Stasiun
Oleh Fani Ahmad Fasani
Siang datang lebih cepat dari dugaanku, padahal jarak antara malam dan pagi kurasakan jauh saat ditempuh. Aku telah memutuskan untuk menjemput. Matahari menatap mataku lalu perih, aku membuang muka, dia tahu aku belum tidur sekejappun.
Sudah jam sebelas lebih empat puluh delapan. Mungkin kurang dari setengah jam lagi kereta itu datang. Sebaiknya aku segera duduk syahdu di ruang tunggu. Setelah nanti pengeras suara mengumandangkan kedatangan mahluk besi melata itu, aku baru ke tepi rel. Kali ini aku merindukan gemuruhnya dari jauh, seperti pertanda hujan yang lekas. Kemudian setelah decitnya mereda, para penjemput berdiri, kuli-kuli angkut, pedagang asongan dan tentunya penumpang selanjutnya menyiapkan langkah segera. Aku akan menikmati berada di tengah mereka, seperti kembali menyambut harapan menghampiri.
Harapan itu, ketika aku datang ke kota ini menumpang kereta. Sebelum pergi aku dibekali sebuah novel oleh kakakku, paling tidak buat melawan rasa bosan di perjalanan katanya. Saat kereta mulai berangkat aku membuka halaman pertama. Aku lupa siapa penulisnya, mungkin kisah tentang perjalanan hidup seorang transmigran atau tentang seorang mantan pelukis yang bekerja di pemakaman, aku tak yakin. Lebih lagi, novel itu menuntutku untuk membacanya dengan perlahan, sedang kalimat-kalimat dari para penumpang lebih memburu dan menyita pikiranku. Aku lebih teralih pada wajah-wajah mereka, sebagian kantuk atau obrolan akrab tentang banyak hal. Novel itu tak pernah selesai kubaca dan mungkin potongan karcis itu masih terselip di sana. Aku merasa perlu bersukur untuk tidak ingat dimana menyimpan buku itu, bisa jadi karena ceritanya atau tentang apa yang terselip di dalamnya.
Aku menemukan raut wajah antagonis dengan kemeja hitam panjang, rambutnya tersisir rapi, peranku kini seperti Da vinci memergoki Judas di tengah keramaian. Lelaki itu berjalan menggigit rokoknya di sudut kiri bibir, saat menyalakannya kepalanya miring dan keningnya sedikit terlipat. Dari rautnya aku bisa percaya bahwa ia punya garis darah Ken Arok. Ia akan berangkat ke suatu tempat dengan tujuan terlarang, sialnya, kereta akan setia mengantarnya untuk tujuan apapun, bahkan jika ia berangkat untuk membunuh seseorang atau memisahkan dua kekasih.
Ah, aku tak perlu melanjutkannya, mungkin sebentar lagi kereta itu datang. Ia akan turun dengan kaos biru pekat seperti yang sering dia kenakan dulu, memakai jeans ketat yang agak kumal dan rambut diikat sempurna. Saat itu juga aku akan lupa dengan wajah sinis Judas bin Arok itu dan takkan pernah bisa lagi melukiskan wajahnya di tembok atau dimanapun, raut cucu Shiwa itu semakin tak bernilai untuk kuhapal. Buat apa jika wajah peran utama yang kutunggu akhirnya tampak? Aku akan menepuk bahunya saat ia menghamparkan pandangan mencariku sambil memanggil namanya dengan akrab. Ia akan menjerit kaget, lalu mengalihkan tasnya ke tangan kiri dan menyalamiku tangan kanan tentunya. Atau lebih baik meletakkan tas itu di lantai demi memelukku. Ia akan masih tetap perempuan termanis atau bahkan lebih lagi setelah sekian lama. Ah, semoga kereta yang membawanya setia di jalurnya, di jadwalnya. Semoga nanti ia tak bertanya kenapa hari ini mataku tampak merah dan jam berapa aku tidur semalam. Kali ini siang menampakkan kemalasannya, tapi sebelas menit lagi, sebelas menit lagi kereta itu, jika ia masih beriman terhadap jadwal.
Dulu aku tak sempat mengantarnya, tak sempat kata perpisahan memperoleh waktu pengucapan yang semestinya atau sedramatis yang pernah kuangankan, meski sehari sebelumnya kami membahasnya.
“Aku tahu, selanjutnya kau akan lebih nyaman tanpa aku. Kau tak perlu memaksakan datang jika aku minta ditemani atau mendengarkan cerita-ceritaku yang membosankan”. Aku diam, terlalu takut mengiyakan kalimatnya, komentarku akan terlalu panjang dan bertele-tele.
“Besok kau berangkat jam berapa?”
“Ia akan menjemputku jam sebelas lewat”.
“Siapa?”
“Senna, aku dijemput Senna”. Ia menjawab dengan cepat, sepertinya ia memang menanti-nantikan pertanyaanku itu. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya berjalan kedekat pintu dan hatiku berdebar, mengapa terlalu cepat dari yang kuduga. Ternyata ia menggapai stop kontak di pinggir pintu untuk menyalakan lampu ruangan.
“Gambarmu sudah kau selesaikan?” Tiba-tiba ia bertanya tentang itu, aku bahkan lupa, apakah aku sempat memberitahukannya tentang hal itu. Semoga dia tidak tahu apa yang sedang berusaha kugambar.
“Belum, sepertinya aku takkan pernah bisa menyelesaikannya”. Ia kemudian berjalan ke arah jendela, aku segera mengalihkan pandangan dari pundaknya saat kurasakan ada yang meluap dari dalam hatiku, sesuatu yang membuat jari-jariku bergetar. Jarum jam di atas dinding mengabarkan penghujung senja, sialnya jarum panjang itu mengarah padaku, aku merasa waktu tengah menudingku. Atau mungkin karena aku memang selalu berada dalam posisi yang tidak semestinya.
Mungkin kini ia sedang menatap ke luar jendela kereta, ke arah lembah dan sawah-sawah, atau perkampungan yang sesak menghampar. Atau ia juga sedang menerawang ke arah dua tahun tujuh bulan empat hari yang telah lewat. Ah, mungkin juga tidak, bahkan ia tak menyebut-nyebut hal itu dalam suratnya. Ia hanya mengisahkan kejadian-kejadian setelah itu, keputusannya untuk pindah dari pekerjaan, ia tidak bertanya kenapa waktu itu aku pergi begitu saja saat ia pamit untuk ke luar sebentar. Mungkin yang membuatku bersedia berada di sini karena dalam suratnya ia tak satupun menyebut nama Senna atau siapapun. Atau mungkin alasan lain yang mendorongku kesini, alasan yang setelah menyita beberapa malam terakhir masih juga menampakan keterjalannya.
Pengumuman di pengeras suara tiba-tiba mengutuk lamunan. Kereta itu kiranya menjelang. Aku beranjak dengan maksud tepi rel, kakiku seperti mengukir sesal untuk langkah-langkahku yang telah, tanganku berkeringat, mungkin karena tubuh ini menuntut tidur. Aku sampai di tepian dengan sempoyong, aku merasa orang-orang disekitar menaruh rasa curiga yang berlebih terhadapku, perasaanku mengatakan orang-orang di belakangku masih mengawasiku. Deru dari jauh yang mampu membuat nyaliku kecut, kereta meliuk saat rel membelok, menyeret ngilu di hatiku, ia semakin mendekat.
Kereta berhenti, pintunya terbuka dan para penumpang turun tergesa, semoga mereka tak memikirkan untuk meruntuhkan dinding kereta. Aku mundur menghindari arus manusia. Aku semakin mundur menjauh, berusaha tak mengijinkan pikiranku untuk bertanya mengapa kulakukan. Baiklah, ini jalan terbaik yang dapat kupikirkan. Karena kemungkinan lain adalah aku tak menemukannya di antara orang-orang yang lalu-lalang disini, ia tidak datang dan esoknya aku akan datang lagi ke stasiun, beberapa kali memeriksa surat yang ia kirim, berharap keliru membaca tanggal yang dijanjikan. Aku menunggu hingga senja, hingga kereta bosan mengantarkan sekian banyak orang dan tak satupun diantara mereka yang aku tunggu. Kemudian aku akan menyesal telah membakar foto itu, karena tak bisa memperlihatkannya pada orang-orang saat aku mencarinya.
Atau mungkin ia memang datang, dengan baju biru tua dan keramahan yang tak bisa kubalas dengan sisa umurku. Ia akan mampir ke tempatku sebentar, memintaku mengantarnya ke penginapan atau menemaninya makan malam. Setelah itu iapun harus kembali pergi dan menjalani segala sesuatunya sebiasanya. Sedangkan aku, kembali pada bayangan-bayangan yang terlalu nyata untuk tidak kuimani. Bagiku kemungkinan ini lebih mengerikan!
Sepertinya memang lebih baik aku pulang, semoga tanpa sesuatupun dihari ini sempat menorehkan kesan yang berlebihan di pikiranku. Di sepanjang perjalanan orang yang berpapasan mengandung kata ejek dan ‘mengapa’. Sepertinya aku memang harus memilih rasa bosan yang sebiasanya hanya miliku dan kamarku. Dan aku menuju kamar, tak ada sambutan ataupun rasa rindu, tapi kali ini sedikit haru tiba-tiba bergejolak ketika kupegang gagang pintu. Jangan-jangan aku menemukan sepucuk surat lagi di depan pintu, orang memasukan lewat sela dibawah pintuku. Jangan-jangan ini kesempatan kedua. Tak membutuhkan kiasan saat aku membuka pelan pintu kamar. Kali ini aku akan langsung tidur, yang tanpa mimpi atau rencana untuk bangun. Atau berharap tidak terjadi.
Kamarku masih muram seperti saat kutinggalkan. Namun kali ini aku mencium aroma parfum yang tak pernah kubeli atau kucita-citakan meski kadang kurindukan. Lebih lembut dari melati tapi semenawan sedap malam, apakah ini aroma dari jenis bunga jarang yang tumbuh di tempat tak sembarang? Mungkin juga ada campuran rempahnya. Semoga ini bukan bau cat yang masih basah.
“Aku menunggumu..”, Tiba-tiba kudengar suara pelan dan mengancam, seolah telingaku sendiri yang berbicara. Sesosok bayangan di pojokan, menatapku dengan pandangan rawan. Aku menyelidiknya kemudian ia tertunduk.
“Siapa kamu?” Tanyaku kesal.
“Tak perlu khawatir, aku hanya arwah..” Aku terkejut mendengar jawabannya, kemudian aku merasa geli karena kupikir, jika memang hantu kenapa tak nampak hanya di malam hari.
“Jadi kau orang yang mampus?” Kataku mengejek.
“Tidak, aku bukan orang seperti yang kau pikir, aku hanya lukisan yang disobek pembuatnya. Dan percuma kau menatapku teliti, yang akan kau lihat hanya wajah seseorang yang kau pikirkan. Bukan wajahku sendiri”.
“Apa maksudmu?”
“Ada sebagian orang yang mampu mengundang napas ke atas kanvas dengan tangan dan cintanya. Seperti yang selama ini kau percaya”.
“Haha.. tak mungkin, tak ada hal semacam itu. Yang perlu kau temui adalah mahluk dari jenismu yang memahami ilmu jiwa. Lagipula kenapa kamu sampai dirobek pembuatmu sendiri, kenakalan apa yang kau telah perbuat?”
“Ia merobeku sebelum merobek.. sudahlah..”
“Jadi kau arwah seorang pelukis?”
“Bukan, setelah ia meninggal aku belum bertemu dengannya. Ia pernah memberiku warna dengan darahnya sendiri, saat itu ia kehabisan warna merah”.
“Sekarang, apa yang kau inginkan dariku? Kau bukan dari jenis yang meminta bunga dan doa-doa kan?”. Jawabku menyindirnya.
“Aku ingin kau menggambar sesuatu, maksudku seseorang”.
“Hah.. dengan darah? Atau dengan kotoran di kuku?”. Aku terus berusaha membuatnya tersinggung.
“Tidak, kau harus menggambar sebiasanya”.
“Untuk apa? Lagipula aku telah berhenti dua tahun empat bulan yang lalu. Aku berhenti menggambar sesuatu, bahkan sketsa.”
“Tidak untuk apapun selain untukmu sendiri, dan aku akan sangat kecewa jika kau tidak melakukannya”. Ia berkata dengan nada datar namun mengandung ancaman, entah kenapa kalimat itu mengingatkanku pada seseorang, ia yang sangat tidak ingin kukecewakan namun aku tak berani menuntutnya demikian.
“Baiklah, akan kucoba. Mungkin aku masih punya beberapa kanvas dan cat”. Aku membuka kembali kotak yang selama ini tak kusentuh, mungkin aku akan membuat gambar sejelek mungkin upaya terakhirku menyatakan kekesalan. Masih ada kertas-kertas berisi sketsa dan selembar kanvas serta cat, beruntung aku belum sempat memusnahkannya, atau aku memang tidak berniat melakukan itu. Aku menyiapkan kanvas dan cat, lalu mendekatkan asbak agar tak jauh dariku, dan satu hal lagi; aku selalu mengoleskan sedikit balsem atau minyak angin pada telapak tanganku jika hendak menggambar. Aku tak tahu ini untuk apa, dan sejak kapan aku melakukannya. Alu menatap satu-satu sketsaku yang lalu, entah kenapa hadir perasaan bahwa terlalu banyak garis menagihku. Entah tentang apa. Tiba-tiba aku teringat rel kereta, aku membayangkan memberdirikannya dan kujadikan tangga entah kemana.
“Jangan terlalu banyak mengingat yang telah lalu”, aku terkejut seperti pertama kali menemukan perempuan itu di kamarku. “Kau harus segera melakukannya, kau harus melakukannya dengan suka cita”.
Balsem di tanganku sudah mulai terasa hangat, aku mengambil kertas untuk membuat sketsa atau sebentar membiasakan gerak tanganku. Menajamkan pensil dengan silet, ia berbalik menatapku. Garis diagonal membelah oval, aku kira itu tak seharusnya. Aku teringat jam dinding di ruang tunggu stasiun yang pelan berjalan, aku menatapnya tiap tujuh menit. Satu lingkaran kecil di pinggiran oval; aku melihat wajah gadis kecil melongok dari jendela kereta, mungkin ia duduk dipangkuan ayahnya yang mengantuk. Matanya seperti tak pernah rela meninggalkan stasiun, meski sekilas aku sepertinya bisa menebak apa saja yang sedang ia kenangkan, mungkin sepetak tanah di tepi mesjid dimana ia bermain tali pada sore hari. Kertasku belum menyajikan bentuk yang sungguh, mata pensil menyindirku. Aku merautnya kembali dengan kelelahan yang tak kumengerti. Tangan kananku bergetar menggerakkan silet, tangan kiriku memegang pensil dengan erat, urat-urat dilenganku kiriku hijau membayang.
“Kau belum membutuhkan warna merah”. Aku merasakan pundakku basah, seorang perempuan menepuk halus pundakku, mungkin tangannya berkeringat, atau itu benar-benar cat. Semoga memang pundakku saja yang memang basah. Mataku terasa perih, sepertinya aku benar-benar perlu tidur. []
Cileunyi, 21 September 2007
Jumat, 01 Februari 2008
| [+/-] |
Stasiun |
| [+/-] |
Ngeblog |
Blog Juga Hasil Karya Cipta; Menurut Anda Gimana?
Oleh Ibn Ghifarie
Di tengah-tengan akrabnya budaya ngeblog di pelbagai masyarakat Indonesia sekaligus ikut pula mengejar target 1 juta blogget di tahun 2008
Ayo ngeBlog! melalui penampilan baru juga tak mau ketinggalan dengan menyuarakan slogan ‘Ayo Capai 1 Juta Blogger di 2008′ muncul gejala tak lazim dikalangan para Blogger.
Betapak tidak, budaya copy-paste menjadi pemandangan wajar saat memperbarui blognya. Tak lain guna mengejar kampanye tersebut. Atau memang hanya iseng-iseng semata supaya terkesan rajin mengupdate rumahnya. Mengerikan memang?
Namun, apa mau dikata tradisi ini sudah kadung mendarah daging di seluruh rakyat Indonesia ini.
Kala, kebiasaan ini mewabah di para blogger. Sekonyong-konyong seorang kawan dekatku mempertanyakan gejala itu ‘Kira-kira blog termasuk kategori karya cipta bukan? mengawali obrolan senja di Sekretariat, Kamis (31/01).
‘Ya bagi saya dapat dikategorikan sebuah karya cipta. Asalkan dapat memuat hasil renungan, obrolan, bacaan, kegelisahan, kepenatan yang ditungkan dalam satu bentuk tulisan dan di tampilkan dalam blognya, jawabku.
Makanya saudah menjadi aturan bagi para Blogger. Meski tak ada sanki dan cacian dalam mengnyadur tulisan. ‘Pokoknya jangan asal copy-paste saja’, tegasku.
Selain itu, kalau bisa dalam mengutif satu karya orang lain. Tolong dikutip juga link sang empunya blog supaya tidak disebut plangi dan dapat dipertanggung jawabkan bila ada persoaln di kemudiahan hari, harapanku.
‘Kalau begitu caranya. Ngeblog juga termasuk hasil karya yang harus di hargai dong,’ ungkap temenku yang lainya.
Nah, kira-kira menurut rekan-rekan se-blogger gimana; termasuk karya cipta atau tidak? [Ibn Ghifarie]
Ayongeblog!!!
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 31/01/08;13.25 dan Komputer Ngeheng, 31/o1/08;23.58 wib
Kamis, 31 Januari 2008
| [+/-] |
Cinta |
Cinta Platonic Kaum Ojeg
Oleh Ifran Amalee
Seandainya cucu saya nanti membaca tulisan ini, diam-diam saya menunggu mereka berteriak, “Wow kisah cinta kakek gue amazing banget!” Nggak salah dong kalau ingin dikenang anak cucu?
Sebelum mereka membaca kisah cinta Putri Burdur dan Qamaruzzman, atau kisah roman tragis Romeo dan Juliet, dan sebelum mereka (dan ini yang lebih penting) diracuni gosip cinta segitiga para artis sinetron, kisah cinta kakeknyalah yang pertama harus mereka ketahui. Bener nggak? Gimana nggak, sedahsyat apa pun pengorbanan Romeo, nggak bakal ngaruh sama nasib anak cucu saya. Tapi, kisah cinta sang kakek dan nenek punya saham besar membentangkan cerita hidup mereka. Meskipun ini buat anak cucu saya, siapa pun kamu, boleh kok menyimaknya!
Tapi, sebelum memasuki episode kisah cinta yang dahysat itu, saya ingin bercerita tentang sebuah keluarga dengan tujuh orang lelaki dan seorang perempuan yang hidup di dalamnya. Tujuh orang lelaki itu adalah seorang bapak yang berprofesi sebagai guru SD dengan masa pengabdian lebih dari 30 tahun, dan enam orang anak, dengan usia berselang 2 hingga 3 tahun. Jika enam orang kakak beradik itu difoto berbanjar, dari yang paling bungsu hingga si sulung, maka akan terbentuklah konfigurasi anak tangga yang rapi. Dan laki-laki kurus kedua setelah si bungsu pada barisan itu adalah saya. Sedangkan satu-satunya perempuan di keluarga itu adalah seorang ibu yang stok kesabarannya nggak pernah devisit.
Perempuan yang menjadi kaum minoritas serta himpitan hidup yang begitu berat untuk dipikul seorang guru SD, menjadikan suasana di rumah begitu maskulin, keras. Kehidupan keluarga dijalani dengan kerja keras, anak-anak harus belajar dan menjadi pintar agar satu hari nanti mereka tidak terjebak lagi dalam siklus nasib pegawai negeri. Ayah saya menerapkan disiplin yang keras, tak ada kegiatan yang sah di rumah selain kegiatan agama dan belajar. Tanpa terasa atmosfir di rumah menjadi laki-laki bangeut. Dan belakangan saya sadari kondisi seperti itulah yang membentuk saya menjadi kaku, termasuk pada makhluk yang bernama perempuan.
Di lingkungan rumah, saya saqya cuma main sama anak lelaki. Meskipun di usia itu belum mengenal jender, tanpa disadari, pelan-pelan persepsi di kepala terbentuk bahwa perempuan adalah makhluk yang berbeda, bahkan asing, mungkin seperti alien. Ketika menginjak masa akhir SD, teman-teman sepermainan mulai berdandan rapi, mereka mengusir bau matahari dari tubuh mereka dan menggantinya dengan minyak wangi sinyonyong, mereka mulai bermain dengan anak-anak perempuan yang mulai berdandan pula, saat itulah saya merasakan bahwa pertemanan sudah dikhianati! Saya menuduh mereka sudah bersekutu dengan alien. Jika saat itu saya sudah mengenal Soe Hok Gie, mungkin saya bakal berteriak, “lebih baik diasingkan daripada jadi ABG!” Ketika anak-anak seusia saya berubah jadi don juan muda, saya memilih bersekutu dengan anak-anak kecil. Perasaan ditinggalkan saya usir dengan mengorganisir tim sepakbola anak-anak, membuat pistol-pistolan kayu dan mobil-mobilan dari bungkus rokok . Meskipun untuk semua itu, saya mendapat julukan “raja budak!”
Ketika karir masa ABG teman-teman saya makin meroket dengan masuk SMP, mereka mulai menulis surat cinta pada teman sekelasnya, sementara saya semakin jauh dari dunia perempuan. Saya masuk pesantren, sebuah sekolah asrama yang siswa laki-laki dan perempuan dipisahkan dengan sebuah benteng. Benteng itu memperkuat persepsi saya bahwa perempuan adalah makhluk yang berbeda. Hampir enam tahun hidup di pesantren itu, kami bisa melihat makhluk asing bernama perempuan hanya dalam beberapa kesempatan: pertemuan santri sebelum libur bulanan, olah raga (karen lapang sepakbola berada di tengah-tengah lokasi putra dan putri), dan di jalan yang melintas antara lokasi putri dengan pintu gerbang pesantren. Di luar itu kami hanya melihat perempuan di dunia luar ketika kami libur sehari setiap bulan (itu pun jika punya uang untuk pulang) atau ketika libur panjang. Sisanya selama tujuh hari seminggu, 12 bulan setahun, selama enam kali bumi mengelilingi matahari, kami hidup dengan kaum lelaki di sekolah asrama yang sempit acak-acakan. Eh, Asrama itu sebenarnya bisa rapi kalau ada lomba kebersihan antar asrama, itu pun cuma sebentar. Setelah juri melakukan penilaian, beberapa menit kemudian asrama kembali ancur abis, seperti rumah yang sudah dirazia datasemen88 karena dicurigai sebagai markas teroris.
Dua belas tahun hidup di tengah keluarga dengan 6 laki-laki dan cuma seorang perempuan, saya nggak pernah diberi pengetahun yang cukup tentang seluk beluk makhluk bernakma perampuan, dan nggak pernah diberi kuliah khusus tentang sebuah konsep gaib bernama CINTA. Hingga suatu hari di tahun kedua di pesantren saya saksikan teman-teman melakukan hal-hal konyol. Mereka menulis puisi dan surat dengan kata-kata indah, lalu memasukkannya ke dalam amplop wangi, dan menitipkannya pada emak-emak petugas dapur. Beberapa hari kemudian mereka menerima amplop serupa, lalu membukanya dengan hati-hati seperti seorang putra mahkota mendapatkan surat wasiat dari raja. Surat itu dibaca sendiri atau bergorombol di ranjang asrama. Tak lama berselang, si penerima surat menampakkan senyum kemenangan dan teman-teman lain memberikan selamat. Tapi kadang kejadiannya bisa berbeda, si penerima surat bermuka kusut mirip ekspresi santri yang weselnya telat, lalu teman-teman lain mencemoohnya sambil memperlihatkan lembaran surat itu kepada teman-teman lain. Di dalam surat itu ada kata yang membuat hati si penerima surat luluh lantak: DITOLAK!
Satu persatu teman saya bersekutu dengan alien. Dan saya tetap belum juga tahu mahluk gaib bernama CINTA. Waktu itu belum ada penyeranta atau telepon genggam. Semua laluintas persuratan dan ucapan salam mengalir deras dari putri ke putra dan sebaliknya melalui kurir ilegal: para emak dapur yang bekerja di teritori perbatasan. Meskipun saya nggak pernah menggunakan jasa kurir itu, tetapi saya pernah juga sih merasakan jasanya, beberapa salam dan surat pernah saya terima, meskipun saya nggak tahu apa artinya. Saya lebih senang bersekutu dengan teman-teman yang sealiran.
Sikap dan pandangan terhadap makhluk asing bernama perempuan membaut teman-teman sekelas terpecah menjadi dua partai. Partai petama adalah teman-teman yang say aceritakan tadi, yaitu kelompok anak-anak ingusan yang ganjen dengan menulis surat cinta dan menjalin hubungan backstreet dengan santri putri. Partai kedua adalah orang yang tetap istqamah memegang khittah (kayak ormas aja). Kelompok pertama kami sebut kaum “buayawan” (pelesetan dan budayawan) yang diambil dari kata buaya, nggak tahu kenapa buaya selalu difitnah identik sama sifat ke-playboy-an. Untuk mengenali kaum buayan, nggak terlalu susah. Tampilan mereka keren, necis, di lemarinya biasanya selalu tersedia sisir, kaca, minyak rambut Urang-aring atau Lavender, deodoran serbuk BB Harum Sari, serta stok kertas plus amplop surat wangi. Anggota kelompok ini terdiri dari laki-laki berwajah di atas rata-rata, kalaupun ada anggotanya yang berwajah minus, biasanya mereka mengandalkan rasa pede dalam takaran overdosis.
Kelompok kedua menamakan diri OJeG akronim dari “Organisasi Jomblo Ganteng”. Eh, kata ganteng di sini sama sekali nggak menunjukkan realitas sebenarnya. Ini cuma pembelaan: ingin mengungkapkan bahwa kejombloan anggota kelompok ini bukan karena mereka jelek dan nggak laku. Biasanya anggota kelompok ini terdiri dari orang orang yang memang nggak mau pacaran, karena itu melanggar aturan pesatren. Ada juga anggota yagn memang pengecut, nggak punya cukup keberanian untuk memanifestasikan cintnaya. Tapi ada juga sih yang merupakan mantan buayawan terekstradisi gara-gara mereka diputuskan atau ditolak santri putri. Dan orang-orang yang berada di area abu-abu, yang nggak punya sikap, secara otoamatis kami klaim sebagai anggota partai ini. Tentu saja kamu bisa menebak kalau saya ada di organisasi ini. Bahkan lebih dari itu, saya adalah pejabat teras di organisasi ini. Bersama seorang teman bernama Elpi (meskipun namnya Elpi, dia laki-laki tulen, nama itu diberikan ayahnya, karena dia lahir waktu ayahnya ikut seminar Lembaga Penelitian Indonesa yang disingkat eLPI). Bersama dialah saya mrumuskan platform dan filosofi organisasi ini. Percaya nggak, platform itu tetap kami anut hingga bertahun-tahun kemudian, bahkan ketika saya sudah menikah, Elpi tetap menjomblo.
Tapi jangan salah sangka, meskipun OJeG ini kumpulan orang jomblo, bukan berarti isinya laki-laki nggak normal, kita teteup punya rasa punya hati (kayak rocker). Kami punya konsep cinta sendiri, cinta platonik: cinta rahasia yang hanya disimpan dalam hati dan tak perlu dimanifestasikan dengan cara yang tolol seperti kaum buayawan. Kalau nggak salah, konsep ini ditemukan tidak sengaja ketika kami membaca tulisan Faisal Baraas di kolom Beranda Rumah Kita HU Republika sekitar tahun 1993. Fasial Baraas menulis sebuah cerpen yang indah, kisah cinta yang tak diungkapkan antar dua orang mahasiswa kedokteran. Mereka memnjalin persahabatan dan memendam rasa cinta tanpa mengunkapkannya hingga 6 tahu lamanya. Ketika mereka diwisuda bersama, si lelaki langsung melamarnya, dan cerita pun berakhir happy ending. Pelajaran cinta yang amazing banget buat sekte kami: bahwa cinta tak usah dungkapkan, biar cinta memancar sendiri membentuk tali gaib yang mengikat kesetiaan dalam waktu yang lama.
Menanggapi tulisan itu, kaum buayawan meragukan cerita itu dengan mengatakan, “Bagaimana kalau kita belum sempat mengungkapkannya, orang lain lebih dulu mengungkapkan cintanya. Akhirnya orang yang kita cintai direbut orang?”. Kami hanya menjawab dengan sebuah mitologi Yunani yang juga menjadi filosofi OJeG: bahwa manusia itu dulunya punya dua kepala, dua badan, empat tangan dan empat kaki, tapi cuma punya satu hati. Lalu tuhan memisahkan mereka, yang satu jadi laki-laki yang satu perempuan. Mereka punya badan yang utuh, tapi hatinya cuma sepotong! Ketika kita hidup di dunia sebetulnya di suatu tempat (yang tak pernah kit aketahui) ada seorang perempuan yang dulunya belahan jiwa kita. Satu sama lain akan saling mencari. Jangan takut ketuker, kita akan bertemu dengan pasangan jiwa kita (suatu hari nanti). Saya percaya betul mitologi itu. Kepercayaan itu ternyta terbukti beberapa tahun kemudian.
Filososfi partai OJeG semakin kuat ketika kiayi kami mengungkapkan sebuah resep yang tak pernah saya lupakan. Oh iya, jangan bayangkan kiayi kami sebagai orang berjubah putih seperti pangeran diponegoro. Dia itu laki-laki tua bertopi koboy. Kami tidak menyebutnya “Kiayi” tau “Buya”, kami menyebutnya “Babeh”. Menurut saya, dialah orang dengan pendirian paling kuat yang pernah saya tahu. Demi mempertahankan prinsipnya itu dia rela melepaskan jabatan anggota dewan dan memilih membuat pesantren di pinggir kota Garut. Tapi keyakinanya yang kuat itu juga yang membuat pesantren ini menjadi satu dari sedikit pesantren Muhamadiyah yang diperhitungkan dan masih survive hingga sekarang. Setiap akan libur bulanan, sebelum kami pulang ke rumah, biasanya Babeh akan menyampaikan pengumuman seputar kenaikan iuran, peraturan pesatren dan sedikit wejangan. Saya nggak pernah ingat pasti apa yang dia sampaikan selain sebuah kalimat yang berbunyi, “Mun naksir santriwati, tulis we ngarana di kertas, terus sakuan.” Artinya kira-kira begini, kalau kita ngeceng sama cewek, cukup tulis saja namanya, terus kita simpan tulisan itu di saku. Ucapan itu mungkin cuma kekesalan Babeh sama santri sejenis kaum buayawan yang akhir-akhir ini makin ganas melakukan manuver, sering tersiar kabar santri dan satriwati meeting di kota ketika liburan. Babeh menyarankan agar santri nggak usah dulu pacaran, deh. Kalau ngeceng boleh, nggak lebih dari itu. Tapi buat saya, ucapan Babeh itu menjadi kata bertuah buat kaum OJeG. Saya nggak ingat betul kenapa saya terdorong saya melakukan saran Babeh dalam arti sesungguhnya. Dan saya nggak sadar bahwa apa yang saya lakukan menjadi titik awal karir cinta platonik saya.
Libur bulanan bagi kami seperti oasis bagi musafir padang pasir yang nggak nemu air selama 30 hari. Kami berkesempatan pulang ke rumah orangtua. Orang-orang Garut pulang dijemput atau naik angkutan kota, orang-orang Jakarta biasanya ikut orang Garut untuk perbaikan gizi atau tetap tinggal di asrama. Orang Bandung biasanya mengorganisir acara pulang bersama dengan mencarter bis MIOS. Nama-nama santri putra dan putri yang akan ikut pulang bersama dicatat dalam selembar kertas. Bagi siapa pun catatan itu tidak lebih dari kertas biasa, yang suatu hari bakal mampir di warung Bi Icah dan menjadi bungkus bala-bala. Tapi bagi saya, kertas itu menjad kertas terpenting dalam sejarah hidup saya. Di kertas daftar nama itu saya menemukan sebuah nama paling indah. Saya lipat kertas itu hingga menjadi lipatan yang sangat kecil dan hanya tersisa sebuah nama, “Mila Aparilia Zakiah”. Lipatan kertas itu saya simpan di saku dompet saya yang dilapisi plastik transparan, hingga setiap saya membuka dompet itu, nama itu selalu mengambil perhatian pertama.
To tell the truth, melihat wajahnya Cuma 3 kali. Pertama, ketika dia naik podium menerima anugerah sebagai anggota IRM (OSIS) teladan. Melihatnya for the first time, saya de javu, seperti melihat bayangan wajah sendiri di air yang sedang beriak kecil. Belakangan banyak teman yang mengatakan bahwa wajah kami mirip. Dan itulah yang membuat saya makin yakin, bahwa kami adalah sepasang manusia yang dulu tuhan pisahkan. Oh iya, satu teori yang juga menjadi keyakinan kaum OJeG adalah bahwa sepasang jodoh pastilah memilki wajah yang mirip.
Pertemuan kedua terjadi pada sebuah pelatihan kepemimpinan. Sebagai panitia saya bisa mengamatinya dalam jarak yang cukup aman. Saya melihat wajahnya dalam jarak yang cukup dekat, dan dapat menangkap wajah seorang perempuan yang sepertinya selalu ingin menangis. Pertemuan terakhir terjadi ketika dia memutuskan untuk keluar dari pesantren dan melanjutkan ke SMA 8 Bandung. Waktu itu saya nggak sempat lihat wajahnya. Dari kejauhan dia berpamitan kepada teman-temannya dengan membawa semua peralatan, layaknya orang pindah rumah. Tiba-tiba saja saya merasakan kehilangan seseuatu, meskipun tidak pernah memiliknya. Seandainya ada pohon dan hujan turun, kayaknya saya bakal berubah jadi Sakhru Khan yang menari mengelilingi pohon sambil bernyanyi di bahwa guryuran hujan. Melolong sejadi-jadinya …
Tapi saya masih loyal pada khittah korps OjeG, saya masih yakin pada kebenaran cerpen Faisal Baraas, saya juga yakin pada resep cinta platonik Babeh. Lipatan kertas dengan sebuah nama masih tersimpan rapi di dompet dan terus bertahan hingga empat tahun berikutnya. Saya tak gentar walaupun sejumlah kabar burung mengatakan bahwa dua orang kakak kelas saya menjadi rival memperebutkannya. Tapi saya tak pernah merasa bersaing dengan siapa pun, sebab dia adalah mansua dengan hati sepotong, dan sepotongnya ada di dada ini. Wajah saya lebih mirip dibanding dengan orang-orang yang mengaku sebagai pesaing. Soal persaingan ini banyak hal yang agak konyol terjadi.
Sebagai komunitas yang terdiri dari sekitar 400 orang santri laki-laki yang hidup di sebuah komplek asrama, kami selalu berkumpul setiap acara makan. Ketika itulah saya sering berpapasan dengan kakak kelas yang disebut-sebuat sebagai saingan. Dan saat ituah teman-teman kami memanas-manasi, seperti serombongan suporter yang sedang mengarak jagoannya memasuki ring tinju. Bahkan satu ketika saya pernah diseret dari asrama menjuju lapang pingpong. Saya baru sadar maksudnya setelah melihat seseorang yang berdiri di seberang meja dengan bet di tangan, tatapannya seolah berkata, “ayo kita buktikan siapa yang berhak mendapakatan perempuan yang kita perebutkan!”
Saya percaya intuisi dan imajinasi lebih canggih daripada pengetahuan logis, sebelum saya tahu bhwa Enstein mengatakan hal serupa. Intuisi saya mengatakan bahwa tuhan sudah menuliskan skenario kisah cinta saya, sperti seorang programer komputer menliskan kode-kode HTML untuk programnya. Meskipun tersiar kabar bahwa permpuan yang namanya tertulis pada kertas di dompet itu sempat hilang dari radar saya, beberapa musim lamanya. Saya percaya dia perempuan yang akan duduk di sisi saya ketika sang penghulu membimbing membacakan kalimat akad. Ternyata intusi itu seperti anjing, selama kita mempercayainya, dia akan mengabdi pada tuannya. Tidak pernah berkhianat. Kalau kamu nggak percaya, datanglah ke rumah saya, kamu pasti disambut seorang perempuan bernama Mila Arilia Zakiah yang sekarang Ibu dari Kafa Billahi Kafila, putri kami: Bukti nyata hasil cinta platonik yang diyakini. Edan teu?
| [+/-] |
|
Obsesi Google di Ranah Nirkabel
Diposting Oleh Pengelola
Bukan GPhone yang selama ini diisu-isukan banyak orang, Google Inc malah meluncurkan Android. Sepanjang satu tahun terakhir ini media dan pemerhati industri telepon bergerak disibukkan akan kemungkinan terjunnya perusahaan mesin pencari Google Inc ke bisnis telekomunikasi seluler.
Rumor yang berkembang adalah lahirnya Google Phone (GPhone) sebuah telepon genggam yang tengah dikembangkan penguasa internet tersebut beserta 33 perusahaan teknologi informasi lainnya.
Hadirnya perangkat telekomunikasi bergerak tersebut tentu saja membuat khawatir sejumlah perusahaan produsen ponsel, operator telekomunikasi serta perusahaan terkait lainnya termasuk pengembang sistem operasi ponsel seperti Symbian, Palm maupun Windows Mobile. Selain “brand image” Google yang sudah cukup kuat, spekulasi yang berkembang adalah diadopsinya teknologi VoIP (Voice over Internet protocol) kedalam GPhone beserta platform yang dikembangkannya sendiri. Alasan tersebut sangatlah beralasan karena dengan terintegrasinya VoIP pada GPhone menelpon tidak perlu lagi menggunakan pulsa tapi cukup menggunakan Google Talk yang telah disediakan pada akun Gmail.
Awal bulan ini tepatnya 5 November 2007, kasak-kusuk tersebut akhirnya terpatahkan dengan hadirnya Android yang dikembangkan OHA (Open Handset Alliance) sebuah konsorsium yang salahsatu anggotanya adalah Google Inc. Konsorsium yang dimotori perusahaan penguasa internet tersebut beranggotakan 34 perusahaan yang terdiri dari perusahaan software, semikonduktor, internet, telepon genggam juga operator telekomunikasi seluler dari berbagai negara. Sedangkan Android sendiri ternyata bukanlah sebuah perangkat telepon bergerak yang didesas-desuskan selama ini. Lalu apakah Android?.
Android merupakan sebuah sistem operasi yang berjalan untuk telepon seluler seperti halnya Symbian, Palm dan Windows Mobile yang kita kenal selama ini. Android yang merupakan perangkat lunak berbasis Java dengan sistem operasi Linux dan berada dibawah lisensi Apache V2 merupakan sistem operasi open source (terbuka) sehingga tiap orang berhak mengembangkannya. OHA saat peluncuran Android menjelaskan dimasa mendatang ponsel akan mempunyai kemampuan layaknya PC, bahkan lebih. Misalnya membangun jaringan sosial maupun mengelola blog akan lebih mudah jika menggunakan ponsel. Maksudnya ketika kita merekam kejadian bintang jatuh maka seketika itu juga dapat mempostingnya ke blog kita di internet. Android juga dapat membawa pengguna telepon genggam menjelajahi kawasan yang diinginkan melalui teknologi Sistem Pemetaan Global (GPS).
Intinya dengan Android ini Google ingin mendorong fungsi komputer pada telepon genggam yang ujung-ujungnya untuk melancarkan bisnisnya di ranah nirkabel. Pertanyaannya, apakah ponsel yang kita pakai selama ini bisa juga digunakan untuk Android? Sayang sekali jawabannya tidak. Artinya kita harus membeli handset baru untuk dapat menikmati Android. Diperkirakan Google akan bekerjasama dengan sejumlah produsen telepon genggam untuk pengadaan perangkat yang akan digunakan pada Android.
Lantas apa yang membuat Google memasuki bisnis ini? Alasannya mudah ditebak, uang. Semakin tingginya pengguna ponsel dan belanja iklan menggunakan perangkat bergerak membuat Google bermanuver ke bisnis yang belum pernah dijamahnya tersebut. Diperkirakan tahun 2012 nanti belanja iklan menggunakan telepon seluler akan mencapai US$ 11 miliar dimana Google akan meraup sekitar US$10 milyar dari “link text” yang dikawinkannya dengan telpon genggam. Saat ini saja ponsel sudah dapat digunakan untuk membaca berita, membuka dan mengirim email, bahkan memposting gambar maupun video ke halaman web. Dengan semakin meluasnya akses internet melalui ponsel maka Google pun akan meraup banyak uang dengan mengintegrasikan mesin pencarinya pada ponsel.
Meskipun telah dikenalkan kepada masyarakat awal bulan ini, Android diperkirakan baru akan mulai dipasarkan pada kuartal kedua tahun 2008 nanti. Berarti ada waktu sekitar setengah tahun bagi pengembang sistem operasi ponsel lainnya untuk menyiapkan diri guna menghadang serangan Android.
| [+/-] |
Gibson |
Ahmad Gibson Al-Busthamie merupakan Dosen pengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.
Kini, menjabat sebagai Kepala Pusat Informasi dan Komputer (PusInfoKomp) UIN SGD Bandung.
| [+/-] |
Vandal |
Sajak Tedi Taufiqrahman
Sajak Belajar Vandal
Ada agama sedang menangis di pojok rumah
Menjerit melihat para penganut mencacah
Ajaran doktrin dan dogma dengan pongah
Ada agama sedang melamun melihat
Nasib bangsa yang dipenuhi dengan para pengkhianat
Penjilat mengerat ayat-ayat suci dengan lahap
Ada agama sedang melayang-layang mengabut di langit
Ada agama sedang meringkuk di balik jeruji
Penjara habis dihantam dibekuk dipukuli
Oleh para aparat tentara dan polisi
Agama tak punya lagi identitas
Tak memiliki wajah
Bisa dijual belikan hanya untuk segunduk uang kertas
Menjadi mantra sumpah serapah
Mengusir hantu dedemit kuntilanak beserta keturunannya
Agama bisa ditemukan di mall swalayan bahkan di pelacuran
Menjadi bahan legitimasi segala hal
Mengobral fatwa halal haram
Dari makanan, kondom sampai dildo
Mengumbar nafsu dan libido
Kekuasaan ketamakan