indonesianya sangat bagus. Namanya Aman. Dia punya saudara di Manglayang regency daerah perumahan di Cileunyi.
Panitia mengucapkan terimakasih pada saya secara khusus, karena saya adalah peserta yang datang dari tempat paling jauh: Indonesia.
Acara perkenalan ditutup, dilanjutkan dengan acara ramah tamah, disediakan makanan kecil dan minuman, dari minuman jus sampai minuman beralkohol (Tapi saya dan teman saya yang muslim dari Azebaijan dan pakistan hanya minum jus aja :)). Panitia memberi sebuah coklat kecil bertuliskan: Welcome to our study session, we hope that this week we will give you: new skills, knowledge, inspiration, and friends.
Budapest 3 Maret 2008
Senin, 03 Maret 2008
| [+/-] |
Budapest |
| [+/-] |
Sosok |
Sosok Pemimpin Teladan
Oleh SUKRON ABDILAH
KETELADANAN pemimpin sangat erat kaitannya dengan pribadi yang baik, memiliki etika-moral, dan menempatkan kepentingan publik di atas segalanya. Tanpa itu bukanlah pemimpin namanya, melainkan penguasa congkak yang menganggap Negara sebagai milik sendiri. Itu terjadi akibat sebagian pemimpin tidak menempatkan kepentingan publik di atas segalanya.
Kepentingan kalangan bawah hanya dikremasi di atas kertas berbentuk rancangan, tidak diwujudkan jadi nyata di dunia nyata. Ketika ketidakpedulian birokrat seperti ini terus menggejala, apatisme rakyat terhadap pemimpin semakin mengakar-kuat. Maka kepercayaan atas pemimpin akan meredup sehingga demokratisasi ternoda kembali karena suara rakyat bukanlah suara Tuhan.
....
Lebih tepat suara pejabat adalah suara Tuhan! Vox vopuli vox dei juga pada posisi demikian hanya berbentuk sloganistik, pajangan konstitusional, dan buah bibir sesaat. Tidak dapat - meminjam bahasa Paulo Freire - mewujud dalam bentuk tindakan praksis membebaskan. Prinsip, sumber atau patokan (nilai) yang dapat memberi arah kepada manusia (bangsa) pun tercerabut dari akar budaya.
Tidak gandrung kekuasaan
Kita lihat saja, kursi panas kekuasaan dapat diduduki dengan menggunakan dana dari luar, hingga prinsip timbal balik pun terlihat dari kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Tidak prokerakyatan. Lebih tepat disebut kebijakan propejabat, propengusaha, dan prokantong pribadi dan kelompok dekat. Budaya penguasa lebih dekat pada cara berpikir dan bertindak bagaikan seorang pengusaha. Hanya logika ekonomi mengembalikan modal (keuntungan pribadi/kelompok) yang diprioritaskan. Sementara itu, kepentingan publik disimpan di kantong belakang. Bukan di saku baju depan (baca: diprioritaskan)!
Mari kita flash back sejenak. Banyak sekali kebijakan yang tidak menyentuh akar persoalan bangsa yakni soal kemiskinan yang sedang dihadapi negeri Indonesia . Aksi nekat warga Indonesia yang menjadi Askar Wathaniyah Negara Malaysia adalah bukti kongkrit bahwa Negara belum bisa memberikan jaminan ekonomi yang pasti kepada warga di daerah perbatasan. Ketidakjujuran bahwa dirinya mendapat sumbangan dana kampanye merupakan budaya penguasa yang tidak ingin merugi karena disinyalir akan menurunkan pamor pada pemilu.
Betapa keteladanan pemimpin di negeri ini berada pada ketidakmenentuan. Dalam konteks ini, maka kita memerlukan keteladanan seorang pemimpin. Maka, pabrikasi pemimpin adalah pekerjaan rumah bagi bangsa ini. Bisa tidak kita menciptakan institusi pendidikan informal yang menelurkan calon pemimpin yang tidak mangreh (menguasai) tetapi ngemong (melindungi) bagaikan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya?
Ya, bukan hanya pemimpin yang menggandrungi kekuasaan saja yang dipilih nanti. Tapi, yang bisa melindungi rakyat dari impitan persoalan hidup. Pemimpin yang patut menjadi teladan adalah yang mampu membebaskan warganya dari belitan kemiskinan, pengangguran, mahalnya harga pokok, dan bisa menyuarakan “jerit-tangis” hati rakyat atau warganya kepada pemerintah pusat.
Lebih baik bermimpi
Kita seolah terbangun dari tidur yang sedari tadi sedang merasakan mimpi menakutkan. Akan tetapi, persoalan yang melilit bangsa Indonesia bukanlah sebuah konstruksi mimpi yang derajat keabsahannya dibawah rata-rata. Dalam perspektif Sigmund Freud mimpi adalah proyeksi psikologis yang berasal dari pengalaman-pengalaman pahit yang sedari dulu dipendam di bawah alam tak sadar. Maka, sewaktu-waktu jika tak bermimpi, pengalaman pahit itu akan meledak dan memicu kekacauan hidup.
Ketika warga masyarakat Indonesia dihimpit harga kebutuhan pokok yang mahal, luberan lumpur Lapindo, merajalelanya pejabat yang tak jujur; aktivitas tidur mereka tentu saja tidak akan nyenyak. Sebab, mimpi mereka (malam tadi dan sebelumnya) sangat menakutkan - bukan jadi bunga tidur - melainkan berubah menjadi racun tidur. Setelah mereka terbangun di pagi hari, ternyata mendapati harga sembilan bahan pokok (kehidupan) membumbung tinggi. Ah, lebih baik (aku) berada di alam mimpi meskipun harus dikejar-kejar hantu yang menyeramkan. Daripada harus hidup dalam dunia riil yang menyengsarakan. Itulah bisikan hati publik Indonesia yang jarang kita empati bersama-sama.
Alih-alih berempati, malahan politikus kita seakan memusuhi falsafah hidup sepi ing pamrih. Berputar haluan mengarah pada falsafah hidup rame ing pamrih!. Mendagangkan suara rakyat untuk menggolkan pemimpin yang sadar terhadap kenyataan kongkrit permasalahan rakyat Indonesia hanya per lima tahun sekali.
Meminjam pemikiran Ignas Kleden (Kompas, 06/Juni/07), ia mengatakan: “Kalau demokrasi sebagai sistem politik, maka pemimpin yang demokratis adalah seseorang yang berasal dari rakyat (bukan dari kalangan bangsawan), diawasi oleh rakyat (bukan mengawasi dirinya sendiri), dan bekerja untuk rakyat (bukan untuk dirinya sendiri dan kelompok yang dekat dengan dirinya)”.
Bangsa ini memang membutuhkan keteladanan pemimpin yang rela sengsara terlebih dahulu sebelum rakyatnya sengsara. Atau kehadiran seorang manusia nge-indonesia yang bisa dijadikan pusat perhatian karena penuh keteladanan (exemplary center). Tidak harus dari kalangan “darah biru”, melainkan mampu tidak kinerjanya diawasi dan dipersembahkan untuk rakyat.
Tapi, adakah model pemimpin seperti itu di daerah ini? Mudah-mudahan eksis dan terus mengada agar dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi warga tatar Sunda dan bangsa! Maka, pilihlah Cagub dan Cawagub pada Pilgub Jabar 2008 yang bisa dijadikan teladan oleh pemimpin-pemimpin di masa mendatang. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, pilihlah pemimpin yang ahli memimpin dan kalaulah yang dipilih itu tidak ahli, tunggulah kehancuran. Wallahua’lam
| [+/-] |
Toleran |
Toleransi dan Perbedaan Pendapat
Oleh FAUZAN
Toleransi berati menghormati pendapat oran lain. Kenapa kita harus bertoleransi, karena kita pasti akan menemukan orang yang berbeda pendapat dengan kita.
Setiap orang dilahirkan berbeda, baik secara jasmani maupun rohani. Kalau dari segi fisik, maka kita akan menemukan bahwa setiap orang mempunyai ciri khasnya masing-masing. Baik dari segi wajah, badan, dan yang paling jelas adalah mungkin sidik jari kita. Dari segi rohani, maka kita akan selalu menemukan orang yang berbeda, baik dari pemikiran, ideologi, agama, dll.
Karena perbedaan adalah fitrah khususnya pada manusia, maka seharusnya toleransi adalah fitrah yang khas pula bagi manusia. Apalagi manusia diberi akal yang digunakan untuk mencari, menemukan, mempelajari, dan sekaligus menghormati orang lain. Tidak selayaknya kita manusia mencaci, mencela, dan merendahkan orang lain.
Jadi sebenarnya, manusia wajib memiliki rasa toleransi karena akalnya. Maka dapat diambil kesimpulan, bahwa seseorang yang tidak toleran, akan bisa mempunyai derajat orang yang tidak berakal atau gila, atau bahkan seperti hewan yang tidak berakal sama sekali, seperti anjing mungkin atau monyet, atau hewan lainnya.
Wassalam.
Nb :
Bisa jadi yang dicela lebih mulia, lebih tinggi derajatnya, lebih tinggi ilmunya, dan yang lebih penting lebih bermanfaat dari orang lain.
Bisa jadi si pencela lebih hina, lebih rendah derajatnya, lebih bodoh, dan yang lebih parah, tidak bermanfaat dan merugikan orang lain.
| [+/-] |
KKN |
KKN
Oleh BADRU TAMAM MIFKA
$#%&^27 Februari :Mangkat rek KKN. Lain Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Tapi Kuliah Kerja Nyata. Sabulan. Sapop0e ceramah di masjid meureun…
Mahasiswa=era euy, geus kolot karek KKN…Pajabat=era euy, geus kolot masih KKN. Ganti dong jangan KKN, Pak Rektor. Nanti pabaliut sama Korupsi dst…#^$%^&#&^&#$%^$#
Maenya saya kudu nyieun berita di media kampus dengan judul:
|Kegiatan KKN dipenuhi Praktek KKN”
%#$%^^@%# kolot repeh. Tapi kudu diwisuda taun ieu. Wisuda timana horeng….
| [+/-] |
HOKI |
Pimred HOKI Bertandang Ke Sunan Gunung Djati
Oleh IBN GHIFARIE
Pasca Seminar di Universitas Kristen Maranatha (UKM), Bandung Jum’at (29/02) dengan tajuk bertema 'Eksplorasi Potensi Mahasiswa melalui Media'
Pimred HOKI, Wilson Lalengke sempat mengnjungi Sunan Gunung Djati Komunitas Blogger UIN SGD Bandung. Sekitar 7 orang (Dian, Ibnu, Hikmat, Didin, Oki, Wanddi, satu perempuan) berkumpul di Sekretariat ISR@C (Institute Religion and Cultur) Jl A. H Nasution No 34 Cibiru Bandung 40416.
Kendati hujan terus menguyur Kota Kembang pasca shalat jum’at itu, namun antusias warga Sunan Gunung Djati untuk bertemu sekaligus bincang-bincang dengan Pimred HOKI sangat kuat.
Pertemuan ini terkatit dengan keberadaan HOKI di Bandung, yang telah mengukuhkan Ibn Ghifarie, sebagai ‘Citizen Reporter of the Month February 2008’
Saat ditanya asal-muasal HOKI, ia menuturkan ‘Kurangnya media yang bisa memuat tulisan dari wartawan dan karyawan satu Harian Umum, diharapkan HOKI menjadi media alternative.’
Derasnya arus informasi dan memasarakatnya ‘Citizen Reporter’ dikalangan masyarakat ‘Tidak menutup kemungkinan warga biasa dapat mengirimkan tulisanya. Maka layanan yang kami hadirkan ruang ‘Daptar Jadi Penulis’.’
Semuanya bisa ditulis dan dikirimkan ke Redaksi HOKI. Tentu yang tidak berbau Sara, porno dan mengdiskriditkan kelompok yang lain, paparnya.
Dalam obrolan terakhirnya, Ia memberikan pesan ‘Beras harapan saya bila kawan-kawan yang hadir dalam pertemuan ini bisa terus mensosialisasikan dan menjadi penulis tetap di HOKI. [Ibn Ghifarie, Wandi]
Cag Rampes, Pokok Bumi Abdi, 29/02/08; 18.45 wib
Rabu, 27 Februari 2008
| [+/-] |
Orientasi |
Orientasi Baru Pemiiran Kalam
Oleh ADENG MUCHTAR GHAZALI
Aliran Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan juga Syi’ah, tak dipungkiri sebagai aliran-aliran besar dalam sejarah pemikiran Kalam. Disebut sebagai “aliran-aliran besar”, paling tidak, saya dapat mengemukakan beberapa alasan akademis berikut :
Pertama, secara metodologis, keempat aliran tersebut telah meletakkan dasar-dasar ’metode keilmuan’ dalam memahami dan mempertahankan prinsip-prinsip dasar keyakinan Islam. Sekalipun metode-metode itu berasal dari ’metode berfikir’ filsafat Yunani, - dimana semua disiplin ilmu apa pun namanya tidak lepas dari kerangka berfikir filsafat ini – namun, keempat aliran tersebut telah berhasil merumuskan sebuah bangunan pemikiran keislaman yang sistimatis, obyektif, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga menjadi sebuah pemikiran teologis yang khas;
Kedua, sebagai suatu aliran teologis, pemikiran keislaman keempat aliran tersebut mewarnai dan memberi pengaruh besar terhadap pola dan trend pemikiran umat Islam sampai sekarang;
Ketiga, berkaitan dengan alasan pertama dan kedua di atas, maka tidak heran keempat aliran tersebut menjadi obyek penelitian dan referensi para ilmuwan Islam maupun non-Islam di bidang pemikiran teologi Islam.
Keempat, karena alasan-alasan itulah, maka di beberapa perguruan tinggi Islam, keempat aliran tersebut dimasukkan dalam kurikulum/silabi Pemikiran Modern Dalam Islam maupun Ilmu Kalam itu sendiri.
Di luar alasan-alasan di atas, Arkoun (Lihat; Amin Abdullah, 1997) dan Fazlur Rahman (1993) mengemukakan alasan-alasan politis dan sosial kultural berkenaan dengan trend dan kemapanan pemikiran Kalam. Secara politis, menurut Arkoun, bahwa teologi Islam ortodoks selalu bernasib baik, sehubungan corak pemikirannya selalu dimanfaatkan oleh para penguasa sejak abad kedua belas Miladiah untuk menjaga stabilitas negara. Dalam hal ini, teologi Asy’ariyah jauh lebih diutamakan daripada usaha-usaha yang bersipat inovatif, reformatif, dan transformatif. Implikasinya adalah, masyarakat Muslim bersikap apatis dan menerima apa adanya tanpa ada usaha evaluasi kritik terhadap bentuk teologi yang sudah terlanjur mapan tersebut.
Secara sosial kultural, menurut Fazlur Rahman, dan alasan ini ada hubungannya dengan alasan politis di atas, bahwa adanya kemandegan kreatifitas berfikir umat Islam disebabkan mereka menghadapi dua dilema, yaitu di satu pihak mereka ingin merekonstruksi ajaran Islam sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi di pihak lain, mereka khawatir usahanya itu bertentangan dengan pandangan lama.
Untuk kepentingan pengembangan pola berfikir umat Islam supaya tidak terjadi kemandegan, umumnya, dan kepentingan Ilmu Kalam pada khususnya, maka alasan-alasan tersebut di atas harus menjadi daya pendorong kita untuk melakukan kritik ulang terhadap pemikiran kalam sesuai dengan situasi dan perkembangan zaman. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman, pemikiran, dan orientasi baru Ilmu Kalam. Sebab, tidak perlu ada perdebatan, bahwa memang kita perlu melestarikan tradisi keilmuan Islam yang telah terbangun secara kokoh sejak berabad-abad lalu serta memanfaatkannya untuk membendung aspek negatif dari gerak arus modernisasi dan globalisasi sekarang ini.
Tidaklah salah untuk mengkritisi dan membangun ulang pemikiran Kalam berdasarkan trend pemikiran kontemporer yang sedang berkembang sekarang ini. Pemikiran Kalam lama, tidaklah bersipat mutlak, ia merupakan ekspresi, spontanitas, dan dibentuk oleh suatu zaman yang berkembang pada saat itu. Kita telah diwarisi oleh metode-metode keilmuan Islam tradisional, tinggal bagaimana kita mengembangkannya sesuai dengan perkembangan pemikiran sekarang, sehingga, keilmuan Islam tradisional itu dipandang bukan hanya sebagai warisan tradisional khazanah intelektual Muslim semata, tetapi juga sebagai trend pemikiran (keilmuan) Muslim kontemporer yang akan diwarisi kepada generasi berikutnya.
Kepustakaan :
1. Adeng Muchtar Ghazali, Pemikiran Islam Kontemporer, Pustaka Setia, Bandung, 2005
2. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997.
3. Fazlur Rahman, Islam & Modernity : Transformation of an Intellectual Tradition, the University of Chicago Press, 1993