Adabul Ikhtilaf : Etika Berbeda Pendapat*
Oleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMIE
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (Al Ahzab : 21)
Difference is one of existential feature or characteristic oh creture, specially man kind. The characteritic wich substantially differ bitween the creature as an finite formed with God, The One and The Only.
Berbeda dan adanya perbedaan merupakan salah satu ciri eksistensial dari makhluk, secara spesifik manusia. Karakteristik yang secara substansial membedakan antara makhluk sebagai wujud yang berbilang dengan Allah Yang Maha Esa. Masyarakat manusia hidup dan menjalani kehidupannya berdasarkan azas perbedaan itu. Interaksi sosial antar sesama manusia, selain didasarkan pada sejumlah kesamaan, tetapi juga secara mendasar didasarkan pada sejumlah perbedaan.
Terdapat dua sikap individu dan masyarakat terhadap perbedaan-perbedaan itu, dan sikap ini cenderung bersifat ambivalent (ada secara bersamaan dan saling bertentangan). Satu sisi menerima kenyataan bahwa manusia itu berbeda-beda, tapi di sisi lain dalam waktu bersamaan, manusia cenderung merasa tidak nyaman dengan adanya perbedaan-perbedaan itu. Kadang lebih dari itu, manusia cenderung marasa terancam dengan adanya perbedaan-perbedaan itu. Dalam kehidupan manusia, perbedaan adalah fakta yang bersifat mutlak (faktisitas), sedang kesamaan dan kebersamaan adalah sebuah kemungkinan harus diupayakan dan cendeung bersifat utopis.
Dalam perspektif psikologi dan psiko-analisa, sikap agresi pada manusia merupakan suatu fakta instingtif yang mengalir yang tidak selalu merupakan hasil dari rangsangan luar. Manusia hanya mencari dan memilih kanal untuk mengekpresikan kecenderungan agresi tersebut. Dengan kata lain, agresi bukanlah suatu reaksi seorang individu manusia terhadap stimuli (rangsangan) dari luar, melainkan rangsangan dalam yang sudah “terpasang” yang mencari pelampiasan dan akan terekspresikan melalui kanal rangsangan yang kecil sekalipun. Kanal itu hanyalah sekedar pijakan dalam membangaun alasan untuk menjadikan ekpresi agresi itu menjadi syah secara sosial.
Hasrat untuk menaklukan merupakan hasrat yang ada secara inheren pada diri manusia. Hasrat yang semakin menemukan bentuk dan kekuatannya kita dan mendapatkan ruang serta pasilitas untuk mengekpresikan dan mengaktualisasikannya. Menaklukan, secara implisit memiliki makna menguasai, memiliki dan menghancurkan. Dan menaklukan (eksternal) juga, dalam perspektif filsafat eksistensialisme, memiliki makna egosentik. Diri sebagai pusat segala hal. Suatu sikap dan prinsip yang (dalam perspeksif eksistensislime tertentu) dianggap sebagai untuk yang akan melenyapkan eksistensi manusia karena pada saat itu manusia melepas dan menafikan relasi sebagai pondasi dasar bagi aktualisasi eksistensi manusia.
Bila kita mengingat kata-kata yang disampaikan para Malaikat pada saat penobatan Adam (manusia) sebagai pengeman amanat kekhilafahan, yaitu bahwa manusia sebagai agressor (senang menumpahkan darah), tampaknya ada benarnya. Kemudian, apakah kehadiran agama dimaksudkan sebagai entitas untuk menetralisir dan mengikis kecenderungan agresi tersebut, atau sebagai kanal dan justifikasi bagi aktualisasi karakter instingtif tersebut?
II
Geneologi Adabul Ikhtilaf dalam Islam
Kehadiran Islam ke muka bumi di tangan Rasulullah Muhammad saw. telah dengan sendirinya membawa sesuatu yang berbeda, dan karenanya kehadirannya menuai pertentangan dan perlawanan dari masyakatnya. Padahal, apa yang disampaikan oleh Rasulullah pada saat itu bukan merupakan ajaran yang benar-benar asing bagi masyarakat Quraisy, bahkan harus dikatakan sebagai ajaran yang berakar dari ajaran nenek moyang “pemilik” tempat suci di jazirah Arab, yaitu Nabi Ibrahim dan Ismail yang “mewariskan” tempat suci Ka’bah.
Terdapat berbagai jenis perlawanan yang dilakukan masyarakat, khususnya Quraisy. Diantaranya dalam bentuk bantahan dan penolakan karena ajaran yang dibawa Rasulullah itu akan membawa efek perubahnya struktur dan infra-struktur masyarakat; dan itu tentunya akan sangat “meresahkan” masyarakat. Dan untuk itu, Rasulullah saw. membuka dialog terbuka dengan menghadirkan para pemuka Quraisy. Dan secara umum dialog itu gagal. Kegagalan itu, pada dasarnya bukan terletak pada “ketidakpercayaan” mereka terhadap integritas kepribadian Rasulullah, karena Rasulullah sangat dikenal sebagai individu yang memiliki kejujuran yang jarang ditemukan bandingannya (al-amin). Akan tetapi lebih pada kekhawatiran akan perubahanperubahan pada struktur sosial serta masalah kedudukan dan peran-peran sosial. Struktur sosial-kultural yang merujuk pada sitem keyakinan yang telah sekian lama hidup, dan telah “mengalami perubahan”, lama setelah ditinggal nenek moyangnya, Ibrhim dan Ismail.
Ketika para pengikut Rasulullah mayoritas dari kelompok masyarakat kelas bawah, bahkan tidak sedikit dari kelas sosial ‘abid mulai banyak yang mengikuti Rasulullah, maka tekanan tersebut semakin meningkat pada tindak anarkis dan kekerasan dalam bentuk penyiksaan-penyiksaan. Ketika itulah ada upaya Rasulullah untuk menghijrahkan para sahabatnya dan memina perlindungan dari Raja Ethiophia. Semakin lama tekanan kepada Rasulullah dan para sahabatnya semakin kuat dan gencar. Dan, pada titik kulminasi muncul upaya pembunuhan bukan hanya terhadap para sahabat
Rasullah, bahkan terhadap Rasulullah sendiri. Bahkan lebih dari itu, diadakan semacam sayembara untuk melakukan pembunuhan terhadap Rasulullah dengan hadiah dan imbalan yang sangat menggiurkan. Pengejaran terhadap Rasulullah pada akhirnya secara syah dilegalkan. Hanya karena Kekuasaan dan Pertolongan Allah-lah, Rasulullah bisa selamat dari pengejaran dan upaya pembunuhan yang mereka lakukan.
Dan, pada akhirnya Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah dengan ditemani oleh Abu Bakar ra., sementara tempat tidur Rasulullah ditempatih Ali bin Abi Tahlib kw.
Dari sejak Rasulullah mulai menyebarkan dan mendakwahkan ajaran Islam hingga terjadinya hijrah ke Madinah, merupakan suatu drama dari tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh perbedaan, perbedaan agama dan keyakinan. Haruskah perbedaan-perbedaan itu berujung seperti yang Rasulullah dan para sabahat alami? Kebencian, penyiksaan, pengejaran dan pembunuhan serta perang terbuka antar sesama saudara dan familly? Dan bagaimana sikap dan perlakukan Rasulullah terhadap semua perlakuan mereka itu? Dalam konteks dan kondisi inilah, bukti dari kualitas kepribadian Rasulullah sebagai soko guru, tauladan, uswah-hasanah. Bahkan dalam konteks kekinian, kita harus akui bahwa sikap Rasulullah dalam menghadapi perbedaan dan tekanan dari orang lain yang memiliki perbedaan keyakinan itu sebagai suatu tauladan yang “utopis”. Kenapa utopis? Karena kita tampaknya tidak memiliki kesabaran yang memadai untuk menghadapi semua itu, serta tidak memiliki iman yang cukup kuat untuk meyakini bahwa terdapat hakhak Allah dalam menentukan keimanan dan masa depan manusia.
Bila ditakar dengan apa yang kita lakukan dalam menyikapi perbedaan-perbedaan itu, sangatlah jauh, seperti jarak antara lapisan tanah paling dasar dan bawah dengan lapisan langit paling tinggi dan atas. Mungkin kita akan mengatakan dan dengan sadar sering atau tidak, kita katakan “Ya wajar saja beliaukan seorang Rasul, manusia pilihan, sedangkan kita manusia biasa, bukan Rasul dan bukan pula manusia pilihan”.
Terdapat sejumlah gambaran ekstrim dari sikap Rasulullah yang perlu kita ingat dan renungkan. Suatu siang tidak kita temukan perbedaan pada Rasulullah, baik dalam keadaan lemah maupun dalam keadaan kuat. Ekstrim dalam pengertian bahwa sikap-sikap Rasulallah itu berada di luar takaran kemampuan manusia biasa untuk melakukannya. Yaitu sikap tauladan Rasul yang sering kita dengar dalam ceramah keagamaan serta khutbah-khutbah, atau yang kita baca, antara lain peristiwa Rasulullah saw. yang dilempar dengan kotoran unta. Dan, apa balasan Rasulullah terhadap orang yang berlaku hina pada Rasulullah ini? Rasulullah mendo’akannya supaya orang itu mendafat hidayah dan pertolongan Allah, dan ketika orang itu sakit, Rasulullah menjenguknya. sikap yang jarang sekali kita temukan dalam keseharian kita. Dan, satu lagi sikap yang apabila dilihat dalam konteks kesekarangan, benar-benar sangat sulit tuk dipahami, yaitu ketika peristiwa futuh Makkah. Selain memberikan amnesti masal pada orang-orang yang sebelumnya memusuhi, memerangi dan menganiaya Rasulullah dan sahabatnya. Dan, hal itu mungkin belum seberapa mengingat kelembutan dan sifat kasih sayang Rasulullah, akan tetapi mengingat bagaimana Rasulullah selain mema’aflcan Abu Sufyan juga meneguhkan kedudukannya di Makkah, dalam kedudukan sebelumnya ketika Makkah belum ditaklukan (futuh Makkah).
Sikap-sikap Rasulullah itu tentunya bukan merupakan gambaran dari sikap penakut Rasulullah untuk melakukan perlawan secara prontal. Akan tetapi keluar dari sikap-mental dan cara berpikir yang khas. Dan, hal ini terbukti dari banyaknya orang yang masuk Islam (menyatakan keimanannya) karena sikap Rasul itu.
Bila melihat sikap Rasulullah dalam menyikapi orang yang memiliki perbedaan (keyakinan, paham) maka kita akan melihat bahwa sikap Rasulullah itu bukan sekedar sebuah sikap “toleran”, tapi lebih dari itu: suatu sikap yang terlahir dari cinta antar sesama manusia, bahkan sebagai sesama makhluk Allah. Dan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah, bukan didasarkan pada sekedar keinginan untuk memiliki sejumlah pengikut, akan tetapi benar-benar lebih didasarkan pada keinginan untuk menyelamatkan manusia sebanyak-banyaknya. Menyelamatkan dalam arti yang sebenar-benarnya, sehingga tidak ada satu patah kata pun istilah “dendam” dan “sakit hati” dalam kamus dakwah dan kehiclupannya.
Dengan demikian, etika berbeda pendapat dan paham (adabul ikhtilaf) dalam kehidupan Rasul, tidak hanya didasarkan pada kepentingan-kepentingan dan fungsi sosial belaka, tapi didasarkan cinta yang merupakan realisasi dari Rahman-Rahim Allah. Manifestasi kongkrit dari paradigma amal-soleh yg selalu mengawali seluruh aktivitasnya dengan dijiwai oleh apa yg diucapkannya, yaitu: Bismillahirrahmanirrahimi.
Apabila, sikap, prilaku dan cara pandang Rasulullah ketika berhadapan dengan orang yang memiliki perbedaan keyakinan dan agama tersebut bisa kita sebut sebagai etika atau akhlak (prilaku yang dilakukan secara sadar) dalam berbeda pendapat atau paham (‘adabul ikhtilaf) yang dicontohkan Rasulullah untuk ditiru dan diteladani oleh ummatnya. Tidak jarang ditemukan keterangan, bahwa terdapat sejumlah kaum kafir yang masuk Islam dan menjadi sahabat Rasulullah hanya karena melihat kelembutan dari sikap Rasulullah. Dan dalam konteks ini, harus saya katakan bahwa, tidak sedikit orang yang nyinyir dan merasa tidak simpatik oleh sikap sebagian umat Islam yang berlaku “kasar” dalam menghadapi komunitas lain yang berbeda paham. Hal yang tidak jarang, sikap nyinyir itu diekspresikan dan diungkapkan oleh sesama umat Islam.
Sejarah assassination (mihnah), yang merupakan sikap dan aksi terhadap orangorang yang berbeda pendapat (paham) dalam beragama dalam Islam memang bukan sesuatu yang baru, baik secara terbuka maupun secara halus. Diantara yang paling dikenal adalah peristiwa mihnah yang dilakukan kaum Mu’tazilah terhadap kaum salaf yang bersebrangan dengan kaum Mu’tazilah. Hal yang kurang lebih sama, walau pun tidak seradikal yang terjadi dalam “dunia pemikiran Kalam”, juga terjadi dalam dunia pemikiran fiqh (hukum Islam). Tidak sedikit ulama fiqh yang mengalami pengasingan, dan meninggal dunia dalam kesepian dan penderitaan yang berkepanjangan. Dan pada umumnya itu terjadi dan diawali oleh perbedaan paham keagamaan. Dan dalam kancah politik Islam hal ini (perbedaan paham politik) bahkan sempat mengorbankan para cucu Rasulullah.
Dengan demikian, menjadi “wajar” apabila contoh dari etika berbeda pendapat (adabul ikhtilaf) yang dicontohkan Rasulullah itu kini hanya menjadi ajaran yang bersifat “utopis”, dan karenanya dakwah Islam tidak jarang diwarnai oleh kekerasan dan umpatan. Sikap pema’af yang dicontohkan Rasulullah berubah menjadi sikap anarkis, dan do’a yang juga dicontohkan Rasulullah berubah menjadi hujatan. Karenanya, sejarah perjalanan umat Islam pasca Rasulullah kaya dengan bekas ceceran darah dan kutukan. Kini kita menjadi terbiasa dengan itu. Sikap yang mana sesungguhnya yang Islam (Allah dan Rasul-Nya) ajarkan pada kita?
Apabila Rasul memandang orang kafir dengan tatapan penuh kasih sayang dan penuh perma’afan, sedangkan kita memandang orang kafir dengan tatapan penuh kebencian dan hasrat untuk melenyapkannya dari muka bumi. Saya tidak yakin, apakan ilustrasi saya ini terlalu bernuansa generalisasi dan dibesar-besarkan, atau sebagai fakta yang benar-benar terjadi. Saya berdo’a dan berharap, bahwa apa yang ada dalam pikiran saya ini mutlak salahnya.
* disampaikan pada “Penataran dan Lokakarya Pencegahan dan Penanggulangan Pemurtadan dan Penyimpangan Pemahaman Agama (Islam); Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat, di Wisma Taruna JI. Lengkong Besar No. 64B Bandung.
Senin, 12 Januari 2009
| [+/-] |
Etika |
| [+/-] |
Komitmen |
Komitmen Ketulusan
oleh BAMBANG Q ANEES
Di tengah polemik tentang pencabutan mandat dan persoalan Poso yang seperti tak ada habis-habisnya, ada baiknya kita berefleksi mengenai reformasi. Reformasi adalah komitmen bersama untuk bertransformasi dari kehidupan lama yang represif menuju tatanan masyarakat terbuka.
Reformasi politik telah berjalan sedemikian rupa, namun sayangnya — setiap saat– sepertinya kita mengalami sesuatu yang selalu salah jadi dan salah guna.Mungkin ada yang kurang dari komitmen reformasi kita, reformasi politik saja memang tak akan mampu mewujudkan harapan. Ada reformasi lain yang harus segera diwujudkan, Jakob Utama (2000) menyebutnya “reformasi ketulusan”.
Soal reformasi memang bukan melulu soal politik, yang lebih utama adalah soal mental. Setelah sekian lama terkungkung otokrasi orde baru, kita terhanyut dalam kebiasaan penuh rekayasa, tertutup, penuh curiga, dan susah untuk percaya pada pihak yang berbeda. Kita juga “terdidik” untuk tidak menyatakan apa yang sebenarnya demi keselamatan atau keuntungan pribadi. Akhirnya seluruh jerih payah reformasi politik atau hukum menjadi aturan main dengan mental pemain yang masih sama dengan sebelumnya: pemain yang melupakan ketulusan.
Maka, meminjam pertanyan Jakob Utama, “Dapatkah kita katakan atau sekurang-kurangnya kita jadikan komitmen bahwa kita juga sedang bertransformasi dari masyarakat yang tidak tulus ke masyarakat yang tulus; dari masyarakat serba tertutup dan serba curiga ke masyarakat terbuka yang disertai sikap dan kebajikan saling percaya?”
Ikhtiar dalam Ketulusan
Saat ini, kita sungguh-sungguh membutuhkan ketulusan. Ada satu kisah menarik yang dikutip Gay Hendricks (2002) pada buku The Corporate Mystic. Ada dua orang pengangkut batu yang menampilkan raut muka berbeda. Yang pertama mengangkut batu dengan wajah penuh kekesalan, dari mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah; sedang yang kedua justru sebaliknya. Pengangkut batu kedua justru menampilkan wajah riang, mata berbinar-binar, dan sambil bersenandung.
Terhadap keduanya, seseorang bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan?” Orang pertama menjawab, “Lihat saja sendiri, di hari yang panas begini saya harus mengangkut batu-batu sialan ini!” Sedang orang kedua menyatakan, “Di sana akan dibangun rumah ibadah, kelak kami akan memiliki rumah yang hangat untuk berdekatan dengan Tuhan”.
Dalam situasi reformasi ini, semua warga negara seperti pengangkut batu itu. Semuanya melakukan kerja yang melelahkan, memperbaiki tatanan kehidupan yang memang sudah porak poranda dan menyelesaikan masalah-masalah yang seperti tak pernah habis. Dalam rasa lelah keluhan pasti muncul, juga rasa putus asa. Namun pengangkut batu kedua mengajari kita bagaimana menanggung beban hidup menjadi kebahagiaan.
Ketulusan membuat seseorang menjadi lebih jujur, menerima tugas sebagai amanah, bebas dari kepura-puraan, dan bahagia. Melalui ketulusan, rasa lelah tak membuat seseorang merasa lebih berjasa –seraya mengajukan bayaran yang lebih tinggi. Dalam ketulusan, seluruh penderitaan dapat tertahankan. Ketulusan tak pernah bisa melahirkan “kambing hitam” dari suatu persoalan.
Agama dan Ketulusan
Ajaran utama semua agama adalah membimbing pemeluknya untuk menjalani kehidupan secara tulus. Al-Quran (QS Shad, 46), misalnya, menyatakan bahwa para nabi dan rasul adalah mereka yang tulus-ikhlas, bebas dari pelbagai penyakit busuk hati, tidak berpura-pura, dan bebas dari segala penyakit yang dapat meruntuhkan hakikat kemanusiaan.
Tarif Khalidi (2003), dalam The Muslim Jesus, mengutip kisah menarik dari Kitab al-Bayan karya Abu Utsman al-Jahiz (ulama muslim abad ke-9). Konon, suatu hari Yesus berpapasan dengan Bani Israil yang menghinanya. Setiap kali mereka mengucapkan kata-kata kotor, Yesus menjawabnya dengan kata-kata yang baik. Simon yang suci mengajukan protes, “Akankah engkau menjawab mereka dengan baik ketika mereka terus-menerus mengucapkan kata-kata kotor?” Yesus menjawab dengan tenang, “Setiap orang mengucapkan apa yang dimilikinya”.
Lihat, betapa damainya ikhtiar ketulusan!
Kamis, 01 Januari 2009
| [+/-] |
2009 |
Refleksi Tahun Baru
Oleh SUKRON ABDILAH
BEBERAPA hari ke belakang kita telah merayakan tahun baru umat Islam, 1430 Hijriyah. Tinggal beberapa hari juga tahun baru 2009 Masehi tiba. Bagi umat Islam, hari ini adalah awal tahun yang harus diisi dengan aksi nyata membebaskan umat dari keterpurukan. Dan, bagi bangsa Indonesia yang majemuk, akhir tahun ini (2008) adalah ruang dan waktu yang tepat untuk merenungi segala tindak-tanduk yang dilakukan pada tahun lalu.
Berdekatannya perayaan dua tahun baru (Hijriyah dan Masehi) ini, diharapkan ada secercah harapan transfomatif bagi kelangsungan NKRI. Tahun baru hijriyah harus diawali dengan hijrah-nya bangsa ini dari kondisi kurang baik menjadi baik. Kemudian, tahun baru masehi adalah awal kita menengok tingkah laku di tahun yang lalu dan menatap optimis apa yang hendak dilakukan pada tahun yang akan datang.
Dalam mitos Yunani kuno, awal tahun baru masehi diberi nama Januari, karena diambil dari nama Janus, salah satu dewa yang memiliki dua wajah. Kenapa Januari memiliki dua wajah? Sebab, di satu sisi bulan ini berdekatan dengan tahun 2008 dan juga awal memasuki tahun 2009. Biasanya, ada peralihan budaya di awal tahun (Januari). Kita bakal merasa susah menanggalkan kebiasaan di tahun 2008, tapi cahaya optimisme meruak setiap kali memandang kalender yang berganti dengan angka 2009.
Seperti seorang siswa sekolah yang baru naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi. Pertama kali seseorang memasuki kelas baru dan meninggalkan kelas lama, ada semacam kebiasaan di kelas lama yang tanpa sadar dibawanya ke kelas baru. Tahun baru juga begitu rasanya. Kita memasuki tahun baru, tapi ada kebiasaan tahun lalu yang sulit diubah, direkonstruksi, dan bahkan diganti dengan kebiasaan yang lebih baik. Dan, tugas kita adalah menyelami secara reflektis dan kritis apakah ada tingkah laku yang semestinya diubah, diganti, bahkan harus dibuang dan ditinggalkan.
Kecanggungan budaya, biasanya akan menyertai pergantian tahun baru masehi nanti. Gegap gempita perayaan tahun masehi tidak menggambarkan kondisi jiwa bangsa seluruhnya. Di tengah kegembiraan, belum tentu setiap orang merasakan kegembiraan tak terkira. Riuh-rendahnya suara terompet dan taburan kembang api pada pukul 00.00 juga tidak mewakili kegembiraan bangsa.
Bukan hal mustahil kalau di tengah perayaan yang gerlap gemerlap itu ada sejumlah warga yang terganggu, tak bisa makan, dan tidur beralaskan tembikar di trotoar jalan raya, yang pasti dipadati pengendara bermotor. Malam tahun baru harusnya diisi dengan refleksi, tafakkur, dan renungan kasih terhadap kondisi bangsa yang sedemikian lelah dengan soal sosial-politik, ekonomi, budaya, dan tetek bengek soal yang membuat pusing tujuh berkeliling-keliling.
Jengah hati ini dengan praktik korupsi. Gelisah jiwa ini dengan bertebarannya kemiskinan dan kesenjangan. Golput adalah filsafat politik protes dari sebagian bangsa yang mulai tak percaya kepada partai politik. Ini bukan soal cerdas ataukah tidak bangsa Indonesia. Tapi, soal kejujuran dan keteguhan memperjuangkan aspirasi rakyat yang mulai memudar dari wakil rakyat bagai air laut yang mulai tak terasa asin. Tenggelamlah rakyat Indonesia di tengah pusaran samudera ketakberesan persoalan yang melilit, seolah menjadi bumbu kebernegaraan kita.
Filsafat kura-kura adalah tanda keawasan dan kewaspadaan yang mesti ditiru di tahun baru. Kebijaksanaan hidup lewat tempurung yang selalu dijadikan tempat berlindung. Merefleksikan diri. Sambil mengawasi segala marabahaya yang setiap saat pasti mengancamnya dari luar menjadikan hewan bijaksana ini memiliki usia panjang. Kesejahteraan Indonesia akan panjang, jika saja para pejabat awas dan waspada terhadap bahaya yang mengancam stabilitas nasional.
Kekuatan kolektif semut dalam membangun sarangnya. Kerendahhatian sebatang pohon bambu dan setangkai padi, adalah filsafat hidup yang bisa diperoleh dari kebijaksanaan kita atas hidup ini. Kedermawanan kerang berbalut mutiara juga adalah ajaran setiap agama. Kesabaran menggelindingkan batu besar dari Sisifus, adalah soal ketekunan yang harus mulai dipegang bangsa ini. Mudah-mudahan di tahun baru, kita mampu berkaca pada tahun lalu, untuk kemudian berjalan awas di tahun yang baru. Itulah semangat yang harus mulai ditanamkan dalam jiwa ketika membangun Indonesia tercinta.
Selamat tahun baru 1430 H dan tahun baru 2009. Semoga kita bahagia selalu menjalani tiap detik, menit, jam, dan hari di tahun yang akan datang. Sebab, tahun adalah sekumpulan ruang dan waktu yang didalamnya, kita harus mulai mencelubkan diri memberikan arti bagi kehidupan. Berpikir kontemplatif yang tersistematisasi adalah inti dari semangat mengurai benang kusut kehidupan, yang jadi pusat kesadaran bahwa berbuat baik dalam hidup adalah keniscayaan.
Senin, 29 Desember 2008
| [+/-] |
Menulis Yuk..!! |
Jurnal SUAKA mengundang anda untuk menulis
“ISLAM DAN SEKULARISME”
Kata Kunci:
Politik, Demokrasi, Kontroversi, Indonesia, Agama, Tuhan, Pancasila, Hukum, Gerakan.
Kriteria dan Prosedur Penulisan
* Penulis adalah mahasiswa S1 seluruh perguruan tinggi di Indonesia, ditunjuk oleh SUAKA dan/atau mengajukan diri (khususnya UIN SGD BANDUNG)
* Tulisan merupakan karya sendiri bukan hasil terjemahan atau saduran serta belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun
* Tulisan mengungkapkan sebuah gagasan dan/atau persoalan, bisa berupa survey, hasil penelitian, atau studi pustaka.
* Term of Reference (TOR) dapat dapat diperoleh dengan mengakses situs SUAKA suakaonline.wordpress.com atau meminta langsung ke kantor redaksi
* Gaya bahasa penyajian dipentingkan. Gunakan bahasa Indonesia yang benar dan enak dibaca
* Tulisan disajikan secara ilmiah populer. Untuk sumber acuan digunakan catatan akhir (endnote) lengkap dengan nama penulis, buku yang diacu, tempat penerbit, penerbit, tahun terbit, dan halaman kutip (SUAKA sangat menghargai kejujuran intelektual)
* Dalam penulisan endnote dapat diberi keterangan tambahan secukupnya, baik sumber yang dirujuk maupun yang berkaitan
* Penggunaan data untuk memperjelas tulisan sangat diharapkan
* Redaksi berhak menyunting tulisan dan memperbaikinya tanpa mengubah maksud tulisan
* Panjang tulisan 10 halaman kertas A4 dengan spasi ganda, huruf Times New Roman 12, margin 4-4-3-3. Tulisan dikirim dalam bentuk print-out dan harus menyertakan softfile
* Penulis mencantumkan daftar riwayat hidup (CV lengkap) termasuk didalamnya riwayat pendidikan, pengalaman organisasi, penelitian/publikasi yang pernah dilakukan, dan melampirkan fotocopy KTM dan foto close up posisi bebas
* Selambat-lambatnya naskah harus sudah diterima redaksi pada 10 Januari 2009
* Bagi naskah yang lolos seleksi, SUAKA akan memberikan imbalan sepantasnya
* Redaksi SUAKA dapat dihubungi di kantor SUAKA, Gedung Student Center lantai 1 Blok B3. Jl A.H Nasution no 105 UIN SUNAN GUNUNG DJARI BANDUNG atau via-email; suakanews@gmail.com Kontak : Miftahul Khoer (miko) 0856 2008 705; Iyan 0857 2045 8674
| [+/-] |
1430 H |
Pergantian Tahun
Oleh AHMAD SAHIDIN
TAHUN Baru ditandai berakhirnya penanggalan. Ia berganti jadi yang baru. Sebuah masa yang belum dialami sebelumnya dan insya Allah disongsong. Setiap tanggal 1 Januari masyarakat dunia merayakan Tahun Baru Masehi. Tak jarang sebagian umat Islam pun ikut.
Hal ini dkarenakan ketidaktahuan bahwa Islam pun mempunyai sistem penanggalan tersendiri. Hijriyah nama kalender Islam, yang diambil dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Rasulullah saw beserta umat Islam dari Makkah ke Madinah.
Sebagian ahli sejarah berpendapat, penanggalan dalam Islam dimulai sejak masa Umar bin Khattab menjadi khalifah. Tepatnya pada 638 M, yaitu 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, ia menetapkan kalender Hijriah yang berdasarkan sistem lunar sebagai basis penanggalan Islam. Lahirnya penanggalan ini dilatarbelakangi adanya seorang utusan khalifah yang berkunjung ke Yaman. Ia mengkabarkan pada khalifah bahwa orang Yaman menuliskan tanggal dalam surat-suratnya. Maka sejak itu Umar bin Khattab memerintahkan pembuatan penanggalan. Riwayat yang lain mengatakan, seorang penguasa protes terhadap surat yang dikirim khalifah karena tidak jelas mana surat yang ditulis duluan mana yang belakangan—maklum tidak ada tanggalnya.
Harus diakui fungsi adanya kalender hijriyah ini. Selain untuk mengetahui kapan bulan puasa Ramadhan, melaksanakan haji atau kelahiran Nabi Muhammad saw, juga untuk mengenal peristiwa-peristiwa bersejarah Islam lainnya.
Meski tak ada penjelasan sejarah, namun pemilihan 1 Muharram sebagai awal tahun Hijriyah didasarkan atas keutamaan atau peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan tersebut. Banyak kisah yang menceritakan bahwa di bulan Muharram, Allah menyelamatkan para Nabi dari marabahaya dan Allah melarang pertumpahan darah. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran surat At-Taubah ayat 36, bahwa sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah sebagaimana disebut di Kitabullah ada 12 bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan terdapat empat bulan di dalamnya merupakan bulan yang diharamkan, salah satunya bulan Muharram.
Bila dilihat dari bahasa, kata muharram berasal dari kata harrama—yang mengalami perubahan bentuk menjadi—yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun. Arti muharraman sendiri adalah yang diharamkan. Apa yang diharamkan? Jelas pertumpahan darah dan perang atau yang dapat menghilangkan jiwa manusia. Intinya, Muharram sebagai awal Tahun Baru Islam merupakan bulan untuk mensucikan diri melalui berbagai ibadah, baik ritual maupun sosial.
Tahun baru Islam tak hanya perpindahan tahun dan mengingat perjalanan panjang hijrah Rasulullah saw beserta umatnya ke Madinah, tapi juga sebuah momentum perubahan diri. Alangkah ruginya apabila Tahun Baru ini tidak menjadi momentum perubahan. Bukankah Rasulullah saw mengingatkan, barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Inilah orang yang bahagia, yang tidak terlindas badai-badai zaman. Dengan bergantinya tahun, mari kita berbuat dan melakukan perubahan agar hidup bahagia dan lebih baik. Setidaknya berubah dari, yang asalnya tak sering berjamaah menjadi shalat berjamaah. Asalnya sering shalat di rumah beralih shalat berjamaah di masjid. Tadinya sering membentak anak, tahun baru ini mulai mengurangi bentaknya, bahkan kalau bisa langsung mengubahnya menjadi sosok yang arif dan bijaksana. Perubahan-perubahan akhlak dan mentalitaslah yang perlu diwujudkan di tahun baru ini. Jika hanya perubahan fisik dan aksesoris hidup, tahun baru hanya akan sekadar pergantian kalender saja tanpa ada makna atau dampak positif yang membuat hidup makin baik. Saya kira hal ini yang perlu kita renungkan di tahun baru 1430 Hijriah dan 2009 Masehi ini. Selamat merenung!
24-12-2008
| [+/-] |
Titik |
Titik Temu Agama-agama
Oleh MUHAMMAD YUSUF WIBISONO
Keberadaan agama-agama di dunia seringkali menjadi topik pembahasan yang tak henti-hentinya dari masa ke masa. Terutama yang menyangkut agama-agama besar seperti Yahudi, Kristen dan Islam, yang menurut sejarah Islam adalah dari satu keturunan yang sama yaitu dari Nabi Ibrahim, atau dikenal dengan ”Bapak para Nabi” (abul-anbiya’).
Ibrahim juga dijuluki “Bapak Orang Beriman” dalam tiga tradisi agama Yahudi, Kristen dan Islam, meskipun pada gilirannya konsep keimanan di antara tiga agama tersebut menjadi pemicu perbedaan yang berarti sampai saat ini.
Seperti yang disebutkan Al-Quran bahwa setiap kelompok manusia selalu didampingi oleh para rasul, meskipun hanya sebagian kecil saja yang dituturkan oleh Al-Quran dan Nabi Muhammad. Bahkan dalam satu riwayat tertentu, Nabi Muhammad menyatakan jumlah rasul itu ada tiga ratus lima belas orang. Tetapi yang banyak dikenal oleh umat Islam pada umumnya sebanyak dua lima rasul, mulai dari Nabi Adam (bapak umat manusia) sampai Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul (khatam al-anbiya wa al-mursalin). Nurcholis Madjid (1994) menuturkan, bahwa Al-Quran pun mengisahkan sebagian para rasul itu adalah pelanjut dari ajaran Taurat dan Injil (“Perjanjian Lama” dan “Perjanjian Baru”), dan semua berasal hanya dari kalangan bangsa-bangsa Semit di Timur Tengah.
Menurut keimanan Islam, bahwa sebagian besar para rasul itu merupakan keturunan Nabi Ya’qub yang digelari Israil (hamba Allah) yang kemudian mereka lebih dikenal dengan sebutan Bani Israil (keturunan Israil). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Al-Quran dengan sebutan al-asbath (lihat QS.Al-Baqarah: 136 dan 140) yang terbagi ke dalam dua belas suku (QS.Al-A’raf:160), yang mengikuti jumlah anak Nabi Ya’qub yang berjumlah dua belas orang. Dalam sejarah Islam mengisahkan bahwa suku-suku Israil itulah yang selama ratusan tahun dijadikan budak dan selalu ditindas oleh Fir’aun sang penguasa Mesir, yang dikemudian hari dibebaskan oleh Nabi Musa dan sekaligus menjadi umatnya.
Masih menurut kisah Al-Quran, bahwa Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishaq dan Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim dari istri pertamanya, Sarah. Sedangkan dari istri kedua, Siti Hajar, Nabi Ibrahim mempunyai putra bernama Nabi Ismail yang kelak menurunkan Nabi Muhammad SAW. Jadi secara geneologi bahwa para rasul itu adalah masih satu keturunan yaitu Ibrahim. Untuk itu, secara primodial paham-paham keimanan ketiga agama itu (Yahudi, Kristen dan Islam) adalah bertolak dari “Millah Ibrahim” (Agama/ajaran Ibrahim). Artinya, ketiga agama itu, idealnya mempunyai konsep keimanan yang sama, meski pada tataran tradisi ritual (syari’ah) beraneka ragam sesuai dengan perbedaan ruang dan waktu.
Oleh karena itu, membicarakan ketiga agama, Yahudi, Kristen dan Islam dalam rangka mencari titik temu merupakan agenda utama yang perlu dikedepankan. Hal itu terkait dengan semakin meruncingnya perbedaan cara pandang teologis yang unjungnya merangsek pada konflik fisik berabad-abad lamanya. Untuk hal tertentu, peristiwa konflik bernuansa agama diperingati sebagai “tragedi kemanusiaan” yang sulit dicarikan penyelesainnya. Padahal, semua ajaran agama-agama besar itu menyerukan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi dengan menjunjung tinggi semangat menebar kasih sayang di antara sesama manusia.
Secara sosiologis, pertemuan agama Yahudi, Kristen dan Islam sudah berlangsung sangat lama. Berbagai dialog sudah dan sedang dilakukan oleh mereka dalam rangka mencari persamaan dan perbedaannya, baik dari aspek tradisi ritualnya sampai pada tataran teologisnya. Dialog dalam konteks teologis pada dasarnya bukan hanya mencari perbedaan semata, tetapi hal itu akan menjadi basis etika hubungan kemanusiaan. Dalam arti, agama-agama apa saja dalam melangsungkan dialog tidak menjadi “tabu” ketika sekaligus mencari persamaan dan perbedaannya dalam tataran teologisnya, yang pada gilirannya menjadikan spirit “agree and dis-agreement” (kesafahaman dalam perbedaan). Hal ini juga sesuai dengan pernyataan filosof modern Hans Kung yang dikutip Nurcholis Madjid, “No peace among the nations without peace the religions; No peace among religions without dialog between the religions; No dialogue between religions without investigating the foundation of the religions”.