Ayo Ngeblog, Ayo Ngoment Juga!!!
Oleh Ibn Ghifarie
Konon, keberhasilan satu komunitas blogger atau blog pribadi terlihat dari seberapa banyak komentar yang digondol sang pemilih rumah. Apapun postinganya.
Bila kesepakan ini yang menjadi tolak ukur, maka tulisan berbau porno atau situs blue akan kebanjiran tulisan dari pembaca budiman. Sungguh mengerikan.
Namun, dimata sebagian kelompok ngeblog tidak demikian. Pasalnya, komentar menjadi persyaratan yang tak bisa di tawar-tawar lagi saat menjadi anggota perkumpulan. Asyik bukan?
Mencoba mengikuti kebiasaan itu, Ayo ngeBlog! masih jauh tertinggalan jika dibandingkan dengan blog para selebritis. Kendati ada larangan ‘Jangan Komen di Blog Selebritis.!!’
Lihat saja, blog Dian Sastro, aktor kawakan ‘Ada Apa Dengan Cinta’ komentarnya sungguh pantastis. Betap tidak, dari 5 postingan teratas; Dian Iseng Maen Kuku (10); Banyak di Rumah, Dian Sering Bolong (34); Demo Mahkamah Agung (Dian Sastro) (10); Dian jadi Pembicara Seminar (23); Mahasiswa Abadi Noway! (29). Memang menarik untuk melontarkan kata-kata kepadanya.
Satu lagi, tengoklah blog Angelina Sondakh, mantan Putri Indonesia lebih mengejutkan lagi dari 5 urutan pertama; Batik In Netherlands (28); True Friendship, What Money Cant Buy (24); Eliminating Violance Agaits Childrent (17); My Best Frinds Wedding (11); Vacuumnya Hubungan Percintaan (56). Rasanya bersyukur bisa ikut nimbrung sekaligus terkenal di blognya.
Hingga tulisan ini diturunkan, di Ayo ngeBlog! masih belum seberapa. Coba cermati 5 judul awal; Blog Juga Hasil Karya Cipta; Menurut Anda Gimana? (2); Desain Baru, Semangat Baru! (9); Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Pa Harto (9); Kala Soeharto Ngeblog, Mungkinkah (19); Ekstrovert-Instrovert, Semuanya Cocok Dengan Blog (8)
Di akui atau tidak popularitas seorang pemilik blog dan ketenaran komandan komunitas blogger menjadi penentu kemunculan seberapa jumlah komentarnya.
Sejatinya kita mengkampanyekan Ayo ngeBlog! Ayo Ngomentar Juga. [Ibn Ghifarie]
Ayongeblog!!!
Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 1/02/08;23.15 wib
Minggu, 10 Februari 2008
| [+/-] |
Ngeblog |
| [+/-] |
Kopdar |
Kopdar sunangunungdjati
Dalam rangka memperat silaturahim di kalangan civitas akademika dan Ikatan Keluarga Alumni UIN SGD Bandung, maka kami atas nama sunangunungdjati komunitas blogger UIN SGD Bandung mengundang para blogger untuk menghadiri kegiatan Kopdar (Kopi Darat) yang akan dilaksanakan pada:
Hari, Tanggal: Minggu, 24 Februari 2008
Pukul : 15.30-selesai
Tempat : Telataran Gedung Al-Jamiah
Agenda : Perkenalan, Pengukuhan Pengurus, Ramah-tamah.
Informasi lebih lanjut hubungi 081809409807 (Ibnu), 02292444186 (Zarien), 081322151160 (Sukron). Terimakasih.
Panitia
| [+/-] |
Demo |
Demonstrasi
Oleh Badru Tamam Mifka
Hutan kian panas. Ratusan rakyat di negeri hutan melakukan demonstrasi menggugat sang diktator dan penindas. Para demonstran, dari mulai hewan mamalia sampai reptilia, tak henti berteriak. Barisan kuda meneriakkan perlawanan terhadap penggusuran dan penguasaan lahan oleh negara.
Kelompok kelinci dan kambing menggugat kacaunya distribusi makanan. Kumpulan monyet mengutuk tindak kekerasan dan penindasan militer pemerintah. Kaum burung menggugat illegal loging yang dilakukan sindikat konglomerat dan pejabat. Yang lainnya meneriakkan “tidak” terhadap corak pemerintahan diktatorial rezim sang gajah yang penuh kolusi dan nepotisme.
Seperti di negeri manusia, di negeri hutan pun kenyataan si kaya dan si miskin tampak sekali. Masalah pun muncul: kalangan pejabat, pengusaha dan konglomerat beruang, singa dan sedikit badak, yang berlindung di bawah selangkangan rezim, mempunyai kebebasan menentukan budak-budak hewan belian dari golongan rakyat lemah. Mereka, budak-budak hewan belian itu, bukan saja tak dianggap hewan yang punya hak asasi, melainkan diperjualbelikan dan dikerja-paksakan seperti manusia.
Dalam bidang politik, mereka terbagi menjadi empat golongan: golongan yang kuat dan sombong, golongan yang lemah dan tertindas, golongan penjilat dan golongan misterius. Setiap golongan itu bekerja seperti sebuah drama penindasan tak terlihat dibelakang perkasanya sebuah kekuasaan. Hal itu diam-diam membakar hati rakyat. Dari mulai bisik-bisik, dendam, umpatan, hujatan beberapa kelompok kecil dan akhirnya merencanakan sebuah demonstrasi besar-besaran.
Puncaknya, rakyat hewan yang sebelumnya dibungkam dalam sebuah proses militerisasi represif dan terselubung, kini menghimpun kekuatan massa untuk melakukan demonstrasi dan perlawanan terhadap rezim. Hari demi hari aksi demonstrasi semakin besar. Dari sudut-sudut di antero hutan mulai ramai memuntahkan perlawanan. Bak mahasiswa di negeri manusia, mereka turun ke jalan. Kulit-kulit sapi kering yang di dunia manusia dipakai beduk, disana dijadikan media spanduk untuk menuliskan gugatan. Mereka meneriakkan perubahan dan bermuara pada teriakkan yang sama: Turunkan presiden gajah! Turunkan rezim gajah! Riuh demonstran menggetarkan hutan. Monyet marah. Kuda marah…
Mereka mulai merangsak menuju wilayah sarang pemerintah yang selama ini takut mereka lakukan. Mereka pun di hadang militer pemerintah, dari mulai gajah, badak, dan kerbau yang berbaris jadi pagar betis. Dari para demonstran, kelompok kuda jadi lapis terdepan. Di paling belakang, kelinci-kelinci memasok batu, molotov dan makanan. Komentar mereka, marah bisa bikin lapar. Aktivis juga butuh makan dan minum. Keributan pun terjadi antara tentara dan para demonstran yang bersikukuh masuk wilayah istana. Tapi kaum aktivis, yang memakai kekuatan rakyat, sudah tak bisa dikalahkan. Para demonstran akhirnya bisa menjebol hadang tentara.
Meski aksi demonstrasi sudah lama terjadi tetapi nun di dalam sana, di sarang pemerintah, keadaan masih tenang dan santai. Selama ini dianggap berkat militer yang berkerja dengan baik menghadang para demonstran. Seperti biasa, sang presiden gajah memasuki ruang rapat. Ia mulai berbicara dengan para menteri dan wakil presiden. Ia mulai menerima laporan. Satu persatu ditanya presiden, satu persatu memberikan laporan.
“Jadi kesimpulannya, sejauh ini tidak ada gejolak dalam negeri. Semuanya aman, Pak, baik-baik saja…” Menteri gajah berkaca mata tebal memberi laporan.
“Adakah ketidakpuasan di masyarakat?” tanya sang presiden gajah. Ia memutar belalainya, dan batuk-batuk. Wajahnya yang tua itu tampak pucat.
“Semua terkendali, Pak. Rakyat mendukung 100% kinerja pemerintahan dibawah kepemimpinan Anda, ya kita. Bahkan hampir 100% rakyat akan mendukung Anda dalam pemilu tahun depan.”
Hadirin rapat, yang semuanya gajah, bertepuk tangan meriah. Sang gajah manggut-manggut senang. Sesekali batuk-batuk. Setelah beberapa lamanya berbincang tentang agenda kunjungan kenegaraan ke luar negeri, sang presiden mulai berdiri hendak meninggalkan ruang rapat. Tapi tiba-tiba ia tersentak ketika mendengar keributan, ledakan dan teriakan-teriakan di luar istana. Dengan langkahnya yang berat dan ringkih, ia segera melihat dari jendela apa yang terjadi di luar istana.
Betapa terkejut ia melihat aksi demonstrasi. Para menteri segera menemui sang presiden dan mengatakan: Tenang, Pak, tenang. Itu hanya pesta, atau atraksi kesenian rakyat, atau semacam simulasi…
“Tidak, tidak. Itu demonstrasi!”
“Tenang Pak. Anda lebih baik masuk kamar dan istirahat.”
“Tidak bisa! Bagaimana saya bisa istirahat jika rakyat banyak menggugat! Lihatlah, mereka marah! Mengutuk saya! Apa yang terjadi selama ini?! Kenapa kalian sebagai pembantu-pembantu saya tak memberikan laporan-laporan objektif?!” Sang presiden menggeram. Mukanya merah dibakar marah. Para menteri, juru bicara, dan wakil presiden mencoba menenangkan sang presiden. Tapi keadaan bertambah buruk. Sang presiden marah besar. Ia ngamuk, dan tak lama kemudian megap-megap. Terkulai lemas. Sang presiden gajah terkena serangan jantung! Ia mati! Ia mati!
Gemparlah seluruh orang di dalam istana. Para menteri gajah mulai kelabakan. Mereka takut para demonstran akan menyerang istana. Satu persatu mereka pun melarikan diri. Wakil presiden stress. Ia pun bunuh diri di samping mayat presiden. Ikut mati.
Berita kematian sang presiden gajah dan wakilnya sampai di telinga para demonstran. Mereka sangat terkejut. Riuh demonstrasi mendadak diam. Senyap. Mereka saling pandang. Tak lama kemudian keriuhan meledak lagi. Suasana jadi kacau. Mereka pecah menjadi beberapa kelompok. Mendadak aksi demonstrasi berubah total menjadi aksi kampanye politik kelompok. Kalimat-kalimat gugatan serta perlawanan di spanduk kulit dihapus dan mulai diganti menjadi kalimat propaganda politik.
“Saya siap jadi presiden!”
“Saya siap jadi pengganti!”
“Saya mau dicalonkan dalam pemilu!”
“Saya juga mau dong!”
“Saya juga!”
Jerit pekik hewan bergemuruh saling berebut ingin jadi calon presiden, berebut ingin mengisi kekosongan kekuasaan. Kuda mencalonkan diri. Monyet mencalonkan diri. Kambing mencalonkan diri. Buaya juga…
Jatinangor, 2 Februari 2008
| [+/-] |
Cinta |
Mendapat Cinta Allah, Sulitkah?
Oleh Akhmad Mikail
Apa itu cinta? Apa sebenarnya urgensi cinta dalam kehidupan kita?, kemudian, bagaimana mendapatkan cinta Ilahi Yang Maha Tinggi?. Untuk mengetahui jawaban dari semua itu kita perlu mensegmentasikan makna cinta kedalam beberapa bagian.
Cinta dalam kehidupan manusia terbagi kedalam beberapa bagian diantaranya Cinta Mahabbah, Cinta Mawaddah, dan Cinta Rahmah. Satu persatu akan dicoba kita bahas sehingga kita tahu makna cinta yang lebih mendalam.
Cinta Mahabbah, yaitu cinta yang mengenal bosan. Manusia diciptakan Allah dengan segala kemungkinannya, baik dan buruknya, suka dan senangnya,, begitupun dengan perasaan cinta terhadap sesuatu, misalkan kita sangat menyukai ikan bakar, tetapi kalau terlalu sering dimakan rasa bosan itu akan muncul dengan sendirinya.
Cinta Mawaddah, yaitu cinta yang tiada akhir dari manusia terhadap manusia, seperti suami terhadap isterinya, orangtua terhadap anaknya, ataupun cinta kakek dan nenek terhadap cucunya.
Yang terakhir adalah Cinta Rakhmah, cinta yang tiada akhir dari Allah SWT terhadap manusia atau yang disebut dengan cinta tingkatan tertinggi. Lalu bagaimanakah cara kita, akankah kita mendapatkan cinta Allah tersebut? Insya Allah.
Ada beberapa cara untuk meraih cinta Allah, kita analogikan bagaimana jika kita mencintai seseorang, apa yang akan kita lakukan untuk mendapatkan cinta orang tersebut? Yang pasti kita mencari tahu apa yang dia sukai, lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan orang yang kita cintai tersebut. Begitu pula cara kita untuk mendapatkan cinta Allah, ada beberapa cara yang mesti kita lakukan antara lain:
1. Tadaburi Al-Quran
Kenali atau tela’ah Al-Quran adalah suatu cara untuk mengetahui apa yang Allah sukai dan apa yang tiada Allah sukai, sehingga kita dapat mengimplementasikan apa yang Allah sukai dalam setiap segi kehidupan kita sehingga Allahpun akan menyukai kita.
2. Banyak melakukan komunikasi dengan Allah
Bagaimana cara kita komunikasi dengan Allah. Banyak cara yang bias kita lakukan diantaranya dalam bentuk do’a dan dzikir. Hamper setiap orang tau apa itu do’a, yaitu memohon atau mengharapkan sesuatu kepada Allah. Tapi tidak banyak orang tahu bagaimana cara berdo’a yang baik dan benar, ada beberapa cara berdo’a yang baik diantaranya:
a. Awali dengan Asma’ul Husna
Asma’ul husna adalah nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah. Atau dengan memujinya seperti pernah dilakukan oleh seorang sahabat Rasul yang Rasul sangat suka dengan apa yang dia katakan waktu dia sedang berdo’a:
“Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa engkau adalah Allah tidak ada tuhan kecuali engkau yang satu, tempat bergantung yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada yang setara denganmu.”
b. Lakukan do’a dengan segala kerendahan hati
Dalam berdo’a kita harus benar-benar butuh akan apa yang kita pinta dan merasa tidak ada yang akan member apa yang kita pinta tersebut kecuali Allah.
c. Lakukan do’a dengan prasangka yang baik bahwa Allah akan mengabulkan do’a tersebut.
Memanfaatkan waktu-waktu terbaik untuk berdo’a, antara lain:
- Ketika sedang sujud pada waktu shalat
- Ketika shalat Malam (shalat tarawih, shalat tahajud)
- Ketika sedang safar (bepergian)
- Ketika sedang shaum
- Akhir dari setiap shalat
- Ketika waktu susah, waktu senang, waktu sempit atau waktu luang
Setelah kita tahu cara-cara kita meraih cinta Allah, tentu kitapun perlu tahu bagaimana tanda-tanda Allah mencintai kita:
Doa yang dipanjatkan akan selalu dikabulkan oleh Allah, dan tentunya menurut ilmu Allah baik untuk kita. Akan tetapi jika do’a kita belum di kabulkan janganlah berprasangka buruk kepada Allah karena mingkin apa yang kita panjatkan dan kita harapkan belum tentu baik untuk kita dan Allahpun akan menggantinya dengan yang lebih baik menurut ilmu Allah.
Allah akan memberikan ketentraman dalam hati kita dalam kehidupan kita tanpa mengenal gender, karena kita tahu Allah maha adil dalam segala hal.
Allah akan memberikan perlindungan sesuai dengan QS. Al-Baqarah: 257”Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya(iman)...”.
Allah akan memberikan pertolongan kepada setiap orang yang Allah cintai.
Allah akan selalu membimbing dengan hidayahnya untuk merasa nikmat belajar agama, untuk merasa minat terhadap sesuatu dan dapat berfikir karena memiliki akal sehat serta merasa mudah untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan Allah. Hal ini tercantum dalam QS. At-Taghaabun: 11 “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan member petunjuk (hidayah) kepada hatinya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu”.
Allah akan memberikan barokah hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QA. Al-Araaf:96” jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri ini beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”.
Yang tidak ada bandingannya dengan cinta yang kita harapkan dari manusia selama ini, bukankah hanya ridha Allah yang kita tuju karena hanya dengan ridha dan cinta-Nyalah kita berjalan di muka bumi ini. Wallahu’alam.
| [+/-] |
Final |
Final LI 2008
Oleh Fauzan
Rencana cukup aneh dikeluarkan oleh Menegpora Adhyaksa Dault, dimana beliau berencana untuk tidak menggelar final Liga Indonesia 2007-2008 di senayan Jakarta. Keputusan ini merupakan rekomendasi dari Kapolda Metro Jaya yang tidak sanggup mengamankan final yang akan diikuti oleh PSMS Medan dan Sriwijaya FC.
Padahal kalau dilihat dari track recordnya, para pendukung kedua kesebelasan adalah pendukung yang damai dan sportif. Tampaknya keduanya tergena getah dari kejadian kemarin.
Keputusan ini sedikit aneh, karena polisi merasa ‘tak mampu’ mengamankan supporter. Padahal yang bertanding bukan tim tuan rumah. Atau mungkin karena bukan tim tuan rumah yang bertanding sehingga harus digelar di tempat lain? Kasihan PSMS dan Sriwijaya FC yang telah berjuang keras supaya mendapat tempat di Senayan.
Pindahin aja ke Jalak Harupat pak, biar saya bisa nonton. ;)
Menonton berita kerusuhan kemarin, dimana bis supporter Persija dilempari batu, jadi teringat ketika bis pemain PERSIB dilempari di Jakarta. Karma Nih yee… Koq tuan rumah bisa dilempari begitu dan gak ngelawan? gak berani ya? di rumah sendiri gak berani, apalagi di rumah orang laen. hihihi
Wassalam
| [+/-] |
Menulis |
Menulis Adalah Kewajiban Moral
Oleh Sukron Abdilah
Dunia tulis menulis menjadi hobi baruku setelah sekian lama aku menyukai permainan sepakbola. Namun, ada ganjalan yang seringkali menghambatku untuk menuangkan sebuah ide menjadi sebentuk tulisan yang menarik. Tak pelak lagi, aku pun kelabakan di bikin pusing, karena ide terasa mengawang-ngawang tak tentu arah dibenak kepala.
Bahkan yang lebih parah lagi, ketika aku membaca realitas atau gejala sosial disekitar muncul beragam pandangan dan sangat sulit diejawantahkan dalam sebuah coretan.
Hingga suatu ketika aku menemukan kata-kata yang telah usang menurut orang lain, tetapi dalam kehidupanku kata-kata itu seolah menjadi titik awal untuk menikmati hobi baruku ini. Kata-kata itu berbunyi, "tangkaplah ide, sebelum ide tersebut hilang dari benakmu". Dengan susah payah, aku renungi makna yang tersembunyi dibalik teks tersebut agar melahirkan pemahaman baru.
Setelah kulewati berbagai ujian hidup berwujud kemalasan, ternyata muncul makna yang tak kusadari, bahwa kata-kata itu memiliki arti, "semangatlah kawan". Karena tanpa memiliki semangat hidup, boro-boro menangkap ide, untuk menghasilkan ide pun akan terasa sulit. Makanya tak salah bila musuhku yang pertama dan terakhir adalah ketidaksemangatan dalam diri.
Bahkan pada kesempatan lain, aku teringat sebuah ungkapan yang maha dahsyat memotivasi hidup: “Hal-hal yang menakjubkan, tidak lain adalah hal-hal sederhana yang disentuh oleh tangan jenius”. Begitulah Boris Pasternak dalam novelnya Dr. Zhivago menyebutkan.
Kejeniusan tanganku harus mulai diasah kemampuannya guna mendapatkan ketentraman jiwa dan tergapainya peradaban bangsa yang cemerlang. Dalam bahasa lain, kalaulah tak segera dituangkan dalam sebuah tulisan, jiwa ini seakan terus-menerus mengidap penyakit "insomnia" di malam hari. Bahkan ketika masalah tak pernah dituangkan dalam sebuah teks, malam serasa siang dan siang pun serasa malam sehingga hidup selalu dilingkari kegundahan. Mungkin inilah yang disebut oleh Umberto Eco -- menulis adalah sebuah kewajiban moral.
Bacalah
Carut-Marutnya kondisi bangsa seakan tak terlepas dari sebuah permasalahan yang hadir sebagai akibat dari kebijakan kaum pemegang otoritas yang “salah sasaran”. Mulai dari kebijakan di dunia pendidikan, sosial, ekonomi, politik, bahkan sampai budaya pun tak jarang menuai imbasnya. Tak sampai disitu, peran diriku dan kawan-kawan sebagai “pengkritik” seakan meredup, bahkan nyaris padam laiknya cahaya lilin yang terhembusi angin malam.
Media massa sebagai wahana yang pas bagi aku dan kawan-kawan untuk “berunjuk gigi” pun seolah terlupakan sebagai akibat dari minimnya budaya baca-tulis. Tak heran bila fublic opinion (pandangan umum) yang seharusnya diketahui masyarakat sering tidak tersampaikan secara efektif. Bahkan, orientasi gerakanku dan kawan-kawan pada masa sekarang seolah hanya berwujud oralistik. Demontrasi, aksi, pembakaran ban, dan membuat macet jalan raya di perkotaan seolah menjelma laiknya rutinitas gerakan.
Dari gejala diatas, bukan berarti gerakanku dan kawan-kawan tidak diharuskan turun ke jalan. Namun, untuk melebarkan sayap, alangkah arifnya bila mulai menengok media massa yang cakupan pembacanya lebih luas, sehingga mampu membangun citra (image building). Dengan demikian, model gerakan tak sebatas berkoar-koar di depan gedung pemerintahan an sich, tapi melakukan pandangan tertulis yang hadir di media massa.
Tujuan tersebut tak mungkin menjadi kenyataan, bila saja dalam diri tidak tertanam budaya baca-tulis. Sebab itu, kehadiran media massa layak diapresiasi dengan membacanya sehingga mampu menjadi term of reference bagi gerakan kedepan. Tanpa adanya kultur membaca inilah, maka kultur menulis pun akan lekang di telan zaman. Sehingga elan vital gerakan untuk membela rakyat kecil pun hanya utopia belaka. Paulo Freire dalam bukunya Education of Oppresed (1985) berangapan bahwa untuk melakukan sebuah perubahan, maka rakyat harus digiring pada kesadaran.
Proses penyadaran ini, menurutku bakal lebih efektif ketika menggunakan media massa sebagai perangkat untuk menggapai kesadaran bersama (kolektive). Ketika aku buka lembaran ayat suci Al-Quran, kutemukan Firman Allah yang diturunkan pertama kali di Gua Hira, berbunyi, iqra bismi rabbika al-ladzi khalaq, khalaqal insana min 'alaq, (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan manusia dari sesuatu yang bergantung atau segumpal darah). Artinya, sudah sejak lama ajaran Islam menyuruh umatnya untuk selalu membaca, merenungi dan memikirkan kondisi sekitar sehingga memunculkan ide-ide yang bisa dijadikan solusi permasalahan (problem solving). Salah satunya adalah membaca tulisan.
Yang lebih unik lagi, ketika aku memahami kata "'alaq" sebagai sesuatu yang bergantung, serta merta kusamakan dengan ide yang posisinya bergantung juga pada pikiran seorang manusia. Mungkin dari sinilah tujuan manusia berkebudayaan, tiada lain untuk menuangkan ide-ide yang bergantung sebagai salah satu jalan meredakan kecemasan. Hampir sama ketika Nabi Muhammad Saw merasa cemas dan gelisah ketika menyaksikan perilaku bangsa Arab yang jahiliyah ("bodoh") dengan mengasingkan diri ke Gua Hira. Beliau memiliki ide yang bergantung dalam benaknya, tetapi masih tetap bergantung, sehingga Allah memerintahkannya untuk menuangkan ide tersebut, dengan kata-kata jimat, iqra (bacalah).
Ketajaman Pena
Namun, tanpa adanya kesemangatan dalam diri, mungkin tulisan tidak akan pernah lahir, hingga pada akhirnya, aktivitas membaca pun hanya sesuatu yang “absurd”. Dari tesis inilah, mungkin bisa juga aku katakan bahwa ketika menangkap ide dan mengurungnya dalam sebuah tulisan, itu semua merupakan upaya dari proses meredakan kecemasan. Sama seperti ketika sahabatku merasa terganggu jiwanya ketika tidak menuangkan segala masalah hidupnya dalam sebuah tulisan di buku diary.
Bahkan aku pun sempat berpikir bahwa para filsuf dan agamawan menciptakan teks-teks tertulis guna menghilangkan kecemasan yang diakibatkan seringnya berdialektika dengan kehidupan. Unikmya, ketika aku mulai mengajukan judul skripsi di jurusan, maka aku temukan istilah “data primer dan sekunder” yang dipergunakan untuk menunjang hipotesis yang kita ajukan dalam skripsi tersebut.
Lagi-lagi, aku mulai berpikir bahwa yang namanya “biografi kehidupan” ternyata bisa dijadikan sebagai data utama. Misalnya ketika aku harus meneliti pemikiran seorang tokoh, maka akupun harus mengetahui biograrfi kehidupannya. Seandainya tidak mengetahui dan menuliskannya, maka out line skripsi pun bakal ditolak mentah-mentah oleh pembimbing.
Nah, sekarang mulai lagi pikiranku mengawang-ngawang pada metode penelitian sejarah, yang menjadikan teks-teks tahun kebelakang sebagai data primer penunjang penelitian. Meskipun aku bukan seorang sejarawan atau mahasiswa jurusan sejarah, tapi aku masih yakin bahwa teks yang tersusun pada hari ini di media massa bakal menjadi data primer bagi anak-anak kita ketika mereka meneliti suatu peristiwa penting.
Waduh..ngelantur juga ya.
Tapi biar saja, yang jelas aku masih yakin bahwa kultur tulis-menulis mesti dipelihara agar generasi selanjutnya tidak terjebak pada hipotesis-hipotesis yang dangkal dari nilai keilmiahan. Bahkan sampai mengabaikan realitas sosial-historis. Karena menulis adalah kewajiban moral. ***