Nabi Kambing
Oleh BAMBANG Q ANEES
Sunan Gunung Djati–Ini dongeng buat kita dari Muhammad Iqbal, tak hanya didengar namun juga dapat dijadikan sebagai cermin.
Alkisah dahulu kala, sekawanan kambing hidup bebas di padang rumput yang luas. Mereka hidup aman sentosa, dan dapat berkembang biak dengan leluasa. Tenaga kambing-kambing ini pun begitu kuatnya sampai-sampai sanggup menghalau semua ancaman dari binatang pemangsa.
Waktu berlalu, situasi pun berubah. Bencana mendatangi kawanan kambing itu, dari hutan belantara muncullah kumpulan harimau yang memburu mereka. Memangsa mereka semua. Merebut serta menjajah, harimau-harimau itu merebut kemerdekaan kawanan kambing. Padang rmput hijau itu lalu banjir oleh darah kambing. Sebagian besar kambing-kambing itu mati, kecuali seekor kambing tua yang licik, penuh tipu daya.
Kambing tua itu marah atas kebiadaban sang harimau, ia bertekad mengembalikan kejayaan masa lalunya. Kambing tua itu berpikir, kekuatan yang ia miliki tak mungkin dapat melawan keperkasaan harimau. Kambing tetaplah kambing, tak mungkin sekuat harimau. Kalau ia bermimpi merubah dirinya menjadi kambing seperti ksatria baja hitam itu semua hanya isapan jempol, hanya ada dalam dongeng anak-anak. Maka, kambing tua itu menyusun rencana, “Saya harus merubah harimau itu berhati kambing!” Rencana ini sebenarnya agak mustahil, namun lebih mungkin daripada menumbuhkan cakar pada kaki kambing atau menanam taring pada mulut kambing.
Lalu kambing itu mendatangi kawanan harimau dan mengaku dirinya sebagai Nabi. Ia mendapat ilham atau wahyu dari Tuhan untuk kawanan harimau. Nabi Kambing itu berkata pada kawanan harimau.
“Wahai kawanan harimau yang bengis, yang selalu membuat bencana dan menumpahkan darah di seantero padang rumput. Aku memperoleh kekuatan ruhani pada malam tadi. Ya…sejak malam tadi aku adalah Nabi, utusan Tuhan untuk kalian. Aku datang bagai pelita buat mata buta kalian. Aku membawa kabar gembira, bertobatlah kalian semua.
Wahai kaum pendosa, kembalilah ke jalan yang penuh cahaya
Kita semua, tanpa kecuali, pasti mengalami bencana
Keteguhan hidup duniawi tergantung bagaimana kita menahan diri
Ruh orang shaleh gemar akan makanan yang sederhana saja
Makan sayur mayor membuka jalan menuju cahaya Tuhan
Gigi yang tajam mengundang bencana.
Bila kalian tetap pada kebiasaan lama, akan butalah mata kalian…” Nabi Kambing itu berhenti sejenak. Ia menghela nafas sambil mencuri pandang pada kawanan harimau. Ia mengecek apakah khutbahnya berpengaruh atau tidak. Setelah memastikan bahwa kawanan harimau terpengaruh oleh khutbahnya, ia berkata lagi:
Surga diberikan kepada mereka yang lemah lembut
Kekuatan tenaga dan kekasaran sikap akan menciptakan bencana dan neraka
Bertobatlah kalian yang masih mengejar-ngejar kenikmatan duniawi.
Ketahuilah, kemiskinan lebih manis dari segala harta benda.
Wahai kalian yang menikmati penyembelihan kambing.
Coba kau bunuh dirimu sendiri, niscaya kalian akan mendapatkan prestasi mulia.
Belajarlah pada rumput, kaumku semua. Rumput, lihatlah rumput. Walaupun ia selalu terinjak, rumput tak pernah punah. Ia terus tumbuh dan tumbuh lagi. Itulah kekuatan sejati, tak pernah punah karena ditindas. Rahasia rumput adalah kelembutan, kemiskinan, dan ketakberdayaan. Dalam ketakberdayaan, dalam sikap menerima kemiskinan ditemukan kekuatan.
Jika kalian bijaksana, ayo lupakan dirimu. Lupakan kebiasaanmu memburu dan merasa puas dengan hasil buruanmu. Tahanlah dirimu kembali pada kebiasaan liar. Lupakan dirimu. Kalau kalian tak sanggup menahan diri, melupakan dirimu, berarti kalian mengidap kegilaan. Saya yakin, tak ada satupun yang mau menjadi gila. Maka palingkan perhatianmu dari kesuksesan duniawi, agar jiwamu dan cintamu melangit tinggi.
Ketahuilah dunia ini tidak abadi, sementara saja. Jangan terjebak untuk mencari-cari kesenangan di dunia ini, karena semuanya akan hancur dan saat itu kalian akan kecewa. Dunia ini seperti gelembung sabun, bundar dan terbang ke sana ke mari juga menarik perhatianmu. Kejarlah gelembung sabun itu seperti kebiasaanmu, kejarlah gelembung sabun itu agar kamu kecewa. Karena begitu kamu menadapatkannya, gelembung sabun itu akan pecah dan hanya sisa basah belaka.
Kawanan harimau yang sudah kelelahan melakukan pemburuan setiap hari, seperti mendapat pembenaran. “Iya juga ya, ngapain juga capek-capek berburu. Mendingan duduk santai dan menikmati cinta…apalagi kata Sang Nabi kita ini memberi garansi, dengan kelemahlembutan kita akan mendapatkan surga…surga…bo!”
Lalu kawanan harimau itu mengikuti ajaran agama yang dibawa kambing. Harimau-harimau itu kini gemar berpuasa dan berpantang makan daging. Mereka menahan kemarahan mereka dan mengembangkan sikap welas asih. Tumbuh-tumbuhan yang mereka jadikan makanan lambat laun menumpulkan gigi mereka. Berangsur-angsur pupus sudah kegarangan hariamu-harimau ini. Badan mereka lemah, langkah mereka pun lelah tak bertenaga. Tak ada geraman, tak ada ancaman. Mereka menjadi kawanan binatang yang miskin, waswas, dan rendah amal kebajikan.
***
Nah, bercermin pada dongeng ini, kita bisa memilih: menjadi kambing atau harimau. Bila kita merasa sebagai kambing yang tertindas, Iqbal memberi kita nasehat:
Hai manusia yang lemah
Lindungi dirimu
Biar terjerat penderitaan
Asalkan lolos dari bencana kebiadaban
Badai pasti berlalu
Tapi apabila diperdaya dengan kesumat
Kekacauan besar yang terpikirkan
So, kata Iqbal, kalaupun kita dalam keadaan lemah kita tak boleh menyerah. Kita harus mencoba menyelesaikannya. Caranya berpikirlah seperti kambing tua yang menyamar jadi Nabi Kambing. Jangan pula mendendam terlalu dalam, dendam akan membuat kita jadi terjebak pada pikiran yang kacau. Bertahanlah, selesaikan masalah satu persatu, kuasai pikiran musuhmu sampai mereka lemah.
Kalau saya sih membayangkan diri sebagai harimau yang tertipu itu. Harimau yang semula ganas, namun karena terpedaya tipuan Nabi Kambing lalu menjadi bangsa yang penurut dan terlalu lemah lembut. Saya adalah harimau-harimau itu, pada badan ini masih ada cakar dan taring yang siap untuk mencabik-cabik setiap kambing. Namun cakar dan taring ini sudah lama tak digunakan, saya sudah lupa pada bagaimana meloncat dan menyergap. Saya telah menjadi harimau yang kambing, harimau banci.
Sebagai harimau banci saya akan membangkitkan seluruh keberanian yang dulu pernah ada. Saya akan kembali menjadi harimau dan kembali memburu, kembali menjadi raja hutan. Karena itu saya akan menyusun langkah-langkah menuju penemuan diri saya yang sejati, sebagai harimau, sebagai penentu kehidupan, bukan sebagai pengekor yang selalu waswas.
Kamis, 26 Februari 2009
| [+/-] |
Nabi |
| [+/-] |
Prahara |
Prahara di Negeri Serba Bisa
Oleh MUHAMMAD ALFAN
Sunan Gunung Djati–Apa yang salah dengan negeri ini?. Negeri kaya yang penuh arti, namun tiada makna. Semua hal dapat dilakukan di negeri ini. Membuat pesawat sampai bedil, bisa. Menghukum mati terpidana narkoba sampai membebaskan koruptor, juga bisa. Dari pejabat sampai pedagang korupsi, bisa juga. Bahkan “tongkat” dan “batu” pun bisa menjadi tanaman (Koes Plus). Memang di negeri ini semua “bisa diatur” dan “bersama kita bisa!”.
Karena semua serba bisa maka, aturan, tata nilai, agama dan moralitas, bisa dimanipulasi. Tidak berperan sebagaimana mestinya. Berbagai persoalan kehidupan dan tata aturan bisa difasirkan berdasarkan kebutuhan. Sehingga berakibat pada maraknya kerusuhan, perampokan, pembunuhan, bahkan korupsi. Semua bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun. Akhirnya zaman ini benar-benar bisa menjadi zaman edan, melu edan ora tahan, yen ten melu anglakoni edan ora kaduman (ikut edan tidak sampai hati, tidak ikut edan tidak kebagian).
Manusia Absurd
Ketika semua sendi kehidupan diperlakukan sama dan serba bisa, maka semuanya menjadi permisif. Tidak ada beda antara dosa dan pahala, antara moralitas dan kejahatan, bahkan agama dibiarkan berlalu. Koruptor tersenyum menghadapi vonis pengadilan, sedangkan di seberang sana, anak-anak menangis kelaparan. Padahal korban dari keserakahan para pejabat yang korup sungguh luar biasa, tidak hanya kemiskinan dan kebodohan yang dirasakan. Lebih dari itu adalah penderitaan batin, keputusasaan dan ketidakberdayaan. Tindakan menyimpang yang dilakukan pejabat korup, merupakan bentuk penghianatan terhadap hati nurani. Yaitu suatu tindakan yang tidak didasarkan pada moralitas.
Sedangkan moralitas adalah kesesuaian sikap dan perbuatan manusia dengan norma atau hukum batiniah, tujuannya kebahagiaan sempurna (Lili Tjahjadi, 1991). Oleh sebab itu, jika semua tindakan yang dilakukan manusia tidak mempedulikan tata nilai, maka hal itu merupakan wujud moral manusia absurd. Yaitu segala bentuk tindakannya bertolak belakang dengan persetujuan penuh rasa pasrah terhadap hal yang tak dapat diuraikan maknanya (Albert Camus, 1999).
Jika demikian, kebenaran, agama dan moralitas menjadi absurd, relatif dan mudah dibalak-balikkan sesuai dengan nafsu manusia. Politisasi terhadap agama, moralitas dan pendidikan dibenarkan. Sedangkan politik dan moralitas sulit untuk disatukan, keduanya merupakan bagian terpisah yang berdiri pada dua kutub yang berseberangan.
Keterbelahan itu membelenggu pejabat negara yang tidak dapat memposisikan antara kekuasaan dan moralitas, kebaikan dan keburukan. Apakah ia mampu bertahan dalam kebenaran dan kebaikan, ataukah ia akan terendam dalam kubangan kekuasaan dan kepentingan?. Jawabannya bisa “ya” bisa juga “tidak”, yang pasti selalu bisa.
Prahara Kesedihan
Harapan adanya perubahan pada Presiden yang secara langsung dipilih oleh rakyat, tidak juga terwujud. Rakyat merasa ‘ditinggalkan’ bahkan ‘kehilangan’, setelah ia sandarkan segala rasa dan harapan pada pilihannya. Reformasi ternyata bisa membawa derita bagi kebanyakan rakyat miskin. Padahal masa lalu telah ditinggalkan, namun masa depan belum menampakkan diri.
Situasi demikian oleh Durkheim digambarkan sebagai keadaan yang anomi (anomic), yaitu aturan lama tidak berlaku lagi dan aturan baru belum ada. Dalam keadaan anomi orang merasa seolah-olah dunia dan hidupnya mulai runtuh serta kehilangan ruang (Brouwer, 1984). Kemudian melahirkan prahara, yaitu kekecewaan dan kesedihan. Kedua hal itu mewujud menjadi semacam melankoli, sebuah derita atas hilangnya sesuatu yang dinginkan atau dicintai. Selanjutnya mengalami depresi hebat dan tidak mampu bangkit dari keterpurukannya, ia akan kehilangan kepercayaan diri.
Melankoli akhir-akhir ini diterjemahkan sebagai suatu keputusasaan yang mendalam, sebuah prahara bathin yang luar biasa. Terhentinya minat terhadap dunia luar, munculnya rintangan terhadap semua kegiatan serta menurunya penghargaan terhadap dirinya sendiri sampai pada tingkat paling ekstrim; yaitu sikap mempersalahkan diri sendiri dan bermuara pada hukuman yang bersifat hayali (Antony Storr,1991).
Untuk bangkit dari kesedihan dan prahara, harus memulai dengan menerima adanya fakta bahwa ‘dunia’ mengetuhui keberadaannya dan keadaannya. Membangun mimpinya tentang diri sendiri dan, dilanjutkan dengan munculnya kesadaran agar dapat memilikinya dalam kenyataan. Marx menyebutnya dengan reformasi kesadaran.
Dengan begitu ia akan sadar bahwa dirinya tidak berhadapan dengan sebuah kekosongan besar antara masa lalu dengan saat ini, bahkan pemikiran-pemikiran masa lalu direalisasikan menjadi bentuk nyata. Pada akhirnya, dia akan melihat bahwa umat manusia tidak mengawali suatu tugas baru, namun menyelesaikan tugas-tugas lama dengan kesadaran. Karena keberadaan manusia ditentukan oleh struktur masyarakat di mana dia menjadi bagian di dalamnya, sehingga tidak menjadi terasing di rumahnya sendiri. (Fromm, 2002).
Oleh karena itu, semua persoalan selayaknya diposisi sebagaimana mestinya. Tata nilai, hukum, politik, agama dan moralitas dilaksanakan apa adanya. Dengan tanpa menghilangkan makna “bersama kita bisa!”. Apa?… Wallahualam bisshawab.***
| [+/-] |
Sesat |
Sunan Gunung Djati–Kali pertama tulisan yang pernah dimuat sunangunungdjati mendapat tanggapan kritis dari pembaca. Hal ini terjadi pada karya Radea Juli A Hambali tentang Agama yang “Benar” oleh Abdul Hadi WM dengan menulis Gejala Aliran Sesat. Berikut kritikanya:
Gejala Aliran Sesat
Pertama, gejala aliran sesat bukan gejala baru dalam sejarah agama di dunia. Sejak lama di India, Iran, Eropa, Arab, Jawa, Cina, dan lain-lain telah banyak sekali aliran sesat muncul. Misalnya aliran yang menggunakan hubungan sex sebagai bagian dari puncak ritualnya seperti Satria Piningit Weteng Buwono. Aliran-aliran seperti Tantrisme Kiri di India dan Jawa sejak abad ke-10 sampai kini menggunakan hubungan sex sebagai puncak ritual mereka, terkadang disertai upacara kurban mayat. Mazdakisme di Iran abad ke-3 M mengharamkan perkawinan sebagai kontrak sosial dan membolehkan pengikutnya gonta-ganti pasangan. Di Amerika sekarang banyak berkembang aliran, dan ada yang memakai baju Kristen atau Yahudi. Antara lain Children of God yang ganti nama menjadi Faith International. Aliran lain ialah Thelema, Babalon, dan lain-lain. Di pula Jawa ritual suami istri bertelanjang bulat mengelilingi rumah pada tengah malam untuk mendapat rezeki, pernah ditemui di Sragen dan Yogya. Praktek seperti itu bisa memakai baju Kristen, Hindu, Buddha, dan Islam. Untuk mendapat legitimasi.
Kedua, globalisasi bukan soal baru bagi bangsa Indonesia. Pelajarilah sejarah. Karena kita lupa bahwa sejarah telah memberikan bukti yang banyak dalam kehidupan beragama yang nyeleneh sejak dahulu kala, maka kita mudah sekali menganggap fenomena ini dan itu baru. Begitu juga dengan globalisasi. Dalam sejarah Nusantara ada tiga tahapan globalisasi yang telah dilalui. Pertama, pada abad ke-4 - 12 M, saat penyebaran agama Hindu Buddha yang diantar dengan ramainya kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional yang dikuasai orang Hindu dari India. Kedua, abad ke-13 - 17 M saat penyebaran agama Islam dan Kristen/Katholik di Asia Tenggara, yang juga didahului oleh kegiatan -perdagangan dan pelayaran internasional yang dikuasai oleh orang Arab, Turki, Persia, Muslim India, Portugis dan Spanyol. Katholik tampil sebagai pemenang di Filipina, Islam di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Buddhisme bertahan di Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos dan Vietnam. Hindu hanya bertahan di pulau Bali. Globalisasi yang ketiga, dimulai dengan munculnya kolonialisme Barat (Belanda, Inggeris, Perancis) di Asia Tenggara. Puncaknya pada abad ke-20 dengan derasnya proses Amerikanisasi yang ditopang oleh ekspansi kapitalisme dan pasar bebas.
Kekerasan? Apakah hanya monopoli organisasi seperti FPI dan FBR? Lihat Tragedi DPRD Sumut atau Medan, siapa pelakunya? Lihat kerusuhan pertandingan Sepak Bola. Lihat konflik Ambon, yag memulai kan preman-preman Kristen? Apa anda tahu betapa garangnya kelompok Pemuda Hindu Bali di Nusa Dua? Siapa pelaku pembantaian orang Madura di Kalim,antan Tengah? Apa orang Islam? Saya harap anda berhati-hati bicara? Siapa yang menyuruh agar sekte Hari Kiamat (Kristen) dihabisi? Siapa yang meminta aliran Hare Rama Krisna (Hindu) dilarang dan pengikutnya, yang kebanyakan keturunan India, dipukuli di pulau Bali? Tolonglah fair dan adil jika bicara. Jangan hanya mengalamatkan hal seperti itu pada kelompok-kelompok tertentu. Berbahaya.
Ini tidak berarti kita membenarkan tindakan kekerasan. Tetapi kemiskinan, kebodohan, dan perlakuan tidak adil (termasuk dalam pemberitaan di mass media) juga sering menjadi pemicu kekerasan.
Berita dan tulisan yang menyakiti juga kekerasan. Begitu halnya kritik yang menyesatkan dan mengandung fitnah, setali tiga uang adalah juga kekerasan. Dan ini sering dilakukan sekelompok cendekiawan dan pejuang hak azasi manusia serta kebebasan berekpresi.
Sebagai tambahan atas tanggapan saya terdahulu terhadap pernyataan Anda, saya kirim dua artikel yang mungkin dapat membantu Anda memahami sumber atau akar berbagai aliran yang dianggap sesat seperti Satria Piningit Weteng Bawana. Yang pertama, uraian ringkas tentang Tantrisme Bhirawa. Ini adalah bentuk Tantrisme Kiri yang pernah dipraktekkan antara lain oleh Adityawarman, penguasa Majapahit di Sumatra pada pertengahan abad ke-14 M. Patungnya dapat anda lihat berupa Bhirawa yang berdiri di atas tumpukan tengkorak di Museum Jakarta. Ritual sanggama bersama masih dipraktekkan sampai kini di banyak tempat di India, dan mungkin juga di Jawa. Yang kedua, tentang aliran keagamaan yang muncul dari tradisi Yudea-Kristen bernama Babalon. Juga ada adegan seks dalam ritualnya. Kini masih dipraktekkan di Amerika Serikat. Tentu masih banyak lagi agama yang memuja setan dan tuyul dipraktekkan orang di berbagai belahan dunia. Jika aliran semacam itu dibiarkan dengan alasan “kebebasan beragama” yang melampaui batas, bagaimana jadinya masyarakat kita? Mengapa orang yang memperjuangkan kebebasan beragama tidak mencegah pelarangan aliran Hare Rama Krisna, Sekte Kristen Hari Kiamat, Yehova, dan lain-lain? Mengapa hanya MUI yang menjadi sasaran tembak?
Jika pertanyaan-pertanyaan saya ini belum anda jawab, begitu pertanyaan sebelumnya, tidaklah patut anda meminta jawaban atas pertanyaan yang anda ajukan. Tetapi semoga apa yang dikemukakan anda berangkat dari ketaktahuan, bukan disebabkan motif mencari kambing hitam atas semua bentuk kekerasan yang muncul di Indonesia selama hampir satu dasawarsa ini.
Pepatah mengatakan: Bila orang ingin didengar, hendaknya dia mendengar. Silakan download kedua tulisan tsb.
Wassalam.
“Abdul Hadi WM”
| [+/-] |
Otak |
BEDAH BUKU “Gelegar Otak”
Sunan Gunung Djati–Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika (HMP FISIKA)
Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
menggelar:
BEDAH BUKU:
“Gelegar Otak”
(Penerbit Salamadani)
HARI/TANGGAL:
Kamis, 26 Februari 2009
WAKTU:
Jam 09.00 – 11.00 WIB
TEMPAT:
Auditorium UIN Sunan Gunung Djati Bandung
PEMBICARA:
Dr.Tauhid Nur Azhar, M.Kes. (Penulis)
Prof.Dr.Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. (Cendekiawan Muslim)
MODERATOR:
Ridwan Efendi, S.Pd.
PESERTA:
Mahasiswa dan Umum
INFO: http://hmpfisikauinsgd.blogspot.com/2009/01/gebyar-fisika-eureka-fisika-viii.html
| [+/-] |
Masa |
Masa Lalu, Hari Ini dan Esok
Oleh DASAM SYAMSUDIN
“Yesterday is history, tomorrow is mistery, and today is given” —Guru Oogway, dalam KungFu Panda
Sunan Gunung Djati–Apa yang kamu ingat tentang hari kemarin? Apa yang terkesan dari masa lalumu ? kebahagiaan, kesedihan, pengalaman berharga, atau penyesalan. Adakah yang menyesal hari ini, karena mengingat hari kemarin ? dan, adakah kebaikan mengingatnya ? Apapun yang kamu pikirkan tentang hari kemarin yang pasti kita tidak akan kembali lagi. Sedetik yang lalu, adalah jarak jutaan kilometer yang tidak akan bisa kita tempuh. Masa lalu sangat jauh sekali dari sentuhan tangan hidup yang sedang kita jalani. Semakin banyak cahaya matahari menggulung kehidupan kita, semakin jauh pula masa lalu, dan tidak akan kita temui lagi. Bahkan Imam al-Ghazali mengatakan, ”Jarak yang paling jauh adalah masa lalu, tidak ada yang bisa menempuhnya”.
Ya, masa lalu adalah sejarah yang telah kita gurat di dalam lembaran kehidupan kita. Kesan bahagia dan derita, semuanya akan terasa nikmat jika kita utarakan kepada orang lain. Bukankah begitu? Betapa kita telah menjadi seorang yang hebat tatkala kita bebicara pengalaman penderitaan hidup menantang kematian, dan hari ini kita masih berdiri untuk menceritakannya. Dan, ada kalanya kebahagiaan masa lalu, akan menjadi derita hari ini. Ya, mungkin kita merindukan kebahagiaan itu kembali, saat hari ini kita berdiri bercerita. Oleh karenanya, ada kalanya kebahagiaan hari ini, adalah anugerah penderitaan masa lalu. Derita hari ini, bisa saja karena merindukan, sangat merindukan kebahagiaan masa lalu yang telah hilang.
Masa lalu adalah sejarah yang tidak bisa diulang, sedikit catatan merah yang telah kita tulis dalam sejarah hidup kita, tidak akan bisa di hapus hari ini. Namun, kendati sejarah hidup telah menghina hidup kita, tetap saja kita bisa memperbaikinya. Sejarah memang mutlak tidak bisa dirubah, tapi bukan berarti harus dibiarkan. Jika kemarin adalah sejarah, setiap perjalanan hidup yang telah kita arungi akan menjadi sejarah. Maka, jika hari ini kita masih bisa menghirup udara Bumi, berarti kita mempunyai kesempatan menutup sejarah kita dengan kebaikan. Yang lalu biarlah berlalu, dan hari ini lakukanlah yang lebih baik lagi. Agar sejarah kelam kehidupan lalu, berakhir dengan kebaikan. Sehingga, suatu hari nanti, saat kita mereview keseluruhan hidup kita, akan menjadi sangat berharga dan manis terasa. Karena, histori hidup kita akan berakhir dengan indah kendati melewati jurang yang curam dengan jalan berliku.
Hari ini adalah anugerah, karunia dari Tuhan sang Pemberi sebagai hadiah kepada manusia. Oleh karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan hari ini, jika suatu hari nanti tidak mau menjadi sejarah hitam di dalam hidup kita. Lakukanlah yang terbaik hari ini, yang terbaik untuk saat kita berdiri di sini. Jangan melakukan hal untuk hari yang menjadi misteri. Besok, ya besok adalah misteri hidup yang belum tentu kita menemuinya, Jika memang kita harus memenuhi kebutuhan hidup hari ini, jangan melakukannya untuk hari nanti. Tapi, jika memang hari ini kita merasa cukup. Maka, pecahkanlah misteri hidup dengan mencoba menyusun hidup untuk hari nanti.
Jika hidup untuk diri sendiri, untuk apa menumpuk harta yang akan kita buang hari nanti tanpa kita merasakannya. Tapi, jika kita berjuang dan berusaha hari ini untuk orang lain dan diri kita di alam lain. Sisakanlah hasil usahamu, sodakohkan sekarang juga, untuk bekal hari itu yang belum datang. Menyedekahkan harta, dengan cara menyimpannya untuk tubuh kita yang suatu saat akan payah adalah sangat baik. Karena, tubuh ini tidak akan tahan apapbila tidak ada bekel yang cukup. Jadi, segala sesuatunya tetap saja harus dilakukan untuk hari ini demi esok hari. Wallahu A’lam[]
| [+/-] |
Jabar |
Mewujudkan Jabar Kreatif
Oleh IU RUSLIANA
Sunan Gunung Djati–Krisis global terus menelan korban. Bangkrutnya beberapa korporasi, ketatnya pengucuran kredit perbankan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri manufaktur seperti tekstil, alas kaki, furnitur dan yang lainnya terus terjadi. Korporasi besar yang masih bertahan nampaknya akan berhati-hati dalam berekspansi. Pertumbuhan ekonomi 5 persen di 2009 adalah angka yang paling realistis.
Kini hanya ada beberapa pelaku dan sektor industri yang bisa diharapkan bakal menjadi kekuatan penggerak ekonomi, yaitu pemerintah dan partai politik. Pemerintah dengan anggaran belanja tahun 2009 seribu triliun rupiah lebih harus menjadi stimulus ekonomi. Termasuk kebijakan untuk menggenjot kredit perumahan kelas menengah ke bawah dan kredit motor serta menurunkan harga BBM (premium dan solar) ke Rp 4.500 per 15 Januari 2009 adalah salah satu kebijakan penting. Demikian juga partai politik, kampanye yang besar-besaran dengan dana triliunan rupiah diyakini akan menggerakkan ekonomi nasional yang tengah terpuruk.
Harapan itu ada, namun apakah akan selamanya begini? Adakah potensi besar yang harusnya disyukuri dan menjadi penopang menuju kemandirian ekonomi? Pada kontek Jawa Barat, misalnya, beberapa industri diperkirakan akan segera melakukan PHK, karena dampak krisis, menyusul menurunnya order dari pasar Eropa dan Amerika Serikat. Dengan jumlah pengangguran yang bakal meningkat, apakah program padat karya yang sifatnya insidental saja yang bisa diandalkan? Bukankah sebaiknya dana bantuan sosial ekonomi yang disalurkan bisa menggerakan ekonomi berbasis masyarakat lokal.
Ekonomi Kreatif
Sebagai bangsa yang kaya sumber daya alam dan keragaman budaya, kita harus menyadari potensi ekonomi yang berasal dari gagasan kreatif masyarakat. Masyarakat Indonesia, apalagi masyarakat Jawa Barat, telah menyatukan diri dengan budaya dan alam sehingga melahirkan pelbagai produk yang unik dan kreatif.
Pada dasarnya kreativitas manusia dibagi ke dalam dua bentuk, yakni: kreativitas berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge based) dan kreativitas berbasis seni (artistic based). Saat ini, kedua jenis kreativitas ini harus menyatu di berbagai produk sehingga mampu melahirkan kegiatan ekonomi yang sangat besar. Sederhananya, produk teknologi yang didukung seni ataupun produk seni yang didukung teknologi merupakan pilar ekonomi. Ketika produk di atas memasuki pasar, maka didalamnya terdapat potensi ekonomi yang sangat besar. Sektor industri seperti ini populer dengan sebutan industri kreatif. Lahirnya produk ditentukan oleh gagasan-gagasan layak jual yang kreatif dan inovatif.
Ekonomi kreatif adalah sistem perekonomian yang menjadikan kreativitas dan kemampuan intelektual sebagai dagangannya. Ekonomi ini memanfaatkan kreativitas, keterampilan, dan bakat seseorang untuk menciptakan kesejahteraan finansial dan lapangan pekerjaan. Kemampuan seseorang berpikir dan menciptakan gagasan kreatif sangat penting dalam perkembangan industri kreatif.
Kreativitas dapat dihasilkan oleh siapapun tanpa mengenal batas wilayah, umur ataupun golongan. Ada 14 jenis industri kreatif yang berpotensi besar untuk ekspor, seperti film, animasi, software, kerajinan, musik, EO, interior design dan barang-barang yang berbasis pengolahan limbah. Industri kreatif tersebut mempunyai pasar di Eropa dan Timur Tengah, dan Amerika Serikat (Kontan, 23/12/2008).
Departemen Perdaganan (Depdag) mencatat 15 cakupan bidang ekonomi kreatif: (1. Jasa periklanan; (2. Arsitektur; (3. Senirupa; (4. Kerajinan; (5. Desain; (6. Mode (fashion); (7. Film; (8. Musik; (9. Seni pertunjukan; (10. Penerbitan; (11. Riset dan pengembangan; (12. Software; (13. TV dan Radio; (14. Mainan; (15. Video game.
Menurut Agung Bawantara (Most Wanted Creative Jobs, 2007: 2-6), di negara maju Inggris, industri kreatif digenjot untuk menggerakkan perekonomian negara. Hebatnya, sumbangan industri kreatif di negeri ini mencapai 8,7 persen yang melampaui pendapatan Inggris dari sektor industri manufaktur. Lain lagi dengan Negara Singapura. Di Negara ini, industri kreatif menyumbang pendapatan Negara hingga mencapi 47 triliun rupiah per tahun. Di Korea, geliat industri kreatif mengalami pertumbuhan sekitar 20 persen per tahun dan berada pada posisi kedua setelah industri finansial.
Industri kreatif Indonesia menyumbangkan sekitar 4,75% dari Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia pada 2006, berada di atas sektor listrik, gas, dan air bersih. Laju pertumbuhan industri kreatif Indonesia tahun 2006 juga sebesar 7,3% per tahun, melebihi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5,6%. (Bisnis Indonesia, 24/10/2007).
Maka pemerintah Indonesia, dalam menunjang keajegan industri kreatif, pada tahun 2006 meluncurkan Indonesian Design Power 2006-2010. Ini dilakukan untuk menggenjot industri kreatif sehingga mampu memberikan pendapatan Negara sebesar 10 persen pada tahun 2016. melihat potensi Negara ini, dengan kekayaan budaya dan alam, optimisme mewujudkan program itu bukan isapan jempol. Tentunya dengan memperhatikan pranata pendukung yang dapat mewujudkan cita-cita 10 persen pada tahun 2016.
Pranata yang mesti diperhatikan dalam mengembangkan industri kreatif adalah mulai dari masyarakat lokal, institusi formal (pemerintah), lembaga pendidikan, agen, studio, toko sampai pada keberadaan komunitas dan institusi mesti melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghimpun berbagai pengetahuan dan informasi yang terkait dengan industri kreatif. Aspek-aspek yang terkait dengan pengembangan kreativitas, mulai dari proses sampai pemanfaatan sarana informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perkembangan ekonomi kreatif, sisi teknologi dan prospek bisnis adalah komoditas yang harus mulai digarap serius.
Mewujudkan Jabar kreatif
Untuk konteks Jawa Barat, potensi ekonomi kreatif telah ada namun perlu kebijakan khusus untuk mengembangkannya. Misalnya, industri kreatif di Kota Bandung, sebagai kota yang dihuni 60 persen kalangan muda di bawah 40 tahun dan tempat berkembangnya perguruan tinggi, industri kreatif tumbuh pesat. Hal ini merupakan potensi besar bagi perkembangan industri kreatif di Jawa Barat. Apalagi sektor industri kreatif menyumbang 7,8 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat. (www.tempointeraktive.com).
Badan Pusat Statistik tahun 2005 menyebutkan, setidaknya ada 15 sektor industri kreatif yang tumbuh subur di Jawa Barat. Di antaranya periklanan, arsitektur, pameran dan festival, kerajinan, desain, fesyen (Clothing, footwear dan apparel), film, video dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan dan percetakan, jasa komputer dan piranti lunak, riset dan pengembangan serta kuliner.
Penting kiranya mendorong kemampuan masyarakat (individu) agar mampu berkreasi dan menjadi bagian dari sektor industri kreatif. Maka, dua hal yang penting diperhatikan untuk mendorong tumbuhnya budaya kreatif, yaitu: pertama, pemanfaatan internet dan saluran informasi (information tool) untuk dapat memetik dan mempelajari kreativitas dunia; dan kedua, menciptakan pasar domestic dan pasar ekspor yang menyerap berbagai produk kreatif ini. Ketiga, tdengan cara menggandeng komunitas kreatif.
Kita tidak bisa berharap kepada APBD dan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN 2009 yang mencapai Rp 23,969 triliun. Itu hanya stimulus saja. Jawa Barat punya potensi ekonomi kreatif yang besar dan unik. Unik karena tiap daerah punya ciri khas dan terbukti menjadi penggerak ekonomi masyarakat di daerah tersebut. Tahu Cibuntu, tahu Sumedang, ubi Cilembu, Tas dan Sepatu Cibaduyut, Kerajinan Rotan Cirebon, kerajinan kulit Garut, dodol Garut, Factory Outlet Kota Bandung, dan sederet potensi ekonomi kreatif yang tak tertandingi dan telah melakukan kegiatan ekspor. Industri ini tak pernah mati karena menjadi bagian dari budaya masyarakat. Namun tak bisa tumbuh pesat karena belum ada sentuhan serius dari pemerintah. Pemerintah daerah tidak perlu mencari-cari ke luar daerah apalagi ke luar negeri. Kita telah punya potensi, tinggal dikembangkan dan dikelola dengan baik.
ITB, IPB, UIN Bandung, UPI dan kampus terkemuka lain ada di Jawa Barat. Mengapa tidak, industri kreatif berbasis teknologi dikembangkan melalui kerjasama pemerintah daerah dengan kalangan akademik. Sinergi stakeholder terkait; pemerintah, komunitas kreatif, dunia usaha, kampus dan masyarakat lokal menjadi penting dilakukan untuk membangun industri kreatif ini.
Ke depan, konsep one village one product (OVOP) bisa dikembangkan, bukan hanya berorientasi pada pasar domestik, tapi juga pasar dunia. Ini soal political will dan merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. Jika ini dikelola dengan serius dan sinergi antar stakeholder tercipta dengan baik, bukan mustahil jika toko sepatu Cibaduyut menjamur di Eropa, dodol Garut jadi menu orang Asia dan sebagainya. Wallahu’alam [Pikiran Rakyat, 18 Februari 2009]