Waria Berjilbab?
Oleh KLIK
Sore ini, dalam perjalanan ke jalaprang dari sancang, di perempatan supratman-katamso ada kejadian yang unik, setidaknya menurutku. seorang waria membawa kecrik bernyanyi, entah lagu apa, mengamen di pintu angkutan kota.
dulu pernah, ketika di perempatan riau-merdeka, aku dipaksa waria yang ngamen untuk mensedekahkan sedikit uang kepadanya. entah takut, malu, segan atau memang takut, aku merogoh saku dan memberinya uang. entah berapa. tak sempat ku hitung, melirik berapa uang dalam kepalan saja ku tak berani. secepat kilat kuambil dan kumasukkan dalam gelas air kemasan yang kosong itu.
dan mungkin itu fenomena yang menyeruak di ibukota priangan ini. hampir di setiap perempatan, selalu ada waria yang bergabung dengan pengamen jalanan lainnya. jadi, para pengamat masalah sosial, sosiolog, dll mesti meneliti lebih jauh tentang hal ini. kehadiran waria di perempatan jalan merupakan fenomena tersendiri. dan penyelesaiannya, jika itu memang dianggap sebuah masalah, mesti memakai kaca mata mereka pula. tidak bisa kita memaksakan untuk melihat fenomena ini dengan kacamata lelaki atau perempuan.
yang menarik lagi buatku adalah. sore ini waria di pertigaan supratman-katamso itu berjilbab. setidaknya ada beberapa fenomena menarik mengenai ini. pertama, mungkin ia merasa bukan lelaki dan juga bukan waria. ia menganggap dirinya adalah perempuan. karena ia memakai kerudung. sebab, yang memakai kerudung adalah perempuan. Tuhan pun mewajibkan menutup seluruh tubuh hanya kepada perempuan. setidaknya ia telah merasa menjadi perempuan.
aku semakin bingung, apakah waria itu perpindahan seks dari lelaki menjadi perempuan. atau kah waria itu memang jenis kelamin sendiri. ia tidak merasa lelaki dan juga tidak merasa perempuan. sebab, ada juga yang menyebut mereka transeksual.
kedua, sang waria itu memang merasa dirinya waria. bukan lelaki bukan perempuan. sebab, mengapa ia memakai jilbab, menunjukkan bahwa walau ia waria tetapi ia islam. dan sebagai muslim ia menutup seluruh tubuhnya dengan kerudung. mungkin jika dalam dunia yang dibelah dengan dua kelamin pria dan wanita, ia adalah waria perempuannya. karena mungkin saja, ada waria yang lebih merasa dirinya adalah lelaki. sehingga mesti memakai kopiah, misalnya.
yang pasti mereka merasa ada di dunianya sendiri. sehingga, dunia mereka tidak bisa disamakan dengan dunia kita yang serba status quo ini. sehingga tidak bisa menerima kehadiran mereka yang berbeda.
mungkin juga fenomena waria berjilbab juga karena sekarang ini sedang gencar-gencarnya kasus pembunuh berantai yang berasal dari kaum homoseksual. padahal, kaum homo itu tidak bisa disalahkan dan digeneralisir mereka itu berbahaya dan wajib dibunuh. itu sama saja dengan logika amerika menyerang irak. tetapi, ini bukan berarti saya setuju dengan tindakan seks sejenis ini.
dalam sistem kepercayaan (agama) samawi menunjukkan semua Tuhannya membenci kaumnya yang berorientasi seksual sejenis. bahkan di Islam diceritakan, umat luth dijungkirbalikkan sekaligus dengan bumi yang mereka injak aikbat orientasi seksual yang bisa menghancurkan masa depan kelestarian umat manusia ini.
wallahu'alam
Rabu, 04 Februari 2009
| [+/-] |
Waria |
| [+/-] |
Cinta |
Cinta Bagaikan Kentut
Oleh DASAM SYAMSUDIN
Banyak orang yang mendeskrifsikan cinta, semua orang pasti bisa mendeskrifsikan cinta. Ya, semua orang memiliki cinta, dan berbeda pula mereka mengalaminya. Sehingga tidak heran definisi cinta beragam. Ada kalanya professor botak berpendidikan tinggi definisinya tentang cinta, tidak diterima orang lain. Ya, sudah pasti karena semua orang mengalami cinta dengan cara yang berbeda.
Itulah, kenapa aku juga punya deskrifsi cinta yang berbeda pula. Entah, ini definisi atau deskrifsi, yang aku tahu “cinta itu bagaikan kentut”. Bagaimana tidak, kentut, tentu kalian tahukan? Kentut, bila ditahan bikin sakit perut, dan bila dikeluarkan bikin orang ribut—setidaknya orang itu menembakan kentutnya ditempat umum—contoh, Ibu-ibu yang sedang mengaji di sebuah Majelis Ta’lim, kalau salah satu bokong mereka ada yang kentut, sudah pasti mereka akan ribut. Setidaknya ibu-ibu itu saling menuduh.
Itulah yang kualami, tepatnya yang aku dan pacarku alami—maaf, mantan pacarku. Kami pacaran hampir empat tahun. Tapi, aku merahasiakannya dari orang tuaku. Memang, aku sudah tidak tahan dengan kondisi ini. Aku ingin sekali kehadiran kekasih hati di hidupku diketahui orang tuaku. Cuma, aku masih malu, konkretnya gak berani. Sedangkan pacarku, selalu gelisah. Ia ingin sekali aku mengenalkannya kepada orang tuaku. Sebagaimana dia mengenalkanku pada orang tuanya tiga tahun silam. Pacarku itu, sangat ingin. Sungguh sangat ingin kenal dengan orang tuaku, ia tak suka cintanya disembunyikan—ditahan—bak kentut saja.
Akhirnya hari itu pun tiba. Aku duduk manis di depan orang tuaku, dan memberikan senyum terbaik untuk mereka. Dengan sangat gemetar aku katakan pada mereka, “mak, aku sudah punya pacar, ia cantik. Kami sudah pacaran selama empat tahun. Semua itu berawal dan berlangsung sejak aku masuk pesantren. Dam. Emmmm… ia mau emak dan bapak mengenalnya.”. Sudah kubilang cinta bagaikan kentut. “apa”, kata ibuku, “hah…. Apa…”bapakku menambah ketegangan, “tidak mungkin” kata kakekku, “Sem, kamu?....” bibiku, aku pun tidak ngerti maksudnya.
Sekarang waktunya nasihat ibuku bak peluru deretan mesin yang akan membidikku. “kamu itu masih kecil, baru kelas 3 SMA, jangan dulu pacaran serius, apalagi harus membawa ia kemari. Apa kata orang-orang sini, kalau kamu sekolah dimana-mana, mesantren lagi, pulang membawa seorang wanita. Oh, jangan anakku, jangan buat harapan orang tuamu ini jadi ragu padamu. Oh, Tuhan aku tidak percaya anakku seperti ini. Ku kira selama ini ia memang sangat baik, setidaknya tidak seperti ini.”, ibuku menghela nafas, dan “kalau kau berani membawanya kemari, sekolah saja dengan uangmu sendiri.”
Tuh, kan, sudah aku bilang. Cinta bagaikan kentut. Seluruh keluargaku ribut. Orang kampungku dapat gosip baru, bahwa aku seorang santri yang sekolah dimana-mana akan membawa wanita kerumah. Adapt kampungku, kalau seorang yang bekerja, atau sekolah diluar kota pulang membawa wanita, artinya ia akan menikah. Ribut…. Sudah kubilang, bikin ribut!
Apa yang terjadi di rumahku. Langsung kulaporkan pada kekasihku. Ia, pacarku, tidak percaya bahwa kehadirannya ridak diharapkan dikeluargaku—setidaknya belum siap diterima—ia tersinggung, sakit hati, putus asa, tidak percaya lagi padakku, ia mendesakku, aku menolaknya. Ia memutuskan : putus !!!
Semua berakhir, ia pacaran lagi. Katanya ia bahagia dengan pacarnya yang baru. Karena ? kenapa ? karena, ia mendapat pacar yang bisa dikenalkan pada orang tuanya dan, jelas orang tuanya senang atas kehadirannya. Sekarang aku kesal, hatiku hancur, ibu bapakku bahagia, kakekku senang, semua keluarga tentram dan aku di sini bahagia. Kenapa bahagia ? karena tiga bulan kemudian. Ehhhmmmm…. Mantan pacarku nelepon, dan katanya ‘Aku menyesal memutuskanmu’. Kamu tahu, hal yang menarik dari pacaran adalah, saat mantan pacar kita menyatakan dirinya menyesal karena memutuskan kita. So, penyesalannya kutolak, ia pun kutolak. Dan sekarang aku yang lebih jahat. Ah, tidak juga, kalau cewek sudah berani berkhianat, pasti sama pacar barunya akan melakukan hal yang sama. Trust me, it true.
| [+/-] |
Baca |
Membaca Buku adalah Gaya Hidup, Bro!
Oleh SUKRON ABDILAH
Produksi buku di Indonesia kalah telak oleh Negara Vietnam. Indonesia, dengan penduduk 225 juta baru mampu memproduksi buku sekitar 8 ribu per tahun. Akan tetapi, Vietnam yang merdeka pada tahun 1968, sudah mampu memproduksi buku sekitar 15 ribu per tahun. Hebatnya lagi, rasio penduduknya di bawah Negara kita, yaitu sekitar 80 juta penduduk (Kompas, 31/01/2009).
Saya, yang baru 27 tahun menjadi warga Indonesia sedikit menutup muka. Malu dengan perkembangan peradaban Negara tetangga kita, yang pada tahun 2008 menjuarai piala AFC (dulu piala Tiger). Lagi-lagi, Indonesia ketinggalan kereta oleh Negara Vietnam dalam bidang olah raga. Sekarang, Negara Vietnam – katanya – sudah bisa menjadi eksportir beras untuk Indonesia.
Apakah semua ini menandakan bangsa kita tengah mengalami ketertinggalan atau semacam tanda kematian peradaban Nusantara? Dahulu kala, nenek moyang kita unggul dalam segala hal. Sekarang, ketika zaman cepat bergulir ke bentuk modern, tanda-tanda sebagai masyarakat modern itu seolah tak nampak. Produksi buku, misalnya, kalah kuantitas dibandingkan dengan Negara Vietnam yang baru tahun 60-an merdeka. Saya yakin, kalau dibandingkan dengan Negara Malaysia juga kita pasti kalah.
Teman saya, seorang mahasiswa ada yang tak pernah memiliki atau membeli buku selama menimba ilmu di perguruan tinggi. Kebutuhan primer – saya menyebut buku kebutuhan primer – itu dikalahkan oleh sebungkus rokok yang bisa dibelinya dalam satu-dua hari. Saya jadi berpikir, coba kalau satu bungkus rokok itu dikurangi. Sisihkan sekitar tiga ribu per hari untuk dialokasikan membeli buku. Dengan jumlah uang sekitar 90 ribu per bulan, kita sudah mendapatkan paling sedikit 3 eksemplar buku baru.
Kalau tidak mampu membeli buku baru, di depan kampus saya ada si Abah yang menjual buku-buku bagus seharga 10 ribu per eksemplar. Silahkan dibagi, dengan 90 ribu yang kita kumpulkan untuk buku, kita sudah mendapatkan 9 eksemplar per bulan. Rokok, hari ini sudah mengalahkan buku dalam masyarakat modern Indonesia. Utamanya, dalam kehidupan mahasiswa dan pelajar kita. Saya adalah perokok aktif, tetapi sejak mahasiswa selalu mengusahakan untuk membeli 3 judul buku baru.
Metodenya begitu, saya menabung 3 ribu per hari selama sebulan. Aktivitas merokok saya bagi waktunya menjadi 4 kali per hari. 3 batang setelah makan dan 1 batang kalau saya kebetulan baru tidur larut malam. Sekarang, ketika uang di rekening bertambah ratusan ribu, saya bisa membeli buku baru (terbitan 2008-2009) dalam satu bulan sekitar 4-5 judul yang berbeda.
Selain teman yang tidak pernah membeli buku itu. Saya juga memiliki teman, tepatnya adik seperjuangan di organisasi IMM, yang rajin menghitung harga buku yang pernah dibelinya selama menjadi mahasiswa. Sekarang, ia masih jadi mahasiswa di perguruan tinggi dulu, tempat di mana saya pernah menjadi bagian kampus ini. Ketika ditanya, selama mahasiswa sudah berapa ratus ribu yang dikeluarkan untuk membeli buku. Ia menjawab, “kurang lebih lima juta”.
Betul saja, ketika saya main ke kontrakannya, buku-buku itu tertata rapi. Belum lagi, katanya, buku-buku yang disimpannya di kampung halaman. Karena tidak menjadi perokok aktif, logis sekali kalau teman saya itu bisa membeli buku ratusan judul berbeda selama 4 tahun ini.
Dari dua teman saya itu ada perbedaan ketika mengeluarkan ide-gagasannya. Berisi dan tak berisi. Itu adalah buah dari membaca buku. Setidaknya, ide yang diberikan oleh orang yang rajin membaca buku akan lebih padat dan berisi. Yang tak rajin, akan bergema seperti suara yang berasal dari tong kosong. Maka, Tuhan mengatakan “iqra” (bacalah) sebagai landasan bahwa sebagian hidup harus diisi dengan membaca. Bisa membaca buku dan alam yang menghampar luas ini. Selain itu, realitas juga tak boleh luput dari aktivitas pembacaan kita.
Itulah manusia beradab. Menjadikan kegiatan membaca sebagai gaya hidupnya. Life style-nya, gitu! Setelah membaca sudah menjadi bagian hidupnya, ia akan tertarik menuangkan ide-gagasan dalam bentuk tulisan, baik artikel ataupun buku. Dengan demikian, produksi buku kita per tahun ke depannya akan meningkat. Bikin perpustakaan di setiap daerah, jangan hanya perpustakaan di daerah perkotaan saja. Tetapi ada perpustakaan kecamatan, desa, atau kampung. Insya Allah dengan menumbuhkan minat baca di masyarakat, buku akan lahir dari Indonesia sebanyak mungkin.
Honor atau royalti buku yang gede juga, bisa terwujud kalau masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Penulis – yang di Indonesia kesejahteraannya tidak diperhatikan – akan lebih bersemangat melahirkan karya-karyanya. Tapi, bagi saya yang terpenting hari ini adalah ide-gagasan dibaca orang lain. Itu juga, menurut saya sudah dirasa cukup. Tidak muluk-muluk kalau menerbitkan buku. Itung-itung nabung, mas!
Senin, 02 Februari 2009
| [+/-] |
Ego |
Ego di UIN SGD Bandung
Oleh B F SYARIFUDIN*
Air menjadi…
Tanah menjadi…
Angin menjadi…
Alam….????
Dua spot lampu atas pada sisi kanan kiri panggung bersinar redup, spot sisi kiri seorang perempuan menggeliat-geliat seperti sedang menari. Gundukan pasir yang menggunduk di depannya kemudian digenggamnya, lalu dibasuhkan ke muka, tangan, dan kaki seperti layaknya seseorang yang tengah melakukan tayamum. Perlahan dengan langkah lamban ia mendekat pada sisi spot sebelah kanan.
Spot pada sisi bagian kanan panggung, seorang laki-laki berkepala gundul setengah telanjang berdiri di dalam sebuah kelambu panjang berbentuk tabung yang membentang dari atas ke bawah. Lambat laun ia pun mulai mengexplorasi tubuhnya, menari memainkan lunglai tubuhnya di dalamnya. Si perempuan mendekati, lalu keduanya saling bersentuhan, mengexplorasi tubuh yang satu dengan tubuh yang lain, mengexplorasi ruang yang satu dengan ruang yang lain. Dan penulis sendiri berasumsi bahwa mereka sedang melakukan proses komunikasi tubuh di antara mereka (sex).
Demikian awal dari sebuah pertunjukan teater yang berjudul EGO, karya /sutradara Yayan ‘Katho’ Musiarso (27/08/08) yang dipentaskan di Galeri UIN Sunan Gunung Djati Bandung garapan Teater Awal yang akan berlanjut di UNSIKA Karawang dan TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta. Mendengar kata ego, penulis membayangkan dalam pertunjukkan ini adalah sebuah pertunjukkan yang membicarakan tentang oposisi biner tentang sesuatu. Tetapi ternyata tidak! Ego dalam pertunjukkan garapan Teater Awal ini adalah sebuah komunikasi tubuh antara dua lawan jenis laki-laki dan perempuan bagaimana mereka untuk mencipta dan bagaimana untuk menjadi. Mengapa, bagaimana, dan untuk apa?
Freud seorang pelopor psikoanalisis mengatakan bahwa manusia memiliki insting yang sangat mendasar yaitu insting kehidupan (eros) dan insting kematian (thanatos). Insting kehidupan ini di bagi menjadi dua yaitu insting individual dan insting spesies. Insting individual ini adalah sebuah dorongan dari setiap individu bagaimana setiap individu tersebut melakukan sebuah proses pertahanan hidup. Sedangkan insting spesies adalah insting di mana setiap manusia harus menjaga keberlangsungan hidupa spesies mereka (re-generasi). Insting spesies ini merupakan upaya atau dorongan untuk melakukan aktivitas seksual yang bersifat reproduksi di mana kehidupan manusia itu sendiri tetap eksis.
Pada adegan awal dalam pertunjukkan ini, merupakan sebuah proses pemunculan dua karakter yang berbeda di mana pada adegan ini merujuk pada teori Freud tadi, bahwa manusia itu mempunyai insting spesies—melakukan proses komunikasi tubuh (dua lawan jenis berbeda) untuk melahirkan sesuatu (manusia-manusia yang lain).
Kemudian pada adegan selanjutnya, setelah melalui proses persetubuhan di antara keduanya, dari sisi wing kanan dan kiri muncul empat orang laki-laki gundul setengah telanjang dan empat orang perempuan bertopeng Semar berpakaian putih. Pada masing-masing bagian perut pakaian yang di kenakan keempat actor tersebut bergambar seorang bayi yang siap-siap mau dilahirkan. Hal ini mungkin untuk menunjukkan pada para penonton bahwa para perempuan-perempuan itu tengah hamil dan pada adegan ini pula memang keempat perempuan tersebut melakukan adegan di mana mereka sedang berusaha keras untuk melahirkan anak-anaknya. Ketegangan pun berlangsung dengan tata cahaya liar seperti kita tengah berada di dunia pub.
Proses kelahiran pun terjadi, sosok laki-laki muncul dari sebuah property panggung yang lebih menyerupai tulang iga manusia. Ia berlari ke sana ke mari, sesekali berjalan lamban sambil melihat bayangannya sendiri, bersosialisasi dengan ruang di sekitarnya. Seolah-olah sedang berusaha untuk mengenal siapa dirinya dan siapa di sekelilingnya.
Merujuk pada pemahaman penulis mengenai teorinya Freud, bahwa manusia itu tidak hanya memiliki apa yang disebut insting. Melainkan ada satu hal yang dinamai dengan ego. Proses komunikasi tubuh, kelahiran, sampai pengenalan terhadap sesuatu, pada bagian ini penulis berasumsi bahwa proses tersebut merupakan sebuah implementasi dari hasil kreasi dari apa yang disebut dengan ego. Ego sendiri kata Freud bukanlah ke-aku-an dalam mementingkan diri sendiri melainkan ego adalah mengacu kepada keberfungsian diri.
Keberfungsian ini yang nantinya mengacu kepada untuk apa manusia hidup dan bagaimana melaksanakan hidup. Ego dalam hal ini merupakan sebuah strategi psikologi yang dilakukan manusia untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan cita-diri. Posisi ego haruslah sangat kuat karena dapat menjaga setiap individu untuk berada dalam keseimbangan hidup.
Terakhir, Ego adalah pembelajaran. Ego adalah diri. Ego adalah hasrat dan keinginan. Ego adalah hidup dan menghidupi. Ego adalah perjalanan untuk sampai pada ujung-Nya, perjalanan yang akan membuat kita bernama manusia atau perjalanan yang akan membuat kita bukan bernama manusia.
Selamat buat Teater Awal UIN SGD Bandung dalam pementasan ini…
| [+/-] |
menulis |
Keuntungan Menulis
Oleh AEP KUSNAWAN
Dari Abi Hurairah R.A., Rasulullah SAW bersabda: Tiga orang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah: Mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga khormatannya. (HR. Thabrani)
Siapapun Anda, jika sampai detik ini mengira bahwa dengan tulisan dapat mendatangkan uang, itu tidak keliru, sebab dengan tulisan yang dibuat kemudian diterbitkan, dengannya berarti penulis telah berjasa, dan karena jasanya itu, secara logis penerbit akan menyampaikan “terima kasih”-nya kepada penulis.
Jika Anda menganggap dengan tulisan dapat mempertajam intelektualitas, itu juga tidak salah. Sebab, dengan keinginan menulis yang semakin baik, maka Anda akan semakin banyak membaca. Baik membaca Qur’an, koran, buku, majalah, atau sumber lainnya. Selain itu Anda juga akan semakin sering membaca kondisi, situasi, lingkungan, alam atau segala macam ciptaan Allah dengan berbagai permasalahannya. Dengan demikian, Anda akan semakin dituntut peka terhadap berbagai persoalan yang berkembang, dan Anda akan semakin merasa haus terhadap segala macam sumber informasi. Bukankah itu merupakan suatu yang mendorong terhadap peningkatan intelektualitas?
Mungkin juga Anda mengira bahwa dengan tulisan dapat meningkatkan popularitas, itu juga merupakan hal yang logis. Sebab dengan diterbitkan tulisannya, meski Anda sendiri berada di ruang kamar dengan pesawat komputer, maka sungguh Anda akan dikenal orang. Anda dikenal tidak hanya oleh puluhan orang atau ratusan orang, tidak pula hanya oleh orang di satu daerah, tetapi sebanding lebih dengan jumlah oplah yang diterbitkan oleh media yang memuat tulisan itu, atau sebanding dengan sejumlah orang yang membaca media tersebut, dengan jangkauan wilayah seluas media itu tersebarluaskan.
Akan tetapi, hanya keuntungan yang sifatnya sesaat itukah menulis itu? Sehingga karena sesuatu dan lain hal, masih merasa ragu untuk menekuni dunia tulis, atau barangkali tidak cukup terpuaskan karena keuntungan tulisan yang Anda ketahui, terpaku pada batas-batas yang masih pragmatis, sempit dan tidak lebih luas.
Umpamanya Anda ingin memberikan konstribusi kepada masyarakat atau bahkan lebih dari itu, ingin memiliki “saham” bagi peradaban dunia. Lalu ia bertanya, dapatkah dengan tulisan keinginannya itu tercapai?
Berkenaan dengan hal itu, penulis mengajak Anda untuk kembali mengingat sejarah. Betapa sejarah peradaban manusia sebelum mengenal tulisan adalah sejarah yang kelam bagi manusia yang ada pada masa kini. atau direkonstruksi dari jejak peninggalan yang tampak dan bekas-bekas yang ditinggalkan, dan itu amat terbatas adanya. Sehingga kurun waktu sebelum Anda mengenal tulisan itupun disebut sebagai zaman pra sejarah. Saat itu ahli Antropologi mencatat, antara laju peradaban dengan evolusi manusi berjalan berbanding sejajar, peradaban berjalan lambat seperti jalanya seekor siput.
Sementara sejarah peradaban manusia dipandang baru muncul, setelah ditAndai oleh keberhasilan manusia menciptakan lambang-lambang yang kemudian disebut huruf, yang pada mulanya dituliskan di dinding-dinding gua. Huruf-huruf itu kemudian di rangkai menjadi kata-kata dan disusun menjadi kalimat-kalimat, yang memiliki fungsi untuk mengatakan pikiran-pikiran mereka dari hasil pengalaman yang telah mereka alami.
Dengan demikian, jika sebelum orang mengenal tulisan, suatu pengalaman atau pemikiran manusia hanya menjadi milik dia atau milik masyarakat yang semasa ketika itu, maka setelahnya mereka dapat menulis dan membaca, pengalaman dan pemikiran tersebut tidak hanya dinikmati oleh generasinya, tetapi oleh generasi sesudahnya, bahkan generasi yang jauh sesudah mereka meninggal. Dengan begitu, pemikiran-pemikiran menjadi tekoleksikan dalam suatu arsip yang bernama tulisan. Sejak itu pula, para ahli sejarah mencatat, peradaban manusia mengalami perkembangan yang pesat.
Anda tentu mengenal sejumlah tokoh dalam Islam yang hidup beberapa ratus tahun yang lalu. Namun banyak di antara mereka tetap hidup bersama hingga saat ini, meskipun jasadnya telah terkubur tanah ratusan tahun silam. Al-Ghazali, misalnya, telah meninggal tahun 1111, tapi ia tetap hadir bersama Anda saat ini, karena tulisan-tulisannya yang mengikat erat namanya untuk tetap hidup dan bahkan terus berkembang. Teori-teori Ibn Khaldun pun tetap dibaca Anda, dan dengan teori itu pula Anda kemudian mengembangkan teori-teori baru sesuai dengan perkembangan dan perubahan. Demikianlah, sejumlah pemikir dan pemilik ilmu masa lalu, karena tulisan-tulisannya, hingga saat ini masih hadir bersama generasi saat ini.
Kini, Saatnya Anda Pun Menulis
Dengan pemaparan di atas, nampak kehebatan tulisan, yang telah mampu berperan dengan sangat menakjubkan. Betapa tulisan telah mampu menampung, menabung dan mengkoleksi karya-karya serta menyebarkannya. Bahkan ia juga telah mampu “mendongengkannya” kepada generasi yang hidup sampai berpuluh, beratus, bahkan ribuan tahun kemudian.
Tulisan juga bukan hanya mengakumulasi pengetahuan, tetapi juga memungkinkan bagi pengkoreksian, penambahan dan penyempurnaan dari pengembangan pengetahuan yang baru. Ia ibarat alat rekam, disamping mampu menyimpan memori dari hasil karya rasa dan cipta manusia, juga mampu menerima masukan-masukan baru, sehingga koleksinya kian hari kian bertambah banyak dan semakin baik.
Dengan demikian, kini tergambar sudah, jika Anda mendambakan untuk bisa berhubungan dengan masyarakat luas, turut dalam mencerdaskan kehidupan umat manusia generasi kini dan kemudian, memberikan informasi berharga, menyampaikan penemuan-penemuan, menegakan idealisme dan keadilan, menyuarakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai suatu yang salah, atau Anda ingin berjuang dan berdakwah untuk peradaban yang bermuatan rahmatan bagi seluruh alam, maka melalui tulisan, hal itu bukan hal mustahil. Menulis bisa dimulai dari bentuk diary, dokumen, khutbah, biografi, majalah dinding, buletin, artikel, sampai menulis buku atau kitab. Sekecil apapun karya tulis seseorang, tentu akan tetap terkenang dan terarsipkan.
Jika demikian adanya, maka bukan hanya penulis yang untung, tetapi akan banyak pihak yang diuntungkan. Tidak pula yang diuntungkan itu hanya satu generasi, tetapi juga bisa berlanjut kepada berbagai generasi sesudahnya, bahkan mungkin jauh sesudah Anda tiada. Wallahu A’lam.
Penulis, adalah Penulis Buku “Berdakwah Lewat Tulisan”. Sekretaris Juusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri SGD Bandung.
Rabu, 28 Januari 2009
| [+/-] |
Sunda |
Sunda Mendorong Kemajuan
Oleh IU RUSLIANA
Para karuhun (orang tua dulu) yang arif dan bijaksana selalu mengingatkan generasi penerusnya agar jangan sampai menjadi manusia kuulen (tidak gaul). Tercermin dalam pepatah (etik); Kade Ulah Kurungen Batok.
Secara sederhana, kurungen batok artinya tidak mau terbuka dengan dunia di luar. Senang dengan dunia sendiri, tanpa memperhatikan dunia yang tengah berkembang pesat. Kemajuan bersama harus dijemput. Sikap kurungen batok tak akan mendorong kemajuan. Apalagi dengan pemikiran (perspektif) yang kurung batok. Itu lah saya kira yang dimaksud dengan kampungan. Bukan berarti orang kampong. Kampungan artinya tidak mau menerima fakta adanya kemajuan, malu dan ragu untuk memulai suatu hal yang baik padahal itu adalah akar kemajuan. Takut melakukan sesuatu yang baik, padahal harus dimulai. Kebanyakan diskusi dan berpikir dalam melakukan sesuatu sehingga tidak ada yang dikerjakan. Orang menyindirnya dengan istilah NATO (Not action talk only). Kalau kawan saya di kampus UIN Bandung dulu menyebutnya Kongres, Ngawangkong teu beres-beres (Berbicara terus menerus, tidak selesai-selesai).
Kuulen dalam tulisan ringan ini bukan sekedar tidak gaul, dalam artian tidak membuka mata dan telinga mengikuti apa yang terjadi di dunia ini. Tapi kuuelen karena tidak mau menjadikan keharmonisan bersama menjadi pijakan dalam bersikap dan bergaul bersama yang lain baik itu dengan tetangga, sahabat atau orang lain sekalipun. Hatta, dalam perspektif lebih luas, tidak mau berharmonisasi dengan alam sekitar. Kuuelen karena dirinya merasa sendiri, kumaha aing, tidak toleran, asal aing geunah, teu paduli batur kumaha, dan seterusnya. Kuuelen disini artinya sikap yang egois, tak peduli yang lain. Suatu perspektif mata kuda yang hanya melihat ke jalan di depannya, tak mau menengok ke kiri dan kanan.
Membaca falsafah karuhun Sunda tersebut, saya kira bisa disimpulkan kalau sesungguhnya orang Sunda sangat mendukung kemajuan. Karena para karuhun dulu pun mendorong itu. Jadi, kalau ada yang menilai orang Sunda cenderung tidak dinamis, itu hanya kesalahan pemahaman. Atau, itu lah bentuk penjajahan pikiran, etika yang didoktrinasikan oleh para penjajah dulu, karena memang mereka sangat betah tinggal di daerah Sunda; alamnya sejuk, nyaman, subur dan penuh keindahan.
Nah, sayangnya, tanpa kekritisan kita selaku genarasi muda saat ini, sikap pasif, betah di lembur sorangan, kuat sehingga tidak mau keluar dari daerah atau cara berpikir lama mencari daerah atau pemikiran baru yang lebih dinamis, progresif dan merespon perkembangan jaman.
Sekali lagi, saya harus tegaskan, keliru nampaknya kalau ada pendapat yang menyebutkan orang Sunda mah teu resep merantau. Baik merantaukan dirinya untuk mendapatkan pengalaman langsung, atau merantaukan pikirannya untuk melakukan interaksi pemikiran dengan perkembangan pemikiran yang bergerak cepat di luar.
Tidak gaul bukan berarti sikap anti pergaulan bebas- istilah tidak gaul cenderung negatif, tudingan untuk anak muda yang tidak mau ikut arus jaman yang konsumeris, hedonis, tapi dalam pengertian yang positif, anti kepada kemajuan peradaban.
Sudah saatnya, urang Sunda, utamanya generasi muda Sunda berpikir maju ke depan. Bukan sekedar berpikir primordialisme sempit, namun mau terbuka dan menghijrahkan pikiran dan badannya ke tempat yang lebih maju. Sehingga generasi muda Sunda mau menjemput kemajuan dan menariknya ke masa kini. Generasi muda Sunda menjadi manusia masa depan yang hidup di masa kini. Mereka lah para pemimpin yang siap mempercepat kemajuan yang normalnya dirasakan seratus atau dua ratus tahun yang akan datang kini bisa dipercepat.
Perubahan adalah keniscayaan. Namun pertanyaannya, apakah perubahan yang menuju ke arah yang lebih baik atau bukan? Keluarlah dari kotak (Out of The Box), lakukanlah inovasi, belajarlah ke orang lain yang lebih maju, lalu pelajari bagaimanacaranya, bukan sekedar melihat hasilnya, aplikasikanlah yang mungkin, buang yang tak mungkin. Karena pemimpin yang mampu menjemput masa depan bukanlah mereka yang tidak mau memahami orang-orang yang dipimpin, yang jelas-jelas pasti bingung karena mereka baru berpikir ke-2, sementara sang pemimpin sudah berpikir ke-4, tapi pemimpin yang dengan ramah dan sabar menuntun yang dipimpinnya meraih tangga dengan lebih cepat.
Sekali lagi, saya kira etik karuhun yang menyatakan hendaknya manusia Sunda keluar dari kurung batok harus menjadi nilai dasar bagi masyarakat Sunda untuk berhijrah, bertransformasi dan mendinamisir kehidupannya, menjemput dan meraih kemajuan lebih cepat. Karena kemajuan bersama diperlukan untuk keadilan dan kesejahteraan bersama. Jika ada pandangan yang menyebutkan orang Sunda tidak mau maju, itu adalah kesalahan berpikir yang harus segera dikritisi.
Cicing di lembur (diam di daerah) bukan solusi. Karena perspektif, pengalaman, ilmu dan jejaring tidak akan bertambah. Sementara tanah pun akan semakin menyempit seiring dengan industrialisasi dan semakin banyaknya manusia yang dilahirkan. Kampung sorangan (daerah sendiri) simpanlah di dalam hati. Dengan begitu, ketika kemajuan diperoleh, segeralah mengabdi ke daerah dan ibu pertiwi (lemah cai).
Dengan demikian, tidak akan ada lagi ketimpangan pembangunan karena masyarakat di daerah tersebut sangat dinamis, terbuka dan mau belajar terhadap kemajuan di daerah lain (Teu kurung betoken). Selain maju, karena perspektifnya terbuka, tidak sombong, mau bersinergi dan bersedia berbagi pengalaman. Bertindak lokal, berpikir global.
Cibiru Indah VII Bandung